
Matahari telah masuk dalam peraduannya, saat Lita parkirkan mobilnya di pekarangan dalam rumah Levy. Dengan gunakan kartu akses Lita segera masuk kedalam rumah Levy. Tidak melihat Levy di lantai dasar, Lita pun Langsung naik ke lantai dua.
"Metode kamu memang hebat! Lev ... Lev, kamu dimana?" Lita mencari sosok Levy.
"Disini!" Levy coba beri tahu posisinya di sebuah ruang yang pintunya lebih mirip dengan pintu sebuah lemari pakaian.
"Ya ampun, saya pikir ini lemari beneran kemarin!"
"Masuklah," Levy goyangkan tangannya.
Lita masuk keruangan itu. Ia melihat Levy tengah mengecek fungsi dan tampilan CCTV yang terhubung dengan TV ukuran jumbo. Layar TV itu terbagi menjadi enam belas layar TV kecil-kecil.
"Berapa channel semua Lev?" Lita bertanya tentang jumlah CCTV yang Levy pasang.
"Enam belas!"
"Kamar mandi nggak ada kan?" Lita ajukan pertanyaan konyol.
"Kamu bercanda?"
Lita senang karena candaan konyolnya diakui Levy. Namun, bukan itu saja yang membuat ia senang.. Lita merasa metode yang Levy lakukan dalam seleksi pemain klub Double L bisa dibilang spektakuler.
Bukan tanpa dasar Lita puji metode Levy. Setelah terima hasil tes levy dua hari lalu, Lita lakukan tes ulang sesuai dengan rencananya. Hasilnya apa yang dikatakan Levy tentang tes berdasarkan karakteristik darah dan denyut nadi sangat benar. Lita dengan metode kedokteran modern telah lakukan uji ulang dengan jumlah sampel sebanyak lima orang.
"Bagus kalau memang hasilnya banyak yang tepat!" Levy merasa biasa saja atas pujian yang disampaikan Lita.
"Tapi ada yang salah!"
"Salah bagaimana?"
"Si Pulung!" Lita Ingin membahas hasil tes mantan pemain bola voli itu.
"Ada apa dengan Pulung?"
Lita merasa penempatan Pulung sebagai playmaker sekaligus penyerang lubang sama sekali tidak tepat. Pulung adalah mantan Tosser, alias pengumpan dalam permainan bola voli. Tidak seperti pemain voli biasanya, seorang Tosser biasanya berpostur lebih pendek.
"Saya kurang sreg sama dia!"
"Alasannya?"
"Dia hanya biasa beri umpan dengan pakai tangan Lev?"
"Apa bedanya mengumpan dengan kaki?"
"Ini sepak bola Lev?"
"Kamu sudah bertemu Dito?"
"Sudah!" tegas Lita.
"Apa kata Dia?"
"Dia bilang kalau main sepak bola itu pakai isi kepala alias otak!" Lita seperti belum bisa terima penjelasan dari asisten pelatih mereka.
__ADS_1
"Sudah jelas kan sekarang?"
"Apanya yang jelas!"
Levy sudah jelaskan pada Dito kunci inti main sepak bola adalah kekuatan pikiran. Adapun kaki dan fisik adalah hanyalah alat dan sarana pendukung. Terlebih bagi seorang playmaker. Visi permainan dan kesabaran dalam melayani penyerang merupakan hal paling utama.
Levy pun beri keterangan tambahan pada Lita. Bahwa detak denyut nadi Pulung relatif lemah. Hal itu yang akan jadi sebab utama Pulung ia tidak mudah lelah. Ditambah dengan body balance-nya yang sangat baik. Pulung akan sulit dihentikan jika telah masuk dalam kotak penalti.
Pulung akan jelajahi daerah pertahanan lawan. Ditambah dengan gerakan tanpa bola secara terus menerus. Hal itu akan sebabkan konsentrasi bek lawan terpecah. Antara harus lakukan penjagaan terhadap Tristan, Oni atau Pulung.
"Mereka bertiga yang jadi pemain depan," Lita coba simpulkan.
"Iya, trio TOP!*
"Serius?"
"Iya, Tristan, Oni dan Pulung!"
Meledak tawa Lita dengarkan nama trio TOP itu. "Kamu mulai banyak lucunya sekarang Lev?"
"Kenapa, apa ada yang aneh dengan nama itu?"
"Tidak, nanti kamu tanya lagi sama Dito untuk singkatan yang lebih panjangnya lagi Lev!" Lita berikan sebuah saran.
Selesai tertawa, mata Lita tertuju pada sebuah kotak dengan ukuran sebesar peti mati. Sayangnya hanya terbuat dari kayu biasa. Tidak mewah seperti umumnya peti mati yang biasa terbuat dari kayu mahal dan dicat mengkilap.
Baru pertama kalinya ia lihat kotak seperti itu. Lita mencurigai bahwa itu adalah peti mati tempat tidur Levy. Seperti di film-film horor bertemakan drakula kebanyakan.
Kecurigaan Lita amat berdasar. Selama ia datang ke hotel belum pernah Lita melihat alas kasur Levy kusut. Atau lebih tepatnya pernah digunakan. Tapi memang Lita tidak pernah melihat peti mati itu. Lita kemudian jadi ragu kembali. Ketika melihat tampilan yang sangat sederhana sebagai tempat tidur drakula kaya.
"Iya, benar!"
"Emang ada isinya?"
"Hasil kiriman teman saya mana mungkin kosong!" tukas Levy.
"Apa isinya?"
"Oke, kita buka saja!" Levy ambil sebuah linggis ukuran kecil.
Lita terkejut seolah tidak ada rahasia dari sikap yang Levy tunjukkan. Tapi ia lebih terkejut lagi ketika melihat isi peti itu ketika dibuka. Isinya adalah lebih mirip peralatan berburu. Namun, Lita tidak tahu Levy akan berburu apa dan dimana?
"Lit, tolong kamu susun isinya di rak itu! Levy menunjuk ke bagian tembok yang telah dipasangkan rak-rak kayu.
"Eh iya," Lita agak tergagap.
Lita masih belum dapat percaya isi peti itu.
Adapun isinya terdiri dari jaring, tombak, panah jenis crossbow. Ada pula senjata tajam lain seperti pedang, parang atau pisau. Tali temali dan beberapa pasak kayu berbagai ukuran.
"Kamu mau berburu Lev?"
"Iya!"
__ADS_1
"Dimana?"
"Bisa jadi disini?"
"Jangan sembarangan Lev!"
"Kenapa?"
"Hewan di hutan kota itu, termasuk yang dilindungi lho Lev!"
'Kalau hewan buas yang masuk ke rumah bagaimana?"
"Halah! Atur saja sama kamu Lev!" Lita kesal karena Levy terkesan asal jawab dan sepertinya tak mau kalah.
Sungguh percakapan yang tak ada tautan antara mereka. Yang Lita maksud adalah binatang yang ada di hutan lindung, Tapi yang di dalam pikiran Levy adalah Victor. Vampir pembunuh sepupunya dan para pengikutnya.
Walau kesal, seluruh alat berburu vampir itu telah tersusun rapi. Hingga kotak kecil terakhir yang tersisa. Kotak itu berisikan pistol jenis Colt berpeluru lima terbuat dari perak murni. Rasa kesal Lita membuatnya lengah. Kotak itu luput dari perhatian Lita. Ia tidak bertanya tentang isi kotak itu.
"Lev, kotak ini saya taruh mana?"
"Semua sudah selesai disimpan Lit?" Suara Levy terkesan jauh.
"Tinggal kotak ini aja!"
"Taruh saja di tempat yang masih kosong!"
"Oke!" Lita setuju dengan ide Levy
Khawatir jatuh maka Lita taruh kotak itu di atas lantai. Kotak yang terlihat tua dan rapuh itu dapat pecah jika sempat terjatuh. Terakhir Lita tutup rak itu dengan tirai yang telah disediakan sebelumnya.
"Lev, dua hari lagi tanding ulang lho!" Lita coba ingatkan agenda Double L.
"Semua sudah saya serahkan ke Dito!"
"Yang kamu serahkan itu apa?" Lita cemas sebab jika kalah lagi maka hancur sudah mental anggota tim sepak bola mereka.
"Semuanya!"
"Yang semua itu apaan Lev?"
"Susunan daftar pemain lengkap dengan formasi pemain, taktik, kapten," ujar Levy, "pokoknya sudah semuanya!"
"Kamu nggak hadir?"
"Pertandingannya siang Lita!" jawab Levy seperti sesalkan waktu pertandingan, "kalau mendung saya datang!"
"Nggak bikin kabut saja?" Lita sepertinya kangen untuk melihat kebolehan drakula kesayangannya itu.
"Tidak bisa Lita, kasihan pemain kita!" ujar Levy.
Apa yang dikatakan Levy benar adanya. Kabut tebal pada akhirnya malah dapat bikin pertandingan ulang batal. Sedangkan kondisi mental Double L sedang naik. Levy tahu pasti bahwa anak asuhnya sudah amat tak sabar ingin membalas pertemuan pertama. Selain itu energinya akan banyak berkurang jika dirinya membuat kabut.
Levy tak mau ambil resiko setelah tahu Victor telah keluar dari guanya. Setidaknya itu kabar yang ia dapat dari Missy. Saat sekarang Levy benar-benar tengah diburu waktu.
__ADS_1
...☘️☘️☘️ ~ bersambung ~ ☘️☘️☘️...