Daendels Estella

Daendels Estella
Rumah Bordil


__ADS_3

Kasihan, hal pertama yang Stella rasakan saat melihat warga lokal pada zaman ini, atau mereka disebut sebagai pribumi. Kedatangan Daendels bersama seorang wanita Belanda di sebelahnya menjadi pemandangan untuk pribumi yang berada di sepanjang jalan menjajakan dagangannya saat Stella dan Daendels mengunjungi sebuah pasar rempah-rempah. Bau rempah-rempah yang menusuk hidung beberapa kali membuat Stella bersin, Stella itu anak mama yang tidak pernah berada di dapur, apalagi tau perihal bumbu masakan, dia hanya tau cara makan makanan yang ada di atas meja.


“Anda tidak suka bau rempah-rempah?.” Pertanyaan singkat dari Daendels membuat Stella menoleh ke arah pria itu.


“Saya hanya tidak bisa terkena bau yang menyengat.”


“Kalau begitu kita akan pergi ke sisi pasar lainnya.”


Stella hanya mengangguk, toh dia tidak tahu tempat ini sama sekali, mau kemana dia pergi kalau tidak ikut dengan Daendels. Sebuah pasar yang menjual aksesoris lucu, dari gelang-gelangan hingga aksesoris lainnya yang berasal dari batu asli. Di masa depan, aksesoris seperti ini hanya menyerupai batu tapi aslinya tetap berbahan plastik.


Stella turun dari kereta kuda, di bantu Daendels yang turun lebih dulu. Gadis itu memegang tangan Daendels untuk turun sambil memegang rok nya yang besar. Sambil terus menggaet tangan Daendels, mereka berdua berjalan sekitar pasar tersebut yang penuh dengan barang-barang bagus.


“Saya sudah datang kemari saat dalam menyelesaikan pekerjaan, pribumi membuat kerajinan tangan sendiri, mereka membuat aksesoris dari hasil bumi.” Daendels berhenti disalah satu penjual kalung gelang dan aksesoris sejenisnya, penjual itu nampak sangat ketakutan saat Daendels mendatanginya.


“A-ada Y-yang B-bisa Sa ya ban tu Tuan?.” Tanyanya dengan gelagapan.


Namun, senyuman Stella berhasil membuatnya sedikit tenang. Stella memberikan senyuman pada wanita paruh baya penjual aksesoris tersebut “Barang yang anda jual sangat bagus, jika boleh saya menanyakan pendapat. Menurut anda, mana yang cocok untuk saya pakai.”


Wanita itu melihat ke arah Stella dengan seksama, rasa kagum dia tunjukkan secara terang-terangan. “Anda sangat cantik, kalung ini cocok untuk anda pakai.” Dia menunjukkan satu kalung sederhana tapi menurut Stella kalung itu indah untuknya.


Stella melihat kearah Daendels, seperti paham dengan apa yang gadis itu inginkan. “Saya akan mengambil itu untuk calon istri saya.” Jantung Stella seakan berhenti berdetak saat Daendels memperkenalkannya sebagai calon istri, dia masih 18 tahun, mana mungkin dia menikah di umur semuda ini, walaupun jika suaminya setampan Daendels.


Stelle hanya mengulas senyuman, tidak ingin memperpanjang masalah ini, hanya sebuah pengakuan semata, Daendels punya alasan sendiri mengakui dirinya sebagai calon istri. Wanita itu memberikan kalung tersebut pada Stella, “Terimakasih.”

__ADS_1


Tidak membayar, Stella melihat kearah Daendels kembali. “Mana uangnya?.” Tanya Stella lirih, sebenarnya dia kesal karena maksud Stella itu, belikan kalung untuknya pakai uang, bukan meminta.


“Tidak perlu nyonya, tuan Daendels telah banyak membantu kami.” Ucap Wanita itu membuat Stella semakin tidak nyaman.


“Anda memberikan barang maka anda harus mendapatkan hal yang sepadan.” Ucap Stella dengan sangat ramah.


Daendels pun mengeluarkan beberapa perak dari saku pakaiannya yang memberikan itu pada Stella “1 perak?.” Tanya Stella kembali dengan wajah heran.


“Itu harga yang sepadan.” Jawab Daendels pada Stella.


“1 lagi.”


Tanpa menolak ucapan Stella, Daendels kembali mengeluarkan 1 perak dari sakunya dan memberikan pada Stella. 2 perak untuk kalung yang Stella terima, gadis itu tersenyum senang dengan barang yang dia bawa.


Stella mengangguk.


Daendels menghentikan langkahnya dan melihat ke arah Stella, masih dengan tatapan dinginnya tapi menurut Stella di balik wajah dingin itu, dia adalah pria yang sangat hangat. Daendels mengambil kalung tersebut dan memakaikan di leher Stella “Sangat cantik.”


Stella hanya tersenyum malu-malu, apakah orang zaman dahulu memang selalu mengungkapkan banyak hal secara blak-blakan, kalau di zaman nya tidak akan ada yang mengungkapkan dengan secara langsung seperti ini, lewat chat. Bahkan pacaran saja banyak yang secara virtual, video call sampai pagi dan sebagainya.


Mereka melanjutkan langkahnya menuju ke area paling dalam di pasar tersebut, Stella menjumpai sebuah rumah tertutup dimana para orang Belanda juga keluar masuk dari sana dengan membawa wanita pribumi. Lokasinya cukup jauh dari Stella berdiri, Daendels juga sudah mengajaknya naik keatas kereta kuda kembali, karena harus melanjutkan perjalanan ke tempat lain.


“Tunggu, disana tempat apa?.” Stella membuat Daendels melihat ke arah rumah yang ditunjuk oleh Stella.

__ADS_1


“Rumah bordil.”


Bodoh kalau Stella tidak tahu mengenai rumah bordil, di film-film banyak yang menayangkan sebuah tempat untuk para pelacur dan perempuan pemuas nafsu. Rumah Bordil adalah sebuah sebutan untuk tempat seperti itu, yang pada zamannya tidak lagi dipakai, sebuah rumah bordil yang berkedok tempat hiburan malam.


Stella melihat banyak wanita pribumi yang berada di sana, dia tidak tahu apakah mereka memang bekerja disana atau sengaja diambil untuk bekerja disana “Mereka bekerja disana?.”


“Iya. Bisnis rumah bordil memang tidak akan pernah bisa ditutup sampai kapanpun. Awalnya memang dari orang Belanda sendiri yang membutuhkan hiburan, mengingat kami yang tidak bisa menyalurkan nafsu setelah lama melakukan perjalanan, kami juga tidak bisa mengirim wanita yang kami inginkan dari Belanda. Sehingga pilihan terakhir adalah dengan pergi ke rumah bordil atau mengambil gundik.” Daendels menghentikan kalimat panjangnya dan melihat ke arah Stella “Sekarang hal seperti ini bukan lagi hal yang tidak diperbolehkan, hanya saja tergantung pilihan masing-masing orang. Pemerintah Belanda juga mendirikan sebuah Vrouwen Tuchthuis (Panti perbaikan perempuan). Tidak sebanyak perempuan yang memilih berada di rumah bordil, tapi sangat membantu.”


Stella hanya mengangguk mengerti dengan ucapan Daendels, namun gadis itu kembali melihat ke arah Daendels. Kalimat yang diucapkan sebelumnya menarik perhatian Stella “Jika anda membutuhkan hiburan pemuas nafsu, apakah anda akan mencari gundik?.”


Daendels tersenyum, “Kehidupan bukan hanya soal nafsu, saya datang kemari untuk merealisasikan pekerjaan yang saya terima. Saya tidak mencari gundik atau berniat mencari gundik, tapi saya sudah memiliki rencana lain. Saya akan segera tua, dan saya membutuhkan seseorang yang baik untuk menemani hari akhir saya.” Pandangan Daendels tertuju pada Stella. “Saat saya melihat anda pertama kali di kapal, saya berpikir bahwa Tuhan telah mengabulkan doa-doa yang saya panjatkan.”


“Apa? Hahaha.” Stella sangat tidak nyaman, dia tau maksud Daendels, tapi bukan berarti dirinya yang terlempar ke tahun 1807 harus menikahi seorang petinggi Belanda yang menjajah negara nya sendiri.


“Saya tahu bahwa anda bukan datang dari dunia ini.” Ucapan Daendels berhasil mengejutkan Stella, gadis itu menoleh dengan wajah serius “Tapi saya tidak tahu anda datang dari mana, terlalu tidak masuk akal saat kapal yang hanya diisi oleh prajurit pria dan anda muncul di dalamnya secara tiba-tiba. Mungkin Awak kapal yang lain bisa menerima saat saya mengatakan jika anda bersama saya sejak awal, tapi saya tidak bisa menerima bahwa anda adalah orang dari dunia ini.”


Stella terdiam, dia tidak mungkin mengatakan kalau dia dari masa depan.


“Anda tidak akan mengatakan asal usul anda pada saya? Saya tidak mempermasalahkannya, tapi apapun yang anda butuhkan adalah tanggung jawab saya, karena anda adalah tamu saya.”


“Terimakasih atas pengertiannya.”


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2