D. Deirsh & Depresinya

D. Deirsh & Depresinya
Prolog


__ADS_3

..."Tetesan air mata akan menjadi prolog di cerita ini."...


----------


       "Menari dengan alunan lagu lama, dan disaksikan ribuan orang. apakah aku bisa menari diteater Paris tahun ini?" ujar gadis itu melihat kesamping.


       "Sepertinya tidak bisa." Sebuah jawaban yang membuat wajah gadis itu cemberut.


       "Kalau aku tidak bersamamu."


       Sebuah usapan hangat dikepalanya, membuat gadis itu tersenyum bahagia.


"Kita kan mau lanjut kuliah ke Paris Sama-sama, berarti kita selalu bersama, dan itu untuk selamanya."


       "Aku juga mengharapkannya."


       "Maksudnya?" gadis itu bingung dengan ucapan pria disebelahnya.


       "Lupakan saja, hmm mau beli es krim?" Tawar pria itu.


        Gadis itu menggelengkan kepalanya, ia melihat para penjual yang berada disekeliling mereka, dan salah satu penjual mengalihkan perhatiannya.


       "Athar!" panggil gadis itu.


       "Iya!"


       "Kamu liat penjual itu nggak?" Tunjuknya, yang langsung diikuti dengan pandangan Athar.


       "Mainan Baling-baling, aku mau itu," pintanya.


        Pria yang bernama Athar itu tersenyum. "Tunggu bentar, aku belikan dulu."


        Gadis itu memejamkan matanya, menikmati angin malam sambil mendengarkan alunan musik yang sedang dimainkan dipinggir taman. Rasa yang selalu ia inginkan untuk selamanya, untuk menjadi pengawal dalam hidupnya. Dia mengakhiri pejaman itu, melihat beberapa Anak-anak sedang tertawa bahagia, membuat ia teringat kembali masa kecilnya.


        "Ini!" Athar memberikan mainan itu pada gadis yang sedang asik memandangi Anak-anak kecil bermain.


        "Terimakasih."


        Gadis itu langsung memainkannya, hingga tiupan dan hembusan angin malam menjadi satu membuat Baling-baling itu berputar. Sebuah senyuman indah muncul diwajah itu, membuat Athar ikut tersenyum melihatnya. Saat asik memandang sebuah ciptaan tuhan yang sangat indah, beberapa anak kecil menghampiri mereka.


        "Kakak-kakak! Kakak tau cara mainkan ini nggak?" salah satu Anak-anak itu memberikan mainan nya.


       "Emang ini mainan apa?" tanya Athar.


       "Ini mainan gelembung yang Lumba-lumba, tapi Elis sama Temen-temen Elis tidak tau cara mainkannya," jelas anak kecil itu.


       Athar pun tersenyum. "Aku bantuin Anak-anak ini dulu ya?" ujar Athar yang mendapatkan anggukan dari gadisnya itu.


       "Yuk kesana." Athar pun berjalan dengan beberapa Anak-anak.


        Dei, gadis itu tersenyum bahagia melihat sosok pria dengan beberapa Anak-anak yang sedang bermain. seketika kedua mata indahnya melihat keatas, langit malam dengan dihiasi bintang menjadi pusatnya. Dei tersenyum, dengan sedikit harapan yang ia minta kepada tuhan, agar dia dan pria sesempurna itu akan selalu bersama.


        Tapi seketika senyuman itu memudar. Dei kembali menatap langit malam itu, berpikir bagaimana jika Tuhan tidak mengabulkan harapannya itu, apakah dirinya bisa menerimanya?


        Dei tidak tau harus bagaimana jika itu terjadi. Karena selain keluarganya, pria yang sedang ia lihat sekarang adalah seseorang yang sangat berharga dalam kehidupannya. Bagaikan lilin yang membutuhkan sumbunya untuk bercahaya.


        Anak-anak yang bermain bersama Athar satu persatu pergi untuk pulang, begitu juga dengan Athar yang sedang berjalan menghampiri gadisnya.


        "Pulang sekarang?" tanya Athar dengan senyuman manisnya.


         "Sebenarnya aku masih ingin disini, untuk melihat bin.... " Ucapan Dei terhenti saat ia melihat langit.


         Sedangkan Athar tertawa kecil melihatnya. "sepertinya bintang pun meminta kita untuk pulang."


         Dei cemberut, dan menatap lagi kelangit. Langit malam yang beberapa jam lalu dipenuhi dengan ribuan bintang, sekarang tertutup dengan awan mendung. Padahal ia ingin menghabiskan malam ini bersama Athar, sebelum ia pergi ke Paris.


        "Yaudah ayuk pulang, lain kali kita liat bintang lagi," ajak Athar.


        "Tapi kan dua hari lagi kita mau pergi ke Paris."


        "Kan kita bisa liat bintang disana, bahkan lebih indah."

__ADS_1


        Dei tidak menjawab, ia malah berjalan duluan menuju parkiran, sedangkan Athar hanya mengikutinya dari belakangan.


       Hampir pukul 22:00 malam mereka masih diperjalanan, Dei sengaja meminta Athar untuk membawa motornya dengan pelan. Ia ingin merasakan malam terakhir diindonesia bersama Athar hanya berdua.


Tapi saat asik menikmati suasana malam itu, satu persatu tetesan air telah jatuh ke bumi bahkan mengenai mereka berdua.


        "Athar gerimis!" ucap Dei.


        "Itu pertanda langit sedang merindukan bumi," jawab Athar.


        "Isss Athar serius, kayaknya bakal deras nih!"


        "Yaudah kita berhenti di halte terdekat ya."


         Karena hujannya cukup deras dan rumah mereka masih jauh, akhirnya mereka memilih berteduh di salah satu halte. Saat itu sangat sunyi sekali, hanya ada mereka berdua dengan suara hujan yang menemani mereka.


         "Aku sangat tidak sabar untuk pergi ke Paris, sudah hampir tiga bulan aku tidak menari karena untuk persiapan ujian kelulusan.Tapi! Dua hari lagi mimpiku akan terwujud, bersama kamu." Ucap Dei ditengah keributan suara hujan, sedangkan Athar hanya membalasnya dengan senyuman.


         "Dei!" panggil Athar pada gadisnya itu yang sedang fokus melihat hujan.


         "Iya!"


         "Hmm! Jika aku.... " Baru saja Athar ingin berbicara, sebuah motor dengan dua orang pria menghampiri halte tempat mereka berteduh.


         Dei yang melihat itu, sedikit bergeser mendekati Athar. Dua pria itu pun turun dan juga ikut berteduh bersama mereka. Keheningan kembali tanpa ada yang ingin berbicara sedikit pun, sedangkan belum ada pertanda hujan bakal berhenti.


         Dei sedikit tidak nyaman dengan keberadaan dua orang disampingnya itu, tapi ia selalu berpikir positif kalau mereka berdua sama sepertinya dan Athar, hanya untuk berteduh. Tapi, baru saja Dei ingin berbicara dengan Athar, salah satu pria yang disamping nya menodong kan sebuah pistol kearah mereka.


        "Serahkan semua barang-barang kalian." Ujar pria asing itu.


        Athar seketika langsung menarik Dei kebelakang nya. Sedangkan Dei terdiam, apa yang ia pikiran rupanya benar.


       "CEPAT SERAHKAN!"


       Athar langsung menendang tangan pria yang memegang pistol, dan berhasil membuat pistol itu lepas dari genggamannya.


        "Sialan!" umpat pria itu.


BUGH!


         Athar juga tidak ingin kalah, ia membalas pukulan itu hingga membuat pria didepannya cukup sulit mengimbangi tubuhnya.


BUGH!


          "ATHAR! udahhh, TOLONG...." Dei kembali teriak saat melihat pria yang lain memukul Athar. Bahkan Dei sempat meminta tolong walau ia tau mustahil untuk ada orang saat hujan sekarang.


         Athar sedikit kehilangan keseimbangannya, tapi saat ia melihat salah satu pria mendekati Dei, ia langsung berdiri mendekati nya.


         "JANGAN SENTUH DIA...." Teriak Athar emosi.


         "Jangan bergerak... Kalau lo nggak mau cewek ini mati." Ucap pria itu sambil menodong pistol tepat didepan Dei.


         Dei terdiam kaku, otaknya seperti berhenti untuk berpikir, melihat Athar yang sudah lemah dan sebuah bayangan akhir kisahnya. Dan hanya ada beberapa kalimat yang ada dipikirannya sekarang, sebuah kalimat yang tidak lama ia bayangan kan.


       Ia berpikir bagaimana jika Tuhan tidak mengabulkan harapannya itu!


       "Argh!" Athar terjatuh saat seseorang memukul punggungnya. Ia sudah tidak kuat lagi, tapi Athar masih berusaha untuk bisa menyelamatkan gadisnya itu.


       "ATHAR..."


       "DIAMM.."


       "Serahkan semua Barang-barang lo, kalau lo dan pacar lo ini nggak mau mati."


        Dei yang sudah terdiam hanya bisa memberikan semua Barang-barang yang ia bawa, dan yang Dei pikirkan sekarang adalah keadaan Athar yang terjatuh lemah dilantai halte yang basah. Ingin rasanya ia membantu Athar, tapi Dei sangat takut untuk bergerak sedikit pun.


        "Barang-barangnya cuman segini," ujar salah satu pria kepada temannya.


        "Salah target kita,"


        Dei yang mendengar itu hanya diam, sambil terus memperhatikan Athar. Ia tau bahwa Athar sangat merasakan sakit sekarang, tapi apa yang harus ia berbuat, Dei tidak mau mengambil resiko yang bisa membuat mereka dalam bahaya.

__ADS_1


        Dei kembali memandang kedua pria itu, kedua pria itu sedang berbisik sambil melihat kearah tangannya. Dei yang baru sadar kalau kedua pria itu pasti mengincar cincin yang ia pakai sekarang, Dei pun langsung menyembunyikan cincin itu, ia tidak akan membiarkan cincin pemberian Athar.


        "Serahkan cincin lo itu! Atau lo akan mati." Ancam pria itu dan kembali menodongkan pistol tepat dihadapan Dei.


        Dei tidak menjawab, ia hanya menggelengkan kepalanya. Dei akan mempertahankan cincin itu karena ia sangat menyayanginya.


       "SERAHKAN NGGAK!" Bentak pria itu.


       "ENGGAK...." Teriak Dei melawan.


       "Tembak aja dia." Ujar salah satu pria.


       Pria yang sedang memegang pistol itupun langsung memposisikan tepat dihadapannya, dan Dei melihat posisi pistol tepat didepan matanya.


       Detik itu juga keheningan kembali menemani mereka, hembusan nafas dan angin malam kembali bersatu tapi dengan suasana yang berbeda. Dei tidak bisa bepikir panjang, yang ia pikiran sekarang adalah sebuah pistol yang akan mengakhiri ceritanya segera.


        Perlahan pria itu mulai menekan pistol itu, detak jantung dan hembusan nafas yang tidak beraturan serta tetesan keringat yang keluar membuat harapan itu menghilang.


        Dan pria itu siap menekankan pistol nya, begitu juga dengan Dei yang siap akan kehilangan dunianya. Ia melihat kearah Athar dan seketika langsung memejamkan matanya.


DORRRR!


        Suara tembakan itu membuat sebuah pikiran terhenti sejenak, suara rintikan hujan dan hembusan nafas yang tidak beraturan menjadi satu dalam detik itu.


       Namun seketika sebuah tubuh ambruk dihadapan Dei, perlahan ia membuka pejaman matanya. Sekali lagi ia bingung dengan keadaan sekarang. tubuhnya bergetar kuat, nafasnya berhembus dengan cepat dan tetesan keringat berjatuhan saat angin malam menghembusnya.


       ATHAR RAJENDRA PRAJA Tertembak saat menolong dirinya, pria dengan senyuman manisnya itu terjatuh tepat dihadapannya.


      Sedangkan dua pria yang sudah menghancurkan hidupnya itu, pergi ntah kemana.


      Dei terduduk, tetesan air mata sudah mewakilkan perasaannya. Ia langsung memeluk Athar, mencoba untuk membuat prianya itu bertahan.


      "Athar! Athar!"


      "Pliss kamu kuat, kamu pasti bisa bertahan...." Dei begitu cemas, sambil melihat sekelilingnya, tapi nihil tidak ada seorang pun yang bisa ia meminta bantuan.


     "Athar! Plis bertahan untuk aku."


     Terlihat jelas wajahnya yang sudah memucat, tapi tetap terlihat dengan senyuman.


      "Sttss Dei! Maaf, maaf jika aku tidak bisa... Bersama kamu," ucap Athar sedikit sesak.


      "Ma-maaf... Jika aku tidak bisa menemanimu."


      Dei menggelengkan kepalanya. "Nggak! Kamu nggak boleh ngomong gitu, kamu udah janji bakal selalu bersama aku, dua hari lagi kita bakal pergi keparis, dan.... "


       "Sa-sayang!" Panggil Athar membuat ucapan Dei terhenti.


       "A-akuu... Sudah tidak kuat lagi, jadi... Tolong dengerin aku."


        Dei terus saja menggelengkan kepalanya, ia tidak mau jika suatu hal buruk terjadi pada Athar.


        "Shitt... Jika kamu merindukan aku, lihatlah bintang setiap malam. Ka-karena aku, akan selalu menjadi bintang disetiap malammu," Ucap Athar dengan rasa sakit.


       "Nggak! Aku tidak mau melihat bintang lagi, aku maunya kamu, kamu yang harus ada disetiap sisiku...."


       Gemericik air hujan terus saja terdengar, ditambah suara guntur yang perlahan-lahan terdengar. Malam semakin larut dan hanya ada beberapa lampu jalan yang menerangi wilayah itu.


      Dei mengelus rambut Athar, bahkan tetesan air matanya sudah mengenai prianya itu.


     


       "Tolong! Tolong bertahan demi aku...." pinta Dei dengan suaranya yang mulai tenggelam.


        "Sayang! Sekali lagi Ma-af, maaf tidak bisa tepatin janji aku... A-aku pergi Yaa." Sebuah ucapan terakhir dari pria dengan senyuman manisnya itu.


         "Athar! Athar! Pliss bangun... Plis jangan tinggalin aku, Athar bangun...."


        "ATHARR.............."


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


See you dipart selanjutnya 👋👋👋


__ADS_2