Coach Kami, Mr. Drac

Coach Kami, Mr. Drac
BAB 08 ~ Misna dan Missy ~


__ADS_3

Cukup lumayan jumlah kunjungan pasien hari itu. Lita dapatkan empat orang pasien yang kesemuanya berasal dari mitra kerja yang baru terbentuk. Walau dirasa belum maksimal, Lita cukup puas terhadap laju pertumbuhan pasien akhir-akhir ini.


Obrolan siang bersama Dito benar-benar telah membuat pikiran Lita lelah. Seharian Lita sibuk mencari tahu kelemahan Dekan. Minimal orang yang dirasa dapat dijadikan sebagai mediator. Orang yang dapat diajak menemani bicara secara langsung dengan Sang Dekan. Namun, tak ada seorangpun dari tenaga pengajar atau staf yang dapat berikan masukan.


Bosan tak kunjung dapat ide dan rencana dalam hadapi Dekan, Lita putuskan untuk bicara segala permasalahan klub sepak bola itu dengan Levy. Ia sangat berharap Levy akan keluarkan daya magisnya lagi.


Lita telah bosan menunggu di kamar hotel yang semakin lama semakin terasa dingin. Tapi tetap saja Levy tak kunjung datang. Khawatir tertidur lagi seperti kemarin, Lita memutuskan mencari hiburan pada lounge yang terletak di lantai dasar gedung.


Diluar dugaan, Lita malah mendapati Levy disana. Levy terlihat duduk dengan posisi membelakangi pintu masuk. Adapun dua wanita dengan pakaian hitam-hitam duduk berhadapan langsung dengannya. Sangat Jelas terlihat oleh Lita bagaimana kedua wanita itu berikan senyum padanya.


Tak mau dianggap sebagai pengganggu Lita pun bermaksud untuk menghindar dari pandangan mereka. Tapi terlambat. Levy telah berdiri dan berbalik badan. Bersiap berikan suatu sambutan bagi dirinya. Agaknya Levy dapat rasakan kehadiran Lita.


"Bagus sekali kamu sudah datang untuk duduk bersama kami," Levy menyapa Lita dengan ramah.


"Apakah ini juga sudah kamu perkirakan Lev?" tanya Lita setengah berbisik pada Levy dan sekaligus bermaksud memberi bukti bahwa dirinya dapat bergerak sesuai dengan keinginannya sendiri.


"Lita perkenalkan ini Misna dan satunya lagi Missy," Levy perkenalkan dua wanita itu pada Lita, akan tetapi tidak menjawab pertanyaan Lita sebelumnya. "Mereka masih ada hubungan kekerabatan!"


"Lita," Lita sebutkan namanya dan berikan salam perkenalan dengan cara menautkan kedua telapak tangannya tepat di depan dada.


"Duduklah," Levy berdiri di belakang kursi dan persilahkan Lita untuk duduk dengan menarik kursi itu terlebih dahulu.


Lita merasa tersanjung dengan perlakuan Levy dalam menyambutnya. Belum pernah ia diperlakukan oleh pasangannya seperti itu. Lita sangat senang dengan cara Levy berkata-kata, penuh senyum dan sangat antusias dalam perkenalkan dirinya. Malam itu Lita sangat bersyukur dapat buktikan bahwa memang ada perhatian khusus dari Levy padanya.


"Kamu minum apa Lit," Levy beri sebuah tawaran pada Lita.


"Disamakan saja Lev, Dengan Misna dan Missy!" jawab Lita spontan.


Lita telah mendengar dari banyak teman dan klien tentang lounge di hotel tempat Levy menginap. Bahwa minuman di tempat itu terkenal enak dan mahal. Jadi sepertinya tak ada masalah dalam memilih jenis minuman di tempat itu.


Lita sepertinya tergiur dengan minuman warna biru cerah lengkap dengan irisan jeruk diatasnya. Tidak seperti minuman Levy berwarna gelap dan gunakan gelas tinggi. Adapun minuman kedua wanita itu gunakan wadah lebar yang sangat cantik.

__ADS_1


Mereka bertiga asyik berbicara, Lita tidak ingin ikut nimbrung dalam pembicaraan itu. Misna terlihat lebih aktif dibanding Missy dalam percakapan itu. Terlebih saat membahas seorang yang bernama "Olaf". Mereka sempat terdiam saat pesanan Lita datang.


Lita asyik menikmati minumannya. Meski awalnya terasa aneh, pada tegukan kedua Lita mulai rasakan ada sensasi segar sirup buah-buahan. Utamanya irisan jeruk di sisi atas gelas begitu segar ketika dikecap diantara lidah dan langit-langit.


Minuman yang dipesan Lita itu sungguh berikan sensasi segar dan membuat badan jadi hangat. Pikiran menjadi lebih rileks. Lita juga mulai rasakan ada sedikit penebalan di area belakang telinga.


"Kami tidak tahu dimana Victor!" Misna katakan itu pada Levy dengan nada sedikit melemah.


"Tidak mungkin, ada sumber kami yang bilang Dia telah bersama kamu dan Olaf di Perancis 38!" Levy bantah keterangan Misna tentang keberadaan Victor, "sejak itu kalian selalu bersama kan!"


"Itu kamu ingat! Semua berubah sejak kamu selalu mengajaknya bermain motor setiap hari!" protes Misna.


"Penyebabnya karena kamu lebih sering tinggalkan Olaf," ujar Levy sedikit emosi, "ingat itu!"


"Kami adalah keluarga, dan kami punya Missy, Wajar kalau saya ingin punya waktu bersama hanya dengan keluarga saja," Misna berkata lantang seolah ingatkan Levy posisinya saat itu adalah sebagai istri Olaf.


"Jika memang kalian adalah keluarga, kenapa harus ada Victor," Terlihat sekali Levy coba membantah pernyataan Misna.


"Kamu telah jadikan Olaf hanya untuk jadi teman kamu saja, Teman hura-hura!" Misna kembali tekankan ucapannya yang pertama.


"Tapi kamu tidak pernah bisa buktikan kan? ujar Misna seperti menantang.


"Mudah bagi saya untuk buktikan, dimana kamu setelah "Kristallnacht"? tanya Levy.


"Saya terlampau takut, sempat sembunyi lalu pergi menghindar, Membawa Missy kemari," Misna coba beri alasan.


"Dengan Victor!" tukas Levy.


Misna tak menjawab. Percuma baginya untuk tutupi peristiwa hilangnya Olaf dari Levy. Rasanya mustahil jika Levy tidak tahu bahwa ada Victor dibalik peristiwa sepupunya menghilang. Misna sangat paham akan kemampuan Levy.


Tapi Misna yakin bahwa Levy belum dapat pastikan apakah dirinya terlibat. Jika Levy telah tahu dengan pasti, maka tidak akan terjadi percakapan di meja itu. Misna pun meneguk minuman yang ada di depannya, berupaya tenangkan diri.

__ADS_1


"Jadi dimana Victor sekarang," Levy bertanya lebih lanjut akibat pertanyaannya tadi belum dijawab.


"Sejak tahun 48 dia sudah tidak ada di negara ini lagi," jawab Misna, "itu saja yang bisa saya katakan!"


"Hei! kalian ini ngomong apa sih?" ujar Lita yang terlihat makin parah akibat efek alkohol dari minuman yang dipesannya.


"Levy sebaiknya kamu urus saja darah manis kamu ini," Missy berkata pada Levy, "lain waktu kita sambung lagi!"


Lita benar-benar perhatikan Missy, gadis cantik dengan wajah blasteran. Lita dapat rasakan tekanan suara yang lebih kuat dibanding perempuan dengan wajah kuno yang duduk tepat di hadapannya.


Bagi Lita mata Missy terlihat lebih bersinar. Kilatan itu hampir sama dengan mata Levy sehabis minum sesuatu dari cawan perak itu. Bedanya saat itu bagian hitam mata Levy dikelilingi oleh lingkaran merah.


Lita memang sedang tidak baik-baik saja. Tapi ia masih bisa rasakan bahwa Misna dan Missy bukan manusia biasa. Terutama Missy.


"Lita kenapa kamu jadi begini?" Walau cemas Levy masih terlihat tenang, "Kamu belum makan ya?"


Mendapat pertanyaan itu Lita anggukkan kepala. Pikirannya terasa buntu harus jawab apa pada Levy. Namun, penglihatan Lita masih awas. Ia dapat dengan jelas melihat Misna berdiri, diikuti oleh beberapa orang berbaju hitam di sekitar tempat mereka duduk.


Penglihatan Lita tidak salah. Terdapat 5 laki-laki dan 1 perempuan yang tadinya duduk di meja sekitar mereka. Ada juga yang duduk tepat di depan bartender. Posisi duduk mereka seolah-olah sudah dirancang memutari lokasi duduk Levy. Semuanya kenakan pakaian hitam-hitam.


"Baiklah Levy kami pergi dulu," ucap Misna.


Levy berdiri dan melemparkan pandangan berkeliling pada kedelapan orang itu. Levy dapat merasakan adanya aroma tubuh Victor yang melekat pada mereka. Levy pun berkata, "Oke, sampaikan salam saya pada Victor! Hmm ... bau badannya masih sangat melekat pada tubuh kalian semua!"


"Kalian sama semua, Keras kepala!" ujar Misna sambil beralih dari tempat itu, jelas ia tidak senang bahwa Levy sedikitpun tidak menaruh rasa percaya padanya.


"Saya tidak takut padamu," Missy berkata begitu tanpa melepas senyum pada Levy barang sedetikpun, lalu pergi menyusul Misna.


Berbarengan dengan hal itu keenam orang tadi merupakan anggota mereka turut tinggalkan lounge itu. Levy pun duduk kembali, memegang pundak kiri Lita, dan berikan sedikit tekanan pada bagian itu. Lalu ia pun berkata pada Lita, "sebaiknya makan dulu ya?"


Lita beri anggukkan. Levy pesankan steak dengan saus kacang hitam. Levy berharap makanan dengan kadar lemak tinggi dapat segera ringankan mabuk yang Lita derita. Tak lupa air perasan jeruk sebagai pendamping.

__ADS_1


Benar saja, tak lama kemudian Lita sudah tak tampak lagi kepayahan. Senyum bibir merah Lita kembali merekah, seiring sifat riangnya kembali. Tak lupa ia katakan rasa terima kasih. Atas traktiran dan perhatian yang Levy berikan.


...☘️☘️☘️ ~ bersambung ~ ☘️☘️☘️...


__ADS_2