D. Deirsh & Depresinya

D. Deirsh & Depresinya
Part 5


__ADS_3

..."Tuhan akan selalu menggantinya dengan versi yang lebih baik."...


 


       "Apa kamu tidak bisa memilih untuk kembali!" Ucap tegas seorang gadis.


       Sedangkan seseorang yang sedang gadis itu marahin hanya tersenyum.


       "Aku tidak butuh senyuman kamu, yang... A-aku butuh kamu untuk kembali."


       "Dan asal kamu tau! Aku selalu merindukan mu setiap malam, selalu me-"


       Ucapannya terhenti saat sebuah tangan berusaha menyingkirkan helaian rambutnya yang berusaha menutupi wajahnya itu.


       Pria itu memejamkan matanya sebentar. "Aku lebih merindukanmu."


       "Cuma! Mungkin Tuhan ingin kita berpisah sebentar," ujar Pria itu.


       "Malam itu memang menjadi akhir dari kisah kita, sebuah tragedi, hingga takdir harus memisahkan kita."


       Gadis itu teringat kembali kejadian malam itu. Dimana ia harus menyaksikan seseorang yang sangat ia cintai harus pergi untuk selamanya.


       "Athar! izinkan Dei ikut dengan Athar ya, Dei udah capek!" ucap Dei pelan.


       Athar pria itu menggelengkan kepalanya. "Kamu tetap disini, karena kamu masih berhak merasakan kebahagiaan."


       "Kamu! Kamu kebahagiaan aku...." jelas Dei.


       "Bukan aku lagi, bakal ada seseorang yang akan membuat kamu bahagia."


       "Dei ingin ikut Athar.... "


       Saat ini detak jantung gadis itu tak karuan, bahkan hembusan nafasnya seperti berpacu untuk pergi ntah kemana. Mimpi itu kembali lagi, membuat Dei begitu gelisah saat ini, hingga butiran keringat dingin perlahan jatuh dari kulitnya itu.


       Jam Lima pagi, Dei pun memilih untuk tidak melanjutkan tidurnya itu. Saat ini ia sedang berada didepan cermin nya dan masih memikirkan mimpi itu.


       Mimpi yang selalu datang membuat dirinya tidak bisa sembuh dari luka masa lalu. Setiap dialog yang terjadi dalam mimpinya, membuat Dei Benar-benar tidak bisa melupakannya.


       Dei menatap dirinya sendiri dicermin yang berada dihadapannya itu. Ia melihatnya, melihat seorang gadis yang sedang dipermainkan oleh takdirnya.


       Begitu gelisah, itu lah yang di rasakan Dei dari tadi pagi hingga sekarang. Saat ini Dei sudah bersiap untuk berangkat kerja, dan sebelum itu ia memilih untuk mendatangi ke suatu tempat yang membuat pikirannya begitu gelisah.


       Dei berjalan, mencari angkutan umum dan segera pergi menuju tempat tujuan.


       "Bang berhenti." Ucap Dei memberi kan ongkos dan segera turun dari angkot tersebut.


       Kini ia telah tiba ditempat itu, Dei memejamkan matanya sebentar dan mencoba untuk menahan air matanya supaya tidak terjatuh. Dei kembali melihat sekelilingnya sekarang, cukup lama ia tidak datang ketempat itu. Bukannya tidak mau untuk berkunjung, tapi ia berusaha untuk mengikhlaskan nya.


       Dei melangkahkan kakinya perlahan, memasuki sebuah gerbang besar dan langsung disambut oleh hembusan angin yang membuat helaian rambutnya berterbangan.


       "Apakah kamu menyambut ku yang baru datang ini!" Ucap Dei pelan.


       Ia melanjutkan langkahnya, tak lupa dengan matanya yang sedang fokus mencari sesuatu. Sampai Dei terdiam, dia telah sampai, sebuah nama begitu dia rindukan telah ia temui.


       ATHAR RAJENDRA PRAJA Nama yang terletak disalah satu batu nisan dari beberapa batu nisan disekitarnya. Dei sudah sampai di makam itu, makam seseorang yang begitu berarti baginya dulu.


       "Hai apa kabar?" ucap Dei bertanya sambil mendekati makam itu.


       "Kamu selalu menolak, jika aku selalu ingin ikut bersama mu dalam mimpi."


       Setetes air mata lolos melewati pipinya. "Bahkan! Kamu meminta aku untuk melupakan mu."


       Dei menundukkan kepalanya, ia sudah tidak kuat menahan air matanya itu. Isakan tangis pun kini terdengar, Dei kembali mengangkat kepalanya sambil melihat langit sekejap dan kembali menatap makam Athar.


       "Aku sudah berusaha untuk bisa melupakanmu. Tapi! Tidak dengan hatiku yang masih menginginkanmu," ucap Dei berusaha tenang.


       Dei perlahan memegang batu nisan itu. "Apakah didalam kehidupan ini! Aku tidak bisa bertemu denganmu lagi?"


       Dan akhirnya tangisan itu kembali pecah, ia Benar-benar tidak bisa menahannya. Satu tahun sudah ia merasakan rindu itu dan satu tahun juga ia sudah kehilangan semua itu.


       "Malam itu! Awalnya sangat indah bagiku. Tapi tidak dengan akhirnya, dimana ia merebut mu dariku."


       Saat ini suasana sangat sepi, hanya ada dirinya didalam pemakaman itu. Ia hanya ditemani dengan beberapa burung yang sibuk terbang ke sana kesini di udara.


       "Saat hujan malam itu hiks.... " Lanjut Dei berkata.


       "Aku masih mengingat apa yang kamu katakan. Jika saat itu langit sedang merindukan buminya," ucap Dei.


       "Apakah malam itu Tuhan juga sedang merindukanmu! Hingga Tuhan, membawamu pergi bersamanya...."


       Itulah yang ada dipikirkan Dei sekarang, dimana ia berpikir bahwa Tuhan lebih merindukan sang kekasihnya.


       "Athar! Aku tidak akan pernah bosan mengatakan, aku sangat merindukan mu."



       Gemuruh suara, candaan tawa membuat suasana cafe begitu ramai. Lonceng cafe yang terus saja berbunyi dan para pegawai yang terus bolak balik membawa pesanan, begitu terlihat sangat sibuk.



       "Silakan dinikmati." Ujar Dei ramah saat memberikan sebuah pesanan.



       Dei pun kembali kebelakang, masih banyak pesanan yang harus ia antar. Melihat begitu banyak pelanggan membuat beberapa pegawai kewalahan, mereka semua juga tidak tau, bahwa malam ini begitu banyak para pembeli. Padahal mereka sudah memberi info didepan bahwa hari ini cafe akan tutup lebih cepat dari hari biasanya.



       Dei pun menunggu beberapa pesanan yang masih dibuat. Kadang membantu apa yang bisa ia kerjakan.



       "Dei! Nanti mau pulang bareng nggak?" Sebuah tawaran dari Eza membuat Dei terdiam sejenak.



       Belum sempat Dei ingin menjawab, Salwa langsung memotong saat Dei ingin berbicara.



       "Nggak bisa, Dei bakal pulang sama gue," sambung Salwa.



       "Maukan Dei!" Tanya Salwa, dan langsung diangguki oleh Dei.



       Eza melihat itu sedikit kesal. Tapi ya gimana, dia juga tidak berhak memaksa Dei untuk pulang bersamanya.



       "Maaf ya kak, Dei bareng sama Salwa aja." Ucap Dei yang merasa tidak enak.



       Sedangkan Eza hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Dan mereka bertiga pun kembali lagi dengan pekerjaannya.



       Pukul sembilan malam, cafe telah tutup. Begitu juga dengan Dei dan Salwa yang saat ini sedang berjalan menuju sebuah taman.



       "Kita nggak pernah ya Jalan-jalan gini!" ujar Salwa pada Dei.



       "Udah lama banget gue nggak pernah main atau jalan lagi bareng Temen-temen gue."



       Dei yang mendengar itu hanya tersenyum. Sempat berpikir juga, bahwa dirinya sama dengan Salwa, sudah lama banget ia tidak ngumpul dengan Teman-teman sekolahnya.



       Kini mereka telah sampai di sebuah taman kota, mereka telah duduk santai di sebuah hamparan rumput tanpa beralas apapun.



       "Dei! Sekarang Teman-teman lo dimana?" tanya Salwa membuat Dei sedikit bingung.



       "Ihh Dei malah bengong."



       "Emm, Dei juga kurang tau, mungkin mereka sibuk kerja juga atau lanjut kuliah."



       "Oh iya! Lo kok nggak kuliah?" Tanya Salwa kembali.



       Pertanyaan kali ini membuat Dei Benar-benar terdiam, sekilas ingatan masa lalu muncul dibenaknya. Salwa yang melihat tingkah Dei pun menjadi bingung, Salwa sempat berpikir apakah ada sesuatu yang salah dengan pertanyaannya.



       "Hei Dei! Ihh kok bengong lagi.... " Ujarnya sambil menyadarkan Dei dari lamunannya.

__ADS_1



       Dei pun hanya menggelengkan kepalanya. Melihat itu Salwa pun langsung mencari topik lain untuk mereka obrolin.



       "Eh iya Dei, lo sadar nggak sih, kalau kak Eza itu kayaknya suka sama lo," ungkap Salwa.



       Dei pun sedikit kaget dan dilanjutkan dengan tawaan karena ucapan teman kerja nya itu. "Apaan sih Sal, Dei itu udah anggap kak Eza kayak abang Dei sendiri."



       "Yakan itu lo yang anggap sebagai abang, kalau dari kak Eza nya mana tau kan...." ujar Salwa sambil menggoda.



       "Kamu kali yang suka sama kak Eza," Sambung Dei.



       "Ihh mana ada, gue mah udah punya."



       "Kamu udah punya pacar?" Kali ini Dei yang bertanya.



       Tapi topik pembicaraan kali ini membuat ekspresi Salwa berubah.



       "Gue sebetulnya udah dijodohin, dan bentar lagi bakal tunangan." Jawab Salwa yang sepertinya tidak bahagia.



       Dei Lagi-lagi dibuat kaget oleh ucapan temannya itu, bahkan ia berpikir bahwa masih ada zaman perjodohan saat ini. Dei melihat kearah Salwa, ia juga merasakan sesuatu membuat temannya itu menjadi tak seceria tadi.



       Dei perlahan mendekatinya. "Kalau kamu belum mau cerita nggak papa kok, Dei tau kok apa yang kamu rasakan sekarang," ujar Dei.



       "Nanti kalau kamu udah siap cerita, bilang aja ke Dei, pasti Dei dengerin," ucap Dei tersenyum.



       "Huuaa makasih Dei, lo mah Besti gue banget...." Ujar Salwa sambil memeluk Dei.



       Dei pun membalasnya sambil tertawa bahagia. Ia merasakan sedikit kebahagiaannya kembali, kali ini ia berpikir, bahwa setiap Tuhan merebut kebahagiaannya, pasti bakal diberikan kembali kebahagiaan itu dalam versi yang berbeda.



       Sahabat, teman, Dei berharap itu tidak akan direbut oleh takdirnya kembali.



       Kesibukan didapur setiap pagi, sudah menjadi hal biasa bagi wanita yang sudah memiliki keluarga. Begitu juga dengan Erin, yang sedari tadi sudah sibuk dengan peralatan dapur dirumah kakaknya itu.


       Hari ini dirinya berencana untuk sarapan bersama Dei, dan setelah itu ia ingin meminta pada ponakannya untuk menemaninya membeli sesuatu.


       Setelah ia menyiapkan makanan dimeja makan, Erin juga menyiapkan makanan untuk diantar ke kamar kakaknya.


Krekk....


       Suara pintu kamar yang perlahan ia buka, terlihat kakaknya sudah bangun dan sedang duduk didekat jendelanya sambil menikmati cuaca pagi hari. Erin berjalan mendekati Dela, meletakkan makanan yang sudah ia bawa disebuah meja.


       "Kak! Makan dulu ya," ucap Erin mendekati Dela.


       "Nanti kakak makan," balas Dela singkat.


       "Eh iya, nanti Erin sama Dei mau keluar, kakak mau nitip?"


       Dela tidak menjawab, ia hanya menggelengkan kepalanya. Melihat itu Erin duduk ditepi kasur, sambil melihat kakaknya.


       "Sampai kapan kak!" ucap Erin membuat Dela langsung memandangnya dengan tatapan tidak suka.


       "Erin mohon sama kakak, ini udah lama...."


       "Cukup Erin," potong Dela membuat ucapan adek nya itu terhenti.


       "Kakak sudah pernah bilang, jangan pernah bahas ini lagi."


       Dela mendengar itu, hanya menghela nafasnya dengan kesal. Ia begitu tidak suka jika adek nya itu selalu membahas masa lalunya.


       "Kak! Erin melihat nya!"


       "Dia memang selalu terlihat Baik-baik saja sekarang. Tapi tidak dengan matanya, yang selalu memiliki harapan dari kakak," ujar Erin.


       "Kamu keluar, kakak pengen sendiri," pinta Dela.


       "Kak tolong dengerin Erin! Jangan sampai ada sesuatu hal terjadi, baru kakak merasa menyesal."


       "Kakak bilang keluar, KELUAR.... " Bentak Dela, membuat Erin memilih untuk meninggalkan kakaknya.


       Kini hanya ada isakan tangis, air mata itu kembali jatuh. Ia merasakannya kembali, tapi belum bisa ia pahami.


       "Maafin mama Dei."




Jakarta, 22 juni...



       Sentuhan alunan musik yang berbeda di beberapa toko, teriakan para penjual pada Orang-orang yang sedang melihat-lihat, membuat kesan ramai menjadi begitu hangat.



       Saat ini Dei cukup senang menemani tantenya untuk belanja beberapa barang yang dibutuhkan dirumah. Kini mereka berada disebuah toko roti yang cukup ramai dengan pembeli, Erin dan Dei pun memilih duduk disebuah kursi untuk menunggu giliran mereka.



       Erin pun meletakkan beberapa belanjaannya dibawah. "Sudah lama tante tidak kesini, dan sekarang sudah banyak sekali yang berubah." Mendengar itu Dei hanya tersenyum melihat tantenya.



       "Eh iya, habis dari sini kita ke tempat buah dulu ya, tante pengen beli buah untuk mama kamu, baru kita pulang tante udah capek banget," ujar Erin.



       "Dei aja tante yang beli," sambung Dei sambil melihat tantenya yang sudah kelelahan. "Tante biar istirahat dulu disini, sambil nunggu pesanan roti,"



       "Ohh Boleh-boleh Dei...." jawab Erin sambil mengeluarkan beberapa lembar uang dan memberikannya pada ponakannya itu.



       "Nih, beliin Mama kamu jeruk sama apel ya."



       "Iya tan, Dei pergi dulu ya," ucap Dei sambil menerima uang itu.



       "Hati-hati."



       Dei tersenyum dan langsung bergegas keluar dari toko roti tersebut dan berjalan menuju salah satu penjual buah yang cukup dekat.



       Saat ini ia sudah berada di tempat buah, Dei baru saja selesai memilih buah yang akan ia beli.



       "Berapa buk?" tanyanya pada penjual buah tersebut.



       "Seratus lima ribu mbak." Balas penjual itu.



       Dei mengangguk dan segera mengambil uangnya.



       "Nih buk uangnya."


__ADS_1


       Kalimat itu, bukan terucap dari mulut Dei. Seorang pria yang Tiba-tiba muncul disamping nya dan langsung membayar belanjaannya itu.



       "Eh tidak usah, aku ada kok uang-"



Deg....



       Kini Detak jantung nya seperti berhenti sejenak, tubuhnya bergetar. Dei terdiam melihat pria itu, ingin rasanya berbicara tapi sulit untuk diucapkan.



       "Tuhan! Takdir seperti apa yang kau berikan padaku." kalimat itu terlintas dipikirannya sekarang.



       Dei mengenalnya, sangat mengenalnya. Ia tidak akan lupa dengan seseorang yang cukup berarti bagi dirinya.



       "At-athar!" Ucap Dei gemetar.



       Pria itu tersenyum tapi tidak membalas ucapan itu, ia langsung bergegas pergi meninggalkan Dei yang kini masih terdiam bingung ditempatnya.



       "Mbak!" ucap penjual buah itu, membuat Dei tersadar dari lamunannya.



       "Mm maaf buk, ini uangnya?"



       "Sudah dibayar tapi mbak, sama abang tadi." Ujar sang penjual.



       Dei masih merasa bingung, dirinya seperti sedang dipermainkan sekarang. Ia pun mengambil plastik buah tersebut dan langsung pergi mencari pria yang bersamanya tadi.



       Tak ada satu pun yang ia lewati, Dei memperhatikan semua yang ada disekelilingnya, tapi ia tetap tidak menemukan pria itu.



       Dei masih terus mencari nya, sampai ia melihat pria itu yang sedang tertawa dengan beberapa anak pengamen diseberang jalan sana.



       Tak ingin dirinya kehilangan jejak pria itu lagi. Dei pun sedikit berlari menghampirinya, tanpa sadar sebuah mobil melaju kencang tepat kearah Dei yang berlari.



Tin...tin...Tin...tin....



Brukk....



       "Kecelakaan... Kecelakaan...."



       "Tolonggg... Cepat.... "



       "Angkat dia... Angkat.... "



       "Panggil ambulan cepat, ya Allah kasihan banget.... "



       Perlahan matanya terbuka, Teriakan-teriakan orang membuatnya sedikit pusing. Tapi saat ia sudah membuka matanya dengan sempurna, sebuah pelukan kini ia rasakan.



       Deirsh berada dipelukan seseorang, Dei perlahan melihat wajah orang itu. Seorang pria dengan mata elangnya, rambut yang sedikit berantakan, telinganya yang diberi anting dan juga Dei melihat, sebuah tatto bulan yang berada dileher pria itu.



       "Tolong panggil ambulan cepat...."



       "Angkat dia.. Angkat... "



       Suara keramaian itu, membuat Dei berpaling melihatnya. Sangat ramai Orang ditengah jalan itu, dan terlihat juga sebuah kantong belanjaan yang sudah berserakan ditengah jalan.



       "Lo udah GILA ya! Lo mau MATI...." Sebuah bentakan membuat Dei kaget.



       Dei melihat pria yang masih memeluknya itu. Ada sedikit amarah diwajahnya, membuat ia merasa sangat bingung.



       "Kalau gue nggak cepat nahan lo tadi, mungkin lo yang ada disana." Ucap Pria itu sambil melihat kerumunan ditengah jalan tersebut.



Deg....



       Terdengar detakan jantung kini sudah tak beraturan, hembusan nafas yang berpacu membuat dirinya begitu pusing. Dei melihat kerumunan itu, kecelakaan, mati. Dei Benar-benar merasa pusing, ia sudah tidak bisa memikirkan sesuatu saat ini.



       Dei perlahan melepaskan pelukan pria itu. Ia pun berjalan menghampiri kecelakaan itu, Dei ingin melihatnya. Tapi baru beberapa langkah, sebuah genggaman menahan tangannya.



       "Lo emang gila ya!" ucap pria itu kembali. Sedangkan Dei hanya diam dengan pikiran kosongnya sekarang.



       "Lo nggak liat keadaan lo sekarang."



       Lagi-lagi Dei tidak merespon. Saat ini ia Benar-benar merasa bingung, ditambah mendengar suara klakson dijalanan, suara teriakan, membuat dirinya terasa begitu pusing.



       Hingga sebuah teriakan familiar terdengar oleh telinganya.



       "Dei... Bangun Dei...."



       Kalimat terakhir yang ia dengar, sebelum Benar-benar dirinya terjatuh kembali dalam pelukan pria yang bersamanya itu.



BERSAMBUNG.......



Hay semua......


Cerita D: Deirsh & Depresinya kembali lagi nih...


Maaf ya baru up sekarang


Oh iya... Kini kisah Dei sebenarnya akan dimulai, pokoknya harus baca terus yaa..



Sama jangan lupa selalu dukung cerita arsyah dengan vote yyyy



Terimakasih....

__ADS_1


__ADS_2