Coach Kami, Mr. Drac

Coach Kami, Mr. Drac
BAB 11 ~ Telah Diprediksi, Lagi? ~


__ADS_3

Belum ada tambahan satu orang anggota pun sejak Lita menjabat sebagai manajer klub. Hanya delapan orang anggota klub itu saja kedapatan tengah berlatih. Salah satunya adalah Dito, mahasiswa yang gigih dalam upaya mempertahankan keberadaan klub sepak bola kampus.


Selain memiliki jabatan sebagai asisten pelatih, Dito juga dipercaya oleh Levy sebagai kapten tak bermain. Menurut Levy sosok Dito sangatlah sentral. Suatu saat ia dapat dijadikan simbol untuk keberadaan dan daya juang tim. 


Di kejauhan tampak Heru meninjau latihan mereka. Lita menduga bahwa Heru tengah memata-matai latihan yang diberikan oleh Levy. Agaknya Heru ingin sekali melihat perbedaan antara menu latihan sepak bola negeri Balkan dengan sepak bola lokal. Akan tetapi Heru sepertinya harus kecewa dengan latihan dari klub kampus itu.


"Ehem …!" Terdengar suara deheman Lita yang membuat Heru seperti terkejut.


"Eh, Dokter Lita," Heru menyapa dengan sedikit terkejut. "Kok belum pulang Dok?"


"Baru selesai, Sengaja kesini mau melihat anak-anak latihan," jawab Lita.


"Oh … begitu," Heru sambil anggukkan kepalanya.


"Pak Heru sendiri, nggak ada jam ngajar apa?" Lita heran waktu perkuliahan masih berlangsung, tapi Heru sudah berada diluar kelas.


"Pas masuk di jajaran rektorat memang sudah ada niat buat ngurangin jam ngajar, Mau fokus di manajemen dulu," ujar Heru yang terdengar seperti penuh keikhlasan.


"Bukannya itu memang sudah jadi aturan baku yang tidak tertulis Pak Heru?" Lita bermaksud untuk katakan hal itu memang sudah sepatutnya dilakukan dosen yang memiliki jabatan struktural.


"Ketentuan yang benarnya itu tergantung pribadi masing-masing, kalau saya saat ini sih ingin fokus dulu di pengembangan mahasiswa dulu Dok!" Heru katakan itu dengan rasa percaya diri yang sangat tinggi, lupa bahwa penilaian tidak hanya datang dari diri sendiri.


Lita malas membahas pernyataan Heru yang lebih banyak tidak sesuainya. Lita merasa bahasan tentang tim sepak bola kampus yang dipimpinnya lebih utama. Lita pun berkata, "Gimana penilaian Pak Heru sama latihan anak-anak sekarang?"


"Saya sih tidak begitu tahu teknik dan cara main sepak bola, tapi yang saya lihat kok rasanya sangat membosankan ya?" Heru seperti heran dengan model pelatihan yang diberikan Levy.


,"Kenapa begitu Pak?" tanya Lita.


"Tadi sempat saya tanya pada asisten pelatih, katanya mereka sengaja pelajari  materi dari link YouTube!" 


"Link YouTube? Siapa ya yang kasih?" Mendadak timbul tanda tanya besar dalam benak Lita.


"Kalau mereka bilangnya sih dari Dokter Levy!" jawab Heru.


"Masa sih?" Lita sulit untuk percaya.


"Iya, ini saya juga dibagi link-nya," Heru menunjukkan layar ponselnya pada Lita.


"Coba tolong kirim ke saya Pak?" Lita jadi penasaran.


Setelah terima kiriman alamat link itu, Lita langsung putar video itu pada ponselnya. Ternyata benar, Isinya tentang teknik dasar dari cara lakukan stopping, dribbling, dan shooting. Sungguh materi sepak bola yang sangat dasar sekali. Hanya sekelas sekolah sepak bola pemula umur bawah tujuh tahun.


"Kalau cara latihannya seperti ini gimana mau; jadi wakil universitas?" Selain pesimis, Heru juga punya niat untuk lakukan sindiran pada Lita dan pelatih asingnya itu. 


"Memangnya ada pertandingan Pak?" Lita keluarkan sebuah pertanyaan lugu sekaligus menyerang Heru.


"Ada atau tidak ada tetap saja kalau mutu begini, ya tetap saja tidak akan dikirim," ujar Heru coba bertahan dengan membuat suatu pengandaian, "nanti malah cuma bikin malu saja."


"Kalau bukan Tim ini yang dikirim kapan nama kampus bisa naik pak?" Lita curiga bahwa Heru terlibat dalam upaya Apep membuat tim tandingan. 


"Ya kan bisa saja tim baru yang dibentuk Pak Apep!" Heru katakan apa yang jadi dugaan Lita selama ini benar adanya. "Mereka kan sudah bikin MOU dengan universitas."


"Wah, kok jadi gitu sih Pak sikap para petinggi kampus," Lita tunjukkan rasa kesalnya secara langsung pada Heru, sebab apa yang telah dikatakan Dito dari semula benar adanya. 


"Mau gimana lagi Dok, tim kampus sudah pernah diberi kesempatan, tapi nggak berubah!" Pendapat Heru seolah salahkan para anggota klub sepak bola kampus, "kami harus gimana lagi coba?"


"Kalau saya sih heran saja Pak?" ujar Lita.


"Heran gimana Dok?" Heru pura-pura bodoh.


"Dulu kan manajer klubnya Pak Apep, sudah dianggap gagal?" Lita coba uraikan kebenaran dalam berpikir pada wakil rektor bidang kemahasiswaan itu, "terus katanya mau pake klub yang dari luar, eh …. pengasuhnya Pak Apep lagi?"


"Alasan utama Pak Apep gagalnya tim ini akibat tidak sikap profesional dari anggota klub, Dokter Lita?" Heru coba bikin suatu penekanan bahwa pandangan tentang profesionalitas adalah unsur utama dalam mencapai keberhasilan.

__ADS_1


"Kalau ada pandangan yang seperti itu terhadap tim ini, justru saya orang pertama yang harus bantah Pak?" Lita berikan sebuah penentangan.


"Kenapa? Apa Dokter Lita tidak mengakui profesionalitas suatu hal yang penting?" Heru seakan tak percaya bahwa Lita tak satu paham dengan dirinya dalam urusan profesionalitas. 


"Mereka semua ini mahasiswa Pak Heru, statusnya juga masih pelajar! Mana bisa universitas ujug-ujug menuntut mereka menjadi profesional, jelas-jelas mereka pemain amatir!" Lita tunjukkan sebuah pola pikir cerdas dan berdasar.


"Saya ingatkan Dokter Lita hanya dosen tidak tetap disini, Dokter Lita tidak punya hak untuk ikut menentukan arah kebijakan kami disini!" 


Lita sadar ucapannya telah membuat suatu ketersinggungan pada wakil rektor bidang kemahasiswaan itu. Lita tidak ingin pojokan Heru lebih dalam lagi. Lita pilih untuk diam sambil menunggu reaksi Heru selanjutnya. 


Keadaan jadi hening untuk beberapa saat. Hingga Heru berkata, "Kampus butuh yang namanya prestasi pencapaian dan penghargaan Dokter Lita?"


"Justru itu yang memang kami akan tuju!" Lita tunjukkan semangat bahwa mereka yakin bisa.


"Ya mudah-mudahan saja ya Dok?" Heru menghela nafas seakan tak sanggup lagi melawan kekerasan hati Lita. 


"Saya rasa optimis tidak ada salahnya kan Pak Heru?" ujar Lita.


"Saya setuju, Tapi sebaiknya kita uji dulu," ujar Heru, "baru bisa kita nilai!"


"Setuju pak kalau hal itu!" jawab Lita.


"Ya kita lihat dari proses awalnya, juga dari cara latihannya," Heru berikan pendapatnya lagi.


"Oh iya saya setuju kalau ada penilaian terhadap proses!" jawab Lita.


"Nanti sekali-sekali bisa juga kalau latih tanding dengan tim lain," Heru berikan saran.


"Siap Pak, itu juga sudah ada dalam program kami!" jawab Lita.


"Ya, mudah-mudahan nanti Dokter Levy juga bisa beri bukti jika dia memang punya kapasitas dalam melatih," Terdengar nada suara Heru yang cenderung meremehkan Levy.


"Oh pasti itu Pak! Kita tinggal tunggu saja!" Lita seperti tak sabar tunjukkan kemampuan Levy.


"Sepertinya belum Pak, masih cari rumah," jawab Lita spontan.


"Mau beli atau kontrak ya Dok? Kalau kontrak saya ada famili yang mau kontrakan rumahnya!" 


"Sepertinya mau beli saja?" jawab Lita asal, ia hanya ingin bikin Heru kecele saja.


"Oke Dokter Lita saya pamit dulu, masih ada kerjaan di dalam," Heru meminta izin.


"Oke Pak!" jawab Lita.


"Nanti saya sampaikan ke Pak Apep kalau tim Dokter Lita sudah siap untuk latih tanding!" Kali ini Heru bicara dari jarak lima meter.


"Baiklah, tapi tunggu kabar dari kami dulu ya Pak," jawab Lita dengan suara lantang.


Heru berjalan tinggalkan Lita. Sepertinya ia berpura-pura tidak dengarkan perkataan Lita terakhir. Sikap pura-pura Heru ini saja telah timbulkan rasa was-was di diri Lita. Terlebih perangai buruk Heru yang telah ia rasakan sebelumnya.


Matahari makin condong ke barat. Hari sudah semakin sore. Niat untuk gabung dengan anggota tim nampaknya harus Lita batalkan. Terganggu adanya obrolan seru dengan Heru tadi. Sungguh sebuah debat yang makin dapat menunjukkan adanya perbedaan yang dalam antara mereka. 


Tampak Dito dan anggota tim yang lain menuju kantor sekretariat. Mereka seperti lambaikan tangan untuk ajak Lita gabung bersama mereka. Tapi sayang Lita harus segera ke rumah sakit umum daerah. Ia telah temu janji dengan seorang atlet softball yang mengalami cedera.


...**...


Lita bersyukur rumah sakit umum daerah ini telah resmi menerima izin praktik yang ketiga baginya. Harapan Lita untuk memiliki mitra sebuah rumah sakit milik pemerintah telah terkabul. Dengan demikian program Lita untuk dikenalkan pada para pengurus atlet daerah semakin mudah.


Sehabis praktik Lita putuskan untuk pergi menemui Levy. Sejak pengukuhan jadi manajer klub sepak bola kampus mereka tak pernah bertemu. Selain kangen, ada beberapa pertanyaan yang ingin Lita ajukan.


...**...


Lita buka pintu kamar Levy dengan kartu akses miliknya. Sebuah kartu yang pernah diberikan oleh Asep ketika kunjungan Lita untuk pertama kalinya. Kartu itu sengaja diperuntukkan khusus untuk Lita sebagai fasilitas, dan dapat digunakan selama Levy masih menginap di kamar hotel itu. 

__ADS_1


"Masuklah Lita!" terdengar suara Levy dari sebelah dalam.


Lita langkahkan kakinya menyusul Levy yang langsung menuju ke arah sofa. Mereka pun duduk di sofa dengan posisi seperti biasanya. Adapun Levy duduk dengan cawan perak di tangan kanannya.


"Kemana saja kamu!" Kesal bercampur senang saat Lita bertemu lagi dengan Sang Drakula pujaan hatinya.


"Saya tidak pernah kemanapun," jawab Levy.


"Buruk lagi kan pemakaian bahasa kamu," 


Lita coba beritahu kerugian Levy jika tak bertemu dengannya selama dua hari berturut. "makanya latihan terus sama saya!"


Levy tertawa dengarkan perkataan Lita. Lalu berkata, "Padahal saya tetap latihan terus tiap hari, Minimal sama Asep."


"Artinya Si Asep nggak canggih ngajarnya, orang lebih banyak pucatnya kok malah diajak ngobrol?" Kembali Lita terkekeh.


"Kamu dari mana Lita," tanya Levy.


"Dari rumah sakit umum daerah, baru saja dapat pasien pertama disana," jawab Lita.


"Apakah perlu kita rayakan?" Levy tawarkan adanya sebuah perayaan.


"Oh tidak perlu, Bagi saya hal ini sudah biasa," Lita menolak tawaran perayaan itu.


"Bagus jika memang demikian," ujar Levy.


"Apa hanya hal itu saja yang ingin kamu tanyakan?" tanya Lita.


"Oh tidak, ada banyak yang harus saya tanyakan dan kita bahas!" ujar Levy bersemangat, "sayangnya tidak untuk saat ini!"


"Kenapa begitu?" Lita terlihat sedikit kecewa.


"Saya sudah ada janji dengan Missy, saya harus tepati!" Levy katakan itu dengan tegas.


"Ho, sudah dapat yang sejenis rupanya?" Lita kurang senang mendengar nama itu.


"Dia masih keponakan jauh saya, jadi saya harus membantunya!" ujar Levy.


"Keponakan jauh bagaimana?" Lita antara ingat dan tidak tenang cerita itu.


"Kamu sedikit mabuk waktu itu!" Levy coba ingatkan peristiwanya, "dia salah satu yang minum satu meja bersama kita!"


"Maafkan saya kalau begitu, Tapi kapan waktu kita bisa bicara?" Lita bertanya pada Levy tentang kesempatannya.


"Sebentar lagi Asep akan datang bawakan makan malam, sebaiknya kamu istirahat di sini saja!" Levy berikan sebuah tawaran pada Lita untuk menunggunya di kamar hotel.


"Jam berapa kamu pulang?" tanya Lita.


"Belum dapat diprediksi, tapi sesudahnya kita dapat ngobrol panjang?" Levy sangat berharap agar Lita menerima tawarannya.


"Oh begitu ya?" Lita mulai paham pada situasi Levy saat itu.


"Ya, setelah selesai dengan senang hati saya akan jawab semua, bagaimana?" Levy membujuk Lita untuk tinggal lebih lama.


"Janji ya!" tukas Lita.


"Saya tidak pernah ingkar janji, ingat!" Levy selalu tanamkan pada Lita bahwa dia bukan tipe pelanggar janji.


Lalu Levy pun pergi. Ia kenakan setelan jas lengkap hitam seperti biasanya. Tapi ada yang berbeda kali ini, sebelum pergi Levy cium kening Lita. Adapun Lita diam saja dan rasakan betapa dingin bibir Levy.


Lita baru selesai mandi dan berendam air hangat. Agaknya keputusan menunggu Levy di kamar hotelnya sangat tepat. Kini Lita rasakan kondisi tubuhnya telah fit dan segar kembali. 


Layanan kamar datang, dan seperti biasa aktor utamanya adalah Asep. Ia membawa santap malam sesuai dengan janji Levy ia juga bawakan gaun tidur untuk Lita. Apakah ini telah diprediksi, lagi?

__ADS_1


...☘️☘️☘️ ~ bersambung ~ ☘️☘️☘️...


__ADS_2