
Daendels duduk didepan Stella dengan pandangan dingin, gadis cantik itu memejamkan mata, terlelap sangat nyaman dalam mimpi panjangnya. Jam sudah menunjukkan pukul 3 dini hari, kegiatan Daendels setelah ini adalah pergi ke pelabuhan untuk melihat secara langsung pengiriman rempah-rempah ke Eropa. Tangan Daendels terulur menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik Stella, perlahan bibirnya terangkat, jika Stella tidak ada disini apakah dia akan merasakan euphoria seperti ini, apakah rasanya akan sama saat dia bekerja tanpa siapapun yang membuat butterfly effect dalam perutnya.
“Saya takut anda pergi, apakah saya boleh meminta anda tetap berada disisi saya selamanya? Apakah anda tetap akan disini bersama saya? Atau anda benar-benar pergi setelah urusan anda disini berakhir?.” Kalimat itu terus Daendels tanyakan pada dirinya sendiri mengenai Stella, gadis yang dia tahu datang dari masa depan, gadis yang paham sejarah kehidupannya disini.
Cup
Kecupan singkat di dahi Stella mengakhiri pertemuan pada pagi ini, selanjutnya Daendels keluar dari kamar Stella dan menutup pintunya kembali. Pria itu ikut dengan beberapa prajurit Belanda yang bersamanya menuju ke Anyer.
Saat pagi datang, Stella mengerjapkan mata karena cahaya matahari yang menerobos masuk kedalam kamarnya melalui celah jendela yang terbuka. Jam dinding menunjukkan pukul 8 pagi, bukan pagi tapi seharusnya sudah siang untuk seorang perempuan bangun di jam segitu. Stella menapakkan kakinya di lantai, berjalan menuju ke pintu dan membukanya. Terlihat Sumi yang baru saja datang dari arah dapur membawa penampi berisi beras.
“Nyonya sudah bangun? Sarapan sudah siap di meja makan.” Ucap Sumi dengan sangat sopan.
“Willem dimana?.”
“Tuan sudah berangkat ke Anyer, Beliau mengatakan kalau kemungkinan akan pulang lusa, selama itu, anda tidak diperbolehkan keluar rumah sampai beliau kembali.”
Stella hanya mengangguk, memang bahaya jika Stella keluar sendirian, tapi entah dia akan bertahan di sana sampai Daendels kembali atau malah mencuri waktu untuk keluar rumah. Yang pasti sekarang dia bebas untuk tidak mandi dan langsung menuju ke meja makan untuk menikmati sarapan paginya, perut kosongnya sudah meronta-ronta minta di isi. Makanan yang di sediakan di sini selalu makanan yang sehat dan enak, Stella betah dengan makanan seperti ini walaupun tidak ada pizza hut, mcd, dan mixue.
“Nyonya tidak mandi terlebih dahulu?.” Tanya Sumi dengan wajah khawatir karena majikannya yang sangat antusias makan tanpa memperhatikan penampilannya yang masih mengenakan pakaian tidur panjang berwarna putih.
“Saya lapar, lagipula Willem tidak ada, jadi saya mau makan terlebih dahulu.” Stella berjalan menuju ke ruang makan dan menarik satu kursi untuknya duduk, gadis cantik itu melihat makanan di atas meja dengan tatapan lapar. Mengambil ikan, kemudian sayuran, juga nasi sebagai makanan pokok utama.
__ADS_1
Terakhir kali Sumi menyiapkan roti untuk sarapan, karena Daendels hanya makan roti sebagai sarapan pagi. Tapi kemudian semua berubah saat Stella mengatakan kalau dia ingin sarapan nasi dan makanan berat karena Stella biasa tidak makan siang, hanya makan pagi dan sore untuk menjaga berat badannya.
Stella menghabiskan makanan diatas piringnya tanpa tersisa, kenyang adalah satu kata yang pas menggambarkan keadaan gadis itu sekarang. Setelah makan, Stella kembali ke kamarnya, membersihkan badan dan memakai pakaian rapi. Dress cantik berwarna biru muda dengan renda yang lumayan banyak di bagian bawah serta sepatu nyamannya yang memeluk telapak kaki.
Stella berjalan keluar kamarnya sambil membawa dua buku, buku catatan dan buku bacaan yang akan dia baca hari ini. Langkahnya terhenti di depan pintu coklat yang nampak mewah di antara pintu yang lain, Stella tau itu adalah kamar milik Daendels tapi rasanya kamar itu sama sekali tidak berpenghuni walaupun Daendels pulang seharian di habiskan di ruang kerja, pagi pun keluar dari ruang kerja bukan kamar itu.
“Tuan Daendels jarang menggunakan kamarnya sehingga kamar itu selalu tertutup.” Ucapan Sumi membuat Stella menoleh, Sumi tengah membersihkan beberapa perabotan dan hiasan yang terkena debu.
“Kenapa?.”
“Orang yang memiliki jabatan tinggi selalu sibuk di ruang kerjanya, tuan pulang kerja langsung kerja lagi di ruang kerja, jadi tidak sempat meniduri kamarnya. Kalaupun masuk hanya mengganti pakaian.”
Stella hanya mengangguk, Sumi sebagai babu di rumah itu dan hampir setiap jam berkeliling pasti lebih hafal ketimbang Stella yang menghabiskan waktunya membaca buku atau menulis catatan sejarah yang masih dia ingat.
Kamar itu tidak di kunci saat Stella berusaha menarik gagang pintunya “Jangan katakan pada Willem kalau saya masuk kedalam.”
“Baik nyonya.”
Stella melongok ke dalam, kamar yang sangat luas dengan banyak perlengkapan militer, kamar tapi seperti markas tentara. Stella melangkahkan kakinya masuk kedalam, dan menutupnya kembali. Gadis itu mendudukan dirinya di ranjang empuk dengan design dark, tipe seorang Daendels yang Stella tau.
Pandangan Stella tertuju pada sebuah barang di atas meja, kotak berukuran sangat kecil. ‘izin buka dikit aja.’ Ucap Stella dalam hatinya sambil membuka kotak tersebut.
__ADS_1
Matanya berbinar takjub saat melihat isi kotak itu, sebuah cincin ruby yang sangat indah. “Wah ini pasti mahal.” Stella mengambil cincin tersebut dari kotaknya dan memakaikan di jarinya, sangat pas dan cantik.
“Stella, lepaskan. Ini bukan milik lo.” Stella melepaskan cincin tersebut dan mengembalikan ke tempatnya.
Di Masa depan dia tidak akan pernah bisa memakai cincin seperti itu, selain karena harganya sangat mahal, dia juga tidak akan menikah dengan pria kaya yang bisa membelikan cincin seperti itu. Mungkin bisa, tapi tidak akan kepikiran untuk membelikan cincin seperti itu, laki-laki di jamannya bukan laki-laki romantis kebanyakan, kalau tidak diberi tahu atau minimal kode, tidak akan dibelikan.
Stella menghembuskan nafasnya kemudian keluar dari kamar itu, baru membuka pintu langkahnya terhenti saat seseorang bertubuh lebih tinggi darinya berada tepat di depannya. Stella meneguk ludahnya susah payah sembari mendongakkan kepala, disana juga ada Sumi yang hanya menunduk takut.
Pandangan mereka bertemu, Daendels yang entah kapan pulangnya padahal seharusnya dia tidak ada disini sekarang.
“Will-.”
“Apa yang anda lakukan di dalam kamar saya?.” Dingin, kalimat itu dilontarkan dengan nada yang sangat dingin.
“Saya hanya emm itu-.”
“Apakah anda memang suka masuk ke tempat orang lain dengan sembarangan?.” Pertanyaan Daendels membuat Stella mengangkat wajah takutnya dan menatap kearah Daendels tidak suka.
“Saya hanya penasaran dengan ruangan yang tidak berpenghuni ini, itu saja, lagipula tidak ada yang hilang, saya tidak membawa apapun dari dalam kamar anda.” Ucap Stella sedikit kesal. “Maaf, saya telah lancang masuk kedalam kamar anda.” Stella berniat untuk pergi tapi Daendels menahan lengan gadis itu.
__ADS_1
“Ikut saya.” Daendels menarik Stella masuk kedalam kamarnya, membiarkan gadis itu ketakutan saat hanya ada mereka saja di dalam sana.
Bersambung