Daendels Estella

Daendels Estella
Pekerjaan Baru


__ADS_3

Salah satu petinggi mengangkat sedikit tangannya untuk bicara, Stella memberikan kesempatan untuknya bicara lebih awal. “Saya mendukung anda.” Hal itu membawa semua orang yang ada di sana setuju dengan kedudukan Stella yang akan menjadi bagian dari pembangunan De Grote Postweg, hanya sedikit mengatakan apa yang dia ketahui saja sudah membuat semua orang percaya pada gadis umur 18 tahun.


Beberapa kali Stella tersenyum sendiri, ternyata hidup disini lebih menyenangkan dari yang dia kira. Sepanjang perjalanan pulang, gadis itu hanya mengulas senyuman membuat Daendels yang duduk disebelahnya merasa tidak nyaman karena gadis itu juga membuatnya senang secara tidak langsung.


Tapi wajah itu berubah saat sepasang kekasih berjalan di jalanan yang mereka lewati, Stella benar-benar mengubah raut wajahnya dan melihat ke belakang, seorang pria Belanda bersama dengan wanita pribumi, entah apa hubungan mereka dengan Stella, tapi Daendels menghentikan kereta nya.


“Ada apa Stella?.”


“Mereka seperti mom and daddy.” Stella menunjuk pasangan yang tengah bercanda gurau di posisi belakang kereta yang mereka tumpangi.


Tapi melihat pasangan yang sepertinya baru seumuran dengan mereka, membuat Daendels mengernyitkan dahinya. Dia bingung, tentu saja dia bingung saat Stella mengatakan pasangan muda itu adalah mom and daddy kalau dalam bahasa inggris adalah kedua orang tuanya atau ayah dan ibu.


“Di duniamu?.”


Stella mengangguk, wajahnya murung, sepertinya dia juga sadar kalau mereka hanyalah pasangan yang kebetulan mirip seperti kejadian Larasati. Tapi semakin murung saat tidak Daendels sadari secara langsung, gadis itu menangis.


“Apa yang sakit? Apakah anda sakit?.” Daendels menyentuh punggung Stella yang bergetar karena menangis.


“Hiks saya merindukan rumah, saya merindukan kedua orang tua saya.”  Tangisan itu semakin pilu, Stella adalah anak gadis pada umumnya yang kalau disini mereka masih tinggal dengan kedua orang tuanya jika belum menikah.


Daendels tidak bisa menenangkan dengan memberikan janji akan mempertemukan Stella dengan kedua orang tuanya, bahkan Daendels sendiri tidak tahu darimana Stella sebenarnya, dan dimana dia tinggal. Pria itu menarik Stella kedalam pelukannya, sangat lembut mengusap punggung gadis itu yang bergetar terus menangis.

__ADS_1


“Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan, tapi selama anda berada disini, saya akan berusaha membuat anda nyaman dan tidak kekurangan barang sekalipun.” Ucap Daendels lirih, namun bisa di dengar Stella dengan jelas.


Stella kembali ke posisi semula dan berusaha mengusap air matanya yang membasahi pipi, namun Daendels memberikan sapu tangannya. “Terimakasih.” Stella mengusap pipinya menggunakan sapu tangan yang Daendels berikan.


Perjalanan kembali ke Buitenzorg membutuhkan waktu yang sangat lama, hanya dalam sekali kerja ke Batavia membutuhkan waktu selama dua hari pulang pergi. Stella melihat lingkungan sekitar, setelahnya mereka berhenti sebuah tempat makan, ternyata di zaman ini juga ada tempat makan atau tempat bersinggah orang dalam perjalanan, biasanya yang datang di tempat makan tersebut orang-orang Belanda terlihat banyaknya tentara yang memakai pakaian belanda bersama dengan atasannya.


Daendels sebagai Gubernur Jenderal di segani oleh semua orang apalagi petinggi Belanda, mungkin Daendels tidak mengenal mereka, tapi mereka datang dengan sangat ramah menyapanya. Terkadang pandangan mereka tertuju pada Stella karena penasaran atas perempuan cantik yang ada disisinya.


“Estella, wanita yang saya cintai.” Kali ini berbeda dari sebelumnya, bukan memperkenalkan sebagai calon istri melainkan wanita yang dia cintai, Stella menoleh ke arah pria yang berwajah sangat dingin itu, tanpa ada ekspresi lain walaupun kalimat yang diucapkannya sangat manis.


Stella kemudian memperkenalkan dirinya secara langsung, kabar mengenai perempuan Daendels yang seorang putri kompeni terdengar ke penjuru Hindia Belanda, tidak ada yang tidak tahu mengenai Stella walaupun wanita itu adalah salah satu wanita yang membuat penasaran raja-raja setiap daerah karena kedudukannya yang bukan hanya sebagai wanita Daendels, melainkan juga asisten sekaligus penasehat dalam pekerjaannya.


Kepintaran Stella dalam menganalisa kontur tanah setiap daerah dan juga dermawan, menjadikannya perempuan Belanda paling populer disana. Hal itu sebenarnya sangat tidak baik untuk Stella, namanya tidak pernah ada dalam sejarah bahkan tentang Daendels tidak pernah ada wanita yang menjadi pasangan Daendels dalam sejarah yang dia baca.


“Apakah saya boleh duduk?.” Suara Pria membuat Stella menoleh dan menggeser sedikit posisinya untuk Daendels duduk “Apa yang anda pikirkan? Sudah hampir setengah jam anda disini tanpa melakukan apapun.”


Stella bahkan tidak sadar jika menghabiskan waktu sepanjang itu duduk melamun. “Tidak ada, tentang Larasati bagaimana?.”


“Saya datang untuk memberitahukan mengenai Larasati, dia anak dari pembuat gerabah, kerajinan tangan dari tanah liat. Sepertinya juragan gerabah tidak cocok untuk keluarganya lagi, karena kabar terakhir yang saya dapatkan, mereka memiliki banyak hutang dan pekerjaan mereka terancam tidak bisa di lanjutkan kembali karena banyaknya hutang yang menumpuk.” Daendels menjelaskan semua yang dia ketahui pada Stella.


“Larasati akan menikah dengan juragan gandum di daerahnya untuk membayar seluruh hutang-hutangnya.”

__ADS_1


Stella sedikit terkejut dengan kalimat terakhir yang Daendels katakan, gadis itu menoleh dan mendengarkan kembali secara jelas, bahwa memang kenyataannya Larasati akan menikah dengan pria yang jauh lebih tua darinya untuk melunasi hutang keluarga.


“Apakah anda bisa membantunya?.” Pertanyaan Stella membuat Daendels menghembuskan nafas beratnya.


“Jika saya membantunya, saya bisa tapi mereka tidak akan pernah bisa bertanggung jawab atas apa yang mereka lakukan. Keputusan Larasati untuk menikah artinya dia tidak mampu membayar kewajiban yang seharusnya dibayarkan. Kali ini saya tidak bisa membantu anda.”


Apa yang dikatakan oleh Daendels ada benarnya, Stella hanya tersenyum kecut, dia hanya ingat Kinanti, bukan berarti menganggap Larasati sebagai Kinanti karena wajahnya yang sama.


“Saya harus kembali ke kamar.” Stella beranjak dari duduknya, bukan marah, tapi dia hanya tidak ingin memikirkan dunia ini dengan dunia nya dan menganggapnya sama.


Daendels menahan tangan Stella yang akan pergi, baru satu langkah tapi Stella menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang.


“Anda marah karena saya tidak membantunya?.”


“Tidak, saya hanya merasa terlalu berlebihan karena menganggap apa yang saya temui disini sama dengan kehidupan saya. Maaf.”


“Stella... Saya tau bagaimana perasaan anda, tapi saya sudah pernah bilang bahwa anda hanya punya saya disini, anda bisa bergantung pada saya.”


“Bagaimana jika saya jatuh cinta pada anda? Sejarah akan berubah hanya karena saya, anak 18 tahun yang tiba-tiba bangun disini.”


Daendels terdiam, dia tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Stella, tapi rasanya gadis itu tengah berada di ambang rasa yang sangat bimbang hingga membuatnya tidak mengerti apa yang harus dilakukan lagi.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2