
Pernikahan, sebuah ikatan yang diucapkan dari hati yang paling dalam bersumpah di hadapan Tuhan untuk saling menjaga satu sama lain sebagai pasangan hingga akhir. Tidak ada bayangan jika Stella benar-benar akan menikah, sebentar lagi dia akan menjadi istri seorang pria paling berpengaruh disini, otomatis juga apa yang dia katakan akan mempengaruhi masa depan negara ini. Stella tidak ingin mengecewakan sejarah, dia akan memperbaiki walaupun rasanya akan merubah garis waktu, tapi dia punya empati yang tinggi ketimbang perubahan catatan sejarah, dia tidak akan diam saja jika memang ada penindasan dan ketidakadilan.
Kamar yang Stella tempati sekarang kembali menjadi kamar tamu seperti seharusnya, tapi karena hari ini adalah hari pernikahannya, kamar itu berubah menjadi kamar rias untuknya. Stella melihat penampilannya di cermin, semuanya terlihat sangat sempurna, tudung putih, gaun menjuntai ke lantai serta beberapa aksesoris yang menghias tubuhnya, termasuk cincin ruby serta kalung yang melingkar di lehernya.
“Nyonya sangat cantik, berkali-kali cantik.” Ucap Sumi memperhatikan majikannya dengan takjub.
Stella memilih serta mendesain pakaiannya sendiri, dia juga yang memilih dekorasi untuk upacara pernikahannya di outdoor. Taman itu berubah menjadi sebuah aula resepsi yang sangat nyaman, dengan beberapa bangku dan makanan yang sudah disiapkan dengan rapi, serta di depan juga ada altar kecil untuk mengucapkan janji di hadapan Tuhan.
Beberapa undangan penting sudah berdatangan, Daendels menyambutnya dengan baik, dia tidak banyak bicara tapi selalu mengucapkan terimakasih atas mereka yang datang pada hari ini. Sejak awal Daendels memang tidak menerima hadiah apapun dan tidak akan menerima hadiah untuk pernikahannya, sehingga yang datang benar-benar bertangan kosong.
Jam sudah waktunya Stella keluar, wanita cantik itu berjalan dengan sangat anggun menuju ke altar untuk menghampiri pasangannya. Tatapan Daendels sama sekali tidak teralihkan ke tempat lain, wanita yang dinikahi sangat cantik melebihi sosok indah manapun yang ada di dunia dan Daendels bersumpah atas ucapannya kalau Stella benar-benar membuatnya sangat gila.
Wanita itu berdiri tepat di depan Daendels, tinggi hanya sebatas dagu itu sedikit mendongakkan kepala menatap kearah Daendels hangat. “Saya harap, ini adalah kisah yang nyata dalam hidup saya.” Ucap Daendels lirih.
Mendengar kalimat itu membuat Stella berada dalam pikirannya sendiri, mungkin kisah Daendels nyata, tapi kisahnya disini hanyalah sebuah mimpi belaka. Stella tersenyum manis menanggapi kalimat tersebut, menerima tangan Daendels yang akan menggandengnya untuk bersumpah di hadapan Tuhan.
Dua orang yang telah mengucapkan sumpah itu saling membubuhkan tanda tangannya di sebuah surat nikah. Surat nikah yang jelas ditulis dalam bahasa Belanda, sangat jelas mengingat dua orang sebagai pasangan suami istri. Suara tepuk tangan mengiringi kebahagiaan pada hari ini, Stella tidak bisa berhenti tersenyum, sebagai seorang pengantin wanita tentu saja dia harus memberikan salam kepada seluruh tamu yang datang, tidak banyak tapi cukup membuat Stella kelelahan karena terlampaui gugup.
Daendels menyentuh pundak Stella lembut “Jika anda lelah, anda boleh istirahat lebih awal.” Ucap Daendels.
“Sedikit, sebentar lagi saya akan istirahat.”
“Baiklah, kalau butuh apa-apa anda bisa mencari saya di sana atau bisa menyuruh Sumi.”
“Terimakasih.”
Setelah Daendels pergi menemui beberapa orang penting, Stella beranjak dari tempat duduknya, wanita itu niat berjalan menuju ke kamar Daendels, tapi langkahnya terhenti saat dia melihat orang yang tidak asing. Stella yakin baru melihatnya disini, tapi wajah itu sama sekali tidak asing untuknya.
“Selamat atas pernikahan anda Nyonya.” Sangat sopan tapi membuat Stella penasaran ketimbang tamu lain yang ditemui pertama kali.
__ADS_1
“Terima Kasih, tapi apakah kita pernah bertemu sebelumnya?.”
Pria yang menundukkan kepala itu mulai mengangkat kepalanya dan mengambil kacamata yang disimpan di saku pakaiannya lalu memakainya, Stella membelalakkan matanya sambil menutup mulut.
“Jansen, bukan. Maaf saya salah orang.”
“Aku memang Jansen.” Pria yang menyebut dirinya dengan nama Jansen itu melepaskan kacamata nya kembali dan melihat ke arah Stella “Aku sudah menunggumu datang cukup lama, akhirnya kamu datang juga kesini.”
“Maksudnya?.”
“Jika kamu ingin tahu lebih jauh, kamu bisa datang ke Pengadilan, aku bekerja lama di pengadilan Hindia-Belanda. Aku akan menunggumu disana.” Jansen tersenyum pada Stella “Terima Kasih atas jamuannya, saya permisi nyonya.” Jansen menunduk dan melanjutkan langkahnya.
Tapi Stella masih penasaran dengannya, jelas bahwa itu Jansen teman satu sekolahnya yang selalu dirumorkan menyukainya. Kalau memang dia Jansen, dari bahasa yang diucapkan sudah jelas kalau Jansen mengenalnya. Maka kemungkinan besar dia juga datang ke masa lalu, sama seperti Stella.
“Tunggu.” Ucap Stella menghentikan langkah Jansen “Gue tau ini bodoh, tapi lo beneran dari masa depan kayak gue? Lo Jansen 12 IPA 1 kan?.”
Jansen tersenyum sambil menganggukkan kepala.
Jansen kembali menganggukkan kepala.
Kedatangan Daendels yang berjalan menuju kearah Stella dan Jansen membuat Jansen mengundurkan diri dan meninggalkan lokasi pernikahan. Stella tidak bisa menghentikan kepergian Jansen, dia hanya perlu menuju ke pengadilan sesuai dengan instruksi dari Jansen.
“Siapa? Sepertinya anda sangat mengenalnya?.”
“Apa? Tidak.”
“Ada yang anda sembunyikan dari saya?.”
Stella menunduk “Bukan, saya tidak tahu, dia hanya mengucapkan selamat atas pernikahan kita.”
__ADS_1
“kita?.”
“Iya.” Stella melihat kearah Daendels dengan bingung “Iya kan?.”
“Saya merasa bahagia karena anda menyebut kita.”
“Hahaha... saya akan istirahat.” Stella mencoba menghindari Daendels, pikirannya telah kabur kemana-mana sekarang.
“Sepertinya dia dari Pengadilan Hindia-Belanda.”
Stella melihat kearah Daendels.
“Anda mengenalnya?.”
“Saat pemberantasan korupsi di pemerintahan VOC, saya pernah bertemu dengannya, dia salah satu orang yang berpengaruh di pengadilan. Saya belum pernah berbincang banyak dengannya, jika anda tidak sibuk, anda boleh ikut dengan saya minggu depan untuk menemuinya di Pengadilan.”
“Kenapa? Kenapa saya harus ikut anda?.” Stella penasaran, seakan-akan Daendels tahu dan memberikan jalan untuknya.
“Saya melihat anda berbincang serius dengannya, saya penasaran, tapi saya tidak ingin menanyakan apapun pada anda, jika memang anda ingin bercerita, maka saya akan dengan senang hati mendengarnya.”
“Saya.” Stella menundukkan kepala melihat lantai, berpikir panjang “Saya belum tahu pasti, saya hanya ingin memastikan terlebih dahulu. Jika boleh, saya akan ikut dengan anda minggu depan.”
Daendels memegang kedua tangan Stella “Anda adalah istri saya, anda tidak perlu takut dengan apapun yang saya putuskan. Satu hal yang perlu anda ketahui, bahwa perasaan saya pada anda itu bukan kebohongan, saya mencintai anda sangat tulus. Kebahagiaan anda adalah yang utama bagi saya, apapun yang anda inginkan, sebisa mungkin akan saya kabulkan.”
“Terimakasih telah mengatakan hal itu pada saya. Jika sudah saya pastikan sendiri, saya akan putuskan akan bercerita atau tidak pada anda.”
“Baiklah, saya akan mengantar anda untuk istirahat.”
Mereka berdua berjalan menuju ke dalam rumah.
__ADS_1
Bersambung