D. Deirsh & Depresinya

D. Deirsh & Depresinya
Part 14


__ADS_3

..."Mau bagaimana pun penampilan gue, gue enggak akan pernah ninggalin Tuhan."...


..._Regan_...


 


       "Bu! Kami akan berusaha semaksimal mungkin, tapi tolong Ibu tenang dulu," ucap sang Dokter.


       "Saya mohon dok, saya mohon...."


       Dia mendengarnya, sampai tersadar akan suara wanita paruh baya itu. Ia seperti mengenal sang suara, tapi entah kenapa ingatannya menghilang begitu saja.


       "Siapa dia?" Ucapnya sebelum Benar-benar ia hilang kesadaran.


Deg....


       Sebuah sentakan membuat Dei terbangun dengan tak enak. Seperti terjatuh didalam mimpi membuat detakan jantungnya tak beraturan dan mimpi itu lagi yang ia rasakan. Dei berusaha menenangkan dirinya kembali, tanpa sadar pemilik apartemen itu memperhatikannya.


       "Kak Regan!" ujar Dei kaget.


       "Dari kapan kakak disini?" sambungnya bertanya pada Regan yang masih berdiri.


       "Dari lo bangun tidur kayak habis dikejar hantu." ujarnya.


       Mendengar itu Dei begitu kaget, bagaimana tidak cowok itu melihatnya yang sedang tertidur dan terbangun dengan keadaan yang tidak Baik-baik saja. Kini Dei Benar-benar merasa malu.


       Karena Regan masih berdiri di dekatnya, Dei mengambil ponsel yang ia letek dimeja untuk menghilangkan rasa canggung nya. Saat Dei melihat ponselnya, ia langsung berdiri kaget saat mengetahui kalau sudah jam 3 sore. Sekarang Dei berpikir bahwa Mamanya pasti sudah pulang duluan, dan kini Dei memikirkan alasan apa lagi yang harus ia berikan nanti.


       Kini Dei memberanikan diri untuk pamit pada cowok didekat nya itu. "Kak! Dei pamit pulang sekarang ya?"


       Tidak ada jawaban dari Regan, malah cowok itu berdiri dan mengambil jaket yang terletak di sofa ruangan tersebut. Melihat itu Dei hanya diam dengan kebingungan nya sekarang.


       "Gue antar."


       Kalimat yang diucapkan cowok itu, membuat Dei kembali kaget. Bagaimana mana mungkin cowok aneh di hadapannya sekarang ingin mengantarkan dirinya tanpa maksud apapun.


       "Enggak usah kak, Dei bisa pulang sendiri," tolak Dei.


       "Gak ada penolakan." Ucap Regan, membuat Dei terdiam kembali.


       Hembusan angin sore yang mampu membuat kenyamanan kini sedang menemani dua orang yang hanya diam di sebuah motor. Dei dan Regan kini sedang berada diperjalanan, Dei yang tidak bisa mengatakan apapun hanya menerima apa yang cowok itu katakan.


       Hingga motor yang dikendarai Regan berhenti di sebuah tempat yang tidak pernah Dei datangin sekali pun. Dei ikut turun dari motor, sambil terus melihat kearah Regan yang sibuk meletakkan helmnya. Dei pengen banget untuk berbicara terlebih dahulu, tapi rasa takut pada dirinya selalu membuat nya tidak berani.


       "Kenapa kak Regan berhenti disini!" Ucap Dei dalam hati.


       Dei kembali melihat jam di ponselnya, dia sudah begitu terlambat untuk pulang, pasti sekarang Mamanya khawatir karena ia tidak ada di rumah. Dei kembali menatap Regan, menarik nafasnya perlahan dan memberanikan diri untuk berbicara.


       "Hmm sepertinya kak Regan ada urusan disini ya! Jadi Dei pulang sendiri aja ya kak, permisi...." ujar Dei yang langsung bergegas dari situ.


       "Tunggu."


       Dei yang baru saja ingin melangkah langsung berhenti saat mendengar suara cowok itu.


       "Siapa yang nyuruh lo pulang!" sambung Regan sambil menatap Dei.


       "Ehhh bu-bukannya kakak... Ada perlu ya, makanya Dei pulang sendiri aja," ucap Dei dengan gugup.


       "Siapa bilang gue ada perlu!" ucapnya terhenti sejenak sambil menatap Dei yang begitu gugup.


       "Gue cuma ingin kesini aja, dan lo harus nemenin gue." Lanjut Regan.


       Mendengar kalimat itu Dei langsung melongo, bagaimana tidak dia udah begitu telat untuk pulang dan cowok di hadapannya sekarang malah menyuruh dirinya untuk menemani dia Jalan-jalan.


       "Tapi kak! Dei harus-"


       "Lo pulang! Besok uang ganti rugi harus udah ada ditangan gue." potong Regan dan langsung melangkah pergi.

__ADS_1


       Dei yang tak bisa berbuat Apa-apa, hanya menghela nafas kesal dan pasrah untuk mengikuti cowok itu.


       Sebuah tempat yang begitu nyaman menjadi favorit kalangan semua orang, sebuah taman dengan dipenuhi pepohonan yang cukup menyegarkan mata. Regan kini sedang berjalan santai dengan menikmati pemandangan taman itu, terlihat dari wajahnya ia begitu nyaman dengan suasana tersebut.


       Tapi tidak dengan Dei, ia Benar-benar sangat kesal pada cowok tersebut. Dei juga mengakui kalau taman tersebut begitu nyaman dan cocok untuk bersantai, tapi kembali lagi ia saat ini tidak bisa Benar-benar untuk bersantai sekarang.


       Lihat lah Deirsh Anasyah sekarang, ia Benar-benar tak terlihat seperti Dei yang begitu sabar, wajah kesalnya terlihat begitu jelas tapi ia tetap harus mengikuti cowok didepannya itu.


       Karena kekesalannya Dei hampir saja menabrak punggung Regan yang berhenti Tiba-tiba.


       "M-maaf kak! Dei nggak lihat," ucap Dei gugup, yang hanya dibalas oleh senyuman smirk cowok itu.


       "Lo mau eskrim?"


       Pertanyaan yang dilontarkan Regan membuat Dei Benar-benar kaget. Pasalnya cowok itu tidak pernah terlihat baik padanya.


       Dei pun tersenyum canggung. "Hm enggak usah kak." Tolaknya.


       Tanpa menunggu respon Dei berjalan kesebuah bangku yang tidak jauh dari situ. Hari ini ia Benar-benar merasa lelah, saat Dei mendudukkan dirinya barulah ia merasa begitu lega.


       Saat merasa sudah nyaman Dei kembali menatap Regan yang sedang berjalan mendekati dirinya. Saat itu juga Dei merasa begitu gugup, entah kenapa ia akan selalu gugup saat menatap cowok tersebut.


       "Nih!" ujar Regan sambil menyodorkan sebuah eskrim pada Dei.


       Saat melihat eskrim ditangan Regan, rasanya ingin sekali ia menerima eskrim tersebut. Bagaimana tidak, eskrim strawberry itu sangat ia sukai. Tapi karena tadi ia sudah menolak nya, Dei langsung menggelengkan kepalanya lagi.


       "Lo kesal sama gue?" tanya Regan, yang Lagi-lagi hanya dibalas gelengan oleh Dei.


       "Hm gue buang aja."


       "Ehh jangan dibuang kak!" ucap Dei Tiba-tiba.


       "Ya untuk apa coba, gue engga suka rasa ini."


       "Terus kenapa kakak beli?" tanya Dei.


      "Gue buang aja," sambungnya Tiba-tiba.


       "Jangan kak, ya udah Dei mau." Balas Dei yang langsung menerima eskrim tersebut.


       Sedangkan Regan dalam hatinya merasa begitu lega saat Dei menerima eskrim tersebut. Ia pun langsung memilih duduk dan menikmati eskrim yang sudah ia beli supaya Dei tidak melihat ekspresi nya sekarang.


       Saat selesai menikmati eskrim dan bersantai, Regan melihat ponselnya sebentar dan langsung berdiri dari tempat duduknya.


       "M-mau kemana?" tanya Dei takut.


       Regan menoleh kearah Dei. "Udah waktu Ashar, gue mau sholat."


       Dei terdiam saat mendengarnya. Ia melihat kembali cowok itu, tak terlintas dipikirannya sekarang bahwa cowok tersebut masih mementingkan kewajibannya.


       "Walaupun gue kek gini, gue masih ingat Tuhan kok," ucap Regan menyadarkan lamunan Dei.


       "Dan mau bagaimana pun penampilan gue, gue enggak akan pernah ninggalin Tuhan." Sambung Regan dan langsung melangkah pergi.


       Dei yang masih terdiam di tempatnya hanya melihat cowok itu pergi dengan senyuman yang terukir diwajahnya tersebut.


...~~~...


       Kini Dei telah sampai didalam kamarnya, ia menghempaskan tubuhnya itu di kasur. Terlihat dari wajahnya Dei begitu sangat lelah, rencana awal yang sudah ia susun kini berubah karena Regan bos abal-abal nya itu.


       Soal Mamanya! Sesampainya ia di rumah Dela sudah menunggu Dei pulang untuk menanyakan pertanyaan yang begitu banyak pada putrinya tersebut.


       Dei berjalan masuk ke halaman rumahnya, ia kini Benar-benar takut jika Mamanya akan menanyakan sesuatu. Dei melihat pintu rumah yang masih tertutup, berharap dirinya masih bisa terselamatkan dari pertanyaan Mamanya nanti.


       "Apa Mama belum pulang!" Ujar Dei pelan pada dirinya sendiri.


       Ia pun mencoba membuka pintu rumahnya itu dan ternyata pintunya masih terkunci. Dei pun menghela nafas lega, pasalnya jika pintunya masih terkunci berati Mamanya belum pulang. Dei pun langsung saja membuka pintu dan segera masuk sebelum terlihat oleh Mamanya

__ADS_1


       Kini Dei sudah berada di dalam, menutup kembali pintu rumahnya dan bergegas menuju ke kamar. Tapi saat ingin berjalan betapa terkejutnya ia saat melihat sesuatu.


       "Mama!"


       Terlihat Dela sedang duduk di sofa sambil tersenyum melihat Dei yang baru saja ingin berjalan kearah kamarnya. Kini Dei hanya terdiam saat melihat Mamanya, ia begitu gugup saat Mamanya itu berjalan mendekati dirinya.


       "Kok baru pulang Dei?" tanya Dela membuat putrinya langsung kaget.


       "Ketemu sama teman lagi?" tanya Dela kembali.


       "Hmm itu Ma... Dei...."


       Belum selesai bicara Dela langsung memotongnya. "Jawab jujur aja sayang, mama engga bakal marah kok."


       Dei menatap Mamanya. "Dei sebetulnya kerja."


       "Emang cafenya sudah buka lagi?" tanya Dela.


       "Bukan Ma, Dei bantuin teman," jawab Dei.


       "Teman kamu yang mana?"


       Pertanyaan itu Benar-benar membuat Dei bingung, tidak mungkin kan dia menyebutkan nama cowok, pasti Mamanya bakal bertanya lebih banyak lagi.


       "Hmm itu ma, teman sekolah dulu. Lagian Dei juga bosan di rumah mulu." jawab Dei kembali.


       Dela pun mengangguk. "Ya sudah nggak papa, sana deh istirahat pasti kamu cape banget."


       Dei pun hanya tersenyum dan langsung bergegas menuju kamarnya itu.


        Memikirkan nya tadi membuat Dei merasa sangat takut, untungnya Mamanya itu tidak menanyakan yang Macam-macam. Dei pun mengusap wajahnya itu, melihat kearah ponsel dan langsung bergegas untuk mengecas nya. Ia pun berjalan menuju kearah lemari baju dan bersiap-siap untuk bersih-bersih.


...~~~...


       Disebuah tempat yang berbentuk markas dan terdapat tulisan RAJAWALI sudah berkumpul beberapa cowok ditempat itu. Terlihat ada yang sedang bermain kartu, ada yang sedang merokok dan yang paling mencuri perhatian satu orang cowok yang sedang Senyum-senyum sambil melihat ponselnya.


       "Woi bos, ngapain lu Senyum-senyum gitu," ucap Egi pada Regan yang tak memperdulikan temannya tersebut.


       "Anjir iya, baru ini gue liat lu Senyum-senyum sendiri," ujar Rahm salah satu cowok disitu.


       "Jangan bilang lu lagi suka sama cewek ya...." ujar Egi Tiba-tiba, yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Regan.


       "Cewek yang jadi pembantu yang lu bilang itu Gi?" tanya Reo teman mereka juga.


       Egi pun hanya mengangkat alisnya itu sambil tersenyum, sampai sebuah sendal terbang membuat senyuman itu hilang.


       "Gila lo bos, kasar amat."


       Regan tidak menghiraukan Teman-temannya itu, ia memilih untuk keluar dan menjauh dari Teman-temannya. Kini Regan hanya sendiri didepan markas geng mereka, ia kembali melihat sebuah kontak di ponselnya itu.


       Sepertinya benar apa yang dikatakan Teman-temannya, dirinya sedang jatuh cinta pada seseorang yang awalnya ia benci. Apalagi saat ia sengaja mengajaknya kesebuah taman tadi sore, itu membuat hatinya Benar-benar merasa begitu bertebar.


       Tiba-tiba Regan menggelengkan kepalanya. "Lo mikirin apa sih Gan! Engga mungkin lo suka sama cewek aneh itu." Ucapnya pada dirinya sendiri.


       Regan pun langsung menyimpan ponselnya dan kembali ke tempat Teman temannya itu.


BERSAMBUNG.......


hay semua apa kabar?


Arsyah mau nanya dong.


Kalian tau cerita ini dari mana?


Selalu dukung cerita ku ya... Dan jangan lupa votenya....


Terimakasih

__ADS_1


See you....


__ADS_2