D. Deirsh & Depresinya

D. Deirsh & Depresinya
Part 4


__ADS_3

..."Kadang aku selalu berpikir, apakah aku bisa menentukan takdir ku sendiri!"...


 


     "Bang jangan pergi bang! Jangan tinggalin Dei sama Mama hiks...." Tangisan itu pecah, Dei memohon supaya abangnya tidak pergi meninggalkan mereka.


     Walaupun terus memohon dengan suara nya yang sudah serak, Carles tidak peduli. Ia hanya fokus mengambil semua pakaiannya untuk di bawah.


     "Bang hiks... tolong bang! Kasihan mama kalau abang pergi."


      Carles sudah memasukkan semua pakaiannya kedalam tas. Ia berbalik, mendekati adeknya yang sedang memohon sambil menangis.


      "Lo itu egois," ucap Carles membuat Dei terdiam takut.


      "Andai lo nggak egois, ayah pasti MASIH ADA SAMA KITAA...." Ucap Carles lagi dengan sedikit bentakan diakhir.


      Saat itu Dei Benar-benar takut melihat nya, bahkan Dei hanya menundukkan kepalanya itu tanpa melihat wajah Carles.


      Carles menggenggam kedua bahu Dei, sehingga adeknya berdiri tepat di hadapan abangnya. Dei terdiam sambil menahan sakit pada kedua bahunya.


      "Setelah lo udah ngancurin semua ini, lo ingin gue tetap disini!" ujar Carles dengan sedikit smirk diwajahnya.


       "Lo itu emang egois ya... DASAR EGOIS." Bentak Carles sambil mendorong Dei hingga jatuh.


       Carles pun langsung pergi meninggalkan adeknya yang terduduk dilantai dengan rasa takut. Dei perlahan memeluk dirinya sendiri dan menyembunyikan wajahnya, hingga tangisan itu kembali Dei rasakan.


       Perlahan Dei mengangkat kepalanya, ia tertidur dengan keadaan masih duduk ditepi kasur. Terlihat cahaya mentari masuk kekamarnya lewat Sela-sela yang terbuka.


       Dei berdiri dan duduk di kasurnya, ia


Sedikit pusing ditambah dirinya masih mengingat kejadian tadi malam. Dei berusaha berdiri dan segera Bersih-bersih, dan langsung menuju dapur.


       Sepi, itu yang ia rasakan di rumahnya sekarang. Dei memasak untuk ia dan mamanya sarapan, sebenarnya Dei masih dalam kesedihan, tapi apa yang abangnya bilang benar kalau dirinya tidak boleh egois. Dei menuju kamar mamanya dengan membawa sepiring nasi dan segelas minum.


       Dei membuka pintunya, telihat Dela mamanya sedang menangis. Dei tau apa yang mamanya rasakan sekarang, sama sepertinya kehilangan seseorang yang mereka sayangi. Dei berjalan mendekati untuk coba menenangkan mamanya.


       "Ma! Mama makan dulu ya," ucap Dei perlahan, tapi tidak ada respon sedikitpun dari Dela.


      "Ma, nanti mama bisa sakit kalau tidak makan!"


      Mendengar ucapan anaknya Dela hanya menggelengkan kepalanya. Semenjak suaminya meninggal seminggu yang lalu, Dela sering menyendiri dikamarnya.


      "Ma! Dei mohon mama ma-"


      "Andai kamu nurut malam itu," Ucap Dela Tiba-tiba dan membuat anaknya itu terdiam.


      "Andai kamu nggak pergi malam itu,"


      "Andai kamu nurut apa yang ayah, mama dan abang kamu bilang,"


       "Pasti... A-ayah kamu masih hidup hiks." Tangis Dela kembali pecah.


       Sedangkan Dei, ia terdiam mendengar apa yang dikatakan mamanya. Sebuah kata ANDAI seperti membuat dirinya begitu sangat bersalah, air mata Dei mengalir melewati pipi mulusnya itu. Dei masih terdiam untuk bisa menerima kalimat mamanya dalam pikirannya. Bahkan jika bisa ia ingin mengatakan juga. Andai waktu itu bisa diulang kembali, pasti tidak ada kehilangan yang kedua kalinya.


       Hingga Dei tersadar saat mendengar isak tangis mamanya, Dei mencoba mendekati mamanya.


       "Ma! Maafin Dei, tolong maafin Dei hiks...." ucap Dei begitu sesal.


       "Tolong tinggalin mama, mama masih ingin sendiri," ucap Dela membuat Dei sedikit kaget.


       "Ma...."


       "Tolong keluar."

__ADS_1


       Kalimat itu membuat hati Dei begitu sakit, baru kali ini ia mendengarkan mamanya berbicara seperti itu. Dei langsung berlari keluar menuju kamarnya, hingga ia terduduk lemas dilantai kamarnya itu. Dan lagi, tangisan itu kembali pecah.


                            ~~~


        Dia berakhir, dengan melepaskan seseorang yang ia cintai. Ketika cinta menjadi awal cerita, dan akan ada kata luka di akhir ceritanya itu.


         Dan saat ini Dei mendengar cerita itu. Salwa menarik Dei untuk tidak pulang dulu untuk mendengarkan ceritanya.


         "Udah selesai! Dei pulang sekarang ya...." ucap Dei yang ingin berdiri tapi kembali duduk karena ditarik oleh temannya itu.


         "Ihh Dei! Nggak tau gitu perasaan Salwa," ujar cewek itu. Dei hanya tersenyum, temannya itu emang suka membaca Cerita-cerita disalah satu aplikasi.


          "Itukan cuma cerita Sal!"


          "Tapi kok endingnya sad sih...." Ucap Salwa dengan muka sedih.


           Dei yang cukup lelah karena telah bekerja ditambah dengar curhatan temannya itu, ia pun segera berdiri dan langsung pulang.


          "Makanya jangan baca gituan terus, udah ya Dei pulang dulu." Dei berdiri dan mengambil tasnya.


          "Duluan... Bye"


          Salwa membalas dengan melambaikan tangannya, tapi dengan ekspresi muka yang masih sedih.


          Hari ini Dei berjalan kearah lain, tidak seperti biasa yang menuju kehalte kota. Dei berjalan menuju salah satu bengkel, beberapa hari yang lalu Dei membawa sepedanya kebengkel untuk diperbaiki dengan dibantu beberapa anak Smp dideket rumahnya.


          Dei meresa cukup lelah, karena jarak cafe ke bengkel tempat sepedanya lumayan jauh dan ditambah terik matahari yang cukup panas. Hingga beberapa menit Dei berjalan akhirnya ia sampai ke bengkel tersebut.


         Bengkel tersebut terlihat cukup ramai, ditambah banyak pemuda yang sedang membenarkan motor mereka.


         Dei melihat sekitarnya, hingga terlihat seseorang yang ia kenal.


        "Om Hendrik!" Sapa Dei kepada pemilik bengkel itu. Dei cukup mengenal om Hendrik yang dulu sangat dekat dengan ayahnya, bahkan om Hendrik sudah menganggap kami sebagai saudaranya.


        Om Hendrik berjalan mendekati Dei. "Udah dong, kan cuma ganti bannya aja." Ucap Hendrik yang diangguki oleh Dei.


        "Gas! Tolong bawa sepeda itu kesini."


        Bagas seorang pemuda yang cukup lama bekerja dibengkel om Hendrik itu pun segera mengambil sepedanya.


        "Lama nggak nampak Dei?" tanya Bagas yang cukup kenal dengannya.


        "Sibuk kerja Gas." Bagas pun hanya mengangguk dan kembali dengan pekerjaannya.


        "Jadi berapa om?" tanya Dei.


        "Ehh, nggak usah nggak usah, lagian cuma ganti ban doang," ujar Hendrik.


        "Ih om, Dei nggak enak jadinya, om selalu nggak mau dibayar kalau sama Dei."


        "Kamukan ponakan om!"


        "Serius nih om gratis?" tanya Dei lagi.


        "Iya Dei, kamu simpan aja uangnya."


        "Yaudah deh! Dei langsung pulang aja ya om udah mau sore juga," ujar Dei sambil mengambil sepedanya.


        "Iya Hati-hati kamu, langsung pulang jangan kemana-mana."


        "Makasih ya om. Bagas! Dei pulang dulu ya," ucap Dei pada om Hendrik dan Bagas.


        "Oke Dei Hati-hati." Teriak Bagas.

__ADS_1


        Dei sekarang sudah membawa sepeda birunya itu. Sudah sangat lama ia baru bisa merasakan naik sepeda kembali, dan bahkan semesta sepertinya sedang berpihak padanya. Cuaca yang cukup terik kini telah berganti dengan awan yang cukup meneduhkan bagi Orang-orang yang lagi beraktivitas diluar. Bahkan hembusan angin Kini membuat rambut pendek Dei sedang berterbangan.


         Karena mungkin Dei sudah lama tidak membawa sepeda, membuat dirinya menjadi cepat lelah. Dei memilih istirahat disalah satu bangku taman disetiap deretan kota. Ia meletakan sepedanya disebuah pohon yang tidak terlalu besar, dan langsung menuju salah satu bangku yang tidak jauh dari pohon itu.


         Seorang anak kecil terlihat duduk sendiri. Hingga Dei teringat sesuatu, anak laki-laki itu adalah anak kecil yang beberapa hari berdiri didepan cafe. Dei pun segera mendekatinya.


        "Hai!" sapa Dei membuat anak kecil itu melihat kearahnya.


       Dei duduk disebelah anak itu. "Kamu lagi ngapain disini?" tanya Dei.


       "Lagi nunggu ayah," jawab anak itu.


       "Ayah." Gumam Dei membeo.


       "Ayah tadi bilang mau ke toilet sebentar."


        Mendengar perkataannya Dei langsung melihat sekeliling, ia berpikir apakah ada toilet umum disekitar mereka sekarang.


         "Apakah masih lama? Sepertinya bentar lagi hujan akan turun!" ujar Dei sambil melihat langit yang sudah hampir tertutup penuh oleh awan mendung.


         "Berarti langit sedang merindukan bumi."


  Deg....


        Saat itu jantungnya berdetak tak karuan, hembusan angin yang Tiba-tiba cukup kencang menabrak tubuhnya. Dei perlahan melihat anak itu.


       Kalimat yang diucapkan, senyuman yang dikeluarkan. Tuhan! Kini dirinya Benar-benar merasakan masa lalunya berada di dekatnya sekarang. Apakah benar, seseorang sedang merindukan dirinya atau justru dia yang sedang merindukan seseorang itu!


       "Kak!" panggil anak itu menyadarkan Dei yang terdiam.


       "Kalimat itu," ucap Dei yang Tiba-tiba keluar dari mulutnya.


       "Ohh, ayah dulu pernah bilang itu." ujarnya.


       Dei kembali terdiam, ia masih memikirkan kalimat anak itu, bahkan senyuman anak Laki-laki itu sangat mirip dengan seseorang dimasa lalunya.


      Dei memandangnya kembali. "Nama kamu siapa?"


      "RADIT!"


      "Ayah...." Anak kecil itu berlari memeluk seorang pria. Dei juga melihat pria itu, pria yang memanggil nama Radit.


      "Ayah ini kakak baik, tadi Radit ditemenin sama kakak ini," ujar Radit pada ayahnya.


      Dei masih terdiam, ia bingung ingin berbicara apa saat ini.


       "Terimakasih udah nemenin anak saya," ucap pria itu, dan Dei hanya mengangguk pelan.


       "Saya Raja," ujar pria itu sambil mengulurkan tangannya.


       Dei melihat itu awalnya bingung, hingga akhirnya ia menerima ulurannya. "Deirsh."


        "Sekali lagi Terimakasih, kami duluan." Ayah dan anak tersebut pun pergi meninggalkan Dei yang masih setia ditempatnya.


        Takdir seperti apa yang sedang ia terima sekarang. Tuhan mengembalikan seseorang itu, dengan versi yang berbeda.


Bersambung.........


Jangan lupa vote dan komennya


Terimakasih


Luvvvv......

__ADS_1


    


__ADS_2