D. Deirsh & Depresinya

D. Deirsh & Depresinya
Part 17


__ADS_3

..."Ketika aku sudah mulai sendiri, disitu aku merasa kehilangan."...


 


       Suara-suara bising dari berbagai kendaraan menemani beberapa remaja yang sedang bersantai dipinggir jalanan kota. Dengan beberapa jajanan dan minuman yang menambah kesenangan bagi mereka.


       Beberapa dari remaja itu ada seorang pria hanya diam santai sambil menghirup asap rokok yang sedang ia isap. Ketika yang lain sibuk mengobrol ia hanya fokus pada kendaraan yang berlalu lalang di jalanan itu.


       Sebuah motor berhenti tepat di hadapannya, mencampakkan sebuah bungkusan dan langsung turun menghampiri dirinya yang masih sibuk dengan rokoknya tersebut.


       "Memang enggak tau waktu," ucap Carles malas.


       "Sorry bro, lu mah tau ibu kota macetnya enggak ketulungan," balas Reno pria yang baru tiba itu.


       Carles hanya memutar bola matanya malas dan langsung fokus dengan bungkusan yang dicampakkan tadi. Carles memang sudah memesan sesuatu pada temannya itu, sebuah minuman dan beberapa bungkus rokok juga.


       "Eh iya les, gue mau nanya," ujar Reno sambil menghidupkan rokoknya.


       "Zena sekarang dimana?" tanyanya.


       Carles pun langsung mengangkat kedua alisnya. "Ngapain lo Nanya-nanya cewe gue!"


       "Aiss... Gue nanya doang anjir, jangan langsung emosi napa."


       "Ya nggak biasanya lo nanyain cewe gue," ucap Carles kesal.


       "Soalnya gue kek liat pacar lu tadi pas di minimarket...." ujar Reno terhenti saat ingin minum.


        "Tapi gue liat nya kek sama cowo gitu!" sambung Reno membuat Carles langsung emosi.


       "ANJ**G LO! Enggak mungkin itu Zena, dia baru chat gue," teriak Carles marah.


       "Yaudah jadi gue salah liat, tapi ya jangan emosi juga jir."


       Tanpa ingin menjawab Carles langsung mengambil minuman dan menghabisinya sekaligus. Sedangkan Reno hanya geleng-geleng melihat temannya itu.


       Kini suara nyanyian terdengar ditempat mereka bersantai, bersenandung dengan Lagu-lagu galau ditambah suara petikan gitar milik salah satu dari mereka, begitu lah cara mereka bersantai saat sedang berkumpul.


       "Lo besok jadi ke bar?" tanya Reno sambil memainkan ponselnya. Karena sudah menunggu tapi tidak ada jawaban Reno pun melihat kearah Carles yang hanya diam.


       "Les! Lo ditanyain malah diam aja," ucap Reno kesal.


       "Hah! Lo nanya apa!" ujar Carles yang sepertinya sedang tidak fokus.


       "Lo besok jadi main enggak?" tanya Reno lagi.


       "Oh jadilah gue dah janji."


       "Besok gue ikut."


       Carles pun hanya mengangguk sebagai jawaban. Ia kembali fokus pada ponselnya sekarang, melihat sebuah kontak yang selalu ia pikiran dari beberapa menit yang lalu.


...~~~...


       Dei yang saat ini tidak memiliki kegiatan pun membantu mama dan tantenya di toko, sesekali ia memperhatikan Mamanya yang sedang membuat baju milik pelanggan. Karena ia belum mengerti banget, Dei pun hanya membantu yang ia bisa saja, seperti mencatat ukuran dan memotong kain.


       "Bos kamu emang belum pulang Dei?" tanya Erin di sela-sela pekerjaannya.


       "Belum tan," jawab Dei.


       "Aneh ya, padahal kalian juga bisa kerja terus walaupun bos kamu pergi." Ucap Erin yang hanya dibalas dengan senyuman saja.


       Mereka pun kembali dengan pekerjaan nya dan Dei langsung fokus dengan potongan kain yang ia kerjakan, Karena ia takut jika ada kesalahan yang ia berbuat.


       "Dei! Sana beli nasi untuk makan siang kita," pinta Dela yang langsung memberikan uang pada putrinya.


       "Sama ini Dei, tante nitip minuman-minuman segar ya...." ujar Erin.


       Dei pun mengangguk dan langsung bergegas. "Yaudah Dei beli dulu ya,"


       "Hati-hati." Ucap Dela.

__ADS_1


       Saat diperjalanan ada beberapa warung nasi yang buka dan kini Dei sudah berada di warung makan tempat langganan mereka. Karena memang sudah waktu makan siang, Dei harus mengantri karena banyak sekali yang beli, bahkan ada beberapa yang makan ditempat.


       Merasa pesanan nya sudah siap, Dei pun langsung mendekat untuk mengambil pesanan tersebut. Dei pun langsung mengambil dan membayar nya.


       "Makasih kak," ucap ramah pelayan tersebut.


       "Sama-sama."


       Dei pun langsung keluar menuju sepedanya. Tapi baru saja ia ingin pergi, tak sengaja Dei melihat Eza yang tak jauh dari tempat dia berdiri, karena dekat Dei memilih jalan tanpa sepedanya itu.


       Tapi sayang ia menabrak seseorang dan membuat belanjaan orang tersebut jatuh berantakan. Dei yang merasa bersalah langsung membantu orang tersebut dengan membereskan belanjaannya itu.


       "Maaf ya kak, saya enggak Liat-liat soalnya," ucap Dei sedikit bersalah.


       "Enggak papa kok, saya juga tadi enggak Liat-liat." Balas orang tersebut.


       Saat semua belanjaan sudah beres, Dei pun langsung memberikan belanjaan tersebut pada orang itu.


       "Sekali lagi maaf ya kak."


       "Iya nggak papa, saya duluan ya...." ucap orang dan langsung pergi.


       Dei pun tersenyum sambil melihat orang tersebut berjalan pergi. Sampai ia kembali fokus pada tujuannya.


       "Ya pasti kak Eza udah pergi." Ucap Dei sambil memastikan Eza masih ada atau sudah pergi.


       Kini Dei, mamanya dan tantenya pun baru saja selesai makan siang. Dei berjalan kesebuah sofa untuk istirahat sebentar sebelum membantu tantenya kembali. Dari tadi pagi ia tidak ada melihat ponselnya, bahkan ia mematikan nada dering ponselnya itu. Saat ia melihat ponselnya, betapa kagetnya ia melihat ada beberapa panggilan telepon yang tidak terangkat, Dei pun langsung menghidupkan internet nya untuk melihat ada pesan masuk atau tidak.


       Dan benar saja ada beberapa pesan dari Regan yang tidak ia sadari, karena penasaran cowok itu mengirim pesan apa, Dei pun langsung melihatnya.


...---------------- kk Regan -----------------...


Woi angkt tlpon gw...


11:23


Lo ngapin sih????


11:24


Oii jgn sok sibuk woi....


11:24


Ah gila gk diangkt juga


11:26


Karena lo gk angkt angkat telpon gw...


Gw bilang disini aj.


11:27


Gw mau bilang, mulai minggu bsk lo gk ush dtg ke aprt gw lagi...


Hukuman lo dah selesai


11:29


Dan lo jgn buat masalh lgi sma gw.


11:30


...------------------------------ ...


       Setelah melihat semua pesan itu Dei sedikit bingung, ia berpikir bahwa hukuman nya masih ada beberapa minggu lagi, tapi cowok itu sudah membebaskannya. Dei langsung geleng-geleng kepalanya saat tersadar apa yang sedang ia pikiran dan seharusnya ia senang kalau hukumannya selesai, jadi dirinya tidak harus susah ke apartemen cowok itu dan membersihkannya.


       Dei pun kembali melihat isi pesan dari Regan, ia ingin membalas pesan itu tapi bingung apa yang harus ia ketik.


...--------------- kk Regan ---------------...

__ADS_1


Dan lo jgn buat masalh lgi sma gw.


11:30


^^^Iya kak,^^^


^^^maaf sebelumnya udah nyusahin kakak.^^^


^^^13:27^^^


...------------------------------...


       Dei pun meletakkan kembali ponselnya, seharusnya bukan dia yang nyusahin tapi cowok itu yang sudah nyusahin dirinya. Tapi apa boleh buat tidak mungkin Dei Marah-marah pada Regan, bisa jadi hukuman dirinya bakal berlanjut terus.


...~~~...


Tik... Tok... Tik... Tok....


       Suara detakan jam sedikit menganggu telinganya. Matanya yang hampir terbuka langsung tertahan dengan rasa sakit di seluruh tubuhnya itu, samar-samar ia hanya melihat jarum jam yang berputar tanpa fokus ke angkanya.


       Aroma ruangan yang sulit ia pikiran saat itu, membuat nya tak mengingat apa pun. Yang dirasakan ia hanya seperti berbaring di suatu tempat dengan tubuh yang begitu lemas. Perlahan ia kembali membuka matanya tersebut, tak ada yang berbeda hanya sebuah jam yang terlihat begitu samar-samar sampai mata itu pun kembali terpejam.


Kring......


       Dei langsung terbangun mendengar alarm yang lupa ia matikan. Ia pun meraih jam tersebut dan mematikan nya, tak lupa ia melihat jam berapa saat itu dirinya terbangun.


       "Jam setengah enam!" Gumam Dei dengan nyawa yang masih setengah tertidur.


       Dei pun memilih untuk menarik selimutnya dan kembali tertidur, tanpa sadar dirinya barusan bermimpi dengan begitu nyata.


       Pagi hari Dela sudah menyibukkan diri di dapur. Ia harus menyiapkan sarapan dan buru-buru membereskan rumah sebelum berangkat ke toko adiknya. Aroma sup yang ia buat kini tercium keseluruhan ruangan, Dei yang merasakan aroma itu pun langsung menghampiri mamanya.


       "Mama udah masak aja nih!" ujar Dei yang baru tiba di dapur.


       "Iya mama hari ini harus lebih awal ke toko tante kamu, soalnya lagi banyak pesanan baju," jelas Dela yang masih fokus dengan masakannya.


       "Yaudah ada yang bisa Dei bantu enggak nih," ujar Dei.


       "Enggak usah, udah mau siap kok sayang, kamu mandi aja dulu, biar nanti langsung sarapan."


       "Eh iya, nanti kamu nyapu halaman ya, soalnya mama enggak sempat bersihinnya. Tapi rumah sudah beres kok, tinggal halaman luar aja," sambung Dela.


       "Siap ma." Angguk Dei sebelum bergegas menuju kamarnya untuk mandi.


       Setelah membersihkan halaman rumah yang tidak terlalu kotor, Dei pun kembali ke dalam rumah. Ia memilih untuk ke kamar dan membuka laptopnya. Semenjak dirinya tidak harus bertanggung jawab lagi pada Regan, Dei cukup merasa bosan berada di rumah saja.


       Biasanya saat ini dia sudah diperjalanan menuju apartemen cowok itu, terus membereskan apartemen nya, masakin makanan hingga ia lupa akan waktu.


       Dei menutup kembali laptopnya tersebut dan bergegas keluar, menuju kearah dapur dan membuat secangkir teh hangat untuk dirinya.


       "Bosan ya di rumah terus." Gumam Dei.


       Saat sedang termenung suara detakan jam yang berputar diruang tamu membuat Dei seperti ingat sesuatu, ia berusaha untuk mengingat nya tapi nihil. Hingga ia kembali tersadar dengan Mimpi-mimpi yang hampir sebulan ini ia rasakan.


       "Ya mimpi itu, aku selalu memimpikan hal yang sama." Ucapnya.


       Rumah sakit, dokter, wanita menangis, itu selalu ada dalam mimpinya. Dei cukup terganggu dengan mimpi itu, bahkan ia selalu merasa tidak tenang saat mendapatkan mimpi tersebut lagi.


       Tapi saat berada di mimpi itu, ia merasa begitu nyata ada didalam nya. Bahkan ia cukup familiar saat mendengar suara wanita yang terus saja menangis didepan ruangan pasien.


       "Kamar empat belas." Ingat Dei.


       Bahkan ia mengingat nomor ruangan tersebut, tapi apa maksudnya! Apa sangkut paut dirinya dengan mimpi tersebut. Dei mengingat kembali kenapa ia selalu mendapatkan mimpi itu, hingga ia mengingat sesuatu yang terjadi padanya.


       "Awal mimpi itu! Saat Setelah aku hampir saja kecelakaan." Ucap Dei pelan.


BERSAMBUNG.....


Hi semua jangan lupa vote dan komennya yaa....... :)


See you di part selanjutnya 💜

__ADS_1


__ADS_2