Crazy Game

Crazy Game
6. Kecoa pembuat onar.


__ADS_3

Setelah fokus terhadap ujian yang dia hadapi satu minggu ini, Zidan sama sekali belum membuka game DNPO karena takutnya ia akan kembali begadang dan bisa telat berangkat sekolah bahkan lebih fatalnya dia bisa bolos sekolah dan tidak ikut serta dalam ujian.


Jika itu terjadi, bisa bisa kepintaran yang ia miliki dan hari hari nya menempuh bangku pendidikan yang membosankan menjadi sia sia hanya karena satu kesalahan.


'Yosh, akhirnya selesai haaah.


Waktunya kembali berpetualang di dunia fantasi'.


[///////////////////////////////////////////……….]


Now Loading,sedang back up data 89%


Zidan membuka matanya secara perlahan dan mendapati diri nya berada di atas ranjang yang berwarna merah darah dengan selimut yang berwarna hitam, ruangan kamarnya di dalam game sangatlah luas dan dinding dinding kamarnya berwarna hitam gelap di hiasi obor yang mempunyai nyala api berwarna biru yang terus berpendar.


'Aku terlalu buru buru log out karena lapar sampai lupa memperhatikan betapa indahnya ruangan ini'.


Zidan bangun dan berdiri hendak menuju pintu keluar, namun perhatiannya tertuju pada 3 tombol berwarna kuning, merah dan hitam yang berada di samping ranjangnya.


'Ini, tombol apa ini? Kenapa GM itu tidak memberi tahu ku bahwa ada tombol seperti ini? Dari pada penasaran, lebih baik aku mencobanya'.


Karena penasaran terhadap 3 tombol dengan warna berbeda yang berada di samping ranjangnya, Zidan menekan tombol berwarna merah yang berada di tengah kedua tombol lain nya.


"Lap! Jdiaaar, bledaar bledar dur dur".


Tiba tiba langit menjadi mendung dan hujan turun dengan sangat deras di sertai angin kencang.


"Bangs*d baj*ngan ngent*d".


Karena kaget melihat cuaca yang tiba tiba berubah, Zidan masih bingung dengan kegunaan tiga tombol berbeda warna di ranjang nya ini.


Hasilnya, Zidan kembali menekan tombol berwarna kuning dan tiba tiba saja langit menjadi cerah kembali seperti sedia kala.


Ketika Zidan menekan tombol berwarna hitam, Langit menjadi gelap dan bangungan miliknya di selimuti oleh awan namun tanpa sedikit pun ada tanda tanda akan turun hujan.


'Ah karena aku sangat suka hujan dan terobsesi dengan Dracula/Vampire,sepertinya ini fitur tambahan agar susasana hati ku semakin membaik dan betah berlama lama di game ini'.


Setelah merasa puas terhadap fitur fitur tambahan di dalam Kastil miliknya, Zidan pergi meninggalkan Kastil yang dari luar terlihat seperti bangunan tingkat tinggi yang terbuat dari batu bata dan di kelilingi oleh awan yang membuatnya terlihat semakin mencekam itu.


Zidan pergi menuju alun alun kota, karena dia sudah berjanji akan bertemu dengan Puput di sana tepat jam 8 malam.


Setelah menunggu beberapa saat, Zidan di hampiri oleh seorang wanita dari ras Demon yang membawa senjata berupa busur.


"Zidan kan?".


Wanita itu bertanya dengan suara pelan dan sedikit malu malu.

__ADS_1


"Ah iya, aku Zidan. Lalu?".


"A-ku, aku Puput".


Jawaban dari wanita yang memiliki ras Demon itu membuat Zidan sedikit terkejut, dengan teliti Zidan melihat penampilan Puput yang sedikit vulgar dari ujung rambut sampai ujung kaki.


"A-anu, apakah ada yang salah dengan penampilan ku?".


Puput bertanya dengan sedikit malu malu melihat Zidan yang menelusuri tubuhnya dengan mata.


"Tidak, hanya saja aku tidak menyangka kau begitu terbuka di dalam game".


"Maaf, awalnya aku juga tidak tahu bahwa ras Demon selalu memiliki penampilan vulgar dengan pakaian yang berwarna merah.


Awalnya aku merasa ini hanya game dan tidak menganggapnya serius, tapi semakin lama aku merasa malu dengan tubuh virtual ku ini".


Mendengar alasan Puput, Zidan hanya tersenyum masam dan berusaha memaklumi.


Karena memang kebanyakan orang menganggap tubuh mereka di dunia virtual hanyalah tubuh khayalan, padahal tubuh virtual adalah cerminan tubuh asli mereka di dunia nyata.


"Tidak apa apa, menurutku 2 tanduk yang berada di atas kepala dan ekor mu yang memiliki ujung layaknya anak panah terlihat imut".


"Be-benarkah?".


"Tentu saja, kalau begitu mari kita berangkat menuju lantai 3".


1 portal untuk menuju lantai yang berada di atasnya, dan satu portal lagi untuk lantai di bawahnya.


Maksud dari lantai di sini adalah dunia, jadi setiap lantai memiliki beberapa kerajaan,benua,samudra dll.


Hanya saja setiap portal memiliki yang menghubungkan beberapa lantai/dunia,memiliki pemandangan yang berbeda.


Seperti lantai satu yang memiliki pemandangan desa ramah tamah, lantai 2 yang memiliki pemandangan kota kerajaan dll.


Jadi setiap lantai tidak lah berada di dalam map yang sama, mereka mempunyai beberapa kerajaan dan map yang berbeda beda.


Hanya butuh waktu beberapa menit bagi kedua nya untuk memasuki lantai ke 3 dari game DNPO ini, pemandangan yang pertama kali mereka lihat adalah padang pasir yang sangat luas dan beberapa gunung gunung pasir yang menjulang tinggi di antara beberapa piramida.


"i-ini, indah sekali".


Puput yang tidak bisa menyembunyikan decak kagum nya terhadap hamparan pasir luas itu mulai berjalan dengan mata berbinar binar.


"Ya indah memang, seperti tak berujung".


Alasan Zidan memilih menaikan level di lantai 3 adalah karena menaikan level di lantai 1 sangat lah sulit karena di sana hanya di isi oleh para monster monster lemah yang mempunyai exp sedikit, yang di peruntukan untuk para pemain pemula.

__ADS_1


Apa jadinya jika Zidan berburu monster dengan exp sedikit dengan seseorang? Tentu saja tidak akan membuahkan hasil.


Sedangkan di lantai ke 2 sama sekali tidak ada monster, karena itu adalah tempat para GM mengawasi pemain secara langsung.


Maka dari itu Zidan memilih memasuki lantai ke 3 untuk menaikan level bersama Puput agar perkembangan mereka tidak terlalu lambat.


"Mari kita berburu sekarang, jadi kita harus kemana sekarang?".


Zidan hanya menunjuk desa yang berada di dekat portal itu, di mana para pemain yang baru saja memasuki lantai ke 3 akan datang dan berkunjung ke desa tersebut untuk mencari quest, atau informasi yang menurut mereka berguna.


Dengan wajah sedikit murung, Puput bertanya kepada Zidan.


"Kenapa harus ke sana? Bukan kah kita kemari untuk menyerang para monster agar level kita naik? Apa kau takut bertemu musuh yang kuat Zhi karena baru berlevel 1? Tenang saja, aku sudah berlevel 15 Zhi, aku tidak perlu takut aku akan melindungi mu".


Mendengar pertanyaan Puput, Zidaj hanya bisa menggelengkan kepala dan menghembuskan nafas panjang.


"Pertama, kita kesana untuk mencari informasi mengenai tempat yang paling banyak di huni oleh monster ber exp tinggi karena kita kemari untuk menaikan level.


Kedua, di dalam game menyebut nama seorang pemain menggunakan nama asli adalah hal yang tabu dan tidak sopan jadi panggil lah aku dengan nama Char ku.


Ketiga, aku tidak takut maupun butuh perlindungan mu karena aku seorang Tanker yang memiliki Hp tebal".


Setelah di berondong beberapa jawaban oleh Zidan, akhirnya Puput diam dan memilih untuk mengikuti arahan Zidan meskipun level char Zidan masih lah berlevel 1.


"Siap presiden".


Setelah berjalan dan melihat sebuah kedai yang lumayan ramai, Zidan memutuskan memasuki kedai tersebut untuk mencari informasi tentang Dungeon dan Quest di lantai 3.


Baru berjalan beberapa langkah setelah memasuki toko, Seorang pria dengan senyum yang menjijikan memegang pantat Puput dengan santai nya.


"Eh, kyaaaa".


Mendengar teriakan Puput, pria berjubah biru yang memiliki ras Human dari kelas Magic/Mage itu tertawa keras dengan puas di ikuti oleh para anggota nya yang juga memakai seragam berwarna biru.


Zidan yang berjalan di belakang Puput dan melihat kejadian itu mulai kembali memuncak emosi nya, bayangan tentang orang yang melecehkan Puput di dalam kereta kembali melintasi kepalanya.


Dengan wajah dingin, dan sorot mata yang muak Zidan bertanya kepada Pria berjubah itu.


"Apa maksudmu melakukan hal itu?".


Tentu saja pertanyaan Zidan membuat seisi ruangan berfokus pada nya, bahkan orang yang berlalu lalang pun turut berhenti dan memasuki ruangan kedai tersebut demi melihat apa kericuhan yang kemungkinan akan terjadi.


"Hanya ingin, lalu apa masalah mu? Apakah kau suaminya haha".


Zidan mulai menggesek gesekan giginya, emosi nya yang sebelumnya tertahan berharap pria itu akan meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahannya lagi menjadi pupus.

__ADS_1


Kini amarah Zidan meluap luap,melebihi ambang batas toleransi nya.


Jila kalian ingin merasakan apa yang saat ini Zidan rasakan, coba saja kalian bayangkan bahwa Ibu, kakak, adik, saudara atau teman perempuan kalian di tempat umum di lecehkan dengan terang terangan oleh sseorang pria idiot yang tidak mereka kenal dan tanpa rasa bersalah menyentuh lalu meremas pantat mereka begitu saja.


__ADS_2