
..."Tatapannya selalu membuat ku bergetar."...
Krek....
Suara pintu kamar terbuka, terlihat suasana kamar yang sudah begitu gelap, bagaikan sang pemilik ruangan itu sudah tertidur sangat tenang. Tapi tidak, seorang wanita paruhbaya masih terduduk termenung didalam gelapnya ruangan itu.
Sedangkan seseorang yang tadi membuka pintu kamar, berjalan masuk kedalam ruangan tersebut. Sangat gelap, hanya ada sekilas cahaya yang masuk keruangan itu dari Sela-sela jendela.
Perlahan duduk disamping wanita itu, dan mencoba menyentuh bahunya.
"Kak! Belum tidur?" tanyanya menyadarkan wanita tersebut.
Ia hanya menggelengkan kepalanya, sambil mengusap sesuatu dari pipinya itu. Beberapa detik ruangan itu kembali hening, bingung untuk memulai pembicaraan.
Hingga adek dari wanita itu, kembali membuka suara. "Dia butuh kakak!"
Mendengar ucapan adek nya, ia langsung menatap wajah yang tertutup dengan gelapnya ruangan itu.
"Kakak belum ada jenguk dia, apa kakak ingin kehilangan dia?"
"Kakak udah ngantuk, kamu tolong keluar," ujar wanita itu.
"Tolong kak! Sekali saja kakak lihat dia, dia sangat butuh kakak sekarang."
"Kakak bilang keluar!" usirnya, dan langsung merebahkan dirinya untuk tertidur.
Melihat sikap kakaknya tersebut, ia menghela nafas lelah. Bujukan yang selalu ia usahakan terus saja gagal, kakaknya itu Benar-benar tidak ingin mendengarkan dirinya. Ia melihat kakaknya yang sudah tertidur sebentar, sebelum ia keluar dari ruangan itu.
...~~~...
Hari yang begitu cerah, membuat sinar mentari begitu menerangi ruangan kamar bernuansa biru tersebut. Ruangan yang sudah begitu rapi, dan terdengar gemericik suara air dari sebuah kamar mandi, menandakan sang pemilik kamar sudah terbangun.
Sampai seorang gadis manis keluar dengan handuk yang berada di kepalanya. Deirsh sudah begitu segar saat ini, duduk ditempat rias dengan secangkir teh hangat yang tidak pernah ketinggalan.
Dei menatap dirinya sendiri di cermin riasnya, sambil mengeringkan rambut pendeknya itu dengan handuk. Tak lupa sesekali ia meminum teh yang sudah ia buat.
Hari ini dirinya begitu tenang, bahkan kejadian malam itu pun sudah terlupakan, sampai dirinya dikagetkan dengan ketukan pintu kamar yang terus menerus.
Tok... Tok... Tok....
"Dei! Buka pintu nya cepat Dei! Ini mama."
Mendengar suara Mamanya itu, Dei langsung bergegas membuka pintunya karena begitu panik.
Setelah dirinya membuka pintu kamar nya itu, Mamanya langsung menarik begitu dekat.
"Dei kamu semalam kenapa! kamu nggak Kenapa-kenapa kan? Terus kamu pulang naik apa? Sama siapa?" bertubi-tubi pertanyaan langsung keluar Dari Dela saat melihat dirinya.
Mendengar pertanyaan Mamanya, Dei yang awalnya sudah melupakan kejadian malam itu, langsung terlintas kembali dalam pikirannya. Dan ada apa Mamanya bertanya seperti itu.
"Ma! Mama tenang dulu," ujar Dei menenangkan Mamanya.
"Dei Baik-baik aja kok, emang ada apa Ma, Mama sebegitu khawatirnya sama Dei?" tanya Dei.
"Barusan ada dua orang cowok, nganterin sepeda kamu, emang kamu semalam kemana? Terus pulang sama siapa?" tanya Dela kembali.
Dei yang mendengarnya langsung kaget, sepedanya? Siapa yang bawa sepedanya itu? Pertanyaan itu langsung terlintas dalam pikirannya.
"Dei! Mama nanya loh, kok malah bengong," ucap Dela, membuat Dei langsung tersadar.
Dei begitu bingung harus jawab apa, tidak mungkin ia ngasih tau sebenarnya, kalau dirinya nabrak motor orang, terus harus ganti rugi, pasti Mamanya bakal khawatir banget.
"Hmm anu ma, itu... Semalam pas Dei mau pulang, ada Orang-orang yang mau tawuran...."
Jelas Dei, yang didengarkan oleh Mamanya itu.
"Terus, ada teman Dei yang tawarin pulang bareng, katanya bakal bahaya, terus sepeda Dei dititipin deh... Gitu Ma," sambung Dei, tapi dirinya takut jika Mamanya tidak percaya.
"Tapi kamu nggak Kenapa-kenapa kan?" tanya Dela, membuat Dei langsung lega, karena membuat Mamanya sudah percaya.
"Dei Baik-baik aja Ma."
"Kamu udah mandi kan, yaudah yuk sarapan," ajak Dela.
__ADS_1
Dei menganggukkan kepalanya. "Iya Ma, nanti Dei nyusul."
Dela pun pergi duluan menuju tempat makan, sedangkan Dei langsung kembali masuk kedalam kamarnya.
Dei duduk kembali kekursi riasnya, ia masih sedikit bingung siapa yang bawa sepedanya itu. Hingga sebuah notif muncul dari ponsel nya yang berada dimeja.
...-------------081374******-------------...
Sepda lo udh d rmh kan!
07:23
Jam 10 lo dtg ke aprtm gw..
Jka lo gk datang, lhat aj..
07:23
[LOKASI]
07:25
...------------------------------...
Setelah melihat pesan itu Dei tidak berniat membalasnya, karena dirinya bingung kenapa pria itu menyuruh nya pergi ke sebuah apartemen, Dei Benar-benar takut jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Dei pun berjalan mematikan lampu kamarnya, dan bergegas keluar menyusul Mamanya yang sudah menunggu dimeja makan.
Kini dirinya sudah berada ditempat makan bersama Mamanya, selama sarapan Dei merasa gelisah, ia bingung untuk memberi tau Mamanya itu jika ia harus keluar. Bagaimana tidak, selama Dei libur bekerja ia jarang sekali pergi keluar. Bahkan setiap ia keluar sebentar, Mamanya bakal bertanya panjang lebar padanya.
Dela pun sudah selesai dengan sarapannya, melihat itu Dei memberanikan diri meminta izin pada Mamanya.
"Hm Ma!" ujar Dei.
"Iya Dei," jawab Dela sambil membereskan Piring-piring kotor.
"Mama nggak ke toko tante?" tanya Dei.
"Nggak Dei, hari ini libur, soalnya tante mu mau pergi."
Dei masih diam, sambil melihat Mamanya yang membereskan sisa sarapan mereka. Melihat Mamanya berjalan kedapur dan kembali lagi ke meja makan.
"Ma! Nanti Dei izin keluar ya!" tanya Dei memberanikan diri.
Mendengar itu, Dela berhenti dengan pekerjaannya, Mamanya itu langsung menatap dirinya dengan penuh tanda tanya.
"Emang Dei mau kemana?" tanya Dela.
"Dei mau ketemu sama teman Ma," jawab Dei bohong.
"Emang penting banget ya harus pergi?"
Dei tidak menjawab, ia hanya menganggukkan kepalanya. Dei sudah tau pasti Mamanya khawatir dia ingin keluar, melihat itu sebetulnya Dei sedikit terharu, karena melihat sifat Mamanya kembali lagi setelah kejadian itu.
"Yaudah, tapi ingat jangan Macam-macam, jaga diri, terus jangan pulang kesorean!" jelas Dela pada putrinya.
Dei tersenyum. "Pasti Ma, Dei bisa jaga diri Dei sendiri."
"Mama yakin itu." ujar Dela pada putrinya, dan kembali dengan pekerjaan rumahnya lagi.
...~~~...
Kini Dei telah sampai didepan sebuah apartemen yang cukup besar, apartemen nya cukup mewah dan juga baru sekarang Dei berada ditempat seperti itu.
Dei memperhatikan beberapa orang yang masuk dan keluar dari apartemen itu, sedangkan dirinya hanya diam disitu, ia bingung, dimana apartemen tempat pria itu, tidak mungkin ia masuk terus mencarinya, sedangkan Dei tidak mengetahui nama dia.
Hingga sebuah notif ponselnya berbunyi, membuat Dei langsung melihatnya.
...-------------081374××××××-------------...
Lo naik ke lantai tiga...
10:03
Nnti ge tinggu disitu
__ADS_1
10:03
^^^Iya kak^^^
^^^10:05^^^
...------------------------------...
Setelah membaca pesan tersebut dan membalasnya, Dei melihat keatas gedung apartemen. Dei berpikir, bagaimana bisa pria itu tahu kalau dirinya sudah ada di apartemen ini.
Dengan sedikit gugup Dei masuk kedalam apartemen itu, melihat Orang-orang didalamnya membuat Dei berpikir kalau tempat ini dipenuhi dengan Orang-orang kelas atas, apalagi ia melihat cara berpakaian mereka yang mewah dan rapi.
Kini Dei sudah berada didalam lift dengan beberapa orang. Dei hanya diam, rasa gugup nya terus saja muncul. Hingga pintu lift terbuka dan ia sampai di lantai tiga tempat pria itu sebutkan.
Dei melihat sekelilingnya, tidak ada seorang pun. Karena dirinya yang dari keluarga sederhana, Dei bingung bedanya apartemen sama hotel apa. Dia melihat beberapa ruangan seperti hotel, tapi pria itu bilangnya apartemen, sungguh buat Dei bingung.
Hingga akhirnya ia melihat seorang pria sedang berdiri sambil menghirup asap nikotin disalah satu rooftop kecil. Dei berjalan mendekatinya, dan benar pria itulah yang sedang menunggunya.
"Permisi kak!" sapa Dei menyadarkan pria itu.
"Lo dah sampai! Ikut gue," ucap pria itu langsung tanpa basa basi. Dei pun mengikutinya hingga mereka sampai kesebuah pintu, yang Dei tebak adalah apartemen pria itu.
Pria tersebut langsung membuka pintu apartemennya, dan langsung menatap kearah Dei untuk masuk terlebih dahulu.
Dei yang tau maksud pria itu hanya diam tanpa ingin masuk, dia sangat takut jika dirinya masuk ke apartemen pria tersebut.
"Masuk! Gue nggak bakal Macem-macem sama lo," ujar Pria itu yang langsung membuat Dei berjalan masuk ke apartemennya.
Dei tambah gugup sekaligus takut, ditambah pria itu langsung menutup pintu apartemennya. Tapi seketika Dei tercengang melihat isi apartemennya, apartemen yang sangat luas bahkan lebih luas dari pada ruang tamu rumahnya. Ia melihat ada ruangan kamar yang terpisah, dapur yang cukup luas, dan juga toilet.
Apartemen itu sungguh sangat mewah, tapi seketika pandangan Dei teralihkan, kemewahan ruangan itu langsung hilang saat dirinya melihat begitu banyak sampah berserakan dan beberapa peralatan yang berantakan.
Dei sekilas melihat kearah pemilik apartemen itu yang sudah duduk santai disalah satu sofa. Seorang pria tinggal disini, Dei akhirnya memaklumi itu.
Setelah Dei selesai memperhatikan isi ruangan tersebut. Sebuah suara menyadarkannya kembali.
"Cukup liatnya," Dei hanya diam.
"Mulai hari ini sampai sebulan kedepan, lo harus bersihin apartemen gue," ujar Pria itu.
Dei yang mendengar itu langsung kaget, apakah dia bakal jadi pembantunya dan tanpa di bayar.
Dei pun sedikit protes. "Tapi kak!"
Belum selesai ia berbicara, pria itu sudah mengangkat tangannya membuat Dei langsung terdiam.
"Kalau lo nggak mau hukuman ini, gue minta ganti rugi 50 juta dan besok harus ada."
Mata Dei langsung terbelalak. 50 juta, bahkan dirinya tidak pernah melihat uang sebanyak itu, dan bagaimana bisa ia mengumpulkannya dalam sehari.
"Lo tinggal pilih aja, yang pertama atau yang kedua," sambung pria itu.
Dengan pasrah akhirnya Dei menjawabnya. "Yang pertama kak."
Pria itu pun mengangguk anggukan kepalanya. "Bagus kalau gitu, lo langsung kerja aja sekarang."
Dei pun mengangguk, tapi baru saja Dei mau melakukan pekerjaannya, pria itu memanggilnya kembali.
"Nama gue Regan! Nama lo?" tanyanya.
"Nama aku Dei kak!" jawab Dei sedikit menunduk.
Setelah mendengar jawaban Dei, Regan pun langsung fokus kembali dengan ponselnya, tanpa ingin membalas ucapan Dei. Dan Dei pun langsung bergegas untuk membersihkan ruangan itu.
Sudah cukup lama Dei membereskan ruangan tersebut dan begitu juga dengan Regan yang masih setia duduk disofa dengan ponselnya. Tapi ada sesuatu yang berbeda dengan sifat Regan yang tak bisa ditebak, ia sering memandangi Dei yang sibuk bekerja, ada perasaan aneh yang ia rasakan. Apalagi saat mata mereka saling bertemu, sebuah getaran muncul dalam hatinya.
Bersambung........
Hy semuaa..
Apa kabar nihh, baik semua kan..
Jangan lupa vote dan komennya yaa..
Terimakasih
__ADS_1
See you......