
Litta yang panik pun hanya bisa menangis dan terus menerus memanggil nama Rahmat, mungkin karena para bawahan Rahmat yang terus menerus mengerang kesakitan suara Litta menjadi tidak terdengar oleh Rahmat.
Dengan santai Zidan berjalan ke arah seragam sekolah nya sembari menginjak nginjak tubuh anak buah Rahmat dengan ekpresi wajah tanpa bersalah.
Rey yang pernah di pukuli oleh Rahmat dan di permalukan berkali kali pun sangat girang melihat Rahmat yang kini tengah menderita, dengan cekatan layaknya seorang fotografer profesional Rey memotret kejadian itu berulang kali.
Setelah selesai memotret Rey berlarian ke arah Zidan yang telah selelai memakai seragam sekolahnya, dengan sangat bahagia Rey memuji kemampuan dan nyali Zidan yang berani menghadapi rombongan Rahmat seorang diri.
"Zi Zidan! Kau sangat berani kawan, kau mampu menghadapi Rahmat beserta anak buahnya hanya dengan beberapa kali waca wuasaaa wah hingga mereka menjadi terkapar dan tidak berdaya".
Menyadari ada seseorang yang belum terkapar Zidan membalikan tubuh dan bersiap melayangkan sebuah pukulan.
Akan tetapi niat itu terhenti ketika Zidan melihat bahwa orang yang sedang berbicara adalah Rey teman sekelasnya.
"Eh eh eh tunggu tunggu ini aku Rey, aku bukan salah satu dari mereka. Ki kita sekelas! Bukankah tadi kita bertemu sebelum beristirahat".
"Lain kali, jangan muncul dengan tiba tiba lagi".
Ketika Zidan hendak pergi, Rey menarik salah satu tangannya dan mau tak mau Zidan pun berhenti.
"Tunggu tunggu sebentar, boleh kah aku belajar teknik seperti yang kau gunakan barusan? tolong ajari aku suhu!".
Mendengar Rey memanggilnya dengan julukan Suhu, Zidan melirik Rey dengan tatapan tajam seolah memberi kode bahwa ia sedang tidak ingin di ganggu.
"Bisakah kau lepaskan tanganmu? Dan kenapa aku harus mengajari mu berkelahi?".
"Eh maaf maaf, aku juga memiliki dendam kepada Rahmat karena dia beserta rombongan nya pernah membuli ku! Ta-tapi kemampuan ku belum cukup untuk melawannya karena jumlah mereka merepotkan, setelah melihat mu bisa mengalahkan mereka seorang diri aku sangat terkejut dan kagum kepadamu! Jadi bisakah kau mengajari ku?".
"T I D A K".
"Kenapa kau tidak mau mengajari ku Suhu? Aku berjanji akan melakukan apa pun yang kau minta, selama kau mau mengajari ku".
"Bisakah kau berhenti memanggil ku Suhu? Sekali aku berkata tidak! Maka Tidak".
"Ke kenapa Suhu tidak mau mengajari ku? Bukan kah memiliki seorang pesuruh di sekolah itu sangat menguntungkan?".
"Karena itu merepotkan".
Jawab Zidan dengan tatapan tajam sebelum kembali memakai kacamata nya dan pergi meninggalkan lokasi halaman belakang sekolah di ikuti dengan Rey yang masih terus menerus memohon kepadanya.
__ADS_1
[Di lantai 3 ruangan OSIS]
"Dandi, mana video rekaman anak itu menghajar Rahmat?".
Dandi yang sedari tadi duduk di depan layar monitor, berjalan dengan tergopoh gopoh ke arah Jendela untuk menghampiri Ryan.
"Ini ketua, aku sudah memotong dan menyimpan rekaman CCTV saat Zidan memukuli Rahmat dan aku juga sudah menyalin nya kedalam ponsel milik ketua".
"Bagus bagus, kau memang bisa di andalkan seperti biasanya haha. Oh iya hampir lupa, apa kau sudah menghapus rekaman asli video ini dari CCTV?".
"Seperti yang ketua minta, aku sudah menghapus nya! Oh iya ketua kalau boleh tahu, untuk apa video itu ketua?".
Dengan tersenyum Ryan mulai menjelaskan rencana besarnya terhadap salah satu bawahan nya.
"Dandi Dandi, apa kau lupa bahwa aku ingin menguasai sekolah ini dan menyatukan beberapa SMA di daerah ini? Sebelum aku bisa mewujudkan semua itu, aku perlu menyingkirkan Rahmat dan Rendy.
Tentu saja aku akan merekrut Zidan yang sangat pandai berkelahi, pion emas seperti itu tidak akan aku lepaskan begitu saja haha".
"Lalu apa rencana ketua selanjutnya? Agar bisa merekrut Zidan sebagai anggota hanya dengan video itu".
"Tentu saja rencananya aku ingin membuat dia terpojok, setelah itu aku akan datang untuk menyelamatkan nya. Bagaimana rencana itu terealisasi, kita hanya perlu menunggu hari esok".
Zidan lebih suka menikmati waktu istirahat nya untuk membaca buku di dalam kelas atau perpustakaan.
"Bisakah kau diam? Apa mata mu buta hingga tidak bisa melihat saya sedang sibuk membaca buku.
Pergi lah! kau sangat mengganggu".
Meskipun Zidan sudah berkali kali menolak dan memberi ancaman, Rey yang terlanjur mengagumi Zidan sudah tak bisa berhenti untuk memohon agar Zidan menerima nya sebagai murid.
"Aku tidak akan pergi dan berhenti sebelum Suhu menerima ku sebagai murid!".
"Cih kau ini sangat merepotkan, apa kau tidak malu terhadap para gadis yang memandangi mu dengan tatapan jijik.
Kau terus menerus merengek seperti bayi".
"Aku Reynaldi tidak akan pernah malu untuk menjadi kuat!".
Merasa Rey sudah putus urat malu nya, Zidan hanya bisa menarik nafas panjang.
__ADS_1
"Baiklah! Saya akan mengajarimu beberapa teknik, tapi sekarang tolong pergi lah sejauh mungkin dari sini".
"Apakah benar Suhu menerima ku!? Wuhuuu akhirnya aku di terima sebagai murid oleh orang hebat seperti mu Suhu! Kalau begitu sebagai seorang murid yang penurut terhadap Suhunya, aku akan mengikuti perintah suhu dan pergi sejauh mungkin".
Melihat Rey yang keluar dari kelas dengan melompat lompat serta berteriak, Zidan hanya bisa menggelengkan kepala meskipun di satu sisi dia merasa bahagia karena akhirnya Rey mau pergi dan tidak mengganggu konsentrasi nya lagi.
"Hmmm, waktu nya untuk kembali bercinta! Maaf ya sayang, aku membuatmu menunggu".
Ungkap Zidan yang kini mencium buku di genggaman nya, sebelum membelai setiap halaman buku itu.
Berbeda dengan ruang OSIS dan ruang kelas 11 F yang mulai tenang, ruang UKS terdengar begitu berisik dengan beberapa erangan para siswa.
Perempuan yang tidak lain adalah Litta berteriak memanggil nama Rahmat berkali kali di iringi isak tangis, berharap lelaki pujaan nya bisa cepat sadar.
"Rahmat bangun Rahmat, tolong bangun huhu hu".
Salah satu guru yang menjadi perawat sekaligus penjaga UKS, mendatangi Litta yang masih menangis.
"Litta tenanglah nak, dari pada menangis seperti itu lebih baik kau mendoakan Rahmat agar cepat tersadar. Tidak ada yang perlu kau tangisi, kau tidak bersalah.
Rahmat menjadi seperti ini karena kecerobohan nya sendiri".
"Tidak Bu tidak! Ini kesalahan ku juga, seharusnya sebagai seseorang yang selalu bersama nya aku melarang nya membalas dendam! Jika bukan karena aku yang hanya diam, Rahmat tidak akan pernah terkapar di ruangan ini karena di pukuli monster itu".
Melihat murid nya yang masih saja menyesali perbuatan nya, Bu Heni yang bertugas sebagai perawat di perpustakaan hanya bisa diam sebelum pergi dari ruang UKS karena merasa bahwa muridnya sedang butuh waktu untuk menyendiri.
[Author]
Maaf ya temen temen, kepala saya kalok baca novel atau komik di hp sering jadi pusing dan kelamaan.
Meskipun udah niat mau buat novel, kalok kepala udah berasa migren saya mending tidur dan gak mau maksa.
Jadi maaf banget kalau Up nya lelet, sebisa mungkin saya bakal buat setiap episode itu menarik untuk di baca.
Saya harap temen temen gak keberatan buat ngasih like di setiap episode/bab novel ini, biar saya semakin semangat buat nulis.
Oh iya, tolong jangan kemana mana ya.
Di rumah aja, kapan lagi bisa nylametin dunia cuman dengan rebahan aja ya kan wkwkwk
__ADS_1