Daendels Estella

Daendels Estella
Peta Hindia-Belanda


__ADS_3

Setelah menyelesaikan kegiatannya bersama Sumi, sore itu saat matahari mulai tenggelam di barat. Keterkejutan menghampiri Stella, dia tidak menemukan kotak yang disimpan di bawah ranjangnya. Kosong, tidak ada apapun disana. Stella kebingungan sendiri, pasalnya hanya dirinya yang tahu mengenai barang itu, kecuali satu orang yaitu Daendels, tapi apa alasan Daendels mengambil kotak miliknya, tidak ada alasan sama sekali.


Jika memang Daendels mengambilnya maka kemungkinan kotak itu ada di ruang kerjanya, satu-satunya tempat yang Daendels selalu kunjungi setiap hari. Stella buru-buru keluar dari kamarnya sedikit mengangkat rok lebarnya dan berjalan menuju ke rumah bundar milik Daendels.


Ceklek ceklek


Ruangan itu terkunci dengan rapat, saat bersamaan Stella melihat Kebon di rumah itu lewat setelah membakar sampah di belakang.


“Apa saya bisa masuk kedalam ruangan Willem?.”


Kebon adalah orang yang bertanggung jawab atas semua kunci di rumah ini, dia kemungkinan juga memiliki kunci ruang kerja milik Daendels.


“Bisa nyonya, sebentar saya ambilkan kuncinya.”


“Terimakasih.”


Stella menunggu hingga kebon kembali membawa kuncinya, pria paruh baya itu memberikan kunci itu pada Stella. Saat pintu terbuka, pemandangan pertama yang Stella lihat adalah Peta Indonesia, dan beberapa titik yang diberikan tanda. Disana juga ada peta pulau jawa dengan keterangan masing-masing.


Yang semula Stella ingin mencari kotak miliknya, dia tertarik pada peta tersebut. Pembuatan jalan yang membentang dari Anyer hingga Panarukan adalah jalan yang diberi nama Jalan Raya Pos, Daendels menuliskan di atasnya dengan nama De Grote Postweg. Di beberapa bagian telah di tandai kekuatan pekerja dalam membangun jalan tersebut, Daendels telah memikirkan sangat panjang mengenai pembuatan jalan itu, termasuk resiko bagi pekerja.


Masih berada di posisi yang sama, tiba-tiba pintu terbuka membuat Stella langsung menoleh kebelakang, rambut panjangnya yang bergelombang bergerak seirama dengan kepalanya yang menoleh.


“Willem.” Sebut Stella saat melihat kedatangan Daendels secara tiba-tiba, dia tidak tau kalau Daendels akan pulang secepat ini. “Saya ha hanya-.”


“Apa yang anda lakukan di ruangan saya saat saya tidak ada?.” Pertanyaan itu keluar dari wajah dingin Daendels, sekarang Stella benar-benar takut.

__ADS_1


Gadis itu meneguk ludahnya dengan kasar dan sedikit memundurkan tubuhnya ke belakang “Saya hanya penasaran dengan ruangan anda, saya ingin menunggu anda pulang tapi saya tidak bisa menahan rasa penasaran itu.” Stella mencoba berbohong untuk menghindari kemarahan Daendels, dia takut jika pria itu semakin marah saat tau bahwa alasan Stella masuk kesana karena mencari kotaknya, Stella takut jika Daendels berpikir kalau dia menuduhnya mencuri kotak itu.


Grabb


Sebuah pelukan yang sangat erat membuat Stella membelalakkan matanya terkejut, “Saya sangat merindukan anda, dua minggu terasa seperti dua tahun saat saya tidak melihat anda.” Kalimat yang keluar dari mulut Daendels membuat Stella terdiam, jantungnya tiba-tiba berdetak sangat kencang, apakah dia boleh jatuh cinta sekarang, rasanya sangat aneh.


Stella membalas pelukan Daendels, menepuk punggung Daendels lembut. Hanya itu yang bisa Stella berikan saat ini, dia tidak ingin menaruh perasaan lebih, karena semuanya yang ada disini hanyalah mimpinya yang dia sendiri tidak tahu kapan dia bangun.


Setelah beberapa detik berlalu, pelukan itu terlepas. Keduanya berada didalam keheningan masing-masing, Stella bingung harus mengatakan apa, Daendels sendiri juga bingung harus mengatakan apa. Hingga panggilan dari Sumi membuat mereka bersyukur bisa terlepas dari keheningan itu.


“Maaf tuan.” Ucap Sumi karena berpikir dia mengganggu kegiatan majikannya.


“Apakah makan malam nya sudah hampir siap? Saya akan membantu anda.” Ucap Stella sambil keluar dari ruang kerja Daendels dan menggandeng Sumi menuju ke rumah utama.


Daendels tersenyum memperhatikan punggung Stella yang mulai menjauh, dia senang karena Stella membalas pelukannya, dia senang saat Stella tersenyum manis padanya. Daendels melihat peta yang ada di depan matanya, terakhir kali dia melihat Stella memperhatikan peta tersebut. De Grote Postweg, salah satu Program Kerja terbesar miliknya, pembuatan jalan yang membentang dari Anyer hingga Panarukan. Tapi sepertinya program ini sangat menarik perhatian Stella sejak awal, bahkan saat semua orang belum mengetahui perihal ini, dia menanyakan lebih dahulu.


Satu hal yang membuat Daendels penasaran, apakah dia datang dari tempat yang sudah memprediksi kejadian ini terjadi. apakah dia datang dari masa depan yang menceritakan mengenai peristiwa ini, Daendels ingin menanyakan hal itu, tapi dia takut konsekuensi dari pertanyaannya akan membuat gadis itu meninggalkannya.


Makan malam yang sangat tenang, hanya alat makan yang beradu satu sama lain, sesekali Daendels melihat Stella yang duduk di depannya, dia sangat cantik dan makan dengan tenang. merasa diperhatikan, Stella mengangkat sedikit kepalanya dan melihat ke arah Daendels.


“Apa ada yang salah dari saya?.”


“Tidak, anda sangat cantik.”


Blush

__ADS_1


Lagi-lagi Daendels berhasil membombardir hati dan pikirannya, kalau Daendels ada di masa depan, cocoknya dia jadi Raden, si cowok Player yang terus mengejar-ngejarnya dengan banyak gombalan norak. Tapi rasanya dia tidak seperti Raden, Daendels berbeda, pria itu bisa membungkus semua ucapan alay nya dengan kalimat yang menurut Stella tidak terdengar alay saat diucapkan oleh Daendels, yang ada Stella malah baper.


“Pipi anda merah, apa anda sakit?.” Daendels berusaha mengulurkan tangannya, namun Stella segera menghindar.


“Tidak, saya baik-baik saja.”


Daendels mengangguk.


“Soal De Grote Postweg, saya melihat anda memperhatikan itu.”


Uhuk uhuk


Stella tersedak saat Daendels sadar atas perhatiannya pada hal itu.


“Maaf.” Daendels memberikan minuman pada Stella dan membiarkannya minum terlebih dahulu. “Saya tidak bisa menundanya lebih lama, De Grote Postweg harus segera direalisasikan untuk membantu pengangkutan, semua kesulitan dalam perjalanan bahkan memakan waktu yang sangat panjang untuk sampai di pelabuhan anyer.”


“Bagaimana dengan para pekerja?.”


“Para pekerja akan di ambil dari pribumi, mereka yang tidak memiliki pekerjaan akan terbantu dengan lapangan pekerjaan ini.”


“Upah nya? Hidup itu memberi dan diberi, jika ada diberi maka anda wajib memberi.”


“Tidak ada hal seperti itu, pekerja membangun jalan untuk dirinya sendiri, itu adalah salah satu pengabdian pada para petinggi yang menjalankan pemerintahan ini dengan baik.”


“Pembangunan jalan itu tidak jadi hanya dalam kedipan mata, pekerja pribumi akan menghabiskan waktu yang bisa digunakan untuk memberi makan keluarganya hanya untuk sesuatu yang tidak menggantikan posisinya sebagai kepala keluarga, apakah itu adil? Anda mengeluarkan maklumat yang sangat adil, tapi anda juga mengeluarkan kewajiban yang sebenarnya sama sekali tidak adil untuk satu pihak.”

__ADS_1


Meja makan malam itu menjadi sangat panas, hawa dingin berubah menjadi panas sekaligus. Stella tidak bisa mengalah, tapi Daendels juga tidak bisa dengan mudah menerima pendapat gadis itu.


Bersambung


__ADS_2