
Lima hari berlalu rasanya sangat lama untuk seorang Stella, dia sangat merindukan keluarganya. Bahkan saat bangun tidur dia masih berharap akan bangun di kamarnya, melihat para oppa kesayangannya yang ada di dinding. Tapi dia masih di tempat yang sama, kamar jaman dahulu dengan banyak buku di rak. Stella bangun dari tidurnya, sudah sangat lama dia tidak mengguyur tubuhnya dengan air bunga mawar yang wangi.
“Ada yang bisa saya bantu nyonya?.” Sumi yang berada di dekat Stella mengejutkan gadis itu.
“Astaga!.” Stella menyentuh dadanya karena terkejut dengan kedatangan Sumi yang entah sejak kapan berada disana.
“Maafkan saya nyonya.”
“Tidak apa-apa, saya hanya akan mandi seperti biasanya.”
“Baik akan segera saya siapkan.”
“Terimakasih.”
Selama menunggu Sumi menyiapkan air untuknya mandi, Stella duduk di depan kamarnya sendirian, hanya memandangi bunga di taman yang semakin hari semakin banyak tumbuh bunga baru, wanginya pun sampai masuk ke dalam kamarnya. Stella suka berada di kamar itu karena dia merasa sangat tenang dan bahkan tidak ada bau apapun selain bau bunga dan air hujan kala musim hujan.
Sosok yang hampir ditemui secara tidak sadar pun berjalan dari balik tumbuhan menuju kearahnya, dia memiliki tubuh yang tinggi, pakaian yang selalu pas, dan juga senyuman yang perlahan sama sekali tidak membuat Stella takut, yang ada Stella mulai nyaman dengan senyuman itu.
Stella langsung bangun dari duduknya dan membungkukkan badan menyapa Daendels yang menghampirinya “Selamat pagi tuan.”
“Pagi, saya harap anda tidak lagi memanggil saya dengan panggilan tuan. Panggil saja Willem.”
“Tapi saya tidak-.”
“Itu adalah perintah, jadi saya tidak menerima sebuah penolakan.”
“Baik tu- eh Willem.” Stella tersenyum.
__ADS_1
“Bagaimana tidur anda?.” Daendels duduk di kursi depan Stella, mereka berdua duduk berhadapan di meja yang sama.
“Sangat nyenyak, terima kasih atas bantuan anda.”
“Masalah keluarga anda, apakah anda ingin mencarinya hari ini? saya selalu sibuk hingga saya lupa kalau saya harus membantu anda menemukan keluarga anda.”
“Itu.” Stella tau dia terlempar di masa lampau, bukan masa nya, dia tidak akan pernah bertemu dengan keluarganya yang jelas berada di masa depan.
“Saya akan menemani anda untuk jalan-jalan sekaligus mencarinya. Sumi mengatakan saat anda sakit, anda sebelumnya berniat jalan-jalan.”
Stella mengangguk “Saya bosan sehingga saya ingin keluar untuk melihat keadaan di luar.”
“Keadaan di luar sangat bahaya untuk anda, sehingga anda bisa keluar dengan saya hari ini. Kebetulan saya juga akan menemui kolonel Von Lutzow.”
“Apa tidak masalah jika saya ikut dengan anda?.”
“Saya akan sangat senang jika anda ikut dengan saya.”
Setelah beberapa menit berada di kamar mandi, Stella telah siap dengan pakaian indahnya, dress yang sangat cantik. Gadis itu duduk didepan meja riasnya, ada Sumi yang tengah membantunya menyisir rambut pirangnya yang mulai panjang. Sangat panjang, terakhir kali datang kemari tidak sepanjang ini, tapi sekarang sangat panjang dan tumbuh dengan lebat.
“Rambut nyonya sangat indah.” Puji Sumi sambil terus menyisir rambut Stella dengan lembut.
“Terimakasih.”
Bukan hanya merapikan rambut, tapi juga memperbaiki penampilan wajahnya. Jaman ini sudah ada make up tapi sepertinya tidak banyak yang menggunakan dan biasanya hanya keluarga bangsawan yang menggunakan alat make up. Stella sendiri memilih tidak menggunakan apapun, dia tetap dengan wajah cantiknya. Entah karena apa, tapi sekarang Stella sadar kalau tidak ada alasan pasti kulit orang jaman dulu sehat, karena Stella mengalaminya sendiri. Jerawat pun tidak muncul saat dia datang bulan, tidak ada bruntusan, kulitnya sehat, tidak kering sama sekali. Bisa juga karena kebanyakan makan junk food jadi dia gampang bruntusan dan jerawatan, kalau disini mana ada junk food.
Stella keluar dari kamarnya setelah siap, Daendels sudah menunggunya di depan pintu sambil membawa sebuah topi cartwheel. “Saya membeli ini saat berada dalam perjalanan kerja, saya ingat pada anda.”
__ADS_1
Stella tersenyum dan menerima topi tersebut “Terimakasih.” Stella langsung memakainya, satu kata untuk Stella hari ini ‘Cantik’ dia sangat cantik, sepertinya memang Stella cocok lahir di jaman ini, bukan jaman modern. Stella pernah iri pada Kinan yang memiliki kulit sehat dan juga wajah lokal indonesia yang cantik, tapi sekarang dia bahkan kagum pada dirinya sendiri, karena dia baru sadar kalau dirinya juga cantik.
“Cantik.” Kata itu keluar dari mulut Daendels yang terkenal kejam di buku sejarah, seorang Daendels yang dibahas semua siswa tengah memujinya dengan pujian cantik, kasih Stella crown sekarang.
Stella hanya tersenyum malu-malu, menggunakan sebuah kereta kuda, Daendels duduk bersebelahan dengan Stella, dengan satu kusir yang duduk didepan, dibelakang mereka ada para prajurit Belanda yang menunggangi kuda, di bagian depan juga ada dua prajurit Belanda yang menggunakan kuda.
Zaman itu tidak ada bangunan tinggi, tidak ada belanja online, semuanya serba tradisional, bahkan belum ada uang saat itu, mereka masih menggunakan metode barter, kepingan emas, ada uang tapi bentuknya masih perak, bahkan 10 perak itu memiliki nilai yang cukup tinggi di jaman ini.
“Apakah orang-orang Belanda masih berdagang rempah-rempah?.” Pertanyaan awam keluar dari mulut Stella.
“Perdagangan adalah tujuan awal orang Belanda datang ke sini, semuanya masih berjalan seperti biasanya, hanya saja para pribumi dan orang-orang Belanda sendiri kesulitan dalam pengangkutan karena medan jalan yang sulit dilewati.”
Stella melihat kearah Daendels, dia ingat dengan Kerja Paksa dalam pembangunan jalan anyer-panarukan. Stella memang buruk di Sejarah, tapi dia tau kalau Daendels lah yang memerintahkan kerja paksa tersebut, kerja paksa dalam pembangunan jalan.
“Apa anda akan melakukan pembangunan jalan?.”
Daendels melihat ke arah Stella dengan tatapan bingung, dia memang berpikir untuk membuat jalan yang bisa membantu orang setempat, terutama membantu dalam pengangkutan agar tidak memakan waktu lama.
“Saya memang berniat seperti itu tapi saya belum mengutarakan perihal itu karena saya masih sibuk dengan pembagian daerah. Satu orang pemimpin tidak akan pernah bisa memimpin pulau Jawa yang seluas ini.”
“9 Daerah administrasi?.” Tanya Stella
“Iya, saya membagi Jawa menjadi 9 daerah administrasi yang dikelola oleh seorang bupati. Dengan begitu maka setiap daerah akan mendapatkan bagiannya masing-masing secara adil, satu orang di pusat tidak akan bisa memberikan banyak kebahagiaan untuk orang yang berada jauh di ujung. Tapi bagaimana anda tahu perihal ini?.”
“Saya-.” Stella mengutuk dirinya sendiri yang sok tau dan menanyakan hal yang diketahui di masa depan. “Saya tahu dari desas-desus sekitar.”
“Ternyata lebih cepat menyebar dari yang saya kira.”
__ADS_1
Stella seakan tertawa dalam hatinya, di masa depan bukan hanya teknologi yang membuat berita semakin cepat sampai di telinga orang-orang, tapi juga mulut ember tetangga yang hampir 24/7 kerjaannya gosipin orang lain. Ada teman yang ke rumah Stella aja sudah jadi pembicaraan satu komplek, apalagi kalau yang datang lawan jenis, untungnya ada kakaknya jadi kebanyakan di kira teman kakaknya. Padahal teman Stella yang mau mengerjakan tugas kelompok. Stella tidak pernah melarang pemikiran orang lain, tapi kalau pemikirannya terlampaui kolot dan jauh dari kenyataan zaman itu, rasanya juga hidup di lingkungan orang-orang bodoh berpikir sempit.
Bersambung