
Daendels berjalan menuju ke meja nya, pria itu menghentikan langkah dan memperhatikan kotak kecil yang seakan berubah posisinya. Daendels hanya tersenyum kemudian mengambil kotak tersebut lalu menghampiri Stella yang masih berdiri depan pintu.
“Saya tidak tahu kalau anda sudah membuka kotak ini, tapi kotak ini memang saya persiapkan untuk anda.” Daendels membuka kotak kecil tersebut menunjukkan cincin ruby merah yang sangat cantik itu pada Stella “Tanpa melihat kabar yang telah menyebar, saya ingin melamar anda. Rasanya sangat buru-buru bahkan saya tidak mengenal anda sangat jauh, saya tidak tahu anda berasal dari mana dan dimana keluarga anda. Tapi saya tidak bisa menahan perasaan saya lebih lama, saya tidak ingin anda jauh, saya tidak ingin anda berada di luar penglihatan saya. Saya ingin anda berada di sisi saya selama yang takdir bisa.”
Stella hanya terdiam, dia tidak bisa mengatakan apapun selain mencerna kejadian ini dengan baik walaupun pikirannya tidak bisa berpikir tenang. Keadaan ini tidak bisa digambarkan dengan benar, keadaan Stella sekarang pun dia tidak paham apa alasannya dan apakah dia bisa kembali ke dunianya atau tidak. Di sela Stella yang terdiam, Daendels memegang tangan Stella lembut.
“Saya mengerti apa yang anda khawatirkan, tapi saya telah berjanji bahwa saya akan menjaga anda selama berada disini.”
Stella melepaskan tangannya dari genggaman tangan Daendels, jatuh cinta itu tidak semudah apa yang dikatakan. Tapi rasanya mencintai Daendels lebih mudah dari yang Stella bayangkan, dia bahkan telah jatuh hati lama dengan pria itu, bukan hanya karena wajah tampannya tapi juga sikap hangatnya yang tulus. Bohong kalau Stella tidak jatuh cinta pada pria seperti ini, tapi kenyataan menamparnya sangat keras bahwa cepat atau lambat Stella akan kembali, kecuali jika dia memang terjebak di zaman ini selamanya, hanya saja Stella sangat yakin bahwa waktu akan membawanya kembali entah kapan.
“Maaf saya tidak bisa.” Kalimat singkat itu mengakhiri perbincangan mereka, Daendels hanya menatap kepergian Stella yang meninggalkan kamarnya.
Stella berjalan cepat menuju ke kamarnya sendiri, mengabaikan Sumi yang memanggilnya. Dia tidak ingin Daendels melihat perasaannya saat dia masih berada disana dan membiarkan Daendels memperhatikan raut wajahnya yang tidak baik-baik saja.
Baru sampai di dalam kamar, pintu kamarnya tiba-tiba terbuka, langkah kaki itu datang menghampiri Stella dan menarik tubuh Stella hingga berhadapan dengannya. Sangat dekat bahkan Stella bisa merasakan deru nafasnya yang terengah menerpa wajahnya, mata sembab Stella yang terlihat dan bekas air mata yang membasahi pipi menjadi bukti bahwa apa yang dikatakan Stella semuanya kebohongan.
__ADS_1
Bibir mereka bertemu, sangat lembut, ciuman pertama seumur hidup Stella diambil oleh pria dari masa lalu yang mengenalkan dirinya sebagai Daendels, tokoh sejarah yang dikenal sangat kejam dan berkuasa pada zaman itu. Stella memejamkan mata, menikmati setiap sentuhan bibir mereka yang sangat dalam, perasaan cinta yang melabur menjadi satu hingga terlepas saat keduanya membutuhkan oksigen untuk bernafas.
Daendels melihat kearah Stella lekat-lekat, mengusap air mata gadis itu yang berada di pipi menggunakan ibu jarinya. “Saya tahu apa yang anda rasakan, saya tidak memaksa jika memang keputusan anda seperti itu, tapi saya harap anda tidak menyembunyikan perasaan anda hingga melukainya perlahan.”
Tangis Stella pecah, Daendels hanya bisa membawanya ke dalam pelukan, menenangkan dan mengusap punggung Stella lembut. Setelah tenang, keduanya duduk di tepian ranjang, Stella dengan pikirannya sendiri dan Daendels yang berusaha mencari celah untuk mencairkan suasana ini.
“Saya memberikan ini pada anda, saya yakin cincin ini akan indah jika ada di jari manis anda.” Daendels kembali menunjukkan cincin itu.
“Terimakasih atas semuanya.”
Daendels tersenyum, dia mengeluarkan cincin itu dari kotaknya dan memasangkan pada jari manis Stella “Cantik.”
Daendels menggenggam tangan Stella lembut “Saya tau sejak awal, keputusan saya untuk mencintai anda adalah keputusan yang harus saya pertimbangkan cukup lama. Tapi saya telah bersiap untuk banyak hal, rasanya akan sakit, tapi setiap kisah ini akan saya manfaatkan dengan baik, membahagiakan anda dan membuat semua kenangan indah, saya ingin memulai kenangan itu lebih awal sehingga saya punya banyak waktu untuk mengukirnya.”
Manis, kalimat itu sangat manis bagi Stella, bahkan membuatnya lupa kalau dia berada di tempat yang bukan seharusnya.
__ADS_1
“Saya ingin anda juga melakukan hal yang sama, saya ingin anda jujur dengan diri anda sendiri, jangan pedulikan apapun karena setiap langkah itu pasti ada jalannya.” Lanjut Daendels.
Pria dengan penampilan selalu rapi dan tidak seperti pemimpin seperti lainnya itu berhasil menyihir keadaan menjadi lebih tenang dan penuh percaya diri.
“Apakah anda menerima lamaran saya?.” Tanyanya kembali dengan penuh harapan di wajah tegasnya.
Stella mengangguk, dia tidak percaya, Daendels masih tidak percaya kalau wanita itu akan menerimanya. “Saya menerima anda.” Ucap Stella sambil memberikan senyuman manisnya.
Sebuah pelukan hangat, tubuh yang saling memberikan kasih sayang tidak biasa. semuanya akan berubah dan Stella tau kalau sejarah kemungkinan akan berubah tapi dia tidak peduli, jika memang Stella mengubah sejarah dan membuatnya tidak seimbang harusnya Stella di kembalikan sekarang, nyatanya tidak.
Seperti yang seharusnya, kesibukan mulai menghantui rumah itu. Dari datangnya beberapa bunga dan hadiah ucapan selamat atas berita akan berlangsungnya pernikahan antara Daendels sang Gubernur Jenderal dengan wanita pujaannya. Hadiah yang di terima pun hanya hadiah yang di berikan oleh para orang Belanda terutama yang datang dari Eropa secara langsung, mungkin membutuhkan waktu yang panjang entah kapan datangnya, tapi hanya hadiah itu yang Daendels terima.
Kabar itu menyebar seluruh penjuru Hindia-Belanda, bukan hanya Stella yang disibukkan dengan pemilihan kain untuk gaun pernikahannya, tapi juga para pelayan di rumah yang ditambah karena lebih sibuk dari hari biasanya. Stella melakukan sendiri semuanya, dari dekor upacara pernikahan hingga pesta pernikahannya yang mendatangkan banyak petinggi Belanda dan lokal khususnya Jawa.
Kesibukan keduanya membuat mereka tidak banyak bahkan tidak pernah bertemu lagi, Stella yang terlalu sibuk dengan urusan persiapan pernikahan dan Daendels dengan banyak dokumen yang harus dia kerjakan, tidak ada waktu kosong untuk mereka hanya sekedar menyapa.
__ADS_1
Hari ini, mereka bertemu setelah berminggu-minggu sibuk dengan kegiatan masing-masing, Daendels berniat untuk mengajak Stella ke Landarchief (sekarang menjadi gedung arsip nasional). Tempat itu adalah gedung penyimpanan, rumah bekas Gubernur Jenderal sebelumnya yang di ubah menjadi Landarchief oleh Daendels setelah kedatangannya di Batavia, setelah tugasnya memberantas korupsi yang dilakukan oleh pemerintahan VOC. Landarchief digunakan untuk menyimpan dokumen arsip milik Belanda, bagi Daendels setiap keputusan yang dibuat harus berdasar, dan dasarnya adalah dari dokumen yang telah ada sebelumnya, sehingga gedung Arsip ini akan menjadi pilar utama dalam membuat keputusan.
Bersambung