
Lita benar-benar merasa bersalah. Sudah berjam-jam ia terus sesali perbuatannya. Tapi apa boleh buat, nasi telah jadi bubur. Lita tidak bisa terima, bagaimana dirinya begitu tega tinggalkan Levy dalam kondisi yang sangat lemah.
Baru saja terpikir oleh Lita tentang fungsi cawan perak itu. Setahu Lita, Levy selalu minum hanya melalui cawan itu. Ia teringat peristiwa perubahan rona muka Levy dari seperti mayat kembali berwarna. Walau tetap saja masih pucat.
Lita mulai yakin cawan perak itu sumber makanan dan kekuatan untuk Levy. Begitu tega dirinya telah menghancurkan benda yang mampu membuat drakula yang ia sayangi itu bertahan hidup. Cawan itu yang jadi penyebab Levy seperti tak ada lagi rasa untuk sakiti orang lain.
Bahkan dari sejak awal pertemuan, Lita tak pernah lihat ada kebuasan pada sinar mata Levy. Yang Lita lihat bola mata yang teduh, cenderung melindungi. Berbanding terbalik dengan Misna dan kelompoknya.
Sungguh bukan perbuatan yang terpuji Lita, ia bergumam dalam hatinya.
Lita menyantap kwetiau goreng pemberian Asep, Pastilah Levy menyuruh Asep untuk membelikan untuk dirinya. Karena dirinya pernah menyampaikan jika kwetiau goreng di tempat itu enak. Pasti Levy telah punya perkiraan bahwa dirinya akan kembali lagi.
Betapa malangnya Levy harus tersakiti oleh wanita bodoh yang tidak pernah bisa berpikir panjang. Kata-kata itu yang keluar dari relung hatinya yang paling dalam.
Perasaan bersalah membuat Lita segera ingin kunjungi Levy sore itu. Begitu selesai tunaikan janji dengan pasien, ia tidak mau menunggu pasien lain. Lita putuskan untuk segera kembali ke rumah Levy.
Lita Ingin segera mengetahui keadaan Levy. Jika memungkinkan Lita akan coba perbaiki bloodstone yang telah banting kemarin. Ia bermohon dalam hati agar tak ada kerusakan berarti pada alat minum Levy itu.
Tak ada tanda-tanda bahwa Asep ada di rumah. Lita masuk dalam rumah dengan gunakan kartu akses seperti biasanya. Lalu segera naik ke lantai dua, ke tempat ia tinggalkan Levy semalam.
"Lev, Levy! Dimana kamu?" Lita mencari keberadaan.
Namun, tak ada tanda-tanda keberadaan Levy disana. Lita masuk dalam kamar rahasia Levy juga kosong disana. Ada yang berbeda, yakni tak ada keberantakan sama sekali disana. Semua telah bersih kembali.
Bahkan cawan perak yang telah terburai itu terletak diatas meja kerja Levy. Walau kondisinya telah tak lagi satu. Bloodstone sudah tidak tampak lagi berada di dalam cawan. Lita memiliki keyakinan bahwa Asep telah masuk untuk bersihkan kamar tuannya.
Begitu juga dengan Brankas dan kamar kerja rahasia. Keduanya dalam keadaan tertutup kembali. Besar kemungkinan Asep telah lakukan pembersihan sesuai standar saja, tanpa ada arahan dari Levy. Terbukti cawan perak telah bersih tercuci, Tidak ada jejak bulir-bulir darah merah di sana.
"Lev, Levy!" Lagi Lita panggil nama pelatih klub sepak bola mereka itu.
"Argh …. duk!" Terdengar erangan dan bunyi papan terkena pukulan secara beriringan.
Lita merasa pernah dengarkan bunyi yang sama persis. Seperti bunyi papan terpukul atau lebih tepatnya terkena dorongan dari dalam sofa. Sama persis saat ia pernah saksikan Levy keluar dari tempat tidur dengan alas tanah kelahirannya.
Ada celah sedikit terlihat, Lita pun segera selipkan jarinya di celah itu dan ditariknya dengan kuat. Sofa yang dijadikan peti mati oleh Levy itu pun terbuka.
"Lev, kamu nggak apa-apa?"
Levy tak menjawab. Ia sibuk untuk tutupi wajahnya pakai kedua telapak tangannya. Lita melihat adanya kejanggalan disana. Punggung tangan Levy menghitam dan penuh kerutan.
Lita paham. Levy sepertinya sangat malu jika terlihat dalam keadaan seperti itu. Jika dilihat dari kerutan tangan itu, diperkirakan wajah Levy pastilah terlihat berkerut pula. Lita bayangkan seperti lengan kakeknya dulu. Saat berumur diatas delapan puluh tahun.
Lita berikan jubah panjang yang pernah dipakai Levy saat kunjungan ke sekretariat saat Levy masih menginap di hotel. Lita pun tak mau melihat Levy memakai jubah itu.
"Pergilah Lita!" Suara Levy terdengar seperti bergetar
"Kenapa saya harus pergi?
"Sebentar lagi mereka akan datang!"
"Mereka kan nggak bisa masuk kalau tak diundang?"
"Saya khawatir segel rumah ini telah dibongkar Missy!"
"Kok bisa gitu?"
"Dia pernah masuk rumah kan?"
__ADS_1
"Jadi benar dimana-mana dia berkhianat?"
"Saya tidak tahu, hanya menduga saja
"Nggak bisa kamu cari tahu dulu Lev
"Saya tidak punya kekuatan untuk lakukan deteksi awal!'
"Jadi kita pergi buat cari aman begitu?
"Iya!"
"Kalau begitu biar saya yang lawan dia!"
"Bagaimana dengan anak buahnya?"
Sengaja Levy tanyakan karena Lita terlihat sangat berani menghadapi Missy. Walau ketika melihat bayangan hitam anak buah Misna saja, ketakutannya bukan main. Bagaimana mau melawan bos bila melihat anak buahnya saja sudah ketakutan.
"Jadi gimana sekarang?" Lita bayangkan tukang pukul Missy yang berbadan besar.
"Kamu pergilah!"
"Kamu sendiri bagaimana?"
"Dia masih butuh saya!"
"Tidak kalau harus pergi, kita berdua!"
"Kalau begitu sebaiknya cepat!"
Levy tidak ingin buang waktu lagi. Levy tahu benar sifat keras kepala Lita. Ia lebih khawatirkan Lita jika masih ada di sana. Missy akan dengan senang hati jika harus menghabisi orang-orang yang dianggap saingannya. Terlebih Lita yang sempat keluarkan hinaan secara langsung pada putri sepupunya itu.
"Jam berapa sekarang?"
"5.37."
"Lita kamu siapkan saja mobil kamu tepat di depan pintu ya!"
"Kamu bisa jalan sendiri
"Bisa!"
"Turun tangganya?"
"Tinggal turun kan?"
"Nggak lucu Lev!" Lita terlihat khawatir.
"Cepatlah Lita kamu urus saja mobilnya!"
Lita pun segera keluar duluan untuk urusi mobilnya. Walau ia tak tahu apa bahaya apa yang bisa menimpa mereka. Lita pikir masih aman untuk tetap di sana, karena ada tata cara bertamu yang berlaku bagi para makhluk penghisap darah itu. Lita belum mengerti harus segera keluar dari rumah itu, dan mau kemana setelahnya.
Lita parkirkan mobil tepat di depan pintu rumah. Setelah itu ia kembali untuk jemput Levy. Bersyukur Levy telah tiba di lantai dasar, dengan kondisinya sangat lemah. Lita berikan bahunya sebagai pegangan bagi Levy. Harus diakui dengan cara dipapah Levy dapat lebih cepat keluar rumah dan masuk ke dalam mobil.
Sekilas Lita dapat melihat wajah Levy saat jubah panjang itu tersingkap ketika hendak naik mobil. Sempat pula dengarkan Levy merintih ketika sinar matahari membakar bagian mata kakinya yang tak terlindung pakaian. Beruntung Lita punya ide untuk dudukan Levy di bangku belakang.
"Ayo jalankan mobilnya!"
__ADS_1
"Kemana kita?"
"Jalan sajalah dulu!"
Matahari telah tenggelam, saat mereka telah tiba di jalan besar. Dari kaca spion dalam, Lita melihat keadaan Levy. Sangat beda jauh dengan penampilan pangeran drakula yang digambarkan dalam film.
Beruntung mereka telah keluar dari rumah itu. Jika vampir anak buah Misna keburu datang, maka habis sudah kesempatan mereka untuk keluar selamanya. Victor dengan mudahnya dapat rasakan kondisi Levy yang lemah. Tetua Vampir itu takkan akan segan lakukan segala hal yang dianggap rendah untuk lenyap kan Levy.
"Kita mau kemana Lita?"
"Ini jalan ke rumah!"
"Apa tidak apa-apa disana?"
"Saya tinggal berdua aja dengan Bi Imah, Nanti saya kondisikan biar dia bisa seperti Asep!"
"Begitu ya?"
"Eh Si Asep gimana tuh, bahaya nggak dia disana sendirian?"
"Saya sudah suruh dia untuk tidak kembali dulu!"
"Dimana dia sekarang?"
"Di rumah orang tuanya!"
"Takut nggak dia pas kamu suruh dia pulang dulu?
"Maksudnya?"
"Iya, Apa Asep nggak takut ngeliat kondisi tuannya lagi begini?
"Kan ada ponsel Lita!"
Dua kali Lita terkena terjebak soal ponsel oleh Levy. Pertama aplikasi transportasi online. Yang kedua saat sekarang, pesan singkat melalui ponsel.
Lita tersenyum lebar. Ia sempatkan lagi untuk melihat keadaan Levy kembali melalui spion dalam mobil. Terlihat Levy tersenyum lebar dengan wajah keriput.
"Sorry, udah ngancurin alat minum kamu."
"Bukan itu yang jadi sesal bagi saya!"
"Terus apa dong?"
"Baru kali ini saya lari dari pertempuran!"
"Kan nanti kita bisa balas!"
"Di usia 37 tahun malah harus melarikan diri?"
Lita hanya diam dengarkan perkataan Levy. Benar-benar ada emosi Levy yang terasa di sana. Untuk menghibur Levy, Lita pun bertanya, "37 tahun kok udah keriput gitu? Gimana cara ngitung umurnya ya?"
Levy hanya bisa tersenyum kecut, lengkap dengan kerutan di seluruh wajahnya. Akibat dengarkan ejekan Lita itu. Lantas ia berkata, "Nanti saya ajarkan cara menghitung umur saya!"
"Janji ya!"
"Iya saya janji."
__ADS_1
...☘️☘️☘️ ~ bersambung ~ ☘️☘️☘️...