
..."Kehilangan itu menjadi awal kehancuran hidup ku."...
Alunan musik balet kini terdengar di seluruh ruangan, menampilkan beberapa orang yang sedang menikmati gerakan dengan sentuhan musik yang indah.
Terlihat juga seorang wanita dewasa yang sepertinya adalah pelatih dari kegiatan itu, dan Anak-anak lain yang sedang duduk melihat teman lainnya yang sedang latihan di hadapan mereka.
"One two three, one two three, one two three...."
Selain alunan musik, terdengar juga suara sang pelatih sambil terus melihat gerakan anak muridnya. Sangat indah jika melihat mereka bergerak mengikuti ketukan musik, ditambah dengan sebuah musikal yang membuat penampilan mereka begitu bercerita, hingga alunan itu berakhir, dan membuat ending penampilan itu begitu sempurna.
"Oke latihan hari ini cukup sampai sini, kalian boleh pulang dan istirahat," ucap pelatih mereka.
"Siap kak Clara." Ucap mereka bersamaan.
Mereka semua pun langsung bergegas menyusun Barang-barang mereka dan langsung pulang. Begitu juga dengan dua orang perempuan yang sedang berjalan mengambil tas mereka.
"Dei! Itu Athar ya?" ucap Aleya menunjuk ke seseorang yang sedang duduk dipinggir ruangan.
Dei pun langsung mengikuti arah pandang temannya itu, dan benar ia melihat seorang pria sedang duduk santai menatap kearah dirinya. Dei dan Aleya pun langsung menghampiri sang pria tersebut, sebuah ukiran senyum dapat terlihat oleh Dei.
"Eem, tuan putri udah ditungguin sama pangerannya nih," ejek Aleya.
"Apaan sih Ley," ujar Dei malu.
"Lo juga udah ditungguin tuh sama pangeran lo diluar," ucap pria yang bernama Athar itu, membuat Aleya kaget.
"Hah serius! Gue duluan lah ya, bye Dei bye Har," pamit Aleya yang langsung pergi meninggalkan mereka berdua.
"Betah ya kamu berteman sama dia," lanjut Athar.
Dei tertawa mendengar pangerannya itu bicara. "Gitu-gitu, dia istimewa buat aku."
"Jadi aku nggak istimewa buat kamu?"
Dei terdiam, dan mengalihkan pandangannya. "Hmm kamu bukannya ada kelas Fisika?"
Athar tersenyum. "Ada, tapi karena kamu lebih penting dari fisika, jadi aku kesini."
"Athar! Aku serius," ujar Dei malu.
Athar pun langsung ketawa karena sudah membuat kekasihnya itu malu. "Iya iya, kelasnya udah selesai kok, jadi aku bisa nungguin kamu."
"Ohh...." ucap Dei yang begitu gemas.
"Mau langsung pulang?" tanya Athar.
Dei mengangguk. "Iya, Soalnya latihan hari ini capek banget."
"Yaudah yuk pulang, biar tuan putri ku ini bisa istirahat," gombalnya.
"Athar...."
...~~~...
Mendapatkan jam kosong merupakan hal bahagia bagi setiap siswa. Dan itu dirasakan sekarang oleh siswa kelas 3 Bahasa, bagaimana tidak mereka begitu senang saat ini, ditambah jam yang kosong adalah jam pelajaran yang paling banyak dibenci para siswa yaitu Matematika.
Kini Dei dan Aleya menghabiskan waktunya dengan mengobrol bersama beberapa murid lainnya, ada juga yang tidur, main gitar bahkan bebrapa murid cowok sudah pergi menuju kantin.
Hingga salah satu teman sekelas Dei memanggil dirinya.
"Dei, Di depan ada Athar tuh!"
Dei yang tau pun langsung bergegas menghampiri kekasih nya itu. Belum sempat Dei berjalan Aleya langsung memperingati Dei.
"Dei! Jangan lupa lo harus nemenin gue...." ujar Aleya pada Dei
Dei pun mengangguk sambil tersenyum pada temannya itu, dan langsung bergegas menghampiri Athar.
Terlihat Athar sedang duduk di samping Teman-teman Dei yang sedang bermain gitar.
"Athar!" panggil Dei, membuat pemilik nama itu langsung berdiri dan menghampiri dirinya.
"Kamu nggak masuk ke kelas?" tanya Dei.
"Nggak, gurunya rapat," balas Athar.
"Sama dong."
Athar pun hanya tersenyum melihat kekasihnya itu. "Tadi kamu chat aku, emang mau ngomong apa?"
"Oh iya, nanti aku pulang sama Aleya ya...." pinta Dei sedikit takut.
Mendengar itu terlihat alis Athar sedikit terangkat. "Kenapa!"
"Mau nemenin dia ke toko buku."
Dei langsung gugup saat tak ada jawaban dari kekasihnya nya itu, ia takut jika Athar melarang nya kembali.
"Nggak boleh ya?" tanya Dei takut.
"Siapa aja?"
"Dei sama Aleya aja kok," ujar Dei sedikit senyuman untuk merayu Athar.
"Yaudah, tapi ingat! Habis itu langsung pulang ke rumah, jangan Kemana-mana lagi," pesan Athar
"Siap bos."
__ADS_1
"Dan satu lagi, kalau ada Apa-apa hubungi aku!"
"Siap." Ucap Dei dengan memberi hormat pada kekasihnya itu.
Setelah berhasil meminta izin pada Athar, kini Dei dan Aleya sudah sampai disalah satu Mall. Seperti yang ditanyakan oleh Athar, mereka hanya berdua sekarang. Dan kini mereka sudah sampai ketempat tujuan, sebuah gramedia tempat surganya para pencinta buku terutama novel.
Queensihe Aleya ia sangat suka membaca novel dan tidak hanya novel bahkan di ponselnya ada aplikasi ******* yang penuh dengan cerita fiksi. Dei yang bersamanya terus, selalu mendengarkan Cerita-cerita fiksi dari temannya itu. Bahkan yang tak habis pikir oleh Dei, Aleya sering menangis hanya karena cerita yang ia baca.
"Huaaa, gila udah lama banget gue nggak kesini," teriak Aleya begitu senang tanpa menghiraukan pembeli lainnya.
"Dei, banyak banget Novel-novel baru, gue bingung mau beli yang mana!"
Dei yang melihat temannya itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ya udah kamu cari aja dulu, aku temenin kok."
"Hua... Lo emang sahabatnya gue banget," ujar Aleya yang membuat Dei tersenyum.
...~~~...
Sabtu, setelah Dei baru pulang dari sekolah ia begitu senang saat Ayahnya akan mengajak keluarga nya itu untuk makan malam di luar. Dei yang sudah lama tidak merasakan suasana itu, merasa begitu bahagia.
"Emang mau makan dimana nanti malam yah?" tanya Dei penasaran.
"Banyak nanya nih...." ucap Carles sambil memberantakin rambut adek nya itu.
"Apaan sih bang, kan Dei pengen tau," kesal Dei.
Arwansyah hanya tertawa melihat tingkah kedua anak nya itu.
"Kita makan ditempat yang biasa kita datangin dulu," jawab Arwansyah.
"Tuh dah tau kan!" Ucap Carles, membuat adek nya itu tambah kesal.
Kini telah sore, Dei yang dari pulang sekolah sangat bahagia saat diberi tau bakal makan malam diluar, sekarang semua berubah. Ekspresi cemberut itu terlihat jelas diwajahnya, bahkan Carles terus saja mengejek adeknya yang sedang kesal.
Arwansyah hanya Geleng-geleng melihat kedua anaknya itu, ia pun tak habis pikir dengan mobilnya ini, rencana yang sudah ia buat untuk keluarganya kini gagal karena mobil mereka yang Tiba-tiba tidak mau hidup.
"Lain kali aja kita makan malam diluar," ujar Dela pada putrinya.
"Tapi ma! Kita udah lama nggak makan diluar," balas Dei.
"Ya gimana coba, mobilnya aja nggak bisa hidup."
Dei tidak membalas, malah ia tambah begitu kesal. Sedangkan Carles terus saja menertawakan adeknya itu.
"Gue punya ide," ucap Carles, membuat Dei dan Dela melihat kearahnya.
"Ide apa bang?" tanya Dela.
"Ada deh Ma."
"Lo mau ikut gue nggak!" ujar Carles pada Dei.
"Nggak," balas Dei singkat.
"Iya, Hati-hati bang, jangan ngebut." Ucap Dela.
Senja sudah mulai terlihat dan Dei kini hanya Baring-baring dikamar nya dengan begitu bosan. Sampai suara ketukan pintu kamar terdengar olehnya.
"Dei! Lo didalam? Gue masuk ya...." ujar Carles dari luar.
Belum sempat ia menjawab pintu kamar pun sudah terbuka. Dei yang masih merasa kesal langsung memalingkan wajahnya, sedangkan Carles tambah mendekati adek nya itu.
"Lo tau nggak gue beli apa?"
"Engga tau dan nggak mau tau," jawab Dei ketus.
Mendengar ucapan adek nya, Carles tersenyum. "Serius! Yaudah deh, padahal gua udah beli daging, sosis, jagung untuk dibakar nanti."
"Eh iya! Gue tadi beli jajanan juga deh sama susu strawberry," sambung Carles menggoda Dei.
"Serius!" ujar Dei begitu semangat saat mendengar ucapan abangnya tersebut.
"Katanya nggak mau tau."
"Abang...."
Hari telah gelap, Dei yang awalnya merasa kesal, kini suasana hatinya sudah kembali bahagia. Ide dari sang abang membuat mood Dei kembali lagi. Rencana awal yang ingin makan malam diluar, kini memilih untuk Bakar-bakar dihalaman rumah mereka.
Ditambah dengan Erin tante mereka juga bergabung menambah suasana begitu ramai. Saat ini mereka sedang menyiapkan semua, dari Carles dan ayahnya yang menyiapkan bakaran, begitu dengan Dei, Dela dan tantenya yang menyiapkan Bahan-bahan yang sudah dibeli Carles.
"Gini kan enak, dari pada makan diluar," ujar Carles sambil mengipas-ngipasi bara api.
"Tapikan kita udah lama nggak keluar," balas Dei.
"Abang! Udah jangan ganggu adeknya," ucap Irwansyah pada Carles yang hanya tertawa.
Setelah selesai membantu mama dan tantenya, Dei memilih duduk di sebuah ayunan sambil melihat abang dan ayahnya. Cuaca yang sangat mendukung, melihat kan ribuan bintang di langit malam. Dei sesekali bersenandung sebuah lagu yang Baru-baru saja ia suka, walaupun abangnya sering kali mengejek suaranya itu.
Setelah beberapa jam menunggu, aroma wangi dari bakaran ayam dan makanan lain tercium di seluruh halaman. Dei yang sudah tidak sabar langsung duduk di sebuah tiker yang sudah digelar dan beberapa makanan yang siap disantap.
Kini mereka semua berkumpul, menyantap makanan yang begitu banyak, dan jangan lupa dengan Dei yang sudah menghabiskan 4 kotak susu strawberry yang dibeli oleh abangnya tadi.
"What! Susu yang gue beli tinggal dua!" Ujar Carles kaget, melihat adeknya itu.
Dei pun hanya cengengesan, dan melanjutkan makannya. Perasaan awal yang membuat dia begitu ingin makan diluar, kini semua sudah hilang melihat kehangatan keluarganya yang begitu bahagia.
Melihat Mama dan tantenya bercerita, abang dan ayahnya yang bergurau, membuat Dei merasa nyaman. Dan jangan lupakan dengan suasana saat itu, cuaca malam yang sangat mendukung mereka.
...~~~...
__ADS_1
Kini hari yang Tunggu-tunggu oleh Siswa kelas tiga telah tiba, hari kelulusan yang sudah mereka nantikan kini sudah didepan mata. Begitu juga dengan Dei dan Athar, mereka sudah sangat tidak sabar untuk bisa lulus dan melanjutkan menjadi seorang mahasiswa.
Saat itu mereka semua sedang berkumpul di sebuah aula sekolah yang cukup besar, terlihat semua siswa yang sudah berpakaian rapih dan orang-tua mereka yang ikut hadir meramaikan acara kelulusan, menjadikan hari yang begitu bahagia bagi mereka semua.
Tidak sampai situ, Kebahagiaan Dei Benar-benar begitu sempurna saat dirinya dan Athar menjadi salah satu Tiga siswa yang mendapatkan nilai tertinggi. Setetes air mata kebahagiaan pun tidak bisa ia bendung, pengorbanannya yang selalu ia perjuangkan kini mendapatkan hasil yang Benar-benar memuaskan.
"Putri ayah luar biasa," ucap Arwansyah sambil memeluk Dei.
"Gila adek gue pintar banget," sambung Carles.
Saat ini keluarga Dei dan Athar sedang berkumpul, merayakan hari bahagia untuk mereka berdua.
"Dei! Selamat atas apa yang kamu capai sekarang," ucap Laras bundanya Athar.
"Makasih bunda," jawab Dei dengan senyuman manisnya.
"Athar juga pintar tau bunda," ujar Athar tak terima saat Dei saja yang mendapatkan ucapan selamat.
"Tapi gue nggak yakin lo emang pintar," ledek Carles.
"Wah ngeremehin gue lu bang...." Mendengar itu Carles hanya tertawa.
Mereka semua pun melanjutkan makannya, dua keluarga yang harmonis kini bersatu dalam sebuah kehangatan.
"Kalian berdua jadi kuliah di Paris?" tanya Arwansyah pada putrinya dan Athar.
"Jadi om, Athar sama Dei bakal kuliah di Paris," jawan Athar.
"Apa kamu yakin har! kalian hanya berdua dan apa kamu bisa ngejaga Dei?" tanya Bram Ayahnya Athar.
"Tenang aja yah, Athar pasti akan ngejaga Dei terus."
"Yaudah om percaya sama kamu," sahut Arwansyah.
"Dan kami juga sudah mempertimbangkan, sebelum kalian berangkat ke Paris, kalian akan bertunangan dulu."
Mendengar itu Benar-benar begitu bahagia, ia akan selalu bisa bersama pangerannya, pangeran yang selalu melindunginya itu.
"Wah gila, gue di lewati nih...." ujar Carles kesal.
"Ya emang lu punya pacar bang?" ujar Athar yang membuat Carles tambah kesal.
Melihat itu mereka semua tertawa bahagia. Dei menatap kearah Athar dan langsung dibalas dengan pria di samping nya itu, tidak ada kata yang bisa yang Dei katakan, hanya sebuah senyuman tulus dan juga dibalas dengan senyuman manis oleh prianya.
...~~~...
...[Berita hari ini, terjadi komplotan begal tadi malam tepat pukul 10 malam. Sepasang kekasih menjadi korban, kabarnya mereka adalah dua Siswa SMA yang baru lulus. Tapi sayang, satu korban pria meninggal saat kejadian tersebut karena luka tembak yang diterimanya.]...
Rintikan hujan yang tak Henti-henti itu menemani sang gadis dengan hati yang hancur, tangisan yang tersamarkan oleh suara hujan, dan hembusan angin yang perlahan mengeringkan air matanya. Kini ia terkurung dalam kesedihannya.
"Sayang... Tolong buka pintu nya," teriak Dela dari luar kamar.
"Dei! Buka pintunya...."
"Dei ini gue Aleya, bukan pintunya Dei...." sahut Aleya juga memanggil sahabatnya.
Kini semua orang sedang mencemaskan keadaan Dei, setelah pemakaman Athar selesai ia mengunci dirinya dikamar, tanpa memperdulikan teriakan orang lain.
Hari ini menjadi hari yang sangat menyakitkan, dimana seharusnya hari ini menjadi hari pemberangkatan mereka ke Paris, malah berubah menjadi hari kepergian Athar untuk selamanya.
Ia masih terbayang dengan kejadian malam itu, dihadapannya sendiri pria sejatinya pergi untuk selamanya. Tangis nya semakin pecah tanpa bersuara, merasakan sakit begitu dalam saat mengingatnya selalu.
"Mas! Aku khawatir sama keadaan Dei didalam," ucap Dela pada suaminya.
Sedangkan Arwansyah dan Carles masih berusaha membuka pintu kamar itu.
"Kak tenang! Dei pasti Baik-baik aja," ujar Erin menenangkan kakaknya.
"Iya tante, Dei bakal Baik-baik aja." Sambung Aleya.
Saat itu Dei Benar-benar merasa hancur, dimana Mimpi-mimpi yang selalu ia bicarakan bersama Athar musnah bersama duka. Dan itu menjadi penutup dalam semua Mimpi-mimpi nya.
Drtt... Drtt... Drtt....
Melihat ponselnya berdering, wanita itu langsung mengangkatnya. Saat menerima panggilan ekspresi wanita itu berubah begitu cemas, ia langsung mematikan panggilan, membereskan tasnya dan bersiap untuk pergi.
"Maaf tante harus pergi sekarang, tante dapat telepon dari rumah sakit," ujar Wanita itu.
"Ada informasi apa tan?" tanya seorang pemuda.
"Kondisinya tambah darurat, jadi tante harus ke sana sekarang juga," jelasnya.
"Maaf tan, Eza nggak bisa ke sana sekarang, soalnya lagi banyak kerjaan juga."
"Nggak papa, lain kali tante kesini lagi."
"Tante pergi dulu ya...." Pamit wanita itu, yang langsung direspon dengan anggukan sang pemuda.
BERSAMBUNG.....
Hy semua.....
Apa kabar?
Maaf ya baru up sekarang, soalnya ada kendala sedikit..
Selalu dukung cerita ku yaa.. Dan jangan lupa vote nya...
Terimakasih
__ADS_1
Luvvv semua...
See you