
Kemenangan dua kosong bukan hal yang buruk. Namun, tetap saja klub Double L tidak layak dianggap sebagai pemenang bagi sebagian orang. Terutama dari pihak yang selama ini berseberangan dan tidak ingin klub asli asal kampus itu bertahan.
Double L dari segi teknik, kerjasama tim dan penguasaan bola kalah jauh dari tim asuhan Apep. Praktis hanya empat kali tercatat mereka lakukan serangan balik. Dua diantaranya berbuah gol. Satu gol oleh Tristan di akhir babak pertama. Dan gol kedua oleh Oni, pemain pengganti di penghujung pertandingan.
Mengusung formasi 4-5-1, satu penyerang tunggal kombinasi pertahanan gerendel catenaccio khas Italia. Dapat dibayangkan betapa membosankan pertandingan itu berlangsung. Meski demikian konsentrasi dan disiplin pemain Double L dalam menggalang sistem pertahanan lini per lini tetap saja patut diacungi jempol.
Hasil menang tak serta merta buat Lita puas dengan penampilan timnya, "Jadi cuma segini doang hasil latihan kalian!"
"Yang penting kita bisa balas kekalahan dulu kan Bu!" Dito tegaskan tujuan akhir mereka bertanding.
"Payah, Mainnya nggak cantik!"
"Main cantik kalah delapan kosong buat apa!" Dito ingatkan hasil pertemuan pertama.
"Nggak sedap dilihat!"
"Ibu mah mau bandingin dengan Brazil, ya belum lah Bu!"
"Eh, Dit saya pergi dulu lah ya!"
"Kok langsung pergi Bu?"
"Noh, ada Pak Heru jalan kemari!"
Dito menoleh ke kanan, ke arah datang Heru. Lalu berkata," Tapi janji laundry jadi kan Bu?"
"Jadilah, Beruntung kan kalian punya manajer kayak saya!"
"Pastinya!" Dito acungkan jempol ke arah manajer klub-nya itu.
Lita pun segera menyingkir dari tempat itu. Ia tidak mau bahas hasil pertandingan dengan Heru, sekalipun menang. Adapun tentang hadiah laundry kostum, Lita sempat janjikan pada anggota Double L, jika berhasil menang tentunya. Sudah sepatutnya tim menang tidak diberi beban mencuci kostum sendiri.
Lita duduk tenang di sofa langganannya. Tengah menikmati sensasi segar minuman kaleng yang ia ambil dari lantai bawah tadi. Tiba-tiba sofa bergerak. Lita terkejut dan sontak melompat ke arah meja kecil di arah yang berlawanan dengan sofa. Ia pun sempat keluarkan teriakan, "Eh ... eh … eh, apaan nih!"
Lita mencari sebab gerakan pada sofa itu. Jok pada sofa terangkat akibat dorongan tangan dari bawah. Levy keluar dari dalam sofa itu. Tetap dengan gaya yang tenang dan berwibawa tentunya. Ternyata sofa itu adalah tempat tidur Levy pada siang hari selama ini.
"Kamu tidur di sana Lev!"
"Iya!"
"Selama ini?"
"Lebih banyaknya!"
"Di hotel juga?"
"Kadang-kadang!"
Tau gitu ngapain sewa hotel mahal-mahal. Suit-suitan segala batin Lita.
Lita berdecak kagum pada sofa itu. Jari tangannya tampak sibuk menelusuri bagian yang terbuka tadi. Begitu rapi, sehingga tidak terlihat ada celah bahwa terdapat rongga yang besar dalam sofa itu. Lita yakin pada siang hari kekasih drakula-nya itu tidur di sana.
Levy hanya tersenyum melihat kelakuan Lita. Terlihat seperti orang yang sok ahli memang. Levy terus berjalan ke dinding yang ada tepat di depan sofa, tepat di samping pintu rahasia kemarin. Kemudian Levy pun membuka sebuah brankas.
Pintu brankas dibuka dengan gunakan sebuah kunci yang telah Levy ambil lebih dulu di dekat lampu tidur. Setelah terbuka tampak sebuah panel kode didalamnya. Lita dapat dengarkan bunyi papan panel itu hasil dari penekanan tombol kode kombinasi pada brankas. Lita menghitung ada enam digit. Adapun nada yang dihasilkan sama persis dengan bunyi tombol kode yang ia dengar ketika di hotel.
Levy buka brankas itu lalu mengambil harta miliknya yang paling bernilai, cawan perak. Dari atas sofa, Lita dapat melihat sebuah kotak kayu. Ya, kotak terakhir yang ia simpan pada lantai tepat di bawah kolong rak.
__ADS_1
Kotak lapuk itu ada pula di sana rupanya. Apa ya isinya? Lita bertanya dalam hati.
Kuat dugaan Levy sendiri yang pindahkan ke dalam brankas. Lita ambil sebuah kesimpulan dengan cepat bahwa kotak itu memiliki nilai yang tak kalah penting dibandingkan dengan cawan perak. Lita menyesal tidak mencari tahu apa isinya tempo hari.
"Lev, apa di bawah ini ada tanah juga?" Lita ketuk-ketuk bagian dari jari tengahnya tepat di bagian bawah sofa.
"Iya!" jawab Levy singkat.
"Rumania atau Bulgaria?"
"Bulgaria!" jawab Levy sambil tempelkan bibirnya pada cawan perak seperti biasanya.
"Kok Bulgaria?"
"Saya didaulat di sana!"
"Maksud kamu?"
"Iya! Kamu mengerti kan?" Maksud Levy Bulgaria adalah tanah kelahirannya.
"Oh."
Niatan untuk cerita kemenangan Double L sepertinya harus ditunda. Lita lebih tertarik untuk bahas alas tidur Levy yang terdapat susunan tanah di sana. Lita semakin ingin cocokkan kejadian itu dengan referensi yang ia dapatkan. Bahkan akhir-akhir ini Lita telah membaca ulang novel terkenal tentang kisah drakula.
"Saya pikir kamu sudah tidak lakukan hal yang tradisional lagi?"
"Terkadang saya memerlukannya!"
"Nggak bisa lepas dari sugesti?" Lita coba cocokkan pendapat Levy dengan film mini seri drakula yang baru selesai ia tonton.
"Tidak juga, tapi kadang memang perlu!"
"Aktivitas saya cenderung berlebih, Butuh istirahat total!" Levy coba menggambarkan kesibukan yang ia lakukan.
Lita tidak setuju dengan alasan Levy. Yang terlihat oleh Lita justru kebalikannya. Levy terlihat lebih banyak istirahat dibanding bekerja. Urusan klub sepak bola misalnya, Levy belum tentu hadir sebanyak satu kali dalam satu minggu. Dapat dibilang Levy sangat jarang hadir untuk melatih.
"Saya tidak melihatnya seperti itu, maaf!" Lita perlihatkan rasa tidak setuju.
Levy tersenyum lantas berkata, "Keadaan genting sekalipun paling banyak dua puluh jam seminggu untuk bangun!"
"Dua puluh jam seminggu?"
"Paling banyak!"
"Biasanya?"
"8 atau 12 jam!"
"Apa?" Lita tak percaya.
"Iya memang sekitar itu," Levy coba yakinkan Lita atas perkataannya.
"Kenapa kamu seperti itu?"
"Menghemat tenaga!"
Levy ulang kembali perkataan yang telah pernah sampaikan pada Lita. Saat itu Lita meminta Levy membuat kabut. Agar dapat temani Double L berlatih setiap kali seperti yang Lita Inginkan.
__ADS_1
Tampaknya Lita tidak mengerti kebutuhan energi yang Levy butuhkan. Memang Levy Sang Pangeran Drakula itu belum berani terus terang tentang kebutuhannya akan darah. Bagi makhluk seperti Levy darah adalah sumber kehidupan. Semakin besar energi yang ia butuh maka akan semakin sering dan banyak ia harus makan.
"Lev kalau hanya dua puluh jam seminggu bagaimana kamu bisa main motor dengan sepupu kamu itu?" Lita ragukan cerita Levy untuk pertama kalinya.
"Olaf namanya!"
*Ya itu, Olaf maksud saya!"
"Kamu dengar perkataan kami?
"Ya, kita kan semeja!"
"Walau dalam keadaan mabuk?"
"Pas bagian itu belum parah bener kali?" Lita terlihat nyengir kuda.
Levy tertawa melihat sikap Lita. Walaupun sudah sangat dewasa dari segi usia, sifat kekanakan Lita kadang timbul. Seringnya ketika salah tingkah atau sedang berusaha membujuk Levy untuk lakukan sesuatu untuk dirinya.
Olaf adalah sepupu sekaligus guru bagi Levy. Berkat Olaf, Levy dapat mengenal arti sabar dan mempelajarinya. Karena rasa sabarnya pula Olaf harus terbunuh vampir yang masih berusia muda.
"Victor yang kamu cari itu?" Lita sebut nama vampir pembunuh ayah kandung Missy.
Levy tertawa sekaligus berikan pujian, "hebat kamu!"
"Gampang mabuk saja hebat?" balas Lita, "gimana kalau benar-benar jago minum,"
"Pernah lihat perempuan jago minum?" Levy berniat menyinggung.
"Misna! Missy!"
"Jangan ditiru!" Levy tak senang akibat singgungan miliknya telah berbalik arah.
"Mereka kok bisa kuat minum dan terlihat energik!" Lita coba bandingkan dua betina penghisap darah itu dengan Levy.
"Panjang kalau dibahas!" Jawaban Levy terdengar ketus.
"Kok kamu nggak bisa seperti mereka?" Lita seperti kesal karena Levy terkesan lemah dan terlihat semakin lama semakin loyo.
"Mereka rakus darah, hanya dengan darah mereka bisa sekuat itu!"
Bergidik Lita dengarkan penjelasan Levy. Itu adalah penjelasan yang ia rasa paling sesuai dengan dugaannya. Sangat tepat jika didasari dengan kisah-kisah drakula yang pernah ia tahu. Jawaban itu rupanya sekaligus jawaban untuk Lita sebelumnya. Mengapa Levy sempat diceritakan dapat bermain motor seharian saat piala dunia Perancis 1938.
Lita takut dan tidak mau mendengar lebih tentang cerita lama itu. Tak sanggup ia bayangkan Levy yang berbeda dengan yang dilihatnya saat ini. Lita pun hanya terdiam. Sampai suatu ketika Levy kembali arahkan cawan perak itu ke arah bibirnya sekali lagi.
"Oke, saya harus pergi sekarang!"
"Kemana?"
"Ada janji temu pasien di klinik."
"Saya kira tadi mau cerita Double L!"
"Lain kali aja ya!" Lita menolak halus untuk tinggal lebih lama.
Terpaksa Lita harus pergi ke klinik untuk penuhi janji temu. Walau masih banyak cerita belum Levy kisahkan padanya. Tapi di lain sisi ia sangat beruntung segera ke klinik saat itu.
Sulit bagi Lita untuk terima cerita versi yang berbeda dari Levy. Antara masa lalu dengan yang ia kenal sekarang. Pastinya ada unsur kengerian yang Levy lakukan. Persis dengan apa yang Lita bayangkan tentang kisah drakula yang sebenarnya.
__ADS_1
...☘️☘️☘️ ~ bersambung ~☘️☘️☘️...