
Dengan sangat geram Munthe yang mendengar hinaan Zidan, mulai menggigit bibir nya sendiri hingga berdarah.
"Ka-kau bocah, berani beraninya menghina ku di hadapan para bawahan ku! Sebenarnya aku ingin membalas perbuatan mu di dalam game DNPO waktu itu dengan sedikit menghajarmu.
Tapi karena kau sudah berani menghina ku, aku akan membuat mu cacat dengan mematahkan salah satu kaki mu bangs*d!".
Ketika Rahmat menyebut kalimat 'game DNPO' Zidan mulai teringat sesuatu tentang peperangan nya semalam.
'Wajah itu, nama itu. Seperti nya karena dia tidak bisa mengalahkan ku di dunia maya, dia ingin membalasku di dunia nyata hmm jadi seperti itu ya'.
Gumam Zidan di dalam hati.
Kali ini dengan wajah tanpa ekspresi Zidan mulai berbicara.
"Aku tidak perduli siapa diri mu, atau apa masalah mu dengan ku. Tapi aku tidak sudi bermain dengan anak manja yang tidak bisa menerima kekalahan nya di dunia maya dan akhirnya ingin melampiaskan kekalahan nya di dunia nyata".
Sontak perubahan cara berbicara dan sikap Zidan membuat seluruh orang yang berada di halaman belakang sekolah terkejut, begitu pun dengan Rey yang melihat Zidan secara diam diam dari balik semak belukar.
'A-anak ini? Apa dia terlalu bodoh untuk memahami situasi nya sendiri'.
Zidan yang melihat Rahmat beserta anggota nya diam seribu bahasa dengan wajah terkejut, mulai membalikan badan untuk meninggalkan rombongan itu.
"Mau kemana kau sialan! Apa kau pikir setelah membuat ku malu berkali kali aku akan membiarkan mu pergi begitu saja Haaa!?".
Sebuah sepatu melayang dengan cepat tepat di samping wajah Zidan, Zidan yang sudah membalikan badan dan berniat meninggalkan lokasi tersebut pun mulai berhenti bergerak.
Dengan perlahan Zidan melepas kacamata dan songkok hitam yang ia pakai, Zidan membalikan badan untuk kembali melihat wajah Rahmat.
Dengan santai Zidan juga melepas kaos tangan yang selalu ia pakai dan seragam sekolah nya.
Betapa terkejut nya Rahmat dan kawan kawan setelah melihat Zidan melepas seragam nya.
Rambut panjang yang menutupi wajah Zidan yang selama ini ia sembunyikan di balik songkok nya mulai terurai.
__ADS_1
Mata yang memiliki tatapan tajam dan pandangan sayu yang selama ini bersembunyi di balik kacamata mulai menampakan diri nya.
Badan yang terlihat terlatih dengan otot otot yang indah membuat Litta yang berdiri di samping Rahmat menjadi terpesona.
Tatto yang memenuhi tangan kanan Zidan. Yang selama ini bersembunyi dari balik seragam sekolah dan kaos tangan nya kini mulai menampakan diri.
Bekas luka tusuk serta jahitan yang berada di perut dan samping dada Zidan juga terlihat, luka sayatan seperti bacokan dari senjata tajam itu terlihat jelas di samping salah satu tatto Zidan yang berada di dada nya.
Tatto yang berada di dada Zidan adalah aksara jawa kuno yang jika di baca menjadi kalimat 'Kawulo Gusti' dan memiliki makna 'Hamba Tuhan'.
Rey yang melihat Zidan dari belakang pun terkejut bukan main, punggung Zidan di penuhi dengan luka sayatan serta jahitan dan beberapa bekas luka cambuk turut menghiasi daerah pinggang nya.
Tepat di bawah Tatto bermodel sayap yang menghiasi punggung Zidan.
Dengan wajah tanpa ekspresi dan nada dingin Zidan kembali membuka mulut nya.
"Bukan nya saya udah bilang!? Saya paling benci main sama anak manja, tapi jika kalian memaksa ya apa boleh buat".
Dengan senyum merendahkan, Zidan melompat memutar tubuh sembari menendang hingga Dalbo dan kawan kawan yang berada di belakang Zidan terpental sampai terjatuh.
Rahmat yang tersadar dari lamunan nya setelah anak buah nya berteriak pun mulai berdiri dan berlari ke arah Zidan yang tengah di kepung beberapa bawahannya.
"Mati kau bangs*d!".
Teriak Rahmat yang kini berlari dengan kencang ke arah Zidan.
Zidan yang sudah terbiasa menghadapi pertarungan 1 lawan 2,3 atau 15 pun tetap tenang dan tersenyum.
Tanpa pikir panjang Zidan menendang Rahmat menggunakan ujung sepatu nya tepat di uluh hati, hingga Rahmat terpental kebelakang dengan raut wajah seperti sekarat.
Rahmat yang tidak bisa bernafas karena terkena pukulan tepat di uluh hati hanya bisa tergeletak di atas tanah dengan terus menerus menekan dada nya, Rahmat sangat panik karena serangan yang Zidan lakukan mampu membuatnya terkapar dan kesulitan bernafas.
Tidak berhenti di situ, Zidan mulai menyerang bawahan Rahmat dengan membabi buta hingga semua anak buah Rahmat mengalami hal yang sama dengan ketua mereka.
__ADS_1
Sama sama kesulitan bernafas tentu nya.
Rey yang melihat kejadian itu sangat terkejut dan tidak percaya dengan apa yang dia lihat, karena orang yang selama ini terkenal cupu di kelas nya layaknya seekor anak kucing yang imut dan penurut ternyata adalah seekor harimau yang tengah tidur.
Setelah mulai bisa bernafas dengan perlahan, Rahmat sangat bersyukur karena beberapa saat yang lalu ia sangat kesulitan bernafas dan beranggapan bahwa nyawa nya sedang di ujung tanduk.
Melihat Rahmat yang mulai pulih, Zidan segera menghampiri Rahmat dan duduk di atas tubuh nya.
Dengan kedua tangan nya yang mengepal, Zidan memukul wajah Rahmat dari kiri kanan secara bergantian sehingga wajah Rahmat mulai membengkak dengan luka memar berwarna biru dan darah yang mengalir.
Litta yang melihat kejadian itu sangat terpukul karena dia membenci kekerasan, terlebih ketika pria yang dia cintai menjadi korban kekerasan tersebut.
"Tidaaak, tolong hentikan!".
Teriak Litta sebelum melompat dan melindungi wajah Rahmat yang pingsan dengan tubuh nya, Zidan yang terkejut dengan tindakan Litta hanya bisa diam menghentikan pukulan nya sebelum mulai berdiri dari tubuh Rahmat.
[Di ruang OSIS yang berada di lantai 3]
"Ke-ketua Ryan, sepertinya Rahmat terluka begitu parah jika terus di biarakan! apa perlu kita menolong nya sekarang juga!?".
"Tidak perlu terburu buru, aku sangat penasaran dengan apa yang terjadi. Oh iya apakah kau sudah mengetahui identitas siswa yang memukuli Rahmat dan anggota nya itu?".
"Seperti yang ketua minta sebelumnya, saya sudah mempersiapkan apa yang ketua minta.
Menurut informasi yang saya kumpul kan, anak itu bernama Zidan dari kelas 11 F.
Sehari hari nya dia memakai songkok hitam untuk menutupi rambut nya yang panjang serta kaos tangan untuk menutupi salah satu tangan nya yang bertatto".
"Hooo menarik sekali, apa kau bisa menyelidiki latar belakang dan masa lalu anak itu?".
"Saya akan berusaha ketua, tapi tapi bisakah kita menghentikan anak itu dulu? Jika terus di biarkan, Rahmat bisa saja kehilangan nyawa nya ketua".
"Kau tidak perlu sepanik itu, lihatlah kebawah sana! Sepertinya setelah Litta melindungi Rahmat, anak itu kehilangan mood nya untuk menghajar Rahmat".
__ADS_1
Zidan saat itu tidak mengetahui bahwa beberapa orang dan siswa lain melihat perkelahian nya dengan Rahmat yang membawa bawahannya.
Dan masalah yang sebenar nya pun, akan segera menghampiri nya.