
..."Tuhan! Izinkan aku untuk menyerah."...
..._Deirsh_...
Suara hujan yang cukup deras menyamarkan isakan tangis Dei. Kejadian yang menimpa nya membuat ia Benar-benar begitu hancur, setelah kekasihnya pergi untuk selamanya ayahnya pun pergi karena kesalahannya.
Kini Dei hanya terduduk lemas dikamar nya yang begitu gelap, bahkan melihat keadaannya pun begitu sangat prihatin. Setelah pemakaman ayahnya Dei hanya mengurung diri dalam kamarnya tersebut, panggilan dari sahabat dan tante nya selalu ia hiraukan.
Dei mengangkat kepalanya itu, melihat tetesan hujan yang begitu deras dari jendela kamar. "Maafin Dei, yah."
...~~~...
"Dei! Ini tante," ucap Erin yang terus mengetuk pintu kamar Dei.
Saat Erin mencoba untuk mengetuk lagi, pintu tersebut terbuka dengan pemilik kamar yang sudah ada dihadapannya sekarang.
"Dei," ucap Erin yang langsung memeluk keponakannya itu.
"Maaf, jika Dei selalu menghiraukan kalian," ujar Dei pelan.
Erin langsung menatap Dei. "Tante tau kamu butuh waktu untuk ini, dan sekarang kamu harus ikhlasin ya...."
Dei pun langsung mengangguk, benar kata tante nya itu. Sekarang ia harus kuat dan ikhlasin takdirnya tersebut.
"Ya sudah sekarang kita makan bareng ya, Mama kamu kayaknya udah dimeja makan." Ajak Erin yang langsung dibalas dengan senyuman oleh Dei.
Dei berjalan menuju meja makan yang sudah ada Mamanya disitu, saat Dei ingin duduk betapa kagetnya ia melihat Mamanya pergi begitu saja tanpa berbicara padanya.
Erin yang baru saja tiba dengan beberapa piring makanan hanya melihat Dei sendiri dimeja makan tersebut.
"Mama kamu mana Dei!" tanya Erin yang membuat Dei langsung tersadar dari pikirannya.
"Mama tadi langsung ke kamar," jawab Dei singkat.
Erin yang merasa aneh hanya melihat kearah kamar kakaknya itu dan kembali menatap Dei. "Yaudah kita aja, mungkin Mama kamu mau istirahat."
Dei pun hanya menganggukkan kepalanya, dan langsung beralih dengan sarapannya. Saat sedang menikmati sarapan mereka, Dei dan Erin pun langsung mengalihkan pandangannya pada Carles yang baru keluar dari kamarnya.
Dei yang mau menyapa abang nya itu pun langsung berdiri menghampiri abangnya itu.
"Bang, abang nggak sarapan?" Tanya Dei.
Setelah bertanya, ekspresi Dei seketika berubah, tidak ada jawaban dari abangnya itu bahkan Carles langsung pergi begitu saja tanpa melihat sedikit pun pada adiknya. Tak terasa tetesan air mata jatuh ke pipi Dei, ia pun langsung berlari menuju kamarnya.
Melihat kejadian itu Erin pun langsung menghampiri Dei yang terlihat begitu sedih.
"Dei, buka pintu nya Dei." Panggil Erin cemas sambil mengetuk pintu kamar.
...~~~...
"Bang jangan pergi bang! Jangan tinggalin Dei sama Mama hiks...." Tangisan itu pecah, Dei memohon supaya abangnya tidak pergi meninggalkan mereka.
Walaupun terus memohon dengan suara nya yang sudah serak, Carles tidak peduli. Ia hanya fokus mengambil semua pakaiannya untuk di bawah.
"Bang hiks... tolong bang! Kasihan mama kalau abang pergi."
Carles sudah memasukkan semua pakaiannya kedalam tas. Ia berbalik, mendekati adiknya yang sedang memohon sambil menangis.
"Lo itu egois," ucap Carles membuat Dei terdiam takut.
"Andai lo nggak egois, ayah pasti MASIH ADA SAMA KITA...." Ucap Carles lagi dengan sedikit bentakan diakhir.
Saat itu Dei Benar-benar takut melihat nya, bahkan Dei hanya menundukkan kepalanya itu tanpa melihat wajah Carles.
Carles menggenggam kedua bahu Dei, sehingga adiknya berdiri tepat di hadapan abangnya. Dei terdiam sambil menahan sakit pada kedua bahunya.
"Setelah lo udah ngehancurin semua ini, lo ingin gue tetap disini!" ujar Carles dengan sedikit smirk diwajahnya.
"Lo itu emang egois ya... DASAR EGOIS." Bentak Carles sambil mendorong Dei hingga jatuh.
Carles pun langsung pergi meninggalkan adiknya yang terduduk dilantai dengan rasa takut. Dei perlahan memeluk dirinya sendiri dan menyembunyikan wajahnya, hingga tangisan itu kembali Dei rasakan.
Setelah abang pergi dari rumah itu Dela selalu mengurang diri di kamarnya, Dei yang tidak tega melihat Mamanya seperti itu selalu berusaha untuk ada disisi Mamanya. Hingga sebuah ucapan muncul membuat Dei Benar-benar merasa bersalah.
"Andai kamu nurut malam itu," ucap Dela Tiba-tiba dan membuat anaknya itu terdiam.
"Andai kamu nggak pergi malam itu,"
"Andai kamu nurut apa yang ayah, mama dan abang kamu bilang,"
"Pasti... A-ayah kamu masih hidup hiks." Tangis Dela kembali pecah.
Sedangkan Dei, ia terdiam mendengar apa yang dikatakan mamanya. Sebuah kata ANDAI seperti membuat dirinya begitu sangat bersalah, air mata Dei mengalir melewati pipi mulusnya itu. Dei masih terdiam untuk bisa menerima kalimat mamanya dalam pikirannya. Bahkan jika bisa ia ingin mengatakan juga. Andai waktu itu bisa diulang kembali, pasti tidak ada kehilangan yang kedua kalinya.
__ADS_1
Hingga Dei tersadar saat mendengar isak tangis mamanya, Dei mencoba mendekati mamanya.
"Ma! Maafin Dei, tolong maafin Dei hiks...." ucap Dei begitu sesal.
"Tolong tinggalin mama, mama masih ingin sendiri," ucap Dela membuat Dei sedikit kaget.
"Ma...."
"Tolong keluar."
...~~~...
Kebencian Mama dan abangnya membuat Dei Benar-benar tertekan, kini ia begitu merasa hancur dalam hidup nya. Hari-hari nya selalu terbayang ketakutan, kehilangan bahkan membuat ia menangis tak berhenti.
Dei menatap dirinya disebuah cermin, begitu pucat tapi wajah itu malah memperlihatkan sebuah senyuman. Dei berdiri dari tempat duduknya menuju kasur, hari sudah begitu larut membuat mata indahnya itu ingin sekali untuk terpejam.
Sebelum ia benar-benar tertidur, Dei mematikan lampu dan menyisakan sebuah lampu hias untuk memberi cahaya pada kamarnya. Ketika sudah merasa sunyi, perlahan matanya terpejam menuju ke alam mimpi.
DORRR.....
Sebuah suara membangun dirinya, terlihat butiran keringat perlahan membasahi seluruh tubuhnya itu. Suara hembusan nafas membuat kesunyian itu menghilang dan sebuah ketenangan kini berubah begitu tegang.
Dei memandang ke depan tidak tau apa yang sedang ia pikirkan, padangan yang begitu kosong membuat ia begitu mengerikan. Perlahan kedua tangannya menuju ke telinga, menekankan nya begitu kuat hingga matanya terpejam.
"Athar bertahan...."
"Tolong bertahan demi aku, aku masih ingin bersama mu."
"Jangan pergi! Ja-jangan pergi."
Seketika Dei langsung bangkit dari tempatnya, menuju sebuah laci dan mencari sesuatu yang sepertinya sangat ia butuhkan sekarang.
Terlihat ia sangat merasa gelisah, tangannya begitu gemetar bahkan keringatnya terus saja menetes. Hingga sebuah benda berhasil ia genggam dan langsung berusaha mengeluarkan isinya.
Dei berjalan kesebuah meja dan langsung mengambil segelas air, Dei melihat sebentar kearah tangannya sampai ia mencoba memasukkan sebuah obat kedalam mulutnya itu dan langsung meminum air yang sudah ia ambil.
Dia terjatuh ke lantai saat dirinya merasa membaik, menyandarkan kepalanya pada ujung kasur dan perlahan matanya pun terpejam kembali. Takdir nya membuat ia begitu tidak baik-baik saja.
...~~~...
Cahaya mentari kini sudah menerangi salah satu kamar dengan pemilik nya yang masih tertidur dengan tenang. Hingga sebuah usapan hangat di kepalanya membuat tidur nya sedikit terusik.
"Putri ayah! Ayo bangun."
Ketika suara itu terdengar, sang pemilik kamar itu langsung terbangun. Ia begitu terkejut apa yang sedang ia lihat sekarang, tepat di hadapannya itu.
"Iya... Ini ayah, Dei kenapa baru bangun?" ucap seorang pria paruh baya dengan begitu lembut.
Mendengar itu air mata Dei mengalir begitu saja, suatu perasaan kini membuat hatinya begitu sangat terguncang.
"Hey, putri ayah kenapa nangis!" pria tersebut langsung mendekati Dei dan memeluknya.
"Apa kamu habis mimpi buruk?" tanya sang ayah.
"Sangat buruk ayah," jawab Dei, membuat pria itu tersenyum.
"Ayah! Jangan pergi lagi ya...." ucap Dei membuat ayahnya terdiam.
"Dei liat ayah! Ayah enggak akan pernah ninggalin putri ayah."
"Walaupun suatu saat nanti, jika ayah pergi... Ayah akan selalu ada di hati kamu," sambungnya.
"Janji."
"Ayah janji."
DUARRRR.....
Betapa kaget nya mereka berdua, saat Tiba-tiba terdengar suara petir begitu keras. Bagaimana tidak cuaca yang awalnya begitu cerah kini sudah gelap karena tertutup oleh awan mendung.
Dei langsung memeluk ayahnya begitu erat yang langsung dibalas oleh ayahnya juga.
"Ayah Dei takut," ujar Dei.
"Jangan takut ayah ada disini sama kamu."
Pria tersebut pun tersenyum sambil mengusap kepala putrinya itu begitu lembut. Karena begitu nyaman, Dei perlahan kembali tertidur didalam pelukan hangat sang ayah.
Awal suasana yang hening kini terganggu dengan suara seseorang yang terus mengucapkan kalimat dengan berulang kali.
"Ayah... Ayah dimana."
"Ayah... Dei takut."
"Ayah, Dei ingin ikut ayah...." Kalimat itu terhenti, saat sang pemilik suara membuka matanya perlahan.
__ADS_1
Kini ia Benar-benar tersadar dari mimpi itu, dimana sekarang ia terduduk dilantai dekat kasurnya. Dei menegakkan tubuhnya itu, melihat sekeliling nya yang masih terasa begitu sendu.
...~~~...
Setelah melihat Mamanya dikamar Dei menuju ke dapur melihat Tantenya yang sedang membereskan sisa makan malam mereka. Awalnya ia ingin membantu tapi Erin melarang nya dan menyuruh istirahat.
"Dei! Kalau kamu mau jeruk itu ada di kulkas, tadi sore tante baru beli," ujar Erin.
Dei hanya menggelengkan kepalanya.
"Tan! Mama masih marah ya sama Dei?" tanya Dei Tiba-tiba dan membuat Erin langsung terdiam.
Erin pun mendekati ponakannya itu. "Mama kamu enggak marah sama kamu, dia hanya butuh waktu sendiri aja." Jelas Erin dan tidak ada respon dari Dei.
"Ya sudah kamu istirahat aja dikamar, lagian udah larut malam juga."
Mendengar itu Dei pun mengangguk dan segera menuju kamarnya, tapi baru saja ia ingin bergerak.
PRANG!
Dei langsung terjatuh lemas dengan begitu kagetnya, suara pecahan piring yang tidak sengaja ia senggol, membuat nya begitu takut. Melihat ponakannya itu, Dela pun begitu kaget dan langsung memeluk ponakannya.
"T-tan! Suara... Suara i-tuu...." ujar Dei gemetar.
"Dei, Dei lihat tante, jangan khawatir cuma piring saja...." ucap Erin sambil memegang tangan Dei yang begitu gemetar.
"Suara itu... Athar...."
Melihat keponakannya itu, Erin pun tak bisa menahan air matanya. Dia tau seberapa trauma nya Dei dengan kejadian yang baru ia rasakan.
"A-ayah juga... Suara itu...."
"Dei... Takut... Dei takut...."
Erin langsung memeluk Dei begitu erat. "Kamu jangan takut, ada tante disini."
Erin mencoba menenangkan Dei yang begitu takut, lalu ia membawa nya ke kamar untuk istirahat. Saat sampai di kamar, Erin pun menidurkan Dei yang sudah mulai merasa tenang, dan menemani nya hingga Benar-benar tertidur.
Tepat tengah malam yang biasanya sudah begitu sunyi, kini disebut ruangan terdengar suara yang begitu rusuh. Terlihat pemilik kamar yang begitu sangat gelisah, sedang mencari sesuatu yang biasa ia letakan di laci kamarnya itu.
Dia Dei, saat ini ia begitu sangat gelisah, ketenangan nya selalu terganggu hanya karena sebuah trauma. Dei masih mencari sebuah botol kecil yang berisi beberapa butir obat tidur, itu menjadi sebuah obat yang membuat ia lebih merasa tenang.
Setelah menemukan obatnya, Dei langsung meminumnya tanpa sabar, setelah itu ia memilih duduk di bangku tanpa ingin melanjutkan tidur nya.
Dei melihatnya, melihat seorang gadis yang benar-benar begitu berantakan, tanpa sadar air matanya pun ikut menetes membiarkan mengalir hingga membasahi meja riasnya itu.
Dei melihat beberapa barang yang ada dimeja tersebut, hingga satu alat menarik perhatian nya. Sebuah gunting kini berada digenggaman nya itu , ia langsung kembali menatap dirinya di sebuah kaca yang berada di hadapannya sekarang.
Dei melihat rambut yang terurai begitu saja. Sampai ia mengingat ada seseorang yang selalu menyukai rambut panjang nya tersebut.
"Biarkan ini terurai," ucap sang pria sambil melepaskan ikatan rambutnya.
"Kenapa?"
"Karena rambut kamu sangat indah jika terurai seperti ini." Pujinya membuat sangat pacar tersenyum malu.
Dan itu dulu, tidak dengan Dei yang sekarang menatap dirinya begitu kasihan. Rambutnya sekarang begitu Acak-acakan, tidak seperti yang dibayangkan. Ia memejamkan matanya dan menghela nafas dengan perlahan.
Grekkk....
Helaian rambut yang dulu disukai oleh seseorang, kini sudah berserakan disebuah lantai. Bahkan beberapa helaian rambut berterbangan oleh angin malam yang masuk ke kamar itu.
Dei kembali menatap dirinya dan kini ia begitu berbeda, tidak ada lagi uraian rambut panjang yang menghiasi dirinya, sekarang hanya ada rambut sebahu yang akan menemaninya.
Dei menatap dirinya kembali, sambil tersenyum. "Tuhan! Izinkan aku untuk menyerah."
BERSAMBUNG.....
12 November 2019
...
...
Deirsh & Athar.....
Hay semua
Apa kabar.....
Selalu dukung cerita Arsyah yaa..
Jangan lupa vote dan komennya...
__ADS_1
Terimakasih
See you....