Coach Kami, Mr. Drac

Coach Kami, Mr. Drac
BAB 16 ~ Rekrutmen Double L ~


__ADS_3

Levy baru selesai lakukan pengamatan, berdasarkan laporan jadwal latih klub lain dari Dito. Puas rasanya setelah melakukan  pengamatan selama tiga hari. Levy sangat beruntung hanya butuh tujuh orang saja untuk lengkapi skuad Double L.


Dari tujuh orang yang dicari, Levy hanya butuh empat klub olahraga untuk diamati.. Empat orang dari tim futsal, sedangkan tiga lainnya dari basket, bola voli dan softball. Sistem kerjanya adalah Dito dan kawan-kawan yang akan hubungi mereka setelah dapatkan rekomendasi dari Levy.


"Gimana Lev, sudah dapat calon pemain baru?" tanya Lita


"Sudah kalau sekedar deteksi para pemain yang punya minat bergabung,* jawab Levy. "itu saja dulu sebagai awal."


"Cara lihatnya kamu terawangkah sampai dapat terbaca pikirannya kah?" tanya Lita penuh rasa ingin tahu.


"Tidak, hanya fokus untuk tahu tingkat ketertarikan bergabung dengan klub!" jawab Levy.


Levy ceritakan proses pengamatan yang ia lakukan. Levy perintahkan anggota klub untuk berkeliaran di tempat latihan klub lain. Mereka disuruh kenakan kostum yang berwarna kuning. Ia akan berikan petunjuk pada Dito dan kawan-kawan lakukan ajakan bersedia bergabung atau tidak.


"Kok mereka kamu suruh kostum yang kuning, jadinya jarang mahasiswa yang minat gabung!" Lita protes keputusan Levy dalam memilih kostum sebagai alat penarik calon pemain.


"Kalau kuning laki-laki kurang suka akan warna itu, jika ada minat berarti memang minat sama sepak bola, bukan sekedar kostum yang bagus," Levy jelaskan sebuah alasan yang masuk akal pada Lita.


"Kenapa tidak langsung saja kamu seleksi gunakan kekuatan pikiran kamu lev?" Lita kurang puas dengan metode pemilihan pemain yang baginya kurang efektif.


"Tidak bisa seperti itu, kalau harus sesuai dengan cara kamu, saya akan butuh makan yang sangat banyak," ujar Levy.


Lita tertegun dengarkan penjelasan Levy. Lalu ia kaitkan dengan cawan perak wadah minum milik Levy. Barulah ia dapat suatu alasan dari cara minum Levy yang sedikit demi sedikit. Bahkan terkesan hanya menempelkan bibir saja. Lita bertekad suatu waktu akan bertanya tentang cawan perak itu.


Tidak seperti cerita atau film yang pernah ia tonton. Betapa rakusnya vampir atau drakula saat menghisap darah korbannya Terlebih ketika baru berubah jadi vampir atau drakula.  


Kerap kali dipertontonkan adegan mereka menghisap darah korbannya. Terkadang digambarkan sampai darah korban kering, hingga tubuh korban pu layu. Bahkan para monster itu menghabisi lebih dari satu orang dalam satu malam. Merinding jika harus bayangkan adegan itu.


"Katanya kemarin kalian sempat terima banyak anggota? Levy bertanya pada Lita. 


"Iya benar!" jawab Lita.


"Terus pada kemana mereka?" Levy bertanya keberadaan mereka.


"Ya nggak jadi gabung!" jawab Lita sedikit kecil hati.


"Sebabnya?' tanya Levy.


"Kita kalah lawan Tim Apep!" Lita terlihat anggukkan kepalanya, "itu yang jadi sebab utamanya."

__ADS_1


"Mereka kembalikan kostum dan sepatu hasil pembagian nggak?" tanya Levy


"Kalau sepatu belum mereka belum dapat, soalnya kan harus ke toko?" jawab Lita.


"Itu kalau sepatu? Nah kalau kostum? tanya Levy lebih lanjut.


Lita tercengang akan pertanyaan Levy. Ia baru tersadar bahwa mereka telah lakukan kesalahan. Lita sadar jika meminta kostum kembali akan lebih sulit dari membagikan. Lita pun segera ambil ponsel miliknya, lalu terlihat seperti mengetik sebuah pesan. 


Levy keluar dari ruang sekretariat. Ia butuh ruangan lepas untuk bebaskan rasa penat setelah duduk cukup lama. Ia kesal pada gaya Lita yang suka anggap remeh segala hal. Termasuk tanggung jawab atas tugas menjaga inventori klub yang ada.


Beruntung cuaca sore hingga menjelang malam sangat mendukung. Levy saksikan kabut terus turun, kali ini telah berada di bawah pucuk-pucuk pepohonan. Jarak pandang pun semakin pendek.


Mata tajam Levy dari kejauhan melihat Dito, Tristan dan beberapa anggota yang belum ia kenal. Mereka jalan beriringan menuju kearah Levy berdiri. Sepertinya mereka telah dipanggil oleh Lita melalui pesan singkat. 


"Lit, sebaiknya saya pulang saja," Levy berkata sambil kenakan kembali mantel hitam panjang yang tadi ia tenteng.


"Tunggu, nanti saya antar saja," ujar Lita sambil melangkah keluar "tapi setelah saya bicara sama anak-anak!"


"Saya bawa Vespa, lagi pula saya pulang ke rumah baru," Levy menolak tawaran yang diberikan Lita.


Hari itu Levy memang telah kurangi waktu istirahat. Ia ingin sesegera mungkin penuhi janji melengkapi pemain klub Double L. Setelah sebelumnya ia menunaikan janji dalam hal pemenuhan perlengkapan dan fasilitas klub. 


"Kamu mau bicarakan tentang kostum ke mereka ya Lit?" tanya Levy setelah hidupkan mesin motor dua tak berpantat bulat itu.


"Iya, mau selesaikan tanggung jawab!" jawab Lita. 


"Oke Lit , tapi jangan lama-lama terangkan tugas ke mereka!" ujar Levy, "mereka cepat paham kok!"


"Siap Lev, kamu hati-hati ya," ucap Lita sembari lambaikan tangan pada drakula yang baik hati itu.


**


Lita kagum dengan dekorasi lantai dasar rumah Levy. Secara keseluruhan hanya terdiri dari sebuah ruang tamu yang super besar. Atau Lebih mirip dengan sebuah aula.


Hanya ada meja panjang untuk tempat minum dan sebuah meja bilyard yang ada di tengah-tengah ruangan. Juga berbagai jenis kursi dan sofa tampak mengelilingi ruangan itu. Tampaknya Levy akan segera didatangi tamu dalam jumlah yang sangat banyak.


"Sebaiknya Bu Lita langsung ke atas saja!" ujar Asep..


"Oh ya, Pak Levy sudah nunggu saya ya?" tanya Lita.

__ADS_1


"Sepertinya begitu Bu," jawab Asep.


Setelah menaiki tangga yang terbuat dari kayu, Lita tiba di lantai dua. Pada lantai itu hanya ada kamar Levy. Sepertinya konsep kamar adalah apartemen jenis studio. Bedanya kamar Levy berukuran sangat besar. Sama dengan tangga, seluruh lantai terbuat dari papan kayu tebal. Sungguh interior yang penuh dengan konsep klasik.


Levy duduk di sofa yang sama dengan yang ada di hotel sebelumnya. Seperti biasa tangan kanannya memegang cawan perak. Dengan langkah pelan Lita berjalan mendekat. Lalu ia pun duduk di sebelah Levy seperti biasanya.


"Hei ini sofa yang sama kah? tanya Lita


"Pengamatan yang bagus," puji Levy.


"Jadi sofa ini milik kamu?" tanya Lita. 


"Iya, teman yang kirimkan untuk saya, bahkan sebelum saya datang," jawab Levy


"Wah, merepotkan sekali rupanya," ejek Lita yang berpikiran tak ada kepraktisan disana.


"Ada apa larut malam begini kemari?" tanya Levy bermaksud pindah pokok materi bahasan.


Lita ceritakan tujuan dirinya temui Levy malam-malam. Selain ucapkan rasa terima kasih, Lita ingin sekali terlibat dalam proses seleksi pemain inti. Pada dasarnya Lita ingin terlihat punya kontribusi, terutama di depan anak didik mereka. 


Levy pahami situasi yang dihadapi Lita. Sebagai manajer klub ia telah kalah pamor dibanding Levy. Apa yang menjadi tugasnya telah diambil dan dilaksanakan dengan baik oleh Levy. 


Levy sangat paham dengan situasi ini, dan berkata, "maaf Lita, situasinya memang mengharuskan kita bertindak cepat."


"Mengapa begitu?" tanya Lita.


"Karena saya sudah berencana untuk tanding ulang dengan Tim Apep!" jawab Levy.


Lita sumringah dan sangat setuju dengan tujuan Levy itu, "Terus apa yang bisa saya bantu."


"Kamu bisa bantu saya dengan siapkan fisik anak-anak itu," jawab Levy.


"Benarkah?" Lita terdengar bersemangat.


"Iya, manajer klub dan sebagai pelatih fisik sangat tidak bertentangan," Levy berikan pendapatnya.


Lita sangat suka dengan posisi barunya. Benar-benar sangat berhubungan dengan keahlian dan spesialisasinya. Lita pun siap dalam mengurusi fisik dan kebugaran pemain. 


...☘️☘️☘️ ~ bersambung ~ ☘️☘️☘️...

__ADS_1


__ADS_2