D. Deirsh & Depresinya

D. Deirsh & Depresinya
Part 18


__ADS_3

..."Kadang kita tau mimpi lebih indah dari kenyataan. Tapi kita tak berpikir, sebuah ilusi bisa membuat hidup kita berantakan."...


 


       Tidak ada yang tau takdir selanjutnya bagi setiap orang. Mau itu kebahagiaan, kesedihan ataupun duka, kita hanya menyiapkan perasaan itu semua dan melawan takdir yang siap untuk mengejutkan kita.


       Seperti adegan film yang sedang disaksikan oleh Dela dan putrinya. Dimana dalam film tersebut dua pemeran utama yang awalnya begitu bahagia namun akhirnya takdir meminta mereka untuk berpisah selamanya.


       Dela yang terbawa dengan suasana filmnya itu sudah menghabiskan beberapa lembar tisu yang sudah berserakan. Sedangkan Dei, dirinya hanya termenung dari awal film itu dimainkan karena sesuatu yang masih ia pikirkan. Tapi karena Dela meminta Dei untuk menemaninya dan berpikir bahwa ia akan melupakan sesuatu yang menganggu nya sekarang, ternyata salah ia justru masih merasa begitu gelisah.


       Dei melihat Mamanya bergerak untuk mematikan film yang sudah selesai mereka tonton dan kembali untuk membersihkan sisa makanan yang berserakan.


       "Ma!" panggil Dei.


       "Iya sayang! Ada apa?" ucap Dela sambil membersihkan meja.


       Dei diam sejenak. "Ma, apa saudara kita ada yang sedang dirawat?"


       Pertanyaan Dei membuat Dela langsung menghentikan aktifitasnya, ia pun segera mendekati Dei yang terdiam duduk di sofa.


       "Kenapa kamu nanya itu! Emang ada apa sayang?" tanya balik Dela yang cukup penasaran akan pertanyaan putrinya tersebut.


       "Dei cuma pengen tau aja sih ma, soalnya beberapa hari Dei selalu mimpi aneh gitu," jelas Dei.


       "Mama kurang tau sih, tapi sepertinya nggak ada. Kalau pun ada pasti mereka bakal hubungi kita."


       "Lagian itu juga cuma mimpi, ingat! Mimpi juga bisa sebagai bunga tidur saja kan," sambung Dela yang langsung di anggukan oleh Dei.


       "Ya sudah kamu istirahat sana, udah malam juga nih," suruh Dela.


       "Dei ke kamar duluan ya Ma, malam."


       "Malam sayang." Ucap Dela dengan ciuman hangat di kening putrinya itu


       Lampu disebuah kamar terlihat sudah dimatikan, hanya tersisa lampu hias yang terletak dimeja. Malam sudah semakin larut tapi sebuah tangan lentik masih betah menulis sesuatu, Dei tidak bisa tertidur ia masih juga memikirkannya.


       Mencatat apapun yang dia ingat dalam mimpi itu sampai benar-benar tau apa maksud dari mimpi tersebut. Dei meletakkan penanya, memandang dirinya sendiri disebuah kaca tepat dihadapannya itu.


       "Apa nama rumah sakitnya." Ucap Dei pelan dalam kesunyian.


       Ketika ia terbangun disebuah kantin rumah sakit Dei masih mengingat mimpi itu, berjalan disepanjang lorong dan mendengar seorang wanita paruh baya menangis begitu histeris ia juga masih mengingat nya.


       Cuma siapa wanita tersebut? Kenapa mimpi itu seperti mengarahkan Dei pada wanita itu yang selalu menang di depan sebuah ruangan. Dei menatap lembaran kertas yang sudah ia tulis, kembali termenung sambil mendengarkan detakan jam yang terus berputar hingga larut.


       "Apa ini mimpi!"


...~~~...


       Suara langkah kaki terdengar saat sedang menuruni anak tangga. Dengan terburu-buru Regan hanya mengambil sesuatu yang tertinggal di rumahnya itu, tanpa ingin berlama-lama ia pun berjalan begitu cepat untuk pergi dari rumahnya.


       "Den Regan mau langsung pergi lagi?" tanya bi Sayu melihat Regan yang ingin pergi lagi.


       "Regan hanya ngambil sesuatu."


       "Jadi Regan harus pergi lagi," sambung Regan yang bersiap-siap ingin pergi.


       "Tapi Den! Aden baru saja tiba...." ucap bi Sayu.


       Mendengar itu Regan pun langsung menatap wanita tersebut yang sudah ia anggap sebagai ibunya. "Regan harus pergi bi! Regan engga bisa Lama-lama disini."


       Setelah mengucapkan kalimat itu ia pun langsung pergi begitu saja. Tidak ada sesuatu yang membuatnya harus selalu berada di rumah itu, bahkan setiap dirinya berada di dalam rumah tersebut, ia malah merasa begitu sesak tanpa ketenangan.


       Kini Regan sudah berada di halaman markas gengnya. Mendapatkan info dari Teman-temannya ia langsung bergegas begitu cepat. Regan pun langsung memarkirkan motornya itu, mengambil beberapa bungkusan cemilan yang ia beli dan langsung berjalan masuk kedalam markas tersebut.


       Bungkusan cemilan yang baru saja Regan letakan di sebuah meja, kini sudah diserbu oleh Teman-temannya itu tanpa memperdulikan dirinya. Regan pun memutar bola matanya begitu malas sambil melepas jaketnya dan memilih duduk di sebuah sofa yang cukup besar.


       Setelah dapat apa yang Teman-temannya inginkan mereka pun kembali bersantai sambil menikmati cemilan yang sudah dibelikan oleh Regan.


       "Bos! Gue kok enggak pernah lihat cewek yang di apartemen lo lagi?" tanya Egi membuka percakapan.


       "Ngapain lo nanya-nanya?" balas Regan bertanya.


       "Wah... Kok ngegas, gue kan cuma nanya bos!"


       "Dah gue pecat."


       Mendengar jawaban Regan, Egi pun hanya Mengangguk-anggukan kepalanya itu sambil melanjutkan mengunyah cemilan yang ada ditangannya.


       "Cewek itu bukannya cewek yang lo suka ya!" ujar Reo Tiba-tiba membuat Regan langsung kaget dan melempar bantal yang didekat nya pada muka Reo.


       "Anjir lo bos, main lempar aja."


       "Mau gue jahit mulut lo," ucap Regan kesal.


       "Kejam banget lo... Tuh Egi yang bilang kalau lo suka sama tuh cewek."


       Regan pun langsung menatap kearah Egi yang sudah cengengesan tak bersalah. Melihat ada kain lap Regan pun mengambilnya dan langsung menyumpalkan ke dalam mulut Egi yang masih asik mengunyah.


       Malas mendengar ocehan dari teman satunya itu, Regan memilih untuk pergi menuju toilet yang berada di markas tersebut.


       "Gila lu bos, nih kain kotor anjir malah dimasukin ke mulut gue...." Kesal Egi yang masih terdengar oleh Regan.

__ADS_1


       Kini para geng RAJAWALI hanya bersantai dengan kegiatan Masing-masing. Regan yang awalnya sedang fokus dengan ponselnya, langsung dikagetkan oleh Rahm yang Tiba-tiba berteriak.


       "ANJ**G," teriak Rahm membuat yang lain pada kaget.


       "Gila lu Rahm! Jantungan gue," ujar Egi.


       Tanpa menghiraukan Egi, Rahm langsung menunjukkan sesuatu di ponselnya pada Regan yang merasa bingung.


       "Gan lihat nih...."


...   --------------- 081356******* ---------------...


Lu bilang sama bos lu... Dtng ketempt biasa sma semua geng payah lu itu....


16: 43


Karena Racer akan mengalahkan geng Rajawali mlm ini....


16: 44


...------------------------------...


       Melihat pesan tersebut Regan mengerutkan dahinya. Bagaimana tidak musuh geng nya yang sudah lama tak ada kabar Tiba-tiba mengajak geng nya tersebut untuk memulai kembali.


       "Enggak tau diri ya tuh geng, padahal kalah mulu mereka, tapi gayanya kayak geng paling hebat...." ucap Egi kesal.


       "Geng enggak guna ya gitu, hanya menang di mulut aja," sambung Bian.


       "Jadi Gan, bakal ladenin geng mereka nih kita!" ujar Rahm menatap Regan.


       Orang yang ditatap pun menganggukkan kepalanya. "Siapkan aja Anak-anak yang lain nanti malam."


       Sebuah kalimat terakhir yang keluar dari mulut Regan sebelum ia pergi dari markas tersebut.


       Ditempat lain seorang wanita sedang bersantai sambil mengayunkan ayunan yang ia naikan itu. Deirsh yang baru selesai membersihkan halaman memilih duduk sebentar diluar sebelum kembali ke dalam rumah.


       Menikmati hembusan angin sambil menatap langit sore yang sudah terlihat senja membuat dirinya jauh merasa tenang tanpa memikirkan apa yang sedang terjadi padanya.


       "Dei! Mama masuk duluan ya, soalnya Mama belum sholat ashar." Ucap Dela yang langsung menyadarkan lamunan Dei.


       Dei pun hanya menganggukkan kepalanya dan kembali menatap kearah langit. Mendengar kalimat Mamanya, membuat ia teringat pada seseorang yang selalu membuatnya kesal.


       "Mau kemana?" tanya Dei saat itu.


       "Udah waktu ashar, gue mau Sholat." jawab cowok itu.


       Tanpa sadar sebuah senyuman kembali terukir diwajahnya saat kembali mengingat waktu itu. Cowok kasar dengan penampilan yang urak-urakan bahkan memiliki tatto dileher nya, tapi cowok itu masih ingat dengan Tuhan.


       "Bagaimana kabar dia yah!" Gumam Dei pelan.


...~~~...


       "Gaya mau ngelawan geng RAJAWALI, tapi batang hidungnya pun nggak kelihatan sekarang." Ucap Egi


       Tidak lama saat Egi berbicara, terlihat dari ujung jalan segerombolan motor menghampiri mereka. Mengetahui itu, Regan langsung mematikan ponselnya dan memasukkan ke dalam bajunya tersebut.


       Saat Orang-orang yang baru tiba itu membuka helmnya satu persatu. Regan langsung tertuju pada seseorang yang begitu ia benci. Deon, ketua geng RACER yang selalu mencari masalah pada gengnya.


       Dengan sedikit smirk diwajahnya, Deon berjalan mendekat kearah Regan. Begitu dengan Regan yang seperti menantang akan kehadiran musuhnya itu. Kini sebuah tatapan telah bersatu, sebuah tatapan amarah ada di masing-masing mata mereka.


       "Gue bakal ngasih kesempatan ke lo! Supaya lo nanti enggak bakal malu, mending lo ngakui kekalahan lo sekarang," ucap Deon begitu songong.


       Mendengar itu Regan menunjukkan smrik diwajahnya tersebut. "Bahkan belum ngelawan, lo udah yakin bakal menang?"


       "Mimpi," sindir Regan.


       "Oke kalau lo mau nya gitu.... Karena gue yakin geng gue bakal menang malam ini," balas Deon.


       "Oke, kita buktikan."


       "MAJU!!!" Teriak Regan pada seluruh geng nya.


BUGH!


       Dua geng tersebut kini telah beradu dengan lawannya masing-masing, jalanan yang awalnya begitu sepi kini menjadi begitu rusuh karena pertengkaran kedua geng itu.


       "Aihhh... Bosan gue selalu ngeladenin lo terus," ujar Egi pada musuhnya itu.


       "Ngapa! Takut kalah." Balas lawannya.


BUGH... BUGH!!!


       Tanpa ingin menjawab, Egi langsung menendang perut musuhnya tersebut begitu kuat, sebuah tinjuan pada rahang pipi lawannya itu pun tak lupa ia berikan.


     


       "Gimana, masih kalah enggak!" Ejek Egi pada Musuhnya yang sudah tergeletak tak berdaya.


       Sedangkan Bian kini sudah menendang salah satu dari musuhnya itu hingga kehilangan keseimbangan.


       "BAN*SAT!!!" Teriak pria tersebut tak terima dengan serangan Bian.

__ADS_1


BUGH!!!


       Baru ingin melawan pria tersebut sudah terjatuh karena satu tinjuan yang diberi oleh Bian. Melihat musuhnya itu sudah kalah, ia pun berdecih meremehkan musuhnya tersebut yang tak sepadan dengan dirinya.


       Dan begitu pun dengan yang lain, tendangan, tinjuan Bahkan tangkisan dari lawan sudah mereka lakukan. Bahkan sudah ada beberapa orang yang sudah tergeletak tak berdaya karena hantaman dari Anak-anak RAJAWALI.


       Sedangkan Deon yang merasa dirinya mulai melemah untuk melawan Regan, ia pun mengeluarkan sebuah pisau kecil yang terlihat begitu tajam dari dalam bajunya. Tanpa menunggu berlama-lama Deon pun langsung menyerang Regan begitu brutal.


       Tau akan kecurangan dari musuhnya tersebut, Regan hanya berusaha menghindari dari pisau yang dipakai oleh Deon dan berusaha untuk melawannya. Karena melihat Deon yang begitu brutal melawan dirinya, ia tak bisa mengelak pisau yang berhasil menggores tangannya tersebut.


****....


       Regan sedikit meringis karena goresan tersebut. Melihat Deon yang tersenyum melihat dirinya, Regan langsung menendang tangan Deon dan berhasil menjatuhkan pisau yang dipegang nya itu. Tidak mau kehilangan kesempatan, Regan langsung mengambil pisau tersebut dan langsung menyerang Deon yang masih fokus pada tangannya yang baru saja ia tendang.


       "AKH, BAN*SAT."


       Melihat itu Regan hanya terkekeh melihat tingkah musuhnya tersebut yang begitu payah. Terlalu bangga akan ucapannya tapi kalah akan perbuatan nya.


       Deon menatap Regan begitu emosi, karena sudah merasa malu akan ucapannya sendiri, ia memiliki ide yang tau akan kelemahan Regan. Berjalan perlahan mendekati Regan dan menatap matanya begitu seksama.


       "Lo begini karena merasa kesepian kan!" ucap Deon pelan.


       Regan yang mendengar nya langsung mengerutkan dahinya itu. "Maksud lo apa?"


       "Karena lo, enggak pernah ngerasain kasih sayang seorang keluarga kan!"


Deg....


       Kalimat yang diucapkan Deon langsung menusuk ke hati Regan. Pikiran Regan kini kembali pada masa lalunya, kebencian pada rumahnya yang selalu ia anggap bagai penjara kini muncul kembali pada otaknya itu, tanpa sadar mata tajam tersebut mulai berkaca-kaca dan Regan mengeratkan genggaman tangan yang begitu mengerikan.


       Deon, berpikir bahwa cara itu berhasil membuat Regan merasa rapuh. Langsung tersadar akan tinjuan yang Tiba-tiba diberikan pada Regan, karena dirinya salah untuk memicu kekalahan.


BUGH... BUGH!!!


       Tinjuan yang begitu dahsyat tepat pada pipi kanan kiri Deon. Tidak sampai disitu Regan langsung menendang hingga membuat Deon terjatuh.


BUGH!


       "Lo salah cari alasan agar gue kalah." Tekan Regan dengan suara yang cukup mengerikan.


       Dengan tangan nya yang sudah berada di kerah baju milik Deon, Regan siap melayang kan kembali tinjuan di rahang pria di bawahnya itu.


BUGH!!!


       Karena suara tinjuan Regan yang begitu kuat, membuat semua orang yang awalannya sedang baku hantam kini terdiam melihat Regan yang seperti kesetanan memukul Deon begitu brutal.


       "Pisahin mereka, bisa mati Deon di buat Regan." ucap Reo pada yang lain.


       Tau apa yang harus mereka perbuatan, Egi dan Rahm berusaha untuk memisahkan Regan yang masih menghajar Deon terus menerus.


       "Gan udah gan, bisa mati anak orang lo buat," jelas Rahm pada bos nya itu.


       "DIAM KALIAN... ENGGAK USAH IKUT CAMPUR URUSAN GUE!!!" Teriak Regan penuh Emosi.


BUGH... BUGH!!!


       Sebuah tinjuan tak henti-henti Regan berikan, bahkan terlihat Deon sudah sangat tak berdaya dengan muka yang penuh dengan darah.


       "****... Akh...."


       "G-gan udah... Gu-gue, Ma-maaf...." Ucap Deon dengan Terbata-bata.


       Walaupun begitu Regan tidak menghiraukan ucapan Deon yang sudah kesakitan. Regan malah melanjutkan pukulan pada wajah Deon tanpa kasihan.


BUGH... BUGH... BUGH!!!


       "Akh... T-tolong maafin gu-gue."


       Egi, Reo, Rahm, Bian dan yang lainnya bahkan anak buahnya Deon hanya terdiam melihat Regan yang begitu sangat brutal. Mereka belum pernah melihat Regan begitu mengerikan seperti sekarang, bahkan mereka tidak berani untuk memisahkan dua orang tersebut.


       Kembali tak menghiraukan ucapan musuhnya tersebut, Regan malah membalikkan badan Deon dan menginjaknya tepat dibawah leher belakang nya tersebut. Ia menatap musuhnya yang sudah tergeletak itu begitu lama dengan tatapan yang sulit diartikan, ucapan yang tak lama musuhnya itu lontarkan membuat dirinya begitu sangat marah.


       "Mulai sekarang, gue lihat lo lagi, jangan harap lo bakal bisa nafas untuk selamanya." Kalimat terakhir yang keluar dari mulut Regan sebelum dirinya menendang begitu kuat pada kepala Deon hingga tak sadarkan diri.


BUGH!!!


       Suara yang begitu nyaring membuat yang lain langsung memalingkan wajah mereka karena tak sanggup melihat apa yang Regan lakukan. Sampai Regan perlahan menjauh dari tubuh Deon yang sudah tak sadarkan diri.


       Melihat itu Anak-anak RACER langsung menghampiri bos mereka yang begitu sangat prihatin. Sedangkan Anak-anak RAJAWALI hanya melihat Regan berjalan dengan tertatih menuju motornya tanpa ingin mendekati bos mereka.


       Regan terdiam sejenak diatas motornya itu, memejamkan matanya sejenak dan teringat kembali kalimat yang menyakitkan tersebut


       "Karena lo, enggak pernah ngerasain kasih sayang seorang keluarga."


       "AKHHHHH...." Regan berteriak begitu keras sebelum dirinya pergi dari tempat itu.


BERSAMBUNG....


Hy semua apa kabar?


Jangan lupa vote dan komennya yaa...

__ADS_1


See yoo di part selanjutnya.... :))


Luvvv


__ADS_2