
Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) adalah persekutuan dagang asal Belanda yang memiliki monopoli untuk aktivitas perdagangan di Asia, Sebenarnya VOC adalah perusahaan Hindia Timur, karena bukan hanya VOC, tapi juga ada Geoctroyeerde Westindische Compagnie yang memiliki wilayah dagang di kawasan Hindia Barat. Perusahaan ini merupakan perusahaan multinasional pertama di dunia sekaligus merupakan perusahaan pertama yang mengeluarkan sistem pembagian Saham.
VOC bukanlah perusahaan dagang biasa, tetapi badan dagang yang istimewa karena didukung oleh negara dan diberi fasilitas serta hak-hak istimewa (octrooi). Misalnya VOC boleh memiliki tentara, memiliki mata uang, bernegosiasi dengan negara lain sehingga menyatakan perang.
Pada tahun 1596, empat kapal ekspedisi dipimpin oleh Cornelis de Houtman berlayar menuju nusantara atau Indonesia. Ekspedisi yang dilakukan oleh Houtman mencapai Banten, pelabuhan lada utama di Jawa Barat, disini mereka terlibat dalam perseteruan dengan orang Portugis dan Penduduk lokal. Houtman berlayar lagi ke arah timur melalui pantai utara Jawa, sempat diserang oleh penduduk lokal di Sedayu berakibat pada kehilangan 12 orang awak, dan terlibat perseteruan juga dengan penduduk lokal di Madura menyebabkan terbunuhnya seorang pimpinan lokal. Setelah kehilangan banyak awak, maka pada tahun berikutnya mereka memutuskan untuk kembali ke Belanda.
Pada 20 Maret 1602 itulah VOC didirikan oleh Perdagangan Belanda. Pada masa itu pula terjadi persaingan sengit antara negara-negara Eropa, yaitu Portugis, Spanyol, Inggris, Prancis, dan Belanda, untuk memperebutkan hegemoni perdagangan di Asia Timur. Karena hak-hak istimewa yang dimiliki oleh VOC layaknya sebuah negara, VOC bisa membuat perjanjian kenegaraan bahkan menyatakan perang terhadap suatu negara.
Penjelasan guru sejarah di depan kelas membuat kepala salah satu murid perempuannya berdengung karena pusing dengan banyaknya tahun, nama, kejadian, serta apapun itu membuatnya sangat kesal.
“Stella! Kapan VOC berdiri?.” Pertanyaan dari guru sejarah yang dilemparkan pada Stella atau Estella Wijaya membuat gadis itu gelagapan menoleh kesana kemari berharap ada yang memberitahunya walaupun hanya tahun saja.
“Emm itu aaa 1800?.”
“Baca halaman 15 sekarang!.”
“Baik Bu.” Stella membuka buku mata pelajaran sejarahnya dan membaca kembali Sejarah berdirinya VOC dengan lantang hingga poin terakhir bab tersebut.
Pada tahun 1603, VOC memperoleh izin di Banten untuk mendirikan kantor perwakilan dan pada 1610, Pieter Both diangkat menjadi Gubernur Jendral VOC pertama, tetapi memilih Jayakarta sebagai pusat administrasi VOC. Sementara itu, Frederik de Houtman menjadi Gubernur VOC di Ambon tahun 1605 dan setelah itu menjadi Gubernur untuk Maluku tahun 1621. Sehingga pada tanggal 31 Desember 1799 banyaknya pejabat VOC yang terlibat korupsi menyebabkan beban utang VOC menjadi semakin banyak, sehingga VOC sendiri bangkrut dan pailit. VOC dinyatakan bubar oleh Gubernur Jenderal VOC Van Overstraten, semua utang piutang dan segala milik VOC diambil alih oleh pemerintah Belanda.
Pada tanggal 5 Januari 1808, Daendels tiba di Batavia menggantikan Gubernur-Jenderal Albertus Wiese. Daendels mengemban tugas yang diberikan oleh Raja Louis dari Hollandia untuk melakukan reformasi pemerintahan yang korup peninggalan VOC.
Triiingggg
Suara bel istirahat menghentikan Stella yang tengah membaca materi, semua siswa menutup bukunya masing-masing termasuk guru sejarah yang meninggalkan kelas. Stella menghembuskan nafasnya sambil meletakkan kepalanya di atas buku sejarah yang masih terbuka lebar.
“KENAPA ADA SEJARAH DI MUKA BUMI INI!.” Kesal Stella.
__ADS_1
“Kalo nggak ada sejarah, nggak ada ceritanya Mada jadi mantan gue.” Jawab Kinan, sahabat Stella yang paling dekat dengannya. Kinan atau Kinanti Putri adalah gadis paling populer di sekolah karena kecantikannya yang Indonesia banget, kalau ada yang tanya bagaimana wajah orang Indonesia, tinggal lihat saja Kinan, karena dia wajah orang Indo asli, kulit sawo matang, rambut hitam legam, dan juga manis.
Sedangkan Stella jauh berbeda dengan Kinan, kadang Stella malah iri pada Kinan yang wajahnya sangat manis dan cantik dengan kulitnya yang sehat. Estella Wijaya, anak keturunan Indo Belanda yang lahir di Indonesia, ibunya orang Indonesia, dan ayahnya orang asli Belanda. Stella memiliki satu saudara kandung yang wajahnya sangat lokal, dia kakak laki-lakinya yang bernama Nicolas Wijaya, memiliki jarak umur 3 tahun dengan Stella, sekarang tengah menempuh pendidikan di salah satu kampus ternama di Indonesia.
“Lo kalo nggak bisa move on dari Mada kenapa gak balikan aja sih Na.”
“NO! Gue nggak mau ya jilat ludah sendiri, lagian Mada juga nggak ngajak balikan, ngapain gue yang minta putus malah minta balikan.”
“Ya udah deh terserah lo, gue laper. Kantin yuk.”
Stella beranjak dari tempat duduknya menarik Kinan untuk pergi ke kantin bersamanya. Bukan hanya Stella sendiri yang orang campuran, ada satu laki-laki yang kemudian dijadikan bahan ceng-cengan dengan Stella kalau mereka tidak sengaja bertemu. Namanya Jansen, anak kelas 12 IPA 1, lumayan pendiam dan sering mendapatkan juara dalam olimpiade.
“Cieee ada Jansen tuh La.” Ucap Kinan sambil menyenggol lengan Stella.
“Ga jelas lo.” Stella berlalu meninggalkan Kinan dan duduk di sala satu meja kosong di kantin sekolah mereka.
“Padahal Jansen lumayan ganteng loh, tapi kenapa sih lo nggak suka sama dia.”
“Iya deh iya, awas aja kalo lo ntar naksir sama Jansen.”
“Ga!.” Stella menoleh ke arah Jansen yang duduk sendiri di mejanya sambil makan, pandangan mereka bertemu untuk pertama kali. Stella tidak mengerti dengan anak itu tapi baginya Jansen hanyalah anak aneh yang tidak pantas berteman dengannya, atau malah Stella yang pusing sendiri karena liat dia yang terus membaca bukunya walaupun sambil makan.
Tapi kali ini berbeda, Jansen menatapnya berbeda, matanya seakan menggambarkan rasa yang sangat sedih. Entah kenapa membuat Stella merasakan kesedihan itu secara tidak langsung, ada yang ingin dia katakan padanya, tapi tidak bisa, hanya itu yang Stella tangkap dari Jansen hari ini.
“Lo mau apa? Biar gue aja yang pesen.” Ucap Stella pada Kinan untuk menghindari kontak mata dengan Jansen.
“Gue Bakso aja yang jumbo ga pake mie.”
__ADS_1
“Oke, minumnya?.”
“Kayak biasa.”
“Oke bentar.” Stella menuju ke kedai bakso dan memesan dua, untuknya dan Kinan sekaligus.
Lagi-lagi Stella melihat kearah Jansen yang duduk di mejanya sendirian, tapi Stella masih merasa kalau Jansen juga melihatnya. Dia jadi berpikir sepertinya Jansen termakan omongan orang-orang yang terus mengejeknya.
“Stella!.” Panggilan seseorang membuat Stella menoleh, disana ada Raden, anak kelas 12 IPS 2 yang sedang mengejar-ngejarnya, mungkin dua atau tiga kali Randen mendapatkan penolakan dari Stella setelah menyatakan perasaannya. Raden bukan cowok jelek yang semua orang kira, dia terkenal satu sekolah karena tampan, tapi gitu lah kalau tampan pasti ada dua jenis, tampan goodboy, atau tampan badboy. Raden ada di kategori tampan badboy, langganan BK, Bolos kelas, nilai jelek, dan satu lagi yang paling populer, player.
“Kenapa?.”
“Jutek amat.”
“Berisik.”
“Lo kosong nggak nanti? Gue denger lo suka Keshi.”
“Lo dapet tiketnya?.” Tanya Stella antusias.
“2.”
“Gue mau dong, lo jual nggak?.”
“Enggak, tapi gue mau kasih ke lo, syaratnya cuma lo dateng sama gue aja.”
“Oke ayo!.”
__ADS_1
Bersambung
Sumber : Wikipedia