
Pagi yang selalu cerah, tanpa asap pabrik dan bising kendaraan di jalanan. Hanya suara burung-burung yang hinggap di ranting pohon saja yang terdengar di telinga saat membuka mata di pagi hari. Stella menarik kotak miliknya yang ada di bawah ranjang, apple watch nya masih sama seperti saat dia datang. Kalau memang ini adalah mimpi, tapi kenapa tubuhnya terasa sakit semua, sakit dan rasanya pusing di kepala.
Wajah Stella sangat pucat, gadis itu kembali mendorong kotaknya ke bawah ranjang. Dia berdiri didepan cermin yang memantulkan pantulan tubuhnya mengenakan pakaian tidur nyaman berwarna putih dress panjang, rambut bergelombang sedikit pirang, bibirnya sangat pucat. “Apa aku sakit? Aku kan cuma mimpi kenapa bisa sakit.” Stella memegang dahinya, tapi dia merasakan panas menghinggap di tubuhnya.
Stella membuka pintu kamarnya dan berusaha memanggil Sumi untuk membantunya “Sumi! Sumi! Sumi!.” Suara Stella terdengar sampai dapur, membuat Sumi langsung berlari ke arah kamar majikannya.
“Ada yang bisa sa-.” Sumi menghentikan ucapannya saat melihat wajah pucat Stella, gadis itu menyentuh dahi Stella dan kembali menarik tangannya saat merasakan panas tinggi dari tubuh Stella. “Nyonya sakit, lebih baik nyonya berada di ranjang saja, saya akan memanggilkan dokter.”
Stella hanya mengangguk dan menuruti ucapan Sumi untuk tidur di ranjangnya, hanya memeluk selimut dan berusaha terus bertahan walaupun rasa sakit menyerang seluruh tubuhnya. Sumi datang kembali membawa kompres untuk Stella, gadis itu berusaha merawat majikannya sembari menunggu kedatangan dokter.
“Apakah tuan akan pulang?.” Suara lemah Stella terdengar parau menanyakan kehadiran Daendels, selain Daendels tidak ada orang lain yang mengerti posisi Stella walaupun Daendels sendiri tidak tau kalau Stella datang dari masa depan.
“Prajurit kemungkinan juga akan memberitahukan perihal ini pada tuan Daendels saat mereka mendatangkan dokter kemari.”
“Saya baik-baik saja, saya akan sembuh setelah tidur.”
“Nyonya demam, dokter akan datang untuk memeriksa.”
Stella hanya diam, dia memilih untuk tidur, bangun hanya akan menyebabkan dirinya merasakan sakit walaupun tidur pun tetap sangat susah, tapi dia berusaha.
__ADS_1
Entah berapa lama Stella tidur, tapi dia mendengar suara derap langkah kaki sebuah sepatu tentara, Stella mencoba membuka matanya bersamaan dengan tangan kekar seorang pria menyentuh dahinya dengan lembut. Mata Stella benar-benar terbuka, walaupun tidak begitu jelas, tapi Stella melihat ada Daendels di depannya, wajah pria itu nampak sangat khawatir.
“Apakah rasanya sangat sakit?.” Suara berat yang mengalun di telinga Stella membuat gadis itu hanya menganggukkan kepala saat semuanya terasa panas, bukan hanya suhu badannya tapi dia juga merasakan panas pada matanya, kalau dahulu ibunya selalu memberikan obat penurun panas, karena Stella bukan kali pertama merasakan demam seperti ini.
Sumi menarik kursi untuk duduk Daendels, setelah itu pergi keluar, disana hanya ada Stella dan Daendels saja. Sebelum sampai di rumah, prajurit yang berjaga di rumahnya datang menyampaikan pesan pada prajurit yang bersamanya mengenai keadaan Stella yang selalu mereka laporkan setiap hari. Daendels menunda beberapa pertemuan dengan orang penting hanya karena ingin kembali kerumah sementara waktu karena mendapatkan kabar Stella sakit.
“Dokter akan segera datang, jadi bertahanlah sebentar.” Daendels mengusap kepala Stella lembut.
Stella hanya mengangguk mendengar ucapan Daendels di telinganya, gadis itu menarik selimut lebih erat karena kedinginan. Disaat suhu badannya panas, tapi Stella malah kedinginan. Setelah beberapa jam berlalu, dokter tiba bersama dua prajurit yang memanggilnya. Dia adalah dokter yang paling kompeten mengobati orang-orang Belanda yang sakit, tapi tidak jarang juga para petinggi lokal menggunakan jasanya.
“Noni hanya demam biasa, saya akan memberikan obat yang biasa menurunkan demam, sepertinya dia terlalu kelelahan. Jika ada apa-apa bisa langsung menghubungi saya kembali.”
“Bisa tuan.”
Sumi mengikuti Daendels ke ruangannya yang ada di bangunan paling belakang. Rumah itu di lingkari oleh tembok yang lumayan tinggi. Rumah paling depan itu adalah rumah yang biasa digunakan untuk pertemuan para petinggi dan orang-orang Belanda, kemudian sisi belakangnya melewati kolam ikan kecil akan menjumpai rumah utama yang dihuni oleh Stella dan juga kamar Daendels sendiri, sebenarnya kamar yang di gunakan Stella adalah kamar yang diperuntukkan untuk tamu, tapi Stella adalah tamu juga dirumah itu sehingga selama Stella di sana, tamu akan tinggal di rumah depan. Dan terakhir rumah belakang yang harus melewati taman, itu adalah bangunan berbentuk bundar yang digunakan untuk ruangan kerja Daendels.
“Apakah anda merawat Stella dengan baik? Bagaimana makanannya? Bagaimana tidurnya?.”
Sumi menggenggam kedua tangannya dengan gugup “Nyonya Stella makan dengan baik, dia selalu menghabiskan makanannya. Tapi dia selalu tidur larut malam karena membaca buku dan belajar di kamarnya, saya hanya tau sekali, tapi sepertinya Nyonya Stella tidur larut malam setiap hari.”
__ADS_1
Daendels mengetuk-ngetuk pena nya di atas meja sambil mendengarkan penjelasan Sumi, “Dia tidak keluar sama sekali?.”
“Tidak tuan, seharusnya hari ini nyonya keluar, kemarin beliau sudah mengatakan pada saya kalau ingin keluar untuk berjalan-jalan.”
“Baiklah, anda bisa kembali bekerja. Pastikan Stella tidak kekurangan apapun, pastikan juga saat saya tidak berada di rumah, dia tidur dengan teratur.”
“Baik tuan.”
Jumlah wanita Belanda di pulau Jawa sangat sedikit bahkan bisa dihitung menggunakan jari, biasanya orang-orang Belanda menjalin hubungan dengan wanita pribumi atau wanita lokal sehingga melahirkan keturunan Indo-belanda atau keturunan campuran orang Indonesia dan Belanda.
Sosok Estella Wijaya atau semua menyebutnya dengan Stella/Estella dikenal oleh seluruh orang Belanda yang ada di pulau Jawa, bukan hanya karena wanita Belanda, tetapi juga karena wanita itu dibawa secara langsung oleh Daendels, sang Gubernur Jenderal.
Selama Stella sakit, Daendels sendiri yang merawatnya, hingga saat dia ingin mengambil sendok yang dia bawa jatuh, pandangannya tertuju pada sebuah kotak yang ada di bawah ranjang. Daendels melihat Stella yang masih terlelap dalam tidurnya, Daendels mengeluarkan kotak tersebut dan membukanya. Pakaian yang dipakai oleh Stella saat pertama kali ditemukan di kapal besar miliknya, sekaligus sebuah barang yang tidak pernah dilihat sebelumnya.
Daendels membawa kotak tersebut keluar dari kamar Stella dan meletakkan di kamar miliknya, dia melakukan itu karena menurutnya barang ini sangat penting, dia tidak ingin siapapun melihatnya. Kamar miliknya adalah kamar yang tidak akan pernah bisa dimasuki oleh siapapun, tapi alasan sebenarnya bukan itu.
Sejak kehadiran Stella yang tiba-tiba di kapal miliknya yang tengah berlayar di tengah laut, Daendels sama sekali tidak percaya kalau Stella adalah manusia. Tapi tidak menggambarkan juga kalau dia hantu, penampilannya berbeda, dia mempelajari mengenai sosok Stella. Mungkin hanyalah sebuah asumsi semata, tapi saat melihat barang aneh yang ada di kotak itu Daendels benar-benar percaya kalau wanita itu bukan dari zamannya, entah datang dari mana, tapi Daendels tidak ingin wanita itu pergi.
Bersambung
__ADS_1