
Bel berdering tanda istirahat selama 2 jam telah di mulai, para guru merapikan buku mereka dan berjalan keluar dari kelas mereka masing masing.
Seorang perempuan berjalan membagikan buku kepada para siswa lain yang berada di dalam ruangan kelas 11 F.
Ketika perempuan itu sampai di meja Zidan, dengan sengaja perempuan itu menjatuhkan buku milik Zidan ke lantai dan menginjak nya.
"Ups maaf kan aku, aku sengaja hihi".
Melihat perempuan itu menginjak buku milik nya hingga kotor padahal buku itu adalah buku mata pelajaran dan telah di beri nilai oleh seorang guru, Zidan hanya tersenyum dan berdiri dari kursinya untuk mengambil buku nya yang kini berada di lantai.
"Yah,kotor deh".
Sebelum Zidan kembali ketempat duduk nya untuk merapikan buku buku mata pelajaran yang telah ia gunakan, salah seorang pemuda yang sebelumnya duduk di belakang kursinya pun berjalan dan menabrak Zidan dengan sengaja hingga Zidan hampir tersungkur ke lantai.
"Kau tahu? Kau sangat memalukan, kau membuat martabat para murid lelaki di kelas ini jatuh dengan hanya diam ketika di bully oleh seorang wanita.
Aku tidak tahu alasanya kenapa bisa seorang kutu buku seperti mu berada di kelas ini, tapi besok menyingkirlah dari hadapan ku!
Jika kau tetap duduk di depan ku, aku tidak akan segan segan memukuli mu".
Mendengar ancaman yang di lontarkan oleh Rey, Zidan membenarkan kacamata nya yang tidak bermasalah dengan mata terpejam dan tersenyum sebelum membalas ucapan Rey.
"Ah maaf maafkan aku".
"Cih".
Sebelum Rey meninggalkan kelas untuk menuju kantin, dia melihat beberapa murid kelas 10 yang hendak masuk ke dalam kelas nya dengan tergesa gesa.
"Hoi, Zidan! Ikut kami sekarang ke halaman belakang sekolah".
Melihat Dalbo yang berteriak dengan keras di dalam ruangan, para penghuni kelas 10 F pun menatap Dalbo dengan tajam.
Setiap tingkatan memiliki kelas masing masing, dari A hingga F.
__ADS_1
Kelas A di huni oleh murid yang memiliki keinginan untuk belajar yang tinggi dan otak yang pintar.
Sedangkan kelas F adalah kelas dengan para murid yang memiliki iq rendah dan kelakuan brutal, tidak perduli murid lelaki maupun perempuan.
Kelas F selalu di huni oleh manusia manusia bar bar, yang bersekolah hanya untuk mendapatkan ijaza kelulusan.
Mendapatkan tatapan tajam yang penuh ancaman dari para penghuni kelas F, Dalbo sedikit berkeringat dingin karena dia sering mendengar rumor bahwa banyak murid kelas lain yang memasuki kelas F lalu keluar dengan babak belur dan harus menginap berhari hari di ruang UKS sebelum mendapatkan rawat inap di rumah sakit.
"A-ku Dalbo datang kemari karena di perintah oleh ketua Rahmat, untuk segera membawa Zidan ke halaman belakang sekolah! Aku harap kakak kakak kelas 10 F, tidak menghalangi ku".
Mendengar nama Rahmat di sebut, pada murid kelas F pun saling berbincang bincang dan tidak lagi menatap tajam Dalbo seperti sebelumnya.
Sekolah yang Zidan tempati memiliki 3 murid penguasa, yang pertama adalah Ryan dari kelas 12 A dan memiliki julukan Ryan sang ketua OSIS.
Ryan adalah anak dari pemilik sekolah tersebut, tanah bangunan serta ide sekolah berdiri adalah berkat dari Ayah Ryan.
Tidak hanya di hormati, Ryan juga memiliki kemampuan beladiri yang mumpuni hingga membuat para siswa lain tunduk di hadapan nya.
Rendy juga memiliki kemampuan bela diri yang sangat mengerikan, karena Ayah nya adalah seorang pensiunan tentara di negeri ini.
Penguasa ke 3 dari kelas 12 C, yaitu Rahmat Hidayat Munthe yang juga seorang anggota OSIS dan anak dari kepala sekolah SMA yang Zidan tempati sat ini.
Meskipun Rahmat juga anggota OSIS dan bergerak bersama Ryan, tapi hubungan kedua nya tidak terlalu baik karena Ayah Rahmat begitu tunduk kepada Ayah Ryan hingga Rahmat memiliki keinginan untuk menundukan Ryan.
Itu lah 3 siswa yang menguasai sekolah yang saat ini Zidan tempati, mereka bertiga biasa di sebut dengan julukan '3 R' atau 'Trio Raja' karena nama mereka sama sama memiliki huruf depan R serta masing masing dari mereka menganggap mereka lah yang menguasai sekolah itu atau merekalah yang terhebat di sekolah itu meskipun ketiga nya belum pernah terlibat bentrok karena memiliki wilayah masing masing.
Zidan pun beranjak dari tempat duduk nya, menghampiri Dalbo yang menatap nya dengan tajam dari pintu kelas nya.
"A-anu,kalau boleh tahu. Ada urusan apa? Kenapa harus ke halaman belakang sekolah dan tidak kita bicarakan saja di sini?".
Mendengar pertanyaan Zidan yang begitu polos, Dalbo hanya bisa menghela nafas panjang dan menepuk jidat nya sendiri.
"Haais, entah apa yang telah di lakukan anak cupu ini hingga ketua Rahmat sangat marah. Tidak perlu banyak bicara lagi, ikut lah dengan kami sekarang juga!".
__ADS_1
Mendengar ucapan Dalbo, Rey yang belum pergi dari ruang kelas nya pun menjadi penasaran dan mulai mengikuti Zidan yang di bawa oleh rombongan Dalbo dari kejauhan.
'Apa yang sebenarnya telah anak itu lakukan? Sampai membuat Rahmat begitu marah, meskipun aku sangat membenci rahmat tapi aku yang sekarang belum memiliki kemampuan untuk membalasnya! Terlebih dia memiliki banyak bawahan, cih siaaal!'.
Gerutu Rey dalam hati.
Setelah berjalan beberapa saat, akhirnya mereka tiba di belakang halaman sekolah.
Terlihat seseorang yang duduk dengan santai di sebuah kursi layak nya sedang berada di pantai dengan dampingi seorang gadis dan di kelilingi oleh belasan siswa yang berdiri di belakang nya, mulai bertepuk tangan.
"Bagus, bagus bagus. Kalian telah membawa nya kemari".
Melihat situasi yang sedang ia hadapi, Zidan mulai faham tentang apa yang akan terjadi ke depan nya.
"Hey kau Zidan,apa kau masih mengingat wajah ku".
Melihat Zidan yang hanya diam dengan wajah polosnya, Rahmat menikmati pemandangan itu karena merasa Zidan mulai ketakutan.
Dan mulai menggoda Zidan.
"Kenapa kau hanya diam? Apakah aku perlu memanggil mu Drakun, agar kau mau berbicara haa?".
Zidan mulai berkeringat dingin melihat wajah Munthe, meskipun dia tidak kenal dengan Munthe tapi dia mengingat dengan jelas wajah itu.
"Ti-tidak salah lagi, wa-wajah itu wa-wajahmu".
Ucap Zidan dengan tergagap di sertai keringat dingin.
"Hoo, sepertinya kau sudah mengingat wajah ku? Bagus, bagus sekali bagus".
"Kenapa wajahmu begitu mirip dengan sahabat ku yang telah meninggal beberapa Tahun lalu? Apakah kau sepupunya almarhum Oki?".
Sontak ucapan Zidan membuat beberapa anak buah Munthe menahan tawa, bagaimana mungkin salah satu orang yang di takuti dan di anggap sebagai penguasa di sekolah ini di samakan dengan seseorang yang telah lama mati.
__ADS_1