
..."Ketika aku menutup mataku, disitulah aku menemukan kebahagiaan itu."...
---------
Asap Nikotin kini telah menyebar diseluruh ruangan. Terlihat ruangan itu seperti tidak terurus, pakaian yang berantakan bahkan beberapa botol bekas terdapat diruangan tersebut.
Dua orang pria kini sedang beristirahat, satu pria sedang bermain ponselnya dan satu pria lagi sedang duduk santai disebuah kursi sambil menghirup asap nikotin dari mulutnya itu.
"Gimana hubungan lo sama Zena?" tanya pria yang sibuk dengan ponselnya.
"Nggak Gimana-mana."
"Lo keknya udah lama nggak pulang kerumah lo, les?"
Carles, pria yang sedang terduduk santai itu pun, langsung beralih pada temannya yang bertanya. "Lo ngusir gue Ren!"
Pria yang bernama Reno itupun langsung terduduk. "Ehh bukan gitu woi, gue kan cuma nanya anjir,"
"Gue malas mau pulang," balas Carles dan langsung memalingkan mukannya kembali.
"Udah berasa rumahnya aja," Gumam Reno pelan yang masih terdengar oleh pria itu.
"Lo nggak suka!"
"Bercandanya gue," ujar Reno. "Les! Keluar yuk cari makanan, laper gue." sambungnya
Carles pun menganggukkan kepalanya, dan mereka langsung bergegas keluar mencari makanan.
~~~
"Dokter tolong dok...." tangis wanita itu.
Wanita itu terus saja menangis tanpa henti, melihat darah yang begitu banyak didepan matanya, membuat dirinya berpikiran yang Tidak-tidak.
"Ibu tolong tunggu disini, kami akan memeriksa nya dulu," ujar dokter tersebut.
"Ya tuhan! Tolong selamatkan dia ya Tuhan...."
Deg....
Dei terbangun, dengan nafasnya yang kini tak beraturan. Sebuah mimpi buruk membangunkannya ditengah malam, Dei mencoba untuk menenangkan dirinya kembali.
Dei beralih mengambil segelas air yang selalu ia sediakan dimeja kamarnya. Dei meminumnya, hingga membuat ia kembali tenang, dan memilih untuk melanjutkan tidurnya.
Minggu, pukul Sembilan pagi cuaca yang begitu cerah bagi Orang-orang yang sedang berlibur. Tapi tidak dengan Dela, ia akan memulai kegiatannya hari ini.
"Ma! Mama serius mau bantuin tante, nanti mama capek loh," ujar Dei pada Mamanya.
"Kamu nggak usah khawatir, lagian Mama malah bosan dirumah terus, mending bantuin tante kamu ditempat jahit," jelas Dela.
Dei yang sudah mencegah Mamanya akhirnya pun memgalah. "Yaudah deh terserah Mama, yang penting istirahatnya jangan lupa."
"Iya sayang, yaudah Mama pergi dulu ya!" ucap Dela sambil mencium putrinya sebelum pergi.
"Iya, Hati-hati Ma."
Kini dia hanya sendiri, terduduk dengan secangkir teh, memandang Daun-daun bergoyang lewat jendela. Ketika dirinya sudah mendapatkan apa yang ia inginkan, kenapa ia masih merasa sendiri, bahkan sebagian pergi dengan perlahan.
__ADS_1
Dei mengambil teh yang sudah ia sediakan, hingga sekarang bibirnya sudah tersentuh dengan ujung gelas, menikmatinya sehingga membuat dirinya begitu hangat.
Semenjak Cafe libur, Dei begitu merasa bosan. Dei hanya diam dirumah sambil menghayalkan yang tidak nyata.
Setelah menikmati secangkir teh, ia memilih untuk kembali kekamar nya. Mencoba membuka laptop yang sudah lama tidak digunakan, dan segera mencari sebuah film supaya ia tidak begitu merasa bosan.
~~~
Dei keluar dengan tempat makan yang sedang ia bawa. Dei mengunci pintu rumahnya dan langsung mengambil sepeda birunya itu, Dei berniat untuk ketempat Mama dan Tantenya dengan membawa makanannya yang sudah ia siapkan.
Karena cukup lama ia tidak menggunakan sepeda, membuat dirinya begitu cepat lelah. Jarak toko tantenya dan rumahnya cukup jauh, membuat tenaganya terkuras habis untuk mengayu sepeda itu.
Setelah lama diperjalanan, ia pun sampai ditoko tersebut. Terlihat Mama dan tantenya yang masih sibuk dengan jahitan nya dan ada juga beberapa orang yang sedang menunggu.
"Dei! kamu kesini?" ucap Erin yang kaget melihat ponakannya itu.
Dela yang sedang sibuk dengan jahitannya, langsung menoleh melihat putrinya. "Sayang! Kok ada disini?"
Dei tersenyum sambil mengatur nafasnya karena kelelahan, dan berjalan kesalahan satu sofa dekat Mamanya.
"Dei bosan dirumah, jadi dei kesini sambil bawain Mama sama tante makanan," ujar Dei.
Dela pun menggelengkan kepalanya melihat putrinya itu dan kembali mengerjakan pekerjaannya. "Kamu naik apa kesini?"
"Naik sepeda."
"Dari rumah!" ujar Dela kaget.
Dei tidak menjawab, ia kembali tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Yaudah, kalau kamu haus kebelakang sana ambil minum," sambung Erin.
Hingga sore hari Dei masih menemani Mama dan tantenya bekerja, Ia berencana untuk pulang duluan, sedangkan Mamanya sedikit terlambat untuk pulang.
"Ma! Dei pulang duluan ya, nggak papa kan?" tanya Dei pada Mamanya.
"Yaudah kamu duluan, nanti Mama bisa bareng sama tantemu," balas Dela.
Dei mengangguk. "Tan Dei pulang duluan ya!"
"Iya Hati-hati, langsung pulang jangan kemana-mana!" ujar Erin
"Iya tan."
Kini Dei sedang berada diperjalanan, kali ini ia cukup menikmati perjalanan pulangnya. Tidak seperti tadi siang, saat terik mata hari menembus kulitnya. Dan saat ini angin yang menemaninya sepanjang perjalanan, hembusan angin membuat Helaian-helaian rambut pendek Dei beterbangan, bahkan sesekali menutupi wajahnya itu.
Sedaritadi belum ada kendala yang Dei rasakan. Hingga saat disebuah penurunan, membuat dirinya begitu panik. Bagaimana tidak, rem sepedanya Tiba-tiba tidak berfungsi.
"Ya Tuhan, ini remnya kenapa nggak berfungsi.... " ujar Dei panik.
Dei yang begitu panik, ditambah sepedanya menurun begitu cepat membuat ia langsung memejamkan matanya.
"Tuhannnnn... Tolong Dei...."
Bruk.....
"Ahw... Sakit...." ringis Dei yang sudah terjatuh.
__ADS_1
Hingga seorang pria Tiba-tiba mendekatinya dan langsung melihat motor yang sudah ditabrak oleh Dei dengan sepedanya.
"Anjir... Motor gue," ujar pria itu.
Dei perlahan bangun dari posisinya, ada wajah takut yang sedang ia perlihatkan. Melihat goresan cukup parah dimotor yang sudah ia tabrak, membuat dirinya tambah khawatir.
"Apa aku harus ganti rugi ya?" ucap Dei dalam hati.
"Lo bisa naik seped... Lo?" ucap Pria itu yang langsung terhenti.
Sedangkan Dei hanya memasang wajah takut, dan juga ia masih mengingat pria didepannya sekarang.
Pria itu mengusap rambutnya dengan kasar. "Ah... Setiap ketemu lo, gue sial mulu ya!"
Dei kaget mendengar perkataan pria itu. Ia sebenarnya tidak terima dengan perkataannya, tapi saat melihat wajah pria tersebut membuat dirinya begitu takut.
Pria itu mendekat pada Dei, sontak membuat Dei tambah kaget, pasalnya jarak wajah pria itu sama wajah dirinya begitu dekat.
"Lo harus ganti RUGI!" ucap pria itu.
"Hm... I-iya, tapi!" ucap Dei terputus saat pria didepannya itu langsung menatap dirinya begitu intens.
"Tapi apa?" sambung pria itu.
"Em... A-aku bayarnya nyicil!" balas Dei pelan.
Pria itu tersenyum mendengar perkataan Dei. Dei melihatnya, melihat pria itu tersenyum tapi malah membuat pria tersebut begitu menyeramkan.
"Sini hp lo!"
Dei bingung dengan perkataan pria tersebut, ia meminta ponselnya. Dei sedikit takut, apakah pria itu bakal mengambil ponselnya?
"u-untuk apa?" tanya Dei.
"Lo banyak nanya ya! Sini hp lo cepat." ujar pria itu.
Karena takut, Dei pun pasrah memberikan ponselnya itu. Pria tersebut mengambilnya, membuka sesuatu di ponsel milik Dei dan mengetik sesuatu.
Hingga suara dering ponsel berbunyi, tapi tidak dari ponselnya melainkan ponsel milik pria itu.
"Nih, gue udah simpan nomor lo," ucap pria tersebut sambil mengembalikan ponsel Dei.
"Gue bakal hubungi lo nanti, soalnya sekarang gue lagi sibuk,"
Saat pria itu ingin pergi, ia mendekati Dei yang terdiam ketakutan.
"Dan jika lo nggak ngangkat telepon gue... Lo bakal tau akibatnya." bisik pria itu pada Dei dan langsung pergi meninggalkannya.
Dei masih terdiam sangat takut, ia berpikir apa yang bakal terjadi padanya nanti.
"Ya tuhan! Bantu Dei."
BERSAMBUNG......
Jangan lupa vote dan komennya
Terimakasih:)
__ADS_1
Luvv
See you.....