
"Cih sialan, andainya aku mengenal bocah itu di dunia nyata! Akan aku habisi dia".
Teriak seorang pemuda yang duduk di kelilingi oleh puluhan remaja lain nya.
"Ketua, siapa orang yang kau maksud?".
"Player yang bernama Drakun VR! Apa kalian tau, siapa orang yang memainkan karakter itu?".
"Sudahlah Munthe, untuk saat ini kita biarkan saja. Jika memang jodoh, kita pasti bertemu lagi dengan nya".
"Baiklah, oh iya Litta. Tolong suruh orang untuk membeli beberapa minuman, aku butuh sesuatu untuk mendinginkan kepala".
Setelah berbicara, Rahmat Hidayat Munthe yang kala itu berada di ruang OSIS pun berjalan ke arah jendela yang berada di lantai 2 untuk mencari udara segar.
Tidak di sangka sangka, ketika Munthe membuka jendela terlihat Zidan/Drakun yang berjalan bersama Puput memasuki wilayah sekolah.
"Itu, itu dia! Litta kemarilah, bukankah anak itu begitu mirip dengan wajah karakter Drakun?".
Litta yang mendengar teriakan Munthe pun bergegas mendekati Munthe yang masih fokus menatap seseorang di luar jendela.
"Be-benar, tidak salah lagi itu pasti dia".
"Haha ha, ucapan mu memang selalu benar Litta! Jika memang jodoh, pasti bertemu. Aku tak menyangka bisa menemukan nya secepat ini".
Melihat wajah Munthe yang mulai memerah dengan tatapan penuh dendam, Litta sedikit khawatir karena dia mengenal Munthe sejak lama dan pastinya Munthe akan melakukan sesuatu yang mengerikan untuk membalaskan dendam nya kepada Zidan.
"Munthe tenanglah, kau tidak perlu terburu buru. Kita kirim beberapa orang terlebih dahulu untuk memastikan apakah dia memang Drakun, kita tidak boleh terlalu gegabah di lingkungan sekolah".
Meskipun Litta terkenal sebagai penyihir yang sangat kejam di dalam game, tapi di dunia nyata Litta sebenarnya tidak berbeda dengan perempuan lain yang sangat membenci kekerasan.
Kekejaman Litta di dalam game hanyalah sebuah kewajaran, karena dia tahu itu hanya game dan yang kuat lah yang berhak di atas.
Berbeda dengan Rahmat yang tidak bisa membedakan mana dunia maya dan dunia nyata, sifatnya tetaplah sama seolah olah kedua dunia itu adalah satu.
"Baiklah kalau begitu, Dalbo! Ajak beberapa temanmu untuk menyelidiki anak itu. Apakah benar dia yang memainkan karakter bernama Drakun atau bukan".
Seorang remaja gendut dengan kulit gelap yang memiliki julukan Dalbo pun mendekati jendela untuk melihat wajah orang yang di maksud oleh Rahmat atau Munthe.
"Siap ketua, aku akan menyelidiki anak itu".
__ADS_1
[Di lorong]
Zidan berjalan bersama Puput seperti biasanya, namun kali ini ada kejanggalan yang sedikit terasa.
Pandangan dan aura orang orang yang mereka lewati memunculkan aura kebencian yang sangat terlihat jelas.
Puput yang tidak tahu menahu tentang apa yang terjadi dengan orang orang yang berada di sekitar nya pun hanya diam menunduk.
Berbeda dengan Puput, Zidan sangat memahami bahwa pandangan dan kebencian yang di tunjukan oleh orang orang ini adalah karena dia berjalan bersama salah satu wanita tercantik di sekolahnya menggunakan tampilan cupu layaknya kutu buku.
Siapa pun tidak akan rela melihat bidadari nya yang sangat mereka kagumi, berjalan dengan seorang kutu buku.
Zidan sangat tahu itu, tapi dia sudah terlalu berpengalaman dengan di benci dan menanggapi semua itu dengan cuek dan tidak perduli karena dia hidup dengan prinsip 'Lu ya elu, saya ya saya'.
Setelah mereka berdua berpisah dan memasuki kelas masing masing, gadis remaja yang sekelas dengan Puput pun datang menghampiri Puput.
"Put, apakah dia lelaki yang sama dengan yang berjalan bersamamu kemarin?".
"Tentu saja, dia orang yang sama hihi".
"Kalau boleh tahu, apakah dia juga bermain game DNPO?".
"Kalau begitu, apa aku boleh tahu apa nama karakter game nya?".
"Untuk apa kau menanyakan itu? Jangan jangan kau tertarik dengan nya? Hayoo ngaku hayoo".
Sebenarnya Puput merasa sedikit cemburu dan marah ketika salah seorang teman sekelasnya bertanya tentang Zidan, tapi dia hanya menganggap itu semua hal yang wajar karena Zidan bukan lah siapa siapa nya dan dia tidak memiliki hak untuk melarang orang lain mendekati Zidan.
"Tidak! aku hanya penasaran saja,tidak mungkin aku menyukai seseorang yang tidak aku kenal".
"Baiklah, dia memiliki sebuah char dengan nama Drakun VR. Kau bisa mengirim pertemanan kepadanya setelah sepulang sekolah nanti".
"Waaah, kamsahamida Put. Kalau begitu aku pergi dulu, paypay Puput".
"La tu syukron alal wajib ya ukhty(Tidak perlu berterima kasih untuk sebuah kewajiban wahai saudari ku : Bahasa arab) ".
Tania yang sedari tadi memandangi Puput dengan penasaran pun akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.
"Eghem, tumben sekali anak itu menyapamu pagi pagi begini Put. Kalau boleh tahu, apa yang dia katakan kepadamu?".
__ADS_1
Melihat Tania yang tiba tiba berdiri di samping nya dan bertanya, Puput pun hampir menjerit karena terkejut.
"Kau hampir membuat ku mati terkejut Tan, Asstaghfirullah".
"Hihi maaf maaf, aku penasaran saja kenapa anak pendiam seperti Dina tiba tiba saja mendatangimu sepagi ini".
"Oh Dina yang barusan? Dia hanya bertanya tentang nama char yang Zidan gunakan dalam game DNPO".
"Apakah dia tertarik dengan si cupu mata empat itu?".
"Hmm, aku juga tidak tahu. Tapi bisa jadi dia akan mengirim permintaan pertemanan kepada char milik Zidan".
Pagi itu Puput tidak menyadari bahwa dia telah melakukan kesalahan besar yang dapat membahayakan keselamatan Zidan.
[Di lorong kamar mandi].
Dalbo yang berdiri bersama beberapa rekan nya terlihat asik berbincang bincang.
Tak lama kemudian datang seorang remaja perempuan yang tidak lain adalah Dina, teman sekelas Puput.
"Bagaimana? Apa kau sudah mendapatkan nya?".
"Su-sudah, dan orang yang bernama Zidan itu adalah murid dari kelas F. Dia memainkan game DNPO dengan char yang memiliki nama Drakun VR.
Aku sudah menjalankan apa yang kalian minta, bi-bisakah kalian menepati janji kalian?".
"Baguslah. lelaki sejati selalu menepati janji nya, kau tidak perlu khawatir lagi. Kami tidak akan mengganggu atau membully adik mu lagi, setidak nya untuk saat ini hehe".
"Bagaimana bisa kalian mengatakan sesuatu seperti itu? Bukan kah kalian sudah berjanji apabila aku membantu kalian, kalian tidak akan mengganggu adik ku lagi".
Salah seorang remaja yang duduk begitu geram melihat tingkah laku Dina yang berbicara dengan berteriak karena marah.
"Bos, perempuan ini terlalu berisik. Apa perlu kita beri dia pelajaran agar dia tahu apa yang adik nya rasakan?".
"Tidak perlu, dia sudah membantu kita. Dina! Selama kau membantu kami sesering mungkin, kami akan melepaskan adikmu dan tidak akan mengganggu nya lagi bahkan mungkin kami bisa melindungi nya, jadi diamlah dan kembali ke kelas".
"Ba-baiklah Dalbo, selama kalian tidak mengganggu adik ku. Aku tidak akan menolak jika kalian meminta bantuan dari ku lagi".
"Bagus bagus, itu lah yang selama ini ingin aku dengar".
__ADS_1