D. Deirsh & Depresinya

D. Deirsh & Depresinya
Part 8


__ADS_3

..."Ini tentang dia, yang sering menangis setiap sepinya."...


----------


       Lelah rasanya mengikuti takdir yang selalu tidak berpihak pada dirinya. Ia lelah harus berpura-pura setiap harinya, terlihat tegas padahal sangat rapuh. Kadang ia berpikir, kenapa dunia begitu kejam padanya? Sebuah kebahagiaan yang tidak pernah ia rasakan sekali pun, hanya takdir yang begitu berantakan baginya.


       Isakan tangis selalu terdengar diruangan itu, sebuah ruangan yang satu pun orang tidak bisa masuk selain dirinya. Hanya Tuhan dan dirinya yang tau apa yang ia inginkan saat itu.


Drttt...drttt...


       Suara deringan ponsel terdengar diseluruh ruangan, membuat seorang pria terbangun melihatnya.


       "Halo!" sapa pria itu dengan suara yang masih mengantuk.


       "Woi bos! Lo dimana? Gue didepan apartemen lo nih," ujar seseorang dari seberang sana.


       "Gue kesana."


       "Anjir bukanya di ja-" Belum selesai ia berbicara, pria itu sudah mematikan teleponnya.


       Ia bangun dengan nyawanya yang masih dialam tidur. Berjalan kekamar mandi dan langsung mengambil jaket yang selalu ia pakai.


       Saat sedang menuruni tangga, seorang wanita paruhbaya menghampiri dirinya.


       "Den Regan mau kemana lagi? Baru tadi pagi aden pulang," ucap wanita itu yang sudah lama bekerja dirumah pria bernama Regan.


       "Regan harus pergi bi, bibi tolong jaga rumah ya!" ujar Regan pada bi Sayu yang sudah lama bekerja dirumahnya.


       Dan baru saja bi Sayu ingin bicara, Regan sudah pergi meninggalkan dirinya sendiri kembali.


       "Bibi tau, pasti kamu tidak nyaman dirumah terus." gumam bi Sayu, sambil melihat Regan keluar dari rumah.


       Ditempat lain seorang pria sedang duduk dilantai didepan salah satu kamar di apartemen. Ia memainkan ponselnya dengan mulut yang terus saja mengoceh.


       "Gila gue kek orang terbuang disini," ujar pria itu.


       "Punya bos, tapi minus akhlak,"


       Ia menghela nafasnya dengan kasar. "Untung gue sabar orangnya." sambungnya, sampai sebungkus snack dan minuman terlempar dihadapannya. Wajah yang dari tadi begitu kesal, kini berubah langsung semringah.


       Regan, pria yang ia tungguin itu pun langsung masuk kesalah satu kamar di apartemen itu. Sedangkan dirinya masih fokus dengan bungkusan yang penuh dengan makanan.


       "Bapak Regan Mizar Harantaz, kalau begini mah , gue nggak masalah nunggu lama didepan kamar lo." ujar Egi, pria yang masih sibuk dengan makanannya.


       Sedangkan Regan tidak mempedulikan temannya itu, ia langsung menuju kesalah satu kursi balkon yang tersedia dikamarnya. Menikmati angin sore, sambil menghirup asap nikotin dari mulutnya.


       Egi berjalan mendekati Regan, duduk disebelahnya dengan mulut yang masih mengunyah.


       "Ngapa lo kesini?" tanya Regan.


       Egi menatap bosnya, dan berusaha untuk menghabiskan makanan yang ada di mulusnya.


       "Nih bos, anak RACER nyuruh semua anak RAJAWALI ketempat biasa," jelas Egi, membuat Regan menaikan alisnya.


       "Katanya anak RAJAWALI, ada yang ganggu pacar salah satu anak RACER."


       Egi berjalan mengambil makanan lainnya. "Mungkin mereka ngajak baku hantam lagi bos!" sambung Egi.


       "Terima, lo bilangin aja ke Anak-anak yang lain," ujar Regan dan langsung pergi.


       "Terima apa?" ujar Egi bingung, dan melanjutkan makannya lagi.


       Di parkiran, Regan sudah bersiap untuk pergi, tapi baru saja ingin pergi ia mendapatkan panggilan dari Anak-anak RAJAWALI. Setelah selesai ia melihat kontak di ponselnya, terlihat ada satu nomor yang belum ia simpan. Regan tersenyum tipis, dan ia mengetahui nomor siapa itu.


...~~~...


       Seorang suster berlari begitu panik, tanpa melihat sekelilingnya lagi.

__ADS_1


       "Dokter! Pasien dikamar 14 darurat." ucap suster tersebut.


       Mendengar itu, sang dokter dan suster itu langsung bergegas menuju pasien tersebut. Saat mereka sampai didepan ruangan itu, muncul wanita paruhbaya yang selalu datang menunggu pasien itu.


       "Dok ada apa?" tanya wanita itu panik.


       "Maaf buk, izinkan kami masuk dulu," ucap sang dokter.


       "Saya juga ingin masuk,"


       "Maaf buk, biarkan dokter memeriksanya dulu, ibu tolong tunggu diluar." ujar salah satu suster.


       Pintu kamar rawat 14 itu pun tertutup, sedangkan wanita tersebut menangis begitu sesak, ia berjalan mendekati sebuah jendela berusaha untuk melihat apa yang terjadi, walaupun hanya terlihat Samar-samar karena tertutup oleh kain.


       "Tuhan! Hiks...Cobaan apa lagi yang kau berikan padanya...." ucap wanita itu dengan tangisan.


       Matanya terbuka, dengan air mata yang mengalir begitu saja. Dei memejamkan matanya dan berusaha menenangkan dirinya.


       "Mimpi itu lagi!" gumam Dei pelan.


       Sudah dua kali ia mendapatkan mimpi yang sama. Dokter, rumah sakit, tangisan, Dei Benar-benar sedang berpikir, mimpi itu terlalu nyata untuk nya.


       Dei mendudukkan badannya, walaupun pikirannya masih berada pada mimpi itu.


       "Siapa yang sakit? Siapa wanita itu?"


       Dei berusaha mengingat mimpinya kembali, tapi tidak bisa. Dalam mimpi itu semuanya Samar-samar, tidak terlihat dengan jelas. Hingga ia mengingat sesuatu, suara wanita itu! Sepertinya Dei pernah mendengar suaranya.


       "Dei...."


       Dei tersadar dari semua pikirannya sekarang. Suara Dela membuat Dei langsung bergegas untuk keluar.


       "Mama sudah pulang!" gumam Dei.


       Dei sedikit berlari, telihat Mamanya sudah menunggu diluar, membuka pintu rumah dan bertemu dengan Mamanya.


       Dei tersenyum. "Dei tadi ketiduran ma,"


       "Yaudah." Dela mengusap kepala putrinya itu dan langsung masuk kedalam rumah.


       Dei kembali menutup pintu, dan mengikuti Mamanya yang langsung kedapur.


       "Kok cepat pulangnya Ma?" tanya Dei sambil mengeluarkan tempat makan Mamanya itu.


       "Tante kamu mau beli bahan, sekalian mau ketemu temannya," jawab Dela.


       "Mama mau kekamar dulu ya, mau Bersih-bersih." ujar Dela yang langsung diangguki putrinya.


       Kini Dei pun sudah selesai mencuci tempat makan Mamanya. Dei memilih untuk kembali kekamar, setelah itu baru ia akan memasak untuk makan malam nanti.


       Dei sudah berada dalam kamar, mengambil ponselnya dan duduk dibangku dekat jendela kamarnya itu.


       Baru saja Dei menyandarkan dirinya, ia langsung menegakkan kembali. Betapa kagetnya saat ia melihat isi ponselnya itu. Lima puluh lebih panggilan dari nomor yang tidak dikenal yang tidak terangkat oleh Dei.


       "Nomor siapa?" tanya Dei bingung pada dirinya sendiri.


       Hingga sebuah pesan dari nomor yang sama muncul di ponselnya itu. Karena penasaran Dei langsung membuka pesan tersebut.


...-------------081374××××××-------------...


Gw tnggu lo d halte setlh warng kecil nnti malam.


16:27


Klau lo gk dtg... Lo tau akibatnya....


16:27

__ADS_1


...------------------------------...


       Dei melihat pesan itu, sebuah tulisan yang cukup aneh tapi masih bisa ia membacanya. Siapa yang mengirim pesan itu! Membuat dirinya bertanya-tanya.


       "Halte setelah warung kecil!" ujar Dei pelan.


       Ia tau tempat itu.Tapi, wilayah sekitar situ cukup sepi, hanya ada beberapa rumah didekat situ dan apa lagi saat malam hari.


       Hingga Dei mengingat sesuatu, sepertinya ia tau siapa yang mengirim pesan itu. Seorang pria yang motornya ia tabrak beberapa hari lalu.


       Dei menjatuhkan ponselnya, dan mengusap wajahnya itu. Dia begitu panik, apa yang harus ia lakukan, jika tidak datang pasti pria itu bakal mengancam dirinya, dan jika ia datang apa yang pria itu bakal lakukan. Dei begitu takut, sampai ia lupa harus memasak untuk makan malam.


       Saat ini Dela dan putrinya sedang berada di meja makan. Dela yang saat ini sangat menikmati makan malam mereka, begitu berbeda dengan Dei yang daritadi hanya melamun sambil memainkan sendok yang berada ditangannya.


       "Dei harus gimana nih!" batin Dei.


       "Dei!" panggil Dela, membuat Dei tersadar kembali.


       "Hm, iya Ma!


       Melihat putrinya itu Dela menggelengkan kepalanya. "Kamu pikirin apa? Dan makanannya kok nggak dihabisin!"


       "Dei udah kenyang Ma," jawab Dei.


       "Hm yaudah nanti beresin ya, Mama pengen kekamar istirahat," ucap Dela yang langsung diangguki Dei.


       Baru saja Dela melangkah kekamar nya, Dei sudah memanggilnya kembali.


       "Ma!" panggil Dei, membuat Dela menatap dirinya.


       "Dei boleh keluar sebentar nggak?" tanya Dei.


       "Mau kemana Malam-malam gini?"


       "Ada barang yang harus Dei beli sekarang," ujar Dei.


       "Yaudah, tapi jangan Lama-lama dan jangan lupa juga tutup pintunya."


       Mendengar itu Dei menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Begitu dengan Dela yang langsung menuju kamarnya.


       Angin malam membuat Dei cukup merasa dingin, ditambah ia menggunakan sepedanya. Kini dirinya berada diperjalanan, ia memilih untuk datang ketempat pria itu minta, walaupun sebenarnya ia sangat takut.


       Selama perjalanan ia terus saja berdoa, dan menyiapkan tenaganya jika ada sesuatu yang tidak diinginkan, karena hanya berlari saja ia bisa selamat.


       Dei telah sampai di halte tersebut, benar yang ia pikir tempat itu sangat sunyi, bahkan hanya ada satu dua kendaraan yang melewati jalan itu. Sebenarnya Dei mengingat sesuatu yang cukup kelam, hanya saja ia tidak mau membuat dirinya tambah takut.


       Hingga ia melihat dari ujung kanan, segerombolan motor sepertinya ingin melewati jalan tersebut. Dei yang begitu panik, langsung membawa sepedanya kebelakang halte bersama dirinya untuk bersembunyi, ia takut jika Pria-pria tersebut melihatnya membuat dirinya tidak aman. Dei hanya diam, melihat satu persatu segerombolan motor itu melewatinya.


       "Apa bakal ada tawuran ya!" ujar Dei pelan.


       Hampir beberapa menit ia bersembunyi dibelakang halte tersebut. Dan saat ia ingin kembali kedepan, seorang pria sudah berada dihadapannya.


       Jantungnya seperti berhenti sejenak, bagaimana tidak ia begitu kaget dengan kemunculan pria yang menggunakan masker diwajahnya itu. Karena panik, Dei hanya bisa memejamkan matanya.


       "Tuhan! Bantu Dei."


Bersambung.....


Hai apa kabar semuanya....


Jaga kesehatan terus yaa...


Dan arsyah juga mau ingatkan


Jangan lupa votenya hehehe


Terimakasih:)

__ADS_1


See you......


__ADS_2