
..."Kadang tidak percaya diri, membuat kita gagal."...
Waktu yang sudah cukup larut membuat Sweet Moment Cafe mulai sepi, hanya ada beberapa pengunjung yang masih bertahan di Cafe tersebut.
Eza salah satu pegawai berjalan menuju meja luar dengan membawa secangkir teh hangat, ia menghampiri Salwa yang sedang berbicara dengan seorang wanita paruh baya.
Eza pun meletakkan teh tersebut dan langsung duduk bersama mereka. "Diminum tante teh nya."
"Makasih ya, tante jadi nganggu kalian kerja nih," ujar wanita tersebut dengan sedikit rasa tidak enak.
"Enggak kok tan, lagian udah sepi juga pengunjung nya, jadi gak terlalu sibuk," ucap Salwa dengan senyum manisnya.
"Tapi tante, selama dia bekerja disini, kami melihat nya sangat Baik-baik saja!"
"Iya benar, bahkan salwa tidak pernah liat dia ngeluh sedikit pun." Sambung Salwa.
Wanita yang sedang meminum teh itu langsung meletakkan teh nya. Ia kembali teringat dimana kejadian itu, ia pun menghela nafas sebelum menjelaskan kepada Eza dan Salwa yang sedang menunggu jawaban tersebut.
"Tante coba bawa dia ke psikolog."
...~~~...
Suara gesekan besi yang terdengar membuat malam itu tidak begitu terasa sunyi, dengan Dei yang sesekali menggerakkan tangannya kearah langit dan gerakan bibir seperti berbicara disebuah ayunan yang terus bergerak. Hitungan bintang yang berulang kali ia ucapkan, membuat pikirannya masih dalam satu tujuan.
Ia masih menatap langit, sampai helaan nafas terdengar karena ada hitungan yang membuat nya kembali untuk mengulang.
"Dei! Kamu disini?"
Baru saja ia ingin menghitung, sang tante muncul menghampiri nya yang sedang sendiri. Dei sedikit tersenyum saat Erin berjalan kearah nya.
"Kamu ngapain sendiri disini, ini sudah malam loh?" tanya Erin.
"Dei hanya bosan saja, jadi Dei kesini untuk menghitung bintang." Jawab Dei, membuat Erin langsung menatap kearah langit malam itu.
Dia merasa sedih melihat perubahan keponakannya itu, Dei begitu terlihat pucat, bahkan tidak ada kata ceria di dirinya sekarang. Ia menatap kembali kearah Dei yang sedang fokus menatap langit.
"Kamu lelah Dei?" Tanya Erin tiba-tiba.
Dei yang mendengar itu seketika menghentikan hitungan nya, ia membalas tatapan tantenya cukup lama. Sampai sebuah gelengan dan senyuman tipis ia tunjukkan sebagai jawaban. Melihat itu Erin juga tersenyum, ia pun langsung mengusap rambut ponakannya dengan lembut dan kembali menatap kearah langit.
"Tapi sakit tan."
Hanya beberapa detik dalam kesunyian, Dei kembali berbicara hingga membuat Erin langsung menatap nya kembali.
"Sakit banget nahan semuanya...." ujarnya pelan dengan air mata yang sudah menetes.
Erin pun langsung memeluk ponakannya itu, ia juga tidak bisa menahan air matanya tersebut. Pelukan hangat ia berikan pada Dei supaya merasa lebih tenang.
"Sakit...."
Ia merenggangkan pelukan nya dan kembali menatap Dei penuh makna.
"Mulai besok, kita sembuhkan sama-sama ya, bareng tante...."
"Sudah cukup Dei nahan sakitnya, kamu harus cepat sembuh, mau kan?" sambung Erin.
Dei pun menganggukkan kepalanya, sebelum dirinya kembali memeluk sang tante dengan begitu erat.
...~~~...
Hampir 5 bulan lebih sudah saat Erin membawa Dei ke sebuah psikolog. Saat pertama ia mendengarkan perkataan sang teman yang awalnya sulit ia pahami, sampai ia mengerti apa yang ponakannya itu alami. Erin bahkan tidak yakin apa Dei bisa untuk sembuh dari itu semua.
"Deirsh terkena gangguan mental PTSD," ucap Devy sang psikolog yang cukup dekat dengan Erin.
"Maksudnya Dev! Gangguan mental gimana?" tanya Erin yang masih terasa bingung.
"PTSD itu Post Traumatic Stress Disorder, atau yang lebih kita kenal Stress Pasca-Trauma. Biasanya gangguan mental ini terjadi karena sebuah trauma yang pernah dialami nya, biasanya ia sering histeris saat melihat kejadian yang sama. Gangguan ini juga cukup menganggu bagi penderita karena menyebabkan tekanan emosional yang lebih." Jelas Devy.
Setelah mendengar penjelasan temannya, seketika dirinya langsung terdiam. Erin mengingat kembali hal-hal aneh yang pernah dialami oleh Dei, penjelasan Devy sangat persis apa yang dirasakan oleh keponakannya itu.
Erin masih diam, ia berusaha menenangkan dirinya kembali setelah mendengar kan itu.
"Tapi Dev! Itu masih bisa di sembuhin kan?" tanyanya cemas.
"Kalau rutin perobatan nya insyaallah pasti bisa."
"Cuma kita tidak tau, berapa lama masa perobatan itu. Karena gangguan mental ini juga membutuhkan waktu yang lama untuk penyembuhan nya," sambung Devy menjelaskan.
"Aku hanya berharap, dia bisa sembuh Dev," ujar Erin pelan.
"Pasti bisa, kita bantu Dei untuk sembuh sama-sama." Balas Devy.
Kini masa 5 bulan itu sudah berlalu, kini Erin sedang berada dikamar ponakannya itu sambil melihat Dei yang sibuk dengan kegiatannya.
Bayangan saat ia menemani ponakannya untuk sembuh selalu terbayang. Dimana Dei yang selalu mengeluh padanya untuk menyerah, menangis setiap malamnya, bahkan sampai ingin terucap sebuah kata selesai saat itu. Tapi sekarang ia melihatnya, perjuangan Dei yang benar-benar tidak sia-sia.
"Dei gugup, bisa enggak ya Dei besok," ujar Dei.
Setelah Benar-benar dinyatakan sembuh, Dei memilih untuk mencari pekerjaan untuk mengisi waktu luang nya. Itu membantu untuk dirinya supaya bisa melupakan masa lalunya tersebut.
"Pasti bisa, buktinya kamu di terima di cafe itu kan," ucap Erin yang langsung membuat Dei tersenyum.
Dei berjalan kearah Erin dan langsung memeluk nya begitu erat. "Tan, makasih ya."
Mendengar itu Erin tersenyum dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. "Sama-sama."
"Ya sudah tante pulang dulu, kamu juga istirahat besok kan sudah mulai kerja." Ucap Dela yang langsung pergi.
...~~~...
Alunan musik rock kini terdengar di seluruh ruangan tertutup itu. Terlihat juga seorang cowok yang baru saja selesai mandi dan mencampakkan handuknya ke sembarang tempat, sang cowok yang kini hanya menggunakan celana pendek tanpa kaos dan rambut yang masih basah itu langsung duduk disebuah sofa.
Regan sudah mendapatkan posisi yang nyaman dengan ponsel yang berada ditangannya tersebut. Beberapa kali ia melihat isi ponsel nya hanya membuat ia tambah bosan, setiap hari menit dan detik hanya ada satu grup yang selalu membuat ponselnya itu ramai.
Pesan-pesan aneh dari geng nya itu membuat dirinya kesal. Bagaimana tidak jika sebuah geng akan merencanakan sesuatu yang keren, tidak dengan gengnya yang hanya bermain tebak tebakan di grup tersebut.
__ADS_1
...--------------- RAJAWALI ---------------...
Egi:
Diam diam baek nih, kek d dlm gua aje...
Main tebak tebakan yuk...
Geo:
Apa?
Egi:
Nih yaa... Apa persamaan tukang Sate sama tukang roti?????
Bian:
Sma sama hdup.
Egi:
Etss salah....
Rahm:
Jadi apaan jir.
Egi:
Sama2 gak jual bakso 🤣🤣
Geo:
Serah lu serah...
Bian:
Sinting emng
Egi:
Satu lagi satu lagi
Nih ya... Apa perbedaan ketua geng kita sama ketua geng yg lain?????
Rham:
Apa?
Egi:
Yang ono udh punya pawang, yg d sini masih nerawang🤣🤣🤣
Bian:
@Regan
^^^@Egi setan lu.... Awas klau ketemu, gue sunat lgi lu......^^^
Geo:
.
Bian:
.
Rham:
.
Egi:
Hehehe canda bos canda 😅😅
...-----------------------------------...
Regan yang stress melihat tingkah Teman-temannya itu pun langsung meletakan ponselnya ke meja yang tidak jauh darinya. Ketua geng yang biasanya selalu dihormati, tapi tidak dengan nya yang selalu diledekin.
Ia memilih diam sambil mendengarkan musik yang masih berputar. Menatap fokus ke atas dengan pikiran yang kosong, hingga sesuatu terlintas secara tiba-tiba didalam pikirannya.
Deirsh. Seketika ia langsung terduduk dengan ekspresi yang sulit untuk dimengerti, bagaimana bisa seorang Regan memikirkan seorang wanita yang sudah ia jadikan sebagai pembantunya.
"Cantik sih...." tanpa sadar ia mengucapkan itu.
"Apaan sih gue mikir gitu." Ucap Regan sambil mengusap wajahnya kesal. Ia pun kembali mengambil ponselnya untuk mengalihkan pikirannya sekarang.
Regan pun membuka salah satu aplikasi sosial medianya, awalnya ingin melupakan apa yang sedang dia pikirkan, kini Regan malah mengetik nama seseorang yang terus ia pikiran itu.
Sebuah akun instagram dengan nama Deirah Anasyah yang terpampang jelas sedang ia lihat sekarang. Karena nama yang cukup unik, Regan dengan mudah nya langsung menemukan akun milik Dei.
Regan melihat satu persatu postingan milik Dei, karena cukup banyak postingan yang diunggah wanita itu. Awal lihat belum ada yang menarik untuk Regan, hanya Foto-foto langit, pemandangan dan beberapa makanan.
Saat Regan terus menggeser postingan-postingan tersebut, seketika jarinya terhenti disebuah postingan yang langsung menarik perhatiannya. Dalam foto tersebut terlihat dari jauh seorang wanita yang sepertinya sedang menari. Regan tau Dei adalah wanita dalam foto tersebut, walaupun ia baru mengenal nya.
Perlahan demi perlahan ia kembali melihat yang lain, ada beberapa foto yang cukup jelas memperlihatkan wajah cantik sang pemilik akun. Tanpa sadar Regan pun tersenyum melihat Foto-foto itu, hingga sampai difoto terakhir senyuman itu langsung berubah dengan ekspresi yang tidak bisa dipahami lagi.
Seorang wanita yang begitu nyaman dalam rangkulan sang pria membuat foto tersebut bagaikan Drama-drama romansa. Karena foto pasangan itu hanya terlihat dari belakang, membuat Regan begitu penasaran dengan pria tersebut.
"Apa pria itu pacarnya." Gumam Regan pelan dan langsung mematikan ponselnya.
...~~~...
Perlahan matanya terbuka, merasakan tubuhnya sedikit pegal dan kepalanya yang pusing. Kini gadis itu baru tersadar kalau dirinya terbangun disebuah bangku rumah sakit, ia melihat sekeliling nya dan begitu merasa sunyi.
Hingga tatapan nya fokus pada sebuah nomor ruangan tepat dihadapannya sekarang. "Empat belas."
__ADS_1
Saat ia mengingat sesuatu, Tiba-tiba kepalanya begitu pusing. Ia memejamkan matanya begitu kuat untuk meredakan pusingnya tersebut. Kini nafasnya berhembus tak beraturan, merasakan firasat aneh yang sulit untuk dimengerti.
Gadis itu mencoba bangkit untuk melihat ruangan di depannya sekarang. Merasa takut untuk membuka pintu ruangan tersebut, ia pun hanya melihat dari sela-sela jendela.
Ia tidak bisa sepenuhnya melihat dalam ruangan tersebut, hanya yang bisa dipastikan ada seorang pasien yang terbaring begitu lemas. Karena merasa penasaran gadis itu berusaha untuk bisa melihat pasien tersebut, tapi saat ia hampir melihatnya terdengar suara yang langsung mengalihkan pandangannya itu.
"Siapa kamu?"
Deg.....
"KAK Regan!" ucap Dei sedikit teriak saat melihat Regan tepat ada dihadapannya.
Regan pun melihat Dei dengan tatapan begitu aneh. "lo kalau tidur mimpi apa sih? Di kejar setan?"
"Setiap lo bangun pasti aneh." Sambungnya.
Mendengar itu Dei hanya geleng-geleng kepala, bingung mau jawab apa ia pun langsung mengalihkan pembicaraan.
"Maaf kak ketiduran. Hmm... Udah jam segini Dei pulang ya kak," ucap Dei langsung bergegas untuk pergi.
"Gue belum izinin lo," ujar Regan membuat Dei langsung berhenti.
"Tapi kak! Dei udah kesorean."
"Gue gak peduli."
"Dan sekarang lo ikut gue...." Sambung Regan yang langsung keluar dari apartemen nya.
Dei yang ingin bertanya tapi Regan sudah pergi dulu hanya pasrah mengikuti cowok itu. Kini ia hanya diam sambil mengikuti jalan Regan dan sekarang mereka pun sudah berada di dalam sebuah lift.
Awalnya Dei hanya pasrah mengikuti cowok itu, tapi saat Regan mengajak nya menuju lantai paling atas membuat Dei menjadi penasaran.
"Kak! Kita mau ngapain keatas?" Tanya Dei pelan.
Tidak ada jawaban, malah Regan menatap Dei begitu tajam sehingga membuat ia langsung menundukkan kepalanya dengan rasa takut. Kini pun Dei memilih diam tanpa ingin berbicara lagi.
Hingga mereka berdua kini sampai di atas gedung apartemen tersebut. Dei yang sadar dirinya dimana hanya diam dengan pikiran negatif yang sudah ada di kepalanya sekarang.
"Gue gak bakal ngapa-ngapain lo." Ucap Regan sadar bahwa Dei hanya diam di ujung pintu.
Walau masih ada rasa takut, Dei perlahan mendekati cowok tersebut yang sudah duduk santai sambil memandangi kota dari atas gedung itu. Dei yang baru pertama kali berada di atas gedung yang cukup tinggi tersebut hanya berdiri dibelakang Regan.
"Lo mau duduk atau berdiri aja disitu."
Dei pun memilih duduk di samping cowok itu. Sesekali ia menatap kearah Regan yang begitu fokus memandang kearah depan. Walaupun ada rasa takut, tapi ia sedikit takjub melihat pemandangan kota dari atas, bagaimana padatnya ibu kota dan kendaraan-kendaran yang berlalu lalang begitu jelas dari atas gedung.
"Selain taman, disini tempat paling nyaman buat gue." Kalimat itu keluar dari mulut Regan, Dei yang mendengar nya langsung menatap cowok tersebut.
"Tempat ini membuat kita tau, begitu kejam dunia itu," ucap Regan membuat Dei heran.
"Tapi disisi lain, gue bisa merasa tenang saat melihat matahari terbit maupun saat tenggelam."
Saat ini Dei hanya diam sambil mendengar Regan berbicara. Ia awalnya tidak menyangka cowok itu mau bercerita cukup panjang.
"Kalau tempat ternyaman lo apa?" tanya Regan Tiba-tiba.
"Em... Dei tidak tau, tapi rumah sudah cukup nyaman bagi Dei." Jawabnya.
Mendengar jawaban Dei membuat Regan tersenyum ketir. Pasalnya rumah adalah neraka bagi dirinya, bukan tempat ternyaman yang dulu ia harapan kan.
"Lo udah punya pacar?"
Seketika Dei begitu kaget mendengar pertanyaan tersebut dari Regan, karena ia tidak percaya bahwa cowok di sampingnya itu bakal bertanya tentang itu.
"Kenapa! Udah punya." Ujar Regan yang langsung membuat Dei geleng-geleng.
Kini mereka kembali hening, tak ada lagi yang seperti ingin berbicara. Mereka berdua hanya diam sambil menatap Lampu-lampu kota yang satu persatu mulai hidup, bahkan serpihan angin mulai membuat mereka merasa nyaman di atas itu.
"Gue mau ngomong sesuatu sama lo." Ucap Regan kembali memecahkan keheningan tersebut.
"Gue... Sebenarnya punya...." Ucapnya terhenti ada rasa gugup terlihat pada dirinya.
Dei pun sangat penasaran apa yang ingin diucapkan oleh Regan, pasalnya ia tidak pernah melihat cowok itu begitu gugup seperti sekarang. Karena merasa penasaran Dei pun memberanikan untuk bertanya.
"Hmm... Kak Regan mau ngomong apa?" tanya Dei sedikit takut.
"Gue..."
Regan pun menggelengkan kepalanya. "Nggak jadi, lo bukannya mau pulang."
Dei pun langsung melihat jam di ponselnya. "Iya, Dei udah telat."
"Yaudah udah lo pulang sana."
"Dei pulang dulu ya kak," pamit Dei.
"Hati-hati."
Lagi dan lagi ia dibuat kaget oleh ucapan Regan, karena merasa bingung Dei hanya mengangguk dan langsung segera pergi untuk pulang.
Regan yang terus menatap Dei pergi sampai Benar-benar hilang dari pandangannya, langsung mengusap kasar wajahnya itu.
"Gila lo gan, lo mau ngomong apa tadi hah...." Ucap Regan sangat kesal pada dirinya sendiri.
BERSAMBUNG.....
Hay semuanya apa kabar nih?
Maaf ya baru up lagi.....
Jangan lupa dukung karya aku terus..
Jangan lupa votenya juga
Makasih :))
__ADS_1
See you.....