
..."Dia! Mampu membuat ku tersenyum kembali."...
"Dokter... Dokter...." teriak seorang wanita begitu panik.
"Dokter, dia kejang kejang dok...."
Dokter tersebut pun langsung segera masuk dan memeriksa pasien tersebut. Sedangkan wanita yang berteriak tadi, hanya bisa berdiri menunggu diluar ruangan dengan begitu cemas, hingga pintu ruangan itu terbuka.
"Dok gimana keadaannya, nggak terjadi Apa-apa kan dok?" tanyanya.
"Keadaannya semakin melemah." ujar Dokter tersebut, membuat wanita itu begitu lemas saat mendengarnya.
"Tapi kami akan berusaha semaksimal mungkin, supaya keadaan pasien kembali normal." Sambung sang Dokter, dan langsung masuk kembali ke dalam ruangan pasien itu.
Ia terduduk disebuah bangku dengan begitu lemah. Dia berpikir, keadaan itu! Keadaan yang begitu menyakitkan harus terjadi pada gadis manis itu.
...~~~...
Deirsh, ia menutup kembali pintu rumahnya setelah melihat Mamanya pergi untuk bekerja. Dei terdiam sebentar, ia harus membereskan pekerjaan rumahnya secepat mungkin, dan setelah itu harus pergi untuk melakukan rutinitas barunya.
Kini ia sudah berada didalam bus, setelah kemarin ia pergi menggunakan sepedanya dan hari ini ia lebih memilih untuk pergi menggunakan bus karena ia baru tau tempat itu cukup jauh. Awalnya Dei sedang menunggu angkutan umum biasa, tapi sayang ia menunggu cukup lama dan langsung memilih bus walaupun biayanya cukup mahal.
Selama diperjalanan Dei hanya memandang jalanan kota dengan sentuhan musik yang ia dengarkan lewat earphonenya. Sebenarnya tidak ada yang menarik dengan jalanan kota baginya, bermacam kendaraan, berbagai toko dan kemacetan, itu selalu ia lihat.
Hingga sebuah notif ponsel menganggu telinganya yang sedang asik mendengarkan musik.
...------------- kk Regan -------------...
Lo mau kbur dri tgung jwb lo?
09:36.
...------------------------------...
Dei melihat pesan itu, ia menghembuskan nafas kesalnya. Hanya karena dia tidak sengaja menabrak motor pria itu, ia kini harus menjadi seorang pembantu. Dei melihat kearah ponselnya kembali, ingin rasanya untuk membiarkan pesan itu, tapi ia takut pria itu bakal lebih marah padanya.
...------------- kk Regan -------------...
^^^Maaf kak! Dei lagi diperjalanan...^^^
^^^Soalnya macet banget......^^^
^^^09:38^^^
Gw tnggu lo...
09:38
...------------------------------...
Setelah mendapat balasan, Dei kembali menghidupkan musik sambil menatap kemacetan yang sungguh membosankan.
Pukul 10:20 WIB Dei baru sampai didepan Apartemen pria itu, Dei langsung bergegas masuk sebelum dirinya dimarahin lagi. Hingga Dei tiba tepat didepan pintu, ia mengatur nafasnya sebentar dan setelah itu Dei menekan bel tersebut.
Setelah beberapa kali mencoba menekan bel, pintu apartemen milik pria itu pun terbuka. Terlihat jelas wajah yang cukup mengerikan bagi Dei, bahkan dirinya hanya menunduk takut jika pria dihadapannya itu marah.
"Masuk," ujar Regan.
Tanpa ingin menjawab Dei pun masuk, ia kini hanya terdiam sambil melihat sang pemilik tempat itu menutup pintu.
"Lo telat 20 menit!" ucap Regan dingin.
Mendengar itu Dei langsung menatap Regan. "Tapi kak, dijalan macet banget."
"Gue nggak butuh alasan, kalau udah telat ya telat."
Dei langsung terdiam, tanpa berani menatap pria didepannya itu.
"Sebagai hukumannya, kerjaan lo gue tambah... Hari ini lo harus masakin makanan buat gue," sambung Regan.
"Tapi kak, Dei hari ini harus pulang cepat."
"Gue nggak peduli, dah sana kerja." ujar Regan yang langsung pergi ke kamarnya.
__ADS_1
Kini Dei sedang mengerjakan pekerjaan terakhirnya. Dei tak habis pikir dengan Regan, padahal baru semalam ia membersihkan semuanya tapi sekarang apartemen ini kembali berantakan. Satu lagi, padahal pria itu hanya tinggal sendiri, dan sekarang ia harus mencuci piring kotor yang cukup banyak.
"Apa dia semalam buat pesta!" gumam Dei pelan.
Setelah Dei merapikan Piring-piring yang sudah dicuci, ia pun bergegas untuk pulang. Tapi baru ingin mengambil tasnya, Dei ingat ada satu pekerjaan lagi yang belum ia selesaikan.
"Dei... Lo belum buat makanan." ujar Dei pada dirinya sendiri.
Untung ia mengingatnya, kalau tidak habis dirinya dimarahin oleh sang pemilik apartemen tersebut.
Ia pun langsung menuju kulkas, melihat Bahan-bahan makanan apa saja yang bisa ia masak.
Hingga Dei membuka kulkas tersebut, dan langsung terlihat raut wajah yang seketika berubah. Ia Benar-benar terkejut, bagaimana bisa pria itu menyuruh nya masak tapi tidak ada sedikit pun Bahan-bahan makanan di kulkas mewah di hadapanya itu.
Dei menunduk kesal. "Salah apa sih Dei, sampai ketemu orang seperti ini."
Dari sekian lama, baru kali ini Dei merasa kesal pada seseorang. Ia pun menutup kembali kulkas yang tidak ada gunanya itu.
Sudah terlihat sangat lelah, tapi harus bagaimana lagi Dei harus bertanggung jawab dengan apa yang telah ia lakukan. Dei mencoba mendekat kesebuah pintu kamar yang tertutup, dan perlahan mengetuk pintu itu.
Tok... Tok... Tok....
Dei sudah mengetuk tapi belum ada respon dari sang pemilik kamar. Dei menghembuskan nafasnya dan mencoba kembali untuk mengetuk pintu tersebut, belum sempat tangannya itu mengetuk, pintu pun terbuka dengan memperlihatkan pemilik kamar yang masih belum sadar sepenuhnya.
"Apa! Dah siap semua?" tanyanya.
Dei menatap pria itu, sambil menggelengkan kepalanya. "Bahan-bahan untuk masak nggak ada kak!"
"Oh nggak ada! Yaudah beli sana."
Kalimat itu Benar-benar membuat Dei yang dulunya sabar menjadi orang yang Benar-benar kesal sekarang.
...~~~...
Seseorang kini sedang melamun didepan sebuah cafe, pandangan yang lurus seperti tertarik dengan sebuah objek. Sedetik semenit pandangannya masih seperti itu, sampai berpikir apakah memang ada sebuah objek yang membuat nya tertarik, atau isi pikirannya yang menarik.
"Hei! Belum pulang?"
Hingga dirinya sadar dari lamunan itu. "Hmm, belum masih ingin nyantai dulu disini."
Pria yang menyapa itupun duduk bersamanya. Selagi belum ada pengunjung dia bisa menggunakan waktunya untuk istirahat.
"Iya sih, tapi malas aja dirumah."
"Yaudah lembur aja, bantuin gue disini."
"Ogah, mending gue nyantai," ujarnya kesal, sedangakan pria itu hanya tertawa.
Kini mereka kembali diam, melihat Orang-orang yang sedang berjalan mencari kebutuhan mereka. Sampai dirinya membuka pembicaraan.
"Udah hampir dua minggu ya, dia nggak kerja," ucapnya, membuat pria yang sedang melamun langsung menatapnya.
"Gue kangen kak sama dia."
"Betah ya dia tidur lama banget," sambungnya.
Pria itu sedikit menahan nafas lalu menghembuskan nya. Teringat lagi gadis itu dalam pikirannya, walaupun ia selalu menjenguk tanpa absen setiap hari.
"Kejadian itu Benar-benar membuat gue kaget," ujar sang pria.
"Bukan lo aja kak, kita semua kaget pas dengarnya," sambung cewek itu.
"Yaudah deh kak, Salwa mau pulang." ucap Salwa yang Siap-siap ingin pulang.
"Bye, semangat kerjanya kak Eza." Ujar Salwa sedikit mengejek dan langsung pergi meninggalkan Eza yang masih duduk ditempatnya.
Ditempat lain disebuah supermarket, terlihat dua orang sedang mencari Bahan-bahan makanan. Sang wanita yang fokus dengan belanjaannya dan sang pria hanya diam sambil mengikuti nya dari belakang.
Deirsh, kini ia sedang berjalan dengan troli belanjaan yang ia dorong. Sebenernya Dei sekarang Benar-benar kesal, ia yang mengira pria yang dibelakangnya sekarang itu ingin mengantarnya pulang, malah justru mengantarnya untuk belanja makanan untuk pria itu
Andai ia seperti Teman-teman SMA nya dulu, pasti pria yang berada dibelakangnya itu sudah ia lempari dengan Barang-barang sekitarnya.
"Kak! Ini mau belanja apa?" tanya Dei berani.
"Ya mana gue tau, lu kan cewe ya aturnya lu tau lah," balas Regan yang membuat Dei tambah kesal.
__ADS_1
Karena tidak ingin mencari masalah, Dei pun menahan emosinya. "Tapikan Dei nggak tau kakak sukanya apa?"
Regan yang hanya diam dengan posisi coolnya, langsung menatap kearah Dei. "Gue makan apa aja, yang penting bisa dimakan."
Mendengar ucapan itu Dei langsung menganggukkan kepalanya dan lanjut mencari Bahan-bahan makanan, begitu dengan Regan yang juga mengikuti Dei dari belakang.
Troli yang didorong Dei kini sudah penuh dengan belanjaan, mereka pun langsung segera menuju kasir untuk membayar nya. Tapi saat berjalan menuju kasir Dei melihat seorang anak perempuan yang kesusahan mengambil sesuatu yang lebih tinggi dari anak tersebut.
Dei pun langsung menghampirinya, Regan yang heran pun terpaksa mengikuti Dei juga.
"Hai! Adek mau apa?" tanya Dei lembut pada anak perempuan itu.
"Cila mau ngambil coklat itu, tapi cila nggak nyampe," ujar anak itu sembil menujuk kearah tumpukan coklat.
Dei pun tersenyum. "Yaudah kakak ambilin ya."
"Nih." Dei memberikan coklatnya pada anak tersebut, sebuah senyuman langsung terukir diwajah anak perempuan itu.
"Makasih kak."
"Ini pacar kakak ya," sambung anak itu sambil menunjuk kearah Regan.
Mendengar itu Dei dan Regan langsung kaget, bagaimana bisa anak tersebut menganggap Dei berpacaran dengan pria yang sangat menyebalkan itu.
Dei pun langsung menggelengkan kepalanya. "Bukan, itu teman kakak."
"Ohh...." Anak itu pun langsung pergi meninggalkan Dei dan Regan.
Kini tinggal mereka berdua lagi, Dei yang Tiba-tiba merasa aneh pada dirinya langsung pergi menuju kasir tanpa menghiraukan Regan yang terus menatapnya.
...~~~...
"Ma udah, biarin Dei aja yang bersihin," ucap Dei pada Dela yang sedang membersihkan sisa makan malam mereka.
"Serius nih," ujar Dela.
Dei pun mendekati Mamanya dan mengambil lap yang ada ditangan Dela. "Iya ma, Mama istirahat aja dikamar."
Dela tersenyum melihat putrinya. "Yaudah Mama ke kamar dulu ya."
Dei mengangguk, melihat Mamanya berjalan ke kamar dan melanjutkan pekerjaannya.
Setelah selesai membereskan sisa makan malam mereka dan ia belum merasa ngantuk, Dei memilih untuk menyiapkan sayuran supaya besok pagi ia hanya tinggal memasaknya saja.
Beberapa sayuran dan bahan untuk membuat sup sudah ia selesaikan, Dei pun langsung menyimpan sayuran yang sudah ia potong dikulkas. Setelah selesai mengerjakan semuanya ia pun langsung mencuci tangannya dan pergi menuju ruang tamu.
Melihat jam sudah pukul 21:18 malam Dei belum merasa ngantuk, padahal hari ini ia cukup banyak melakukan kegiatan. Dei pun memilih untuk keluar menikmati angin malam.
Malam yang cukup cerah dengan ribuan bintang yang terlihat dilangit gelap. Dei pun sudah duduk di ayunan, membayangkan Jam-jam sekarang biasanya ia masih berada dicafe.
"Lama juga ya enggak kerja." ujar Dei pada dirinya.
Sebenarnya Dei merasa sedikit aneh, mereka yang Tiba-tiba diliburkan hanya karena bos mereka ingin pergi untuk liburan. Seperti tidak masuk akal, tapi Dei selalu menepis Pikiran-pikiran aneh itu.
Dei pun mengambil ponselnya, mencoba menghubungi Salwa tapi nomornya tidak aktif, Dei pun mencari kontak Eza tapi sama saja nomornya pun tidak bisa dihubungi.
Sangat bosan itu yang Dei rasakan sekarang, ia hanya diam sambil menatap Bintang-bintang dilangit, hingga seseorang dimasa lalunya teringat kembali oleh Dei.
"Jika kamu merindukan aku, lihatlah bintang setiap malam. karena aku, akan selalu menjadi bintang di setiap malam mu."
Kalimat itu, sebuah kalimat yang ia rindukan dari seseorang teringat kembali dipikirannya. Bintang menjadi kenangannya dan malam menjadi saksinya.
Saat Dei menatap keatas kembali, satu bintang Tiba-tiba bersinar begitu terang dari Bintang-bintang lainnya, seperti ingin membuat ia fokus pada bintang tersebut.
"Aku tau itu kamu," ucap Dei pelan.
"Dan malam ini aku merindukan dirimu." Sambung nya tanpa bisa menahan air matanya menetes.
BERSAMBUNG.......
Hai apa kabar semua....
Udah bulan September aja yyy
Semoga Hari-hari kalian bahagia terus....
__ADS_1
Dan jangan lupa vote cerita ku ya dan juga sebar keteman-teman kalian
Luvvv youuu.....