Daendels Estella

Daendels Estella
5 Januari 1808


__ADS_3

Ruangan Gubernur Jenderal di kapal besar tersebut adalah ruangan paling mewah di sana, satu tempat tidur besar, meja, serta beberapa barang lainnya. Stella bisa dengan jelas mengenali kalau gelas yang ada di atas meja bernilai jutaan rupiah di jamannya, semuanya asli, pada jaman ini semua tergolong asli, di jamannya banyak sekali barang palsu, tapi disini berbeda. Ibunya suka mengoleksi barang-barang antik terutama guci dan sejenisnya, barang seperti ini pernah Stella temukan dengan harga yang sangat mahal.


“Saya yakin anda bukan penyusup, tapi saya tidak percaya kepada anda sepenuhnya. Selama anda berada di sini, anda akan menjadi bagian dari putri kompeni yang datang bersama saya.”


Putri Kompeni adalah sebutan untuk putri keturunan asli Belanda, berbeda dengan Noni. Tapi mendengar Daendels yang mengatakan itu, setidaknya Stella akan berpikir bagaimana caranya dia pergi dari sini, cara keluar dari dunia ini dan kembali pada dunianya sendiri. Sepengetahuan Stella yang sangat awam, penjajahan Belanda sangat kejam, apalagi saat dia melihat banyak penelusuran tempat horor di Indonesia, dia juga melihat kalau tidak sedikit noni Belanda mati konyol dan gentayangan.


“Terimakasih.” Jawab Stella sedikit menahan takut.


Pandangan Daendels tertuju pada penampilan Stella yang menurutnya sangat aneh, siapa orang yang ada dalam pakaian yang di pakai gadis itu, serta seorang perempuan memakai celana seperti laki-laki. Merasa diperhatikan, Stella melihat kearah Daendels dengan rasa gugup.


“Apa ada yang ingin anda katakan?.”


“Pakaian anda sangat aneh.”


Stella kemudian melihat penampilannya sendiri, dia bahkan tadi sedang bersantai dirumahnya sambil makan camilan dan baca buku dengan Kinan. Kalau dia tau dia akan datang kemari, Stella akan membawa banyak skincare atau paling tidak penampilannya di ubah seperti ratu Inggris.


Tidak ada jawaban yang bisa menjawab ucapan Daendels, Stella sendiri bingung harus mengatakan apa. Perlukah dia mengatakan kalau datang dari masa depan, dia malah akan menjadi bahan laboratorium orang Belanda jika mengatakan hal tidak masuk akal, membayangkan hal itu saja membuat Stella bergidik ngeri.


Melihat Stella tidak mengatakan apapun, Daendels berjalan menuju ke lemari penyimpanan pakaian di sebelah ranjangnya, kemudian mengeluarkan sebuah kain berwarna hijau tua dari dalam sana dan memberikan pada Stella.

__ADS_1


“Anda bisa mengganti pakaian anda dengan gaun itu.”


Stella melihat gaun yang Daendels berikan dan menerimanya “Terima Kasih banyak.”


“Sama-sama, saya keluar dahulu, ada yang harus saya urus.”


“Baik.”


Setelah kepergian Daendels tinggallah Stella sendiri didalam ruangan itu, Stella mendudukkan pantatnya diatas ranjang yang lumayan empuk di jaman itu, tapi sprei nya sangat norak, berwarna merah tua seperti pengantin yang baru selesai menikah, apalagi hiasan-hiasannya sudah seperti kesukaan nenek dan kakeknya.


Stella melihat dress yang berada di tangannya, dress yang sangat cantik, dia tidak tahu lagi harus mengatakan apa tapi dress ini begitu indah membuatnya terpukau. Sepertinya ukuran dress itu sama persis dengan ukuran tubuh rampingnya, Stella melepaskan kaos dan celana jeans yang dia pakai, menyisakan bra dan ****** ******** saja.


“Masa bodoh, gue harus cari tau gimana caranya gue balik kerumah, gue nggak suka sejarah, di kasih bukunya aja udah meledak pala gue, apalagi di lempar ke lokasinya langsung. Walaupun gue tau pasti ini mimpi tapi minimal gue harus bangun sebelum kapal ini sampai di pelabuhan.” Stella menyemangati dirinya sendiri yang sebenarnya juga sudah putus asa.


Stella keluar dari ruangan Gubernur Jenderal, bersamaan dengan itu dia bertemu dengan Daendels yang berjalan dengan dua anak buahnya di luar. Pandangan mereka tertuju pada Stella yang baru saja keluar dari ruangan Daendels, tapi seperti tidak terkejut sama sekali, hanya Daendels yang memiliki reaksi terkejut, sisanya hanya melihat ke arah Daendels sambil tersenyum.


Daendels berjalan menghampiri Stella sambil menyunggingkan senyuman yang menurut Stella malah terlihat sangat menakutkan mengingat bagaimana Daendels sangat menyiksa orang pribumi pada zaman kepemimpinannya.


“Anda sangat cantik, gaun itu adalah gaun yang saya bawa dari Heerde. Saya berharap di umur saya tidak tidak muda lagi, saya menemukan sosok yang akan hidup bersama saya sampai tua.”

__ADS_1


Heerde adalah sebuah kota yang ada di Belanda, tepatnya berada di Provinsi Gelderland.


“Jadi ini gaun pengantin perempuan?.” Tanya Stella dengan wajah yang tidak bisa digambarkan lagi keterkejutannya.


“Benar, sangat cocok untuk anda, saya tidak memiliki gaun wanita lain, jadi anda bisa memakai itu sementara. Rasanya sangat aneh jika anda berpenampilan seperti tadi. Kemungkinan para awak kapal akan berpikir bahwa anda adalah pengantin saya, atau bahkan wanita yang sengaja saya bawa sebagai istri saya. Hanya sampai di Hindia Belanda, setelah itu saya akan membantu anda menemukan keluarga anda.”


Stella hanya mengangguk, mau bagaimana lagi jika memang hanya ada pakaian ini. Kalau di pikir-pikir siapa yang bilang Daendels jelek, dia super ganteng, manusia ganteng yang Stella akui saat ini. Melebihi siapapun, bahkan secara jujur dia lebih ganteng dari daddy nya.


“Ayo, makan malam sudah siap. Anda bisa ikut makan malam dengan kami.”


Stella mengikuti Daendels menuju ke meja makan, siapa bilang kalau mereka akan makan malam bersama. Salah, para awak kapal makan di meja berbeda sedangkan Daendels punya mejanya sendiri dengan banyak makanan yang lebih mewah ketimbang yang lain, pria itu juga menarik kursi untuk Stella duduk.


Pandangan Stella tertuju pada semua awak kapal yang tersenyum padanya, Stella hanya menjawab senyuman itu dengan senyuman yang dipaksakan kemudian mengalihkan pandangannya tertuju pada meja makannya yang berisi banyak makanan. Ada juga bir dan beberapa buah-buahan segar, Stella sudah 17 tahun lebih tapi bukan berarti dia sudah pernah minum-minuman beralkohol, bahkan ini kali pertama dia melihat secara langsung botol minuman tersebut, lebih mewah, mungkin sekarang bir jenis ini dijual dengan harga yang tidak murah.


Daendels melihat kearah Stella sambil menuangkan bir tersebut kedalam gelasnya “Anda mau?.” Tanya Daendels.


“Saya tidak minum.” Stella tersenyum sambil minum air mineral yang ada dalam gelas yang sudah disediakan di sebelahnya.


Perjalanan menuju ke Hindia Belanda di tempuh sangat panjang, bahkan memakan waktu hampir setahun hingga akhirnya kapal bisa berlabuh di pelabuhan. Januari 1808, Kapal yang membawa sekitar lebih dari 20 orang mendarat di pelabuhan. Perjalanan yang membawa Stella beserta orang dalam kapal termasuk Daendels menuju ke Batavia. Kedatangan Daendels menyimpan banyak pertanyaan publik karena dia yang membawa seorang putri kompeni, banyak pejabat tinggi Belanda yang mempertanyakan kedudukan Stella.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2