Coach Kami, Mr. Drac

Coach Kami, Mr. Drac
BAB 07 ~ Cawan Perak ~


__ADS_3

Lita selesai membersihkan diri, kini dirinya merasa lebih segar. Saat keluar Lita dapati Levy hanya duduk sendiri di sofa. Adapun sarapan pagi yang dibawa oleh Asep tadi telah terhidang di atas meja dihadapan Levy. 


Lita hempaskan bokongnya pada sofa, duduk duduk di samping Levy, Lita pun bertanya, "Lev, mana si Asep tadi? Kok sudah nggak ada?"


"Dia turun ke bawah! Dia bilang masih ada kerjaan di restoran," jawab Levy.


Lita tahu apa yang jadi alasan Asep lebih memilih kerja di bawah. Yaitu rasa takut.  Lalu sembari keluarkan kotak rias dari tas kerjanya ia berkata, "Wah harusnya dia tetap disini, masa nggak bisa biasakan diri dengan tamu spesial!"


"Seharusnya begitu, dia telah kami minta secara khusus untuk layani saya selama saya disini," jawab Levy, "agaknya untuk saat ini Asep belum bisa penuhi harapan kami."


"Jadi Asep itu atas pesanan teman kamu, Khusus untuk itu?" Lita tertawa bahwa dugaannya tepat tentang Asep. 


"Iya, dengan didasari selera saya pada waktu yang lalu-lalu," jawab Levy dengan gaya tetap sombong.


Kecurigaan Lita akan Asep telah ada sejak di depan meja resepsionis kemarin. Pihak manajemen hotel seolah tidak punya staf lain yang dapat temani dirinya ke kamar Levy. Namun, Lita lebih pilih tidak ungkap hal dasar atau bukti yang jadi dugaannya pada Levy. Sepertinya keinginan sekedar tunjukkan betapa pintar dirinya pada Levy adalah hal yang tidak penting.


Lita keluarkan isi dari kotak alat rias yang sempat ia keluarkan tadi. Lalu ia gunakan alat rias wajah yang sederhana itu. Hanya terdiri bedak padat dan lipstik.


Tak butuh waktu lama untuk Lita berhias. Kulit wajah nan putih dan bibir merahnya membuat jenis kosmetik yang dibutuhkan serta waktu berias relatif sedikit dibanding wanita lain. Selain itu Lita memang telah biasa dalam tampilan sporty dan ringkas.


Saat mengangkat cangkir kopinya, Lita bermaksud memecah keheningan dengan ajukan sebuah pertanyaan, "Teman kamu ini Lev, apa sudah lama punya hubungan dengan kamu?"


"Dia turut membantu ayahnya sejak kecil, Dia generasi keempat dari keluarganya," jawab Levy.


"Wuih.. enak! Segar kopinya!" Lita memuji kopi yang baru saja dihirupnya, "Berarti masih muda dong!"


"53 tahun, tiga tahun lagi akan pensiun," jawab Levy, "sayang, padahal dia masih muda!"


"Masih muda? Sebentar lagi pensiun dan sudah ada calon pengganti generasi keli.. huk.. huk!" Terdengar suara kacau akibat tersedak.


Kerongkongan tersedak roti jadi penyebab perkataan Lita terputus. Awal mulanya ia bermaksud untuk tertawakan Levy yang memiliki pertemanan lintas generasi yang dianggapnya aneh. Bahkan segera sampai ke generasi kelima.


"Minum dulu Lita," ujar Levy lembut tanpa ada niat membalas komentar Lita yang sempat ingin tertawakan jawabannya.


Sejenak suasana menjadi hening. Terlihat Lita tengah pulihkan tenggorokan dengan cara mengelus-elus bagian bawah leher. Ketika mengelus bagian lehernya Lita melirik ke arah Levy. 


Ya, Lita mencoba mencari tahu reaksi drakula atau vampir saat melihat urat di leher.  Seperti di film-film yang kerap ditontonnya. Namun, tak ada reaksi yang timbul dari Levy. 


Merasa baikan sekaligus lega Lita melihat ke arah Levy, lalu berkata, "maaf ya Lev?" 

__ADS_1


Mendengar permohonan maaf Lita, Levy hanya tersenyum. Dibanding permintaan maaf Lita, Levy lebih utamakan kebaikan bagi tenggorokan Lita. Sambil menunggu kondisi Lita normal kembali, Levy hanya perhatikan wanita yang telah sebabkan ia bersedia menjadi pelatih dari klub sepak amatir setingkat kampus. 


Pada saat memperhatikan Lita, berkali-kali Levy ketukan cincinnya pada cawan warna perak. Ting.. ting bunyi dua buah logam yang beradu sangat menarik perhatian Lita. Terutama saat suasana mendadak hening tadi. 


Sempat timbul perasaan takut Lita saat mendengarkan bunyi akibat logam yang beradu. Antara cincin warna hitam yang terpasang pada jari telunjuk kanan Levy, dan cawan yang terbuat dari perak. Hati Lita seperti tergetar saat melihat Levy tempelkan bibirnya pada tepi cawan itu. Merinding bulu kuduk Lita saksikan urat di leher Levy bergerak. Ada denyut kencang disana. 


"Saya pulang sekarang sajalah!" ujar Lita terlihat gamang, mata Lita tertuju pada sinar mata Levy yang alami perubahan. 


Setelah sepersekian detik Levy menutup mata dan hanya diam mematung, lalu ia berkata, "Ada apa? Kenapa jadi berubah?"


"Saya harus temui Dito, juga mau cari tahu keputusan Dekan!" jawab Lita tak ingin berpanjang-panjang, adapun tangannya sibuk kemasi isi tas yang sempat ia keluarkan tadi.


"Oh begitu ya, Jangan lupa untuk segera kabari kapan saya dapat bertemu dengan anggota klub? ujar Levy sambil menyeka sisi bibir kanannya dengan serbet.


"Iya, nanti saya kabari," jawab Lita yang sudah siap dengan tas selempangnya.


"Hati hati ya Lit, maaf tidak mengantar!" ujar Levy.


Bergegas Lita tinggalkan kamar itu. Walau begitu Levy tetap terlihat ramah padanya. Bahkan di akhir pertemuan mata Levy pun telah terlihat normal kembali. 


Namun, tetap saja ada rasa kekhawatiran tersendiri.. Beruntung Lita punya alasan yang dapat ia pakai. Mengurusi klub sepak bola kampus yang makin terancam kondisinya. 


Lita adakan janji temu dengan Dito di parkiran khusus staf pengajar seperti biasa. Kondisi itu dilakukan karena tak ada jadwal mengajar Lita hari itu. Tapi nasib klub wajib diketahui segera. Karenanya tempat bicara yang mereka pilih di area parkiran saja.


"Sudah lama dit,* tanya Lita sembari menekan remote mobil untuk mengunci mobilnya.


"Baru saja kok Bu," jawab Dito berjalan tinggalkan pohon rindang di depan parkir mobil Lita. 


"Jadi apa jawaban Dekan," tanya Lita.


"Kok Ibu tahu, kalau masalahnya sampai ke Dekan?" tanya Dito.


"Saya sudah paham benar sifat Pak Heru," tukas Lita.


"Baguslah," jawab Dito terlihat kurang berenergi, "sesuai prediksi Bu, harus batal!"


"Sabar Dit, kita harus coba untuk berusaha lebih keras lagi," Lita beri semangat pada anak didiknya itu.


"Maksudnya Bu?' tanya Dito.

__ADS_1


"Ya, saya harus coba bicara langsung sama Dekan!' jawab Lita.


"Sudahlah Bu, nanti malah nyerempet ke saya lagi," Ada suatu kecemasan dalam nada bicara Dito.


"Kok begitu?" tanya Lita heran.


"Dekan sempat bilang kalau saya tetap ngotot, laporan audit akan dibawa ke senat akademik." jawab Dito.


"Kamu pernah ketemu dia?" Lita ingin tahu apakah dekan pernah memanggil anak didiknya itu.


"Belum Bu, Tapi dengar-dengar dia hobi panggil mahasiswa yang punya masalah." jawab Dito.


Waduh gawat juga ini pikir Lita dalam hati.


"Ini Dit, saya kasih ke kamu kopi laporan auditnya," Lita berikan beberapa lembar kertas HVS pada Dito.


"Ibu dapat darimana?" tanya Dito. "terus buat apa sama saya?"


"Langsung dari bagian audit, Kamu pelajari aja!" jawab Lita enteng.


"Tapi saya saya sudah nggak mau maju lagi,* ucap Dito pelan.


"Sudah pelajari aja, jika memang harus ke senat akademik kamu kan bisa jawab nanti!" ujar Lita, "mana tahu nyampe!"


"Ah Ibu ini malah nakutin," Dito terlihat cemas.


Jika persoalan berlanjut, biasanya laporan audit akan diekspos ke seluruh universitas melalui senat akademik. Predikat Dito sebagai mahasiswa senior pada tingkat akhir dapat terancam juga. Bisa saja senat akademik dalam sidang akan keluarkan keputusan Dito harus berhenti kuliah.


"Jangan sampai lah Dit kalau harus ke senat," jawab Lita. "nanti saya coba bilang ke Pak Heru lagi, kalau perlu langsung ke Rektor deh."


"Kan saya sudah nyerah dari kemarin Bu," Dito setengah memohon pada Lita agar misi pertahankan klub sepak bola tidak lagi dilanjut.


"Iya, saya ngerti saya akan coba tidak libatkan kamu pokoknya," ujar Lita, "tenang saja!"


"Saya lebih pilih untuk bisa selesaikan pendidikan Bu! Saya takut bikin kecewa orang tua di kampung!" Dito beri paparan betapa pentingnya tamatkan sekolah bagi dirinya.


"Iya, iya pokoknya saya tidak akan libatkan kamu!" jawab Lita, "tenang saja!"


Lita mengerti kekhawatiran Dito. Jika ia dalam posisi Dito tentu Lita akan berpikir seperti Dito. Tapi sayangnya Lita bukan Dito. Kembali idealisme Lita timbul, sama seperti saat ia minta berhenti dari klub sepak bola milik mertua Alen.

__ADS_1


...☘️☘️☘️ ~ bersambung ~ ☘️☘️☘️...


__ADS_2