D. Deirsh & Depresinya

D. Deirsh & Depresinya
Part 3


__ADS_3

..."Menari! Sebuah gerakan akan kuciptakan, hingga terlupa kisah yang menyedihkan."...


 


       Membuat ketenangan sekaligus membawa kenangan. Dia hujan, rintikannya selalu memberi rasa yang berbeda, membawa suasana yang harus kita pahami.


       Deirsh, ia sudah menghangatkan dirinya dengan secangkir teh, duduk dipinggir jendela sambil melihat rintikan air hujan yang sudah mulai mereda.


       Sudah lama Dei tidak bersantai seperti ini, apalagi ia yang sudah sibuk bekerja. Memiliki waktu bersantai hanya sedikit yang ia dapatkan. Secangkir teh telah habis dan hujan pun sudah reda, Dei langsung bersiap-siap untuk berangkat ke cafe.


       Seperti biasa Dei berangkat menggunakan angkutan umum, tapi karena cuaca yang cukup dingin hanya ada beberapa penumpang, tidak seperti biasanya yang cukup ramai dengan orang-orang yang segera beraktivitas juga.


       Terlihat dari jalanan yang masih sunyi, mungkin efek dari cuaca yang sangat mendukung untuk beristirahat seharian dirumah.


       Sesampainya Dei dicafe, terlihat Eza sudah mulai membereskan beberapa pekerjaan. Dei pun mempercepat langkahnya, ia tidak enak melihat Eza yang menyiapkannya sendirian.


       "Pagi Dei," sapa Eza dengan senyuman.


       Baru saja Dei juga ingin menyapa, rupanya sudah keduluan. "Pagi juga kak, sudah dari tadi datangnya kak?"


       "Nggak kok, baru aja."


       Dei mengangguk dan segera pergi meletakkan tasnya dan langsung mengerjakan pekerjaannya.


       Sudah siang hari tapi cuaca masih mendung, bahkan mungkin akan menjadi suasana utama hari ini. Dari tadi pagi hingga sekarang hanya ada beberapa pembeli yang datang tidak seperti biasanya.


       Dei mengelap tangannya, ia baru saja membersihkan beberapa gelas kotor yang masih tersisa. Dei berjalan menuju kedepan, terlihat pak Rey sudah duduk dan bercerita dengan beberapa pegawai lainnya. Dei mendekati salwa dan duduk disampingnya, karena hari ini cukup sunyi mereka pun memanfaatkan untuk istirahat.


       "Huaaa ngantuk," ujar Salwa sambil menutup mulutnya yang menguap.


       "Tidur-tidur, nanti kalau ada pembeli tinggal siram aja," sambung pak Rey.


       Salwa memasang muka kesal. "Tega bapak."


       Pak Rey, Dei dan yang lainnya hanya tertawa. Kedatangan bosnya dan melihat tingkah temannya itu membuat dirinya cukup terhibur di sela-sela mereka bekerja.


       "Za! Kamu kapan nih nikah? Tanya pak Rey Tiba-tiba. "Udah cukup umur kamu nih."


       Eza yang ditanya cukup kaget, soalnya ia belum ada kepikiran untuk menikah. "Belum tau pak, lagian calonnya juga belum ada."


       "Masak kamu belum ada pawang nya?" tanya kembali pak Ray.


       "Serius pak, dan juga mana ada yang mau sama saya," ucap Eza dengan cengiran.


       "Ehh pak cerita tentang keluarga bapak dong, lagian kan belum ada pembeli," sahut Salwa di tengah-tengah percakapan.


       "Mau cerita apa! hidup saya mah kurang menarik," ujar Pak Rey.


       "Kalau boleh tau anak bapak berapa?" Salwa bertanya kembali.


       "Saya belum punya anak," jawab Pak Rey tersenyum ketir.


       Salwa dan Dei pun saling bertatapan. "Maaf pak?"


       "It's ok." Ucap Bos mereka.


       Karena pertanyaan Salwa membuat suasana sedikit canggung, mereka semua tidak tau dengan usia Pak Ray yang sudah tidak muda lagi, tapi belum dikaruniai seorang anak.


       "Istri saya punya penyakit, membuat kami tidak bisa memiliki seorang anak." ujar Pak Ray mencairkan suasana.


       Dei yang mendengar itu langsung melihat Pak Rey dan teringat dengan tantenya yang juga belum memiliki seorang anak. Padahal sebelum suaminya meninggal, tante Erin sudah menikah hampir 3 Tahun menjalani kehidupan bersama suaminya.


       "Makanya Bapak sering kemari untuk mengisi kegiatan bapak, sedangkan ibu sering kerumah orang tuanya supaya tidak kesepian," jelas Pak Ray.


       "Kenapa bapak sama ibu nggak liburan aja? Kan biar bapak sama ibu nggak kesepian banget," ujar Salwa.


       "Ngapain toh liburan, kalau hanya berdua."


       "Iss bapak nih nggak tau, kan nanti lebih romantis sambil Jalan-jalan dipinggir pantai."


       Pak Ray ketawa mendengar usulan pegawai satunya itu. "Udah tua, lagian kalau liburan sama anak kan lebih seru."


       "Iya juga sih." Gumam Salwa pelan yang masih terdengar oleh Dei.


Ting....


       Lonceng cafe berbunyi, pertanda mereka harus kembali untuk bekerja dan melayani pembeli yang datang.


       Dei baru saja memberikan pesanan kepada para pembeli, ia kebelakang masih ada beberapa pesanan yang harus disajikan.


       "Dei!" panggil Eza.


       Dei yang ingin mengantarkan pesanan langsung berhenti, satu alisnya terangkat seperti bertanya.


       "Nanti pulang sama gue ya," tawar Eza.


       "Tapi kak...."


       "Ngapa! Mau bilang takut ngerepotin lagi?"


       Mendengar itu Dei tersenyum kaku, ia pun menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, Dei pun segera melanjutkan pekerjaannya.


       Kini Dei dan Eza sudah berada diperjalanan untuk pulang. Seperti biasa hanya keheningan yang menemani sepanjang jalan mereka.


       Lagi-lagi Dei meminta diantara kan sampai halte. Dei turun dan memberikan helm yang ia pakai.


       "Terimakasih ya kak." Ucap Dei.

__ADS_1


       Eza pun mengangguk dengan sebuah senyuman dibibirnya. Tapi saat Dei ingin masuk ke gang, Eza kembali memanggilnya.


       "Dei!"


       Sekali lagi Dei hanya mengangkat satu alisnya. Dei sedikit menunggu kak Eza yang memanggilnya kembali.


       "Hmm, nanti malam lo sibuk nggak?" tanya Eza membuat Dei sedikit bingung.


       "Emang kenapa kak?" tanya Dei kembali.


       "Gue cuman pengen ngajak lo jalan aja."


       Ucapan Eza membuat Dei terdiam, ada sedikit ingatan kembali dipikirannya. Dei awalnya bingung ingin menjawab apa, tapi karena ia sudah lama juga tidak pergi, ia pun mengiyakan ajakan Eza.




       Saat ini Dei lebih memilih untuk bersantai didepan rumah. Dirinya tidak begitu lelah hingga ia harus beristirahat. Ia sedang duduk diayunan yang sudah cukup lama dibuat, biasanya setiap sore ia dan keluarganya pasti bersantai disini. Dei yang memikirkan itu sangat rindu, sebuah candaan hingga pertikaian kecil terjadi dalam satu waktu.



       Dei memberhentikan ayunan nya, melihat tanaman bunga yang begitu kering, ia berinisiatif untuk menyiramnya. Dei cukup suka dengan bunga, tapi hanya sekedar suka. Tidak seperti seseorang dimasa lalunya yang sangat suka dengan bunga dan terutama hujan, seseorang itu pencinta hujan.



       Dei berjalan ke halaman belakang rumahnya, menuju tempat penyimpanan Barang-barang yang sudah tidak terpakai. Dei mencari tempat penyiram tanaman, tapi seketika tatapan Dei tertuju pada sebuah sepeda biru dengan ciri khas keranjang didepan sepeda itu.



       "Inikan sepeda lamaku." Gumam Dei sambil melihat sepeda nya itu.



       Sudah sangat lama ia tidak menaiki sepeda itu, terakhir Dei menaikinya saat ia masih sekolah. Dei dulu terjatuh dari sepedanya karena rem yang tidak berfungsi, kejadian itu membuat banyak orang khawatir padanya. Dan saat itu Dei sudah tidak pernah menaiki sepedanya lagi.



       "Aku keluarin lah, udah lama juga nggak naik sepeda."



       Tapi saat Dei berhasil mengeluarkan sepedanya, sayang sekali kedua ban sepeda itu kempes, mungkin efek sudah lama tidak dinaikkan. Dei meletakkan sepedanya kembali, dan berpikir untuk mengganti ban sepedanya jika ada waktu. Dei kembali dengan rencana awalannya, mengambil tempat penyiraman tadi dan segera menyiram tanaman.



       Pukul Delapan malam, Dei sudah bersiap menunggu Eza di halte. Ia keluar dan mencari mamanya kekamar, saat membuka pintu kamar itu, terlihat mamanya sudah tertidur, Dei yang ingin berpamitan tidak tega untuk membangunkan mamanya. Dei menutup pintu kamar mamanya kembali, dan memilih langsung pergi kehalte.



       Tidak lama Dei menunggu akhirnya Eza pun tiba. Eza pun langsung memberikan helm yang sering Dei pakai.




       "Baru saja." Jawab Dei dengan senyuman.



       Setelah Dei memakai helm dan naik ke motor Eza, mereka pun segera pergi. Dei bingung akan dibawa kemana, ia sebenarnya ingin bertanya pada Eza, tapi ia Lagi-lagi mengurungkan niatnya itu dan memilih diam sambil menikmati pemandangan malam di tengah kota.



       Hingga akhirnya mereka berhenti disuatu tempat yang cukup ramai. Tapi yang membuat Dei sedikit takjub, baru ini ia melihat ada kota tapi tempatnya seperti zaman dulu. Terlihat dari para penjual yang masih menggunakan peralatan kayu, beberapa pembeli yang duduk dibawah, ditambah alunan musik yang membuat suasana semakin terasa bersejarah.



       Dei yang masih melihat sekelilingnya, seketika kaget saat sebuah tangan menggenggam tangannya.



       "Ayuk, kita Jalan-jalan disini." Ajak Eza yang sudah menggenggam tangan Dei.



       Dei mengangguk dan mengikuti kemana Eza pergi. Ia masih terpaku, wilayah itu bagaikan kota lama yang begitu menyenangkan dan walau terlihat ramai tapi begitu menenangkan. Kali ini Dei begitu nyaman, setelah sekian lama ia tidak keluar rumah untuk Jalan-jalan, akhirnya ia bisa merasakan suasana malam ini kembali.



       "Kamu mau apa?" tanya Eza Tiba-tiba.



       "Dei ikut kakak aja," jawab Dei.



       Kali ini Eza yang melihat sekelilingnya sampai ia menemukan kedai yang sesuai. "Mau minum Teh?"



       "Boleh." Dei mengangguk.



       Sebuah Kedai teh dengan ciri khas tradisional yang masih terlihat, membuat banyak pembeli yang mengantri. Tapi satu hal yang membuat Dei sedari tadi bingung, ia melihat sekeliling kedai teh itu tidak terlihat ada satu pun bangku untuk para pembeli bisa menyantap teh itu sambil bersantai.

__ADS_1



       Melihat tingkah Dei, membuat Eza sadar. Eza tersenyum melihat ekspresi bingung gadis disebelah nya itu.



       "Kenapa Dei?" tanya Eza.



       "Eh, itu kak! Kenapa kedai teh ini tidak ada bangkunya?" Dei mencoba bertanya.



       Eza tertawa. "Kita tidak minum disini, kita bakal cari tempat untuk minumnya. Kamu pikir kayak dicafe ya."



       Mendengar jawaban Eza membuat Dei tersenyum malu. Mereka kembali diam sambil menunggu pesanan mereka selesai.



       Tidak lama pesanan mereka sudah siap, Eza langsung mengajak Dei mencari tempat yang nyaman untuk menikmati teh tersebut. Hingga mereka menemukan tempat duduk yang pas dengan lampu jalan yang bisa untuk menerangi mereka.



       Dei duduk disamping Eza, aroma teh yang sedari tadi ia pegang begitu menggoda baginya, membuat ia tak sabar untuk menikmati teh tersebut.


Saat pertama Dei meminum teh itu, membuat tubuhnya merasa hangat yang awalnya dingin karena sentuhan angin malam.



       "Gimana enak?" tanya Eza pada Dei yang begitu menikmati teh tersebut.



       "Enak kak, kakak tau tempat ini dari mana?"



       "Dulu Gue sering kesini bareng Teman-teman, tapi udah lama banget sih gue nggak kesini, dan baru sekarang gue sempat untuk kesini lagi." Ujar Eza.



       Dei perlahan menatap Eza dan kembali memalingkan wajahnya kedepan. Ada rasa rindu yang sedikit terbayar, sosok kasih sayang dari seorang abang bisa ia rasakan jika berada bersama Eza.



       Bersamanya aku menemukan kembali, walaupun hanya sedikit bahagia.Tidak ada rasa cinta, hanya rasa sayang sebatas abang.Tapi Dei tidak tau! Rasa yang dia beri kepada Eza. Apakah sama sepertinya hanya sebatas adik atau lebih dalam kata kasih sayang.



       "Dei kita kesana yuk! Biasanya ada pertunjukan Dansa setiap malam minggu." ajak Eza.



       Dei mengangkat kedua alisnya bingung. "Dansa?" Batin Dei bertanya.



       Ia mengikuti Eza, hingga sebuah alunan musik kuno terdengar ditelinganya. Eza menggenggam tangan Dei dan membawanya melewati Orang-orang yang sedang melihat pertunjukan itu.



       Takjub, itu yang ada dipikirkan Dei sekarang. Ia tidak menyangka jika ada pertunjukan Dansa disebuah kota jakarta, Dei berpikir bahwa pertunjukan Dansa hanya ada di luar negeri saja.



       "Mau Dansa bareng?" ucap Eza yang sudah mengulurkan tangannya, Dei tersenyum bingung melihatnya.



       "Aku tidak bisa berdansa kak." bohong Dei.



       "Gue juga nggak bisa kok, lagian cuman Gerak-gerak doang!"



       Dei berpikir sebentar, sebelum akhirnya ia menerima uluran tangan itu. Dansa akan bisa membuat ia kembali bahagia.



       Gerakan mereka dan alunan musik sekarang menjadi satu, membawa suasana malam menjadi lebih berkesan. Eza Aditya, pria itu sudah menemukan kebahgiaannya. Kini tinggal satu yang harus ia tunggu, sebuah kalimat yang akan diucap oleh gadis di hadapannya, yang akan membuat kebahagiaannya menjadi lebih utuh.



Bersambung....



Hay ketemu lagi nih sama cerita D: DEIRSH &DEPRESINYA.....



Dukung cerita ku terus yaaa,, jangan lupa vote nya juga luvvvv

__ADS_1



See you...


__ADS_2