Coach Kami, Mr. Drac

Coach Kami, Mr. Drac
BAB 15 ~ Penyesalan Selalu di Akhir ~


__ADS_3

Kabar kekalahan Double L terdengar juga oleh Levy. Adalah Tristan yang beri tahu pada Levy. Tristan adalah seorang striker murni. Namun, selama ini ia lebih memilih untuk bermain basket. Tepatnya sejak klub sepak bola dikuasai oleh Apep.


"Jadi kamu tidak bisa cetak gol?"  Levy tanyakan kontribusi Tristan di latih tanding melawan tim Apep.


"Tidak Pak," Tristan menjawab dengan tegas.


"Kamu tahu kenapa?" tanya Levy


"Saya tidak banyak dapat support bola," Tristan berkilah.


"Kamu mengerti sebab tidak dapat support?" Levy bertanya lebih lanjut.


"Tidak ada kerja sama tim Pak!" jawab Tristan mengerti benar apa yang terjadi pada tim mereka.


"Bagus kalau kamu sudah sadar itu!" ujar Levy.


"Terima kasih Pak," Tristan mengerti tujuan perkataan Levy.


"Pulanglah! sekarang sudah malam!" Levy berikan perintah.


"Tapi Pak?" Tristan jadi ragu akan nasibnya di tim sepak bola kampus.


"Tenang saja kamu punya bakat," puji Levy seolah tahu kemampuan Tristan mengolah si kulit bundar.


"Terima kasih Pak untuk seragam dan sepatunya," ujar Tristan.


"Oke!" Levy anggukkan kepala sebagai tanda menerima ucapan rasa terima kasih dari calon anak didiknya. 


Levy paling tidak suka jika ketemu orang tidak didahului janji lebih hulu. Namun, kali ini ia harus buat suatu pengecualian. Sebab orang itu adalah Tristan, anak didik yang baru saja kembali dari klub olahraga lain. Levy harus hargai Tristan jika ingin kuota pemain Double L cepat penuh.  Cepat terisi dengan anggota klub yang punya bakat dan skill bermain sepak bola.


 


Setelah berpamitan Tristan pun tinggalkan Levy di depan halaman rumah. Asep sang mantan Room boy pun segera menutup pagar. Tak lupa ia pasang kunci gembok pada pagar.


"Sep, jangan pernah terima tamu lagi ya! Kecuali Dokter Lita," ujar Levy.


"Baik pak," jawab Asep.


"Ingat Sep! Jangan pernah kamu keluar dari batas rumah sehabis jam enam sore! Levy berpesan pada Asep, "sekalipun yang panggil kamu adalah saya, ingat itu!"


"Baik Pak, saya akan selalu ingat," Asep anggukkan kepalanya tanda mengerti.

__ADS_1


"Nah saya pulang ke hotel dulu," ujar Levy jalankan Vespanya setelah di engkol lebih dulu.


"Hati-hati dijalan Pak," pesan Asep.


Asep sang Room boy hotel secara resmi telah bekerja pada Levy sebagai asisten rumah tangga. Selain gaji besar, rumah baru milik Levy sangat dekat rumah orang tua Asep. Hal ini yang menjadi penyebab utamanya. 


Cerita Asep ketika kecil ia sering ambil buah jambu *** yang ada di halaman depan rumah itu. Saking lebatnya terkadang buahnya terjuntai keluar pagar  Keadaan itu membuat seorang anak kecil pun dapat meraihnya dengan mudah. 


Walau sudah dibayar lunas melalui pihak ketiga, Levy belum dapat tinggal disana. Masih diperlukan renovasi sedikit lagi biar terasa lebih nyaman. Tukang yang bekerja di siang hari membuat Levy tidak bisa tidur. 


...**...


Levy masuk ke dalam kamar hotelnya, Lita telah berada di dalam. Ia tengah duduk di atas sofa. Saksikan debat para ahli hukum di sebuah stasiun TV swasta. Perkaranya masih sama, pembunuhan seorang ajudan jenderal bintang dua.


"Sudah lama Lita?" Itulah pertanyaan pertama dari Levy setelah melihat tak ada sesuatu yang bermasalah pada diri Lita.


"Lumayan, sampai-sampai saya selesai makan kwetiau goreng di depan hotel," jawab Lita.


"Asep sudah tidak bekerja disini lagi!" Levy berikan info tentang Asep, "maaf kalau tak ada layanan makan malam seperti biasa."


Bukan karena Asep, maka tak ada makan malam yang disajikan. Tetapi lebih pada Levy yang tak lakukan pemesanan. Walau Levy tahu bahwasanya Lita akan datang malam itu untuk mengunjunginya. Levy sengaja berbuat seperti untuk beri pelajaran pada wanita yang akan dijadikan pasangannya kelak.


"Dengar-dengar kamu telah dapat rumah ya?" Lita mengharap jawaban langsung dari mulut Levy.


"Nggak salah kamu beli rumah itu?" tanya Lita.


"Ya nggak lah … murah," jawab Levy.


"Pastilah murah," jawab Lita sepertinya tahu juga akan sejarah rumah angker itu.


Rumah itu milik biduan yang wafat secara tragis di sebuah hotel akibat overdosis. ada dugaan bahwa ia dibunuh. Adapun rumah itu selama belasan tahun tak juga terjual, membuat kondisi rumah semakin terlihat tak terurus. Sejak saat itu rumah terkesan angker dan semakin menakutkan ketika beredar gosip dihuni oleh makhluk gaib. 


Terbalik dengan orang kebanyakan, justru Levy sangat berminat dengan rumah yang terkenal berhantu itu. Sejak melihat rumah  itu Levy sudah tertarik. Selain itu situasi lingkungan yang sepi menambah hasrat Levy untuk memilikinya. 


"Kenapa kamu pilih rumah itu lev? Lita ingin tahu lebih lanjut alasan Levy.


"Karena dekat kampus!" Levy berjalan ke arah sofa setelah dapatkan cawan perak miliknya.


"Cuma itu aja?" Lita curiga jika Levy akan jadikan rumah itu sebagai kastil drakula miliknya.


"Saya cocok dengan halimun yang ada disana!" jawab Levy gunakan kosakata yang baru ia dapatkan.

__ADS_1


Lita tahu pasti kalau tentang kabut yang sering turun di daerah itu. Sebenarnya rumah itu berada diantara rumah Lita dan kampus. Akan tetapi dihalangi oleh taman hutan. 


Dulu Lita dan abangnya kerap lakukan aktivitas bersepeda di lokasi itu. Kini lokasi taman hutan itu kini telah jadi lokasi wisata hutan kota. Pada salah satu jalur terdapat tebing, lengkap dengan air terjunnya. Jalur sepeda gunung yang sering Lita lintasi dulu agaknya masih dipertahankan sampai saat ini.


"Kok kamu bisa beli rumah itu? Lita yakin dengan dugaannya setelah sempat lihat renovasi yang Levy Lakukan.


"Bukan beli, cuma hak pakai!" jawab Levy


"Hak pakai dari mana?" Lita setengah tak percaya dengan jawaban Levy.


"Teman saya yang atur!" jawab Levy tanpa mau berpanjang lebar menjelaskan.


Lita sangat mengerti akan hal ini. Status Levy sebagai orang asing tidak mungkin lakukan jual beli secara langsung. Pastilah pakai perantara. 


"Teman kamu itu orang asli sini?" Lita yang memang sangat ingin tahu sosok teman rahasia Levy sejak pertama.


"Bukan, dia pakai jasa mitra perusahaan kami yang ada disini," jawab Levy.


Jawaban Levy sangat masuk akal, tanda ia tidak sedang berbohong. Dengan cara itu, maka akan lebih mudah terjadi proses jual beli. Terutama jika lakukan penurunan status hak atas tanah terlebih dahulu. Warga negara asing seperti Levy memang tidak diperkenankan untuk memiliki aset di tanah air.


*Apa ada hal penting yang harus kita diskusikan?" tanya Levy setelah minum dari cawan peraknya.


*Anu ... terima kasih Lev, udah ngelengkapin  perlengkapan buat anak-anak," Lita sedikit terbata, ada keraguan dalam menyatakan rasa terima kasihnya.


"Bukannya kemarin sudah lewat WA?" ujar Levy.


"Betul, tapi berasa masih kurang!" jawab Lita.


"Oke … selain itu ada apa lagi?" Levy ingin tahu tujuan utama Lita mendatanginya malam itu.


"Anu … saya benar-benar mau minta maaf telah lancang lakukan uji coba dengan tim Apep," jawab Lita.


"Akhirnya?" tanya Levy


"Kami kalah!" Pungkas Lita


"Oke, semua juga sudah tahu kok," Levy katakan hal yang tidak menyenangkan secara spontan bagi wanita yang ia sayangi itu.


Levy kecewa atas pembangkangan Lita. Tapi bukan itu yang disesali Levy. Ia akan lebih menyesal jika anak didiknya sempat alami trauma atas kekalahan itu. Khawatir mereka akan hilang rasa percaya diri. Jika sudah seperti itu akan sulit untuk tingkatkan rasa percaya diri dan kembangkan prestasi.


Rasa khawatir itu tanpa basa-basi Levy tumpahkan semua pada Lita. Levy yakin sebagai dokter ahli dibidang olahraga tentu paham akan kondisi jika atlet mengalami trauma kekalahan. Semakin tidak baik jika mengalami kekalahan secara beruntun.

__ADS_1


Lita sadar benar bahwa yang diungkapkan Levy sangat benar adanya. Tapi ia minta agar tidak libatkan Dito. Lita berjanji akan ikut dengan jalan pikiran Levy. Bagi Levy tidak ada pentingnya berjanji. Levy hanya inginkan bukti, bila Lita dapat menghargai pendapat dirinya selaku pelatih profesional.


...☘️☘️☘️ ~ bersambung ~ ☘️☘️☘️...


__ADS_2