
Lita buka matanya secara perlahan. Tiba-tiba ia tersentak, terkejut bahwa telah berada di atas kasur super besar itu. Ketika menoleh ke arah kiri Lita melihat Levy tengah duduk diatas sofa tempat ia menonton TV semalam.
Sontak Lita sibuk meraba-raba beberapa bagian dari pakaiannya satu persatu. Ia ingin pastikan keberadaan posisi pakaian yang ia kenakan. Setelah dirasa lengkap, Lita pun segera bergerak dengan tenang untuk duduk di sisi kiri ranjang. Tepat berhadapan dengan Levy.
Oh, syukurlah batin Lita dalam hati.
Levy duduk dengan bersandar di sofa yang menjadi sentral ruangan itu. Sedari tadi ia perhatikan Lita yang sedang tertidur. Setelah Lita sadar sepenuhnya ia pun berkata, "Nyenyak tidurnya? Maaf sudah berani pindahkan kamu ke atas tempat tidur."
"Heh, jam berapa sekarang! Saya harus pulang!" Bentak Lita merasa tidak senang. Ia sangat khawatir akan perbuatan yang dapat Levy lakukan saat ia tertidur.
"Sudah mau pagi, nggak tega bangunkan kamu," jawab Levy tetap tenang, "Memang mau pulang kemana, sudah hampir pagi ini Lita!"
"Oh, Ya ampun saya belum bilang ke bibi!" ucap Lita tiba-tiba tersadar bahwa ia tidak pulang ke rumah tanpa bilang-bilang ke orang rumah.
"Sudah saya kasih tahu ke Bibi Imah tadi malam kalau kamu aman disini," ujar Levy.
"Terus apa kata dia! O … rupanya kamu pakai sihir kamu ke Bibi Imah juga ya? tukas Lita tanpa ragu, ia sangat paham akan kemampuan Levy memanipulasi lawan bicaranya. "Ya kan!"
"Iya, semalam di Bi Imah telepon ke ponsel kamu," jawab Levy.
"Terus telepon kamu angkat, kamu jawab dan kamu sihir BI Imah kayak orang-orang itu! ujar Lita dengan emosi mulai meninggi, "begitu kan!"
"Ya, saya lakukan itu," Levy akui aksinya dengan jujur, "saya tidak ingin tidur kamu terganggu, itu saja."
Pernyataan Levy memang ada benarnya, tapi sikap seperti itu menurut Lita jauh dari kata terpuji. Lita yang tak mampu kuasai emosi pun berkata, "Hei Levy saya mau tanya sama kamu! Kamu ini bukan manusia ya!"
"Iya!"
Berdegup keras jantung Lita mendengar jawaban Levy. Walau telah ada rasa curiga sejak menjadi saksi mata atas daya magis Levy. Bahkan Lita telah siap untuk terima kenyataan bahwa Levy dari jenis siluman sekalipun. Lita pun telah bersiap untuk kemungkinan terburuknya.
Tapi tetap saja Lita terkejut dengarkan pengakuan Levy. Terlebih ia telah rasakan ada perasaan telah jatuh hati pada Levy. Lita selalu kagum pada sikap terbuka yang diperagakan oleh levy. Tapi rasa curiga tak bisa hilang begitu saja pada orang yang sangat dekat dengannya akhir-akhir ini.
"Apakah kamu dari jenis vampir?"
"Bukan, saya dari conde dracula!"
"Ah, sama saja!"
"Kalau kamu punya waktu saya bisa terangkan letak perbedaannya," Suara Levy terdengar mantap.
Lita anggap perbedaan itu sebagai hal yang tak punya arti. Baginya sama sama peminum darah apalah bedanya. Agaknya rasa kesal itu timbul akibat ia dibiarkan saja tertidur dalam kamar itu. Lita belum mampu hilangkan rasa dongkol dalam hatinya.
Levy sangat paham sifat Lita, haus akan ilmu pengetahuan. Terlebih pada sesuatu yang dirasa baru. Ia sendiri bahkan telah sempat rasakan banyaknya pertanyaan Lita sewaktu perjalanan dari kampus ke hotel. Lita semakin tertarik pada sesuatu yang ada buktinya, bukan hanya sekedar teori.
__ADS_1
"Kalau memang demikian kenapa kamu sembunyikan identitas kamu!"
"Saya tidak pernah merasa tutupi identitas, terutama pada kamu, Lit!"
"Terus kenapa kamu nggak bilang!"
"Rasanya tidak mungkin jika saya harus bilang ke semua orang Lita, Halo .... saya drakula, Begitu!" ujar Levy dengan nada terkesan sinis.
"Maksud saya sejak dari awal!"
"Awal? Ketika Jepang kontra Spanyol begitu?"
"Memangnya kita ketemu?" Lita penuh keheranan, "yakin?"
"Ketemu, ,Apa perlu saya bikin agar kamu ingat lagi?" Levy coba berikan tawaran terapi hipnotis pada Lita untuk memanggil memori.
"Jangan-jangan, saya tidak mau," ujar Lita yang khawatir jika harus di terapi di bawah alam sadarnya oleh Levy, "Kalau benar telah ketemu, kok kita tidak saling sapa dan berkenalan?"
"Kan kamu tidak hampir jatuh," jawab Levy coba ingatkan cara pertemuan mereka.
"Kenapa tidak jatuh saja sekalian," jawab Lita kembali kesal.
"Tidak mungkin kamu bilang terima kasih ke saya jika sudah terjatuh," ujar Levy dengan senyuman kaku khas miliknya.
Bahkan bahasan tentang pertemuan mereka sepertinya ia harus terima. Ia benar-benar tak tak pernah perhatikan sekelilingnya. Lita tak pernah perhatikan pada hal yang disampaikan Levy. Justru seharusnya ia harus bangga sebab Levy telah perhatikan dirinya tanpa sepengetahuan dirinya. Bukankah itu hebat?
Sepertinya sudah tidak perlu diteruskan. Toh, pada akhirnya ia harus terima kondisi Levy yang memang telah sesuai seperti ia sangkakan. Namun, ia tetap harus mampu menjaga dari segala kemungkinan. Walau ada kesan Levy tidak berbahaya bagi dirinya.
"Oke, maafkan saya jika terkesan telah bersikap berlebihan," ujar Lita ringan seolah tak terjadi sesuatu apapun.
"Bukan kesan, tapi telah terdefinisi kan!"
"Maksud kamu omongan saya dari tadi telah kamu dapatkan kesimpulannya sejak semula, Begitu!"
"Saya selalu katakan hal yang benar!"
"Hebat sekali anda!' Terdengar nada tinggi dari Lita yang terdengar sedang menyindir perkataan Levy sebelumnya. "sudah saya ngertiin juga? huh ... payah!"
Lita tersinggung dan sepertinya terpancing untuk naik pitam. Semua berawal dari Levy yang telah berani membuat suatu kesimpulan akhir tentang dirinya. Dengan kata lain Levy menuding dirinya sangat mudah ditebak.
Levy mengaku telah dapat memprediksi segala sikap maupun tindakan Lita. Rasa kesal juga timbul atas pernyataan Levy yang hanya keluarkan perkataan yang benar. Seolah-olah paling jujur di dunia. Sungguh membuat Lita bertambah murka.
"Maaf Lita bukan bermaksud sombongkan diri, jika saya berkata memang harus ada dasarnya!"
__ADS_1
"Makanya kasih tahu dong apa yang bikin kalian sombong" Lita coba tunjukkan sikap keras kepalanya. Ia ingin tutupi rasa ingin tahu pada jawaban yang akan Levy berikan jika benar-benar drakula.
Levy tahu pasti pada apa yang ingin Lita ketahui. Lita ingin tahu pijakan atau dasar atas rasa sombong yang ia miliki. Levy pun berkata," Kami telah banyak pelajari perilaku manusia, Bahkan tidak sedikit ahli perubahan perilaku lakukan kerjasama dengan kami!"
Lita berkata dengan gaya seolah mencibir, "Baru saja tanpa kamu sadar telah lakukan suatu kebohongan! Orang seperti kamu itu sifatnya selalu tertutup! Jadi bagaimana mungkin?"
"Tidak juga harus berhubungan langsung, cukup kami percayakan pada satu orang segala urusan kami, benarkan Lita?" Levy coba terangkan cara mereka berhubungan dengan dunia luar.
"Jadi itu cara kamu jalankan bisnis agensi itu?" tanya Lita yang tiba-tiba teringat akan bisnis Levy di bursa pemain bola berbakat asal negara-negara Balkan.
"Benar Lita, kamu ingat ketika saya pernah bilang teman kan?"
Lita ingat Levy pernah berkata bahwa ada teman yang telah pesankan hotel. Teman itu yang berikan kartu nama sebuah hotel pada Levy. Juga para petugas hotel yang beberapa kali telah menyebut teman Tuan Zhelev Hristov.
"Oke, oke kamu memang pernah bilang," jawab Lita,"maaf jika tidak perhatikan!"
"Tak ada masalah Lita."
"Oke lev, terima kasih sudah ngertiin sifat kurang teliti saya," ujar Lita. "Kalau gitu saya pulang dulu lah ya, ntar malam kalau sempat habis praktek saya ke sini lagi!"
"Sekarang kamu mau kemana?"
"Saya mau ke kampus!"
"Oke.. kan bisa berangkat dari sini saja?"
"Iya, tapi saya kan harus beberes dulu," ujar Lita sembari mengikat rambutnya.
"Sebentar lagi Asep bawa sarapan buat kamu, sayang sekali kalau kamu pulang,"
"Asep siapa?"
"Room boy yang antar kamu kemarin,"
"Kok dia lagi sih, orangnya diam banget!" Lita sedikit keberatan mengapa pilihan harus jatuh pada Asep, "penakut juga!"
"Justru yang diam itu bagus! nggak akan pernah berani bongkar rahasia!"
Baru saja Levy berkata tentang Asep, bel pintu kamar berbunyi. Bersamaan dengan Lita yang hendak ke kamar mandi untuk bersihkan diri. Pintu kamar dekat kamar mandi, Lita berinisiatif tawarkan dirinya untuk bukakan pintu.
Pintu kamar terbuka, terlihat Asep dengan muka pucatnya. Ia telah siap untuk sajikan makan pagi buat mereka. Dengan hati-hati dibawanya masuk baki dorong khusus hotel dan restoran itu.
...☘️☘️☘️~ bersambung~☘️☘️☘️...
__ADS_1