D. Deirsh & Depresinya

D. Deirsh & Depresinya
Part 19


__ADS_3

..."Karena semesta pun tau, aku sedang tidak Baik-baik saja."...


 


       Di sebuah atap gedung yang begitu tinggi, terdapat seseorang sedang berdiri dengan rasa yang begitu hancur. Walaupun terlihat begitu banyak Lampu-lampu kota tapi pandangan nya itu begitu kosong saat menatap ke depan.


       Sesekali ia menatap kearah langit malam yang begitu polos tanpa dihiasi satupun bintang, hingga ia mencoba memejamkan matanya, mengatur hembusan nafas yang sangat tak sejalan, sampai ia Benar-benar merasa lebih tenang.


       "Andai mengakhiri hidup itu bisa membuat hidup gue lebih tenang... Maka gue sudah melakukannya dari dulu," gumamnya pelan.


       "Tapi gue sadar, jika gue ngelakuin itu... Tetap tidak ada yang bisa gue harapkan."


       Kalimat pelan itu terhenti saat bibir itu memilih diam sejenak, bahkan hembusan angin malam mampu menyamarkan suara yang begitu rapuh itu.


       Dinginnya angin membuat kakinya itu merasa begitu lemas, ia memilih duduk dilantai tanpa beralas apapun. Matanya kembali tertuju pada langit malam itu dengan rasa yang begitu lelah.


       "Tapi terkadang gue merasa lelah. Berpikir, apa alasan gue untuk bertahan lagi? Jika yang gue harapkan, menghilang secara bersama." Gumamnya kembali.


...~~~...


       Tulisan sastra yang terbawa ke dalam rangkaian cerita mampu menyihir beberapa orang yang suka membacanya. Bahkan beberapa kata nya mampu memikat hati dan pikiran dalam satu bacaan. Kini seorang wanita menutup kembali sebuah buku yang ia baca sekejap, merasa tertarik ia pun memilih buku tersebut untuk dia pinjam.


       Setelah meletakkan beberapa buku yang menjadi pilihannya, kini ia berjalan menuju ketempat pinjaman, melewati Rak-rak tinggi yang terisi dengan buku yang begitu rapi terjejer, tak pernah berpikir bahwa dirinya bisa tertarik pada sebuah buku. Saat ia mencobanya ada perasaan nyaman saat dirinya berhasil masuk kedalam Kalimat-kalimat indah yang jarang ia dengar.


       "Kak! Saya ingin meminjam buku ini," ucapnya setelah sampai.


       "Oh boleh, tunggu ya kak saya catat dulu!" ucap sang petugas perpustakaan.


       "Atas nama siapa kak?"


       "Deirsh... Deirsh Anasyah."


       Setelah memberi tau namanya, Dei menunggu sang petugas itu mencatat sesuatu sebelum ia meminjam buku tersebut. Sambil melihat beberapa orang yang cukup banyak memilih membaca buku di perpustakaan itu langsung.


       "Ini kak bukunya, disini kita kasih waktunya tiga minggu paling lama satu bulan ya kak," jelas petugas tersebut.


       Dei pun mengangguk mendengarkan penjelasan itu sambil menerima buku yang ia pinjam. "Terimakasih ya kak."


       Kini ia sudah keluar dari gedung perpustakaan. Berada di tempat itu awalnya rekomendasi dari Salwa, beberapa hari yang lalu karena merasa bosan dan tidak ada kerjaan Dei mencoba berkabar dengan Salwa.


       Seperti biasa walau hanya melalui telepon, Salwa akan bercerita panjang tentang cerita yang ia baca di sebuah novel, karena selalu mendengar kan cerita temannya itu Dei merasa tertarik untuk mencoba membaca juga. Sampai Salwa merekomendasikan sebuah perpustakaan yang cukup besar dengan buku yang begitu banyak.


       Awalnya Dei Ragu-ragu untuk pergi ke perpustakaan itu, karena jaraknya yang cukup jauh dan dirinya pun tidak pernah pergi sendirian dengan jarak yang jauh.


       Tidak jauh dari gedung perpustakaan, ada sebuah rel kereta api yang tidak jauh dari tempat tersebut. Melihat sebuah warung di pinggir rel, Dei memilih menunggu ditempat itu hingga kendaraan yang ia pesan tiba.


       Tak pernah merasa kan suasana itu, Dei cukup merasa nyaman. Perasaan takut yang selalu menganggu pikiran nya kini sudah pergi entah kemana, melihat suasana kota tersebut membuat ada rasa tertarik pada dirinya. Dari sebuah gedung perpustakaan yang megah, Toko-toko yang berjejer rapih, hingga sebuah rel sampai dirinya melihat kereta api itu melintas.


       Sampai sebuah mobil berhenti tepat dimana ia menunggu sekarang. Membuat Dei langsung berdiri dan memastikan mobil tersebut adalah pesanannya.


       "Atas nama Deirsh Anasyah?" Tanya supir mobil tersebut.


       Dei pun langsung menganggukkan kepalanya dan langsung bergegas masuk ke mobil tersebut. Sampai mobil itu berjalan, ia pun masih memandangi suasana luar sampai Benar-benar dirinya menjauh dari tempat itu.


       Selama di dalam perjalanan Dei hanya terdiam menatap luar jendela sambil mendengarkan musik di ponselnya. Hingga mobil tersebut berhenti tepat di depan gang rumahnya.


       "Saya sudah bayar pakai aplikasi ya pak!" Ujar Dei pada sopir mobil tersebut yang langsung mengangguk.


       Dei pun memasukkan ponselnya kedalam tas, sebelum masuk ke dalam gang rumahnya. Tapi saat baru beberapa langkah dirinya berjalan, sebuah motor berhenti tepat didekat nya bahkan membuat Dei merasa kaget.


       Ia hanya terdiam sambil melihat pengemudi motor itu yang berusaha melepaskan helmnya. Setelah pria tersebut sudah melepaskan helmnya, Dei merasa pernah bertemu dengan orang itu.

__ADS_1


       "Lo cewek yang pernah kerja di apartemen Regan kan?" tanya pria itu Tiba-tiba membuat Dei sedikit tersadar.


       "I-iya," jawab Dei sambil menganggukkan kepalanya.


       "Lo ada lihat Regan enggak?" tanya pria itu lagi.


       "A-aku... Semenjak tidak kerja di apartemen nya, aku nggak pernah ketemu kak Regan lagi."


       Mendengar jawaban Dei, membuat Egi Pria tersebut mengusap wajahnya kesal. Melihat ekspresi pria itu yang merasa tidak tenang membuat Dei merasa begitu penasaran apa yang sedang terjadi.


       "Maaf! Kalau boleh tau ada apa yah?" tanya Dei memberanikan diri.


        Egi sedikit menatap kearahnya. "Sudah dua hari Regan enggak tau dimana, ponselnya pun nggak bisa dihubungi setelah dia pergi saat selesai berantem."


       "Berantem!" ucap Dei membeo.


       "Dua hari lalu ada salah satu geng yang cari masalah dengan geng kami. Tapi entah kenapa Regan menghajar musuhnya itu begitu brutal bahkan musuhnya sampai nggak sadarkan diri." Jelas Egi.


       "Kak Regan seperti itu!" Kalimat itu langsung terlintas dalam pikirannya.


       Kini mereka berdua hanya terdiam di situasi tersebut. Egi yang merasa tidak tenang dan Dei yang masih begitu penasaran.


       "Selain taman, disini tempat paling nyaman buat gue." Seketika Dei teringat sebuah kalimat yang pernah diucapkan pria itu.


       "Sepertinya Dei tau kak Regan ada dimana," ucap Dei Tiba-tiba.


       "Dimana?" tanya Egi.


"Kalau enggak lo ikut gue ketempat yang lo tau." Pinta Egi sambil menyodorkan sebuah helm.


       Dei tidak langsung mengambil helm tersebut, ia menatap ke arah gang rumahnya dan melihat langit yang mulai gelap. Pasti Mamanya sudah menunggu dirinya untuk pulang, tapi juga ada rasa khawatir yang muncul Tiba-tiba pada pria itu.


       "Ayo buruan." Ucap Egi Lagi-lagi menyadarkan dirinya.


       Hingga mereka berdua tiba di sebuah gedung yang sudah lama Dei tidak datang ketempat itu lagi.


       "Apartemen! Dia enggak ada didalam, gue udah kesini," jelas Egi yang sudah datang lebih dulu ke apartemen milik Regan.


       "Bukan, tapi di atas." Ucap Dei menatap atap gedung apartemen tersebut yang begitu tinggi.


       Tanpa menunggu lama Egi berlari masuk ke apartemen tersebut, begitu juga dengan Dei yang mengikuti Egi dari belakang menuju ketempat yang ia tunjuk.


       Gelap. Tidak ada lampu satu pun di atas apartemen tersebut saat malam hari, mereka pun langsung menyalahkan lampu dari ponsel mereka Masing-masing. Melihat sekeliling tempat itu tapi tak ada sedikit pun pertanda bahwa ada seseorang di situ.


       "Lo yakin Regan sering kesini?" tanya Egi membuat Dei langsung menganggukkan kepalanya.


       "REGAN!!!" Teriak Egi mencoba memanggil temannya itu.


       Dei pun juga mencari ke sisi-sisi yang lain. Beberapa kali ia juga tersandung karena penerangan ditempat itu, sampai Dei melihat sesuatu tepat dimana ia terangkan oleh lampu ponselnya.


       "Kak!" Panggil Dei membuat Egi langsung mendekati nya dan melirik ketempat yang Dei terangkan.


       "Rokok!" gumam Egi sambil mengambil beberapa sisa rokok yang berserakan di lantai tersebut.


       "Benar, kayaknya Regan baru dari tempat ini. Nih rokok punya dia."


       "Tapi kemana sekarang dia pergi!" jelas Egi.


       Kini mereka hanya terdiam, begitu juga dengan Dei yang sudah tidak tau Apa-apa. Karena mereka berada di tempat yang cukup tinggi dan juga saat malam hari, membuat angin malam merasa begitu dingin daripada Malam-malam sebelum nya. Karena sudah tak ada harapan lagi ditempat itu, mereka pun memilih untuk pergi.


Drtt... Drtt... Drttt....

__ADS_1


       Suara dering ponsel membuat langkah Egi berhenti sejenak untuk mengangkat panggilan tersebut. Begitu juga dengan Dei yang ikut berhenti dan diam sambil melihat pria itu.


       "Halo," balas Egi.


       "Ha serius lo! Oke gue ke sana sekarang." Panggilan itu pun mati.


       "Kita ke rumah Regan sekarang," ucap Egi pada Dei yang masih bingung.


       "Dia sekarang ada di rumahnya," sambungnya.


       "Rumah!"


...~~~...


Flashback


       Malam itu Regan Benar-benar merasa lelah, tergeletak dibawah langit malam yang kosong dengan pikiran nya juga ikut kosong. Hampir sebungkus rokok sudah ia habiskan, tanpa memikirkan apapun. Matanya perlahan terbuka dan tepat menatap kegegelapan diatasnya.


       Dengan pikiran nya yang seperti sekarang kini Regan sudah berada diperjalanan dengan membawa motor yang tidak fokus. Bahkan beberapa kendaraan sudah menegur dirinya tapi tidak dihiraukan oleh Regan.


       Tepat motor nya tersebut terhenti di sebuah rumah. Regan langsung turun dengan membuang helmnya tersebut ke sembarangan tempat bahkan ia membuka pintu rumah tersebut begitu kasar membuat orang yang berada di dalam dibuat kaget.


       "Den Regan! Ada apa?" ujar seorang wanita paruh baya begitu khawatir.


       Tanpa menghiraukan perkataan bi Sayu, Regan terus melangkah menuju kamarnya dengan badan yang bergetar.


Bi Sayu yang sangat khawatir langsung mengikuti Regan karena takut ada sesuatu yang terjadi pada majikannya tersebut.


       "Den... Den Regan kenapa? Coba cerita sama bi-"


BRUK!!!


       Belum selesai bi Sayu menyelesaikan kalimatnya, Regan langsung menutup pintu kamar begitu kuat. Melihat itu bi Sayu tak bisa menahan air matanya untuk tidak menetes, sudah cukup lama ia tidak melihat anak Laki-laki tersebut kembali rapuh seperti sekarang.


Prang... Prang... Prang!!!


       Kini beberapa barang sudah berserakan dimana-mana, bahkan beberapa pecahan kaca sudah melukai kaki pemilik kamar itu walaupun tak ia hiraukan.


       Berjalan perlahan kesebuah meja dengan tubuh yang begitu gemetar. Kini ia bisa melihat jelas sebuah bingkai kecil yang terletak di atas meja tersebut, terlihat sebuah foto seorang anak Laki-laki dengan sebuah senyuman yang begitu ceria.


       Tangan yang sudah berlumuran darah itu mencoba meraih bingkai tersebut dengan getaran yang tak bisa ia  tahan. Melihat foto seorang anak laki-laki yang sedang tersenyum membuat pria tersebut ikut tersenyum, bukan senyum bahagia tapi senyum yang begitu menyakitkan.


       "Gue benci senyuman itu." Gumam Regan dengan membanting foto tersebut dengan begitu keras.


       Pandangan matanya sekarang menuju pada jendela kamarnya yang tak pernah ia buka dari dirinya masih kecil. Regan dulu sangat takut jika ada seseorang yang mengetahui kehidupannya bahkan dengan semesta pun.


       Tapi sekarang ia perlahan membuka jendela tersebut, bahkan jendela itu sudah cukup sulit untuk dibuka buat dirinya yang mulai merasa lemah. Hingga sedikit dipaksa ia pun berhasil membuka jendela tersebut untuk pertama kalinya.


       Hembusan angin kembali menyapa tubuh nya tersebut, bahkan membuat beberapa luka yang ada pada dirinya merasa begitu nyeri. Tanpa Aba-aba Regan menjatuhkan dirinya dibawah jendela nya itu, air matanya pun sudah mengalir begitu deras. Kini dirinya Benar-benar merasa begitu rapuh dengan rasa yang begitu menyakitkan.


      "Kini tak ada lagi rahasia. Karena semesta pun tau, gue sedang tidak Baik-baik saja."


BERSAMBUNG.....


Hy semua... Apakah kabar nih?


Semoga Baik-baik aja yaa


Jangan lupa vote dan komennya


Btw Arsyah pengen nanya sama readers Deirsh nih... Kalian ada kpopers gak nih? Fandom apa?

__ADS_1


See yo.... Ketemu di part selanjutnya yaa


__ADS_2