Daendels Estella

Daendels Estella
Batavia 1808


__ADS_3

Tujuan utama kedatangan Daendels di Hindia-Belanda atau Indonesia yaitu mempertahankan kedudukan Belanda di Jawa, selain itu dia juga memiliki tugas memperbaiki sistem pemerintahan VOC yang korup. Kedatangan Daendels di Batavia juga menggantikan posisi Gubernur Jenderal Albertus Wiese, Gubernur Jenderal sebelumnya. Daendels mengemban tugas yang diberikan oleh Raja Louis dari Hollandia untuk melakukan reformasi pemerintahan.


Setahun sebelumnya, pada 28 Januari 1807 saat sebelum keberangkatan ke Hindia-Belanda, Daendels diberi pangkat militer tertinggi sebagai marsekal Hollandia untuk mempertahankan pulau Jawa dari serangan Inggris, pangkat ini berlaku ketika dia sampai di Jawa.


Bersama dengan Stella di sebelahnya, Daendels menyapa para petinggi Belanda yang berada di Batavia untuk menyambut kedatangannya sebagai Gubernur Jenderal yang baru. Berbeda dengan Gubernur Jenderal yang memakai pakaian elit kerajaan, Daendels masih setia dengan pakaian militernya.


Sampai di Batavia setelah pertemuan dengan para petinggi Belanda, Daendels memutuskan untuk langsung ke rumah singgahnya yang jauh dari Batavia itu sendiri, tempat yang lebih cocok untuk rumah ketimbang lingkungan Batavia yang kurang sehat.


“Mereka akan mengantar anda ke kamar anda selama berada disini.” Ucap Daendels pada Stella yang masih berdiri di sebelahnya.


Stella tersenyum dengan sangat sopan dan mengangguk, gadis itu mengikuti langkah kaki para babu, pembantu rumah tangga perempuan yang bekerja melayani majikannya. Pada zaman itu mereka dipanggil sebagai babu untuk perempuan, sedangkan laki-laki dipanggil dengan sebutan jongos atau sepen, kalau tukang rawat kebun atau kuda dan sejenisnya di panggil Kebon.


“Nyonya, ini adalah kamar milik nyonya yang sudah tuan siapkan, jika nyonya membutuhkan apapun, nyonya bisa memanggil saya.”


Stella melihat sekeliling kamarnya, sangat bagus, kalau di jamannya bahkan hal seperti ini tidak bisa disebut orang miskin walaupun tidak ada ac/ kipas angin, televisi, dan peralatan elektronik lainnya yang bisa ditemui di rumahnya. Tapi tetap saja ini adalah golongan orang kaya, paling kaya di jaman ini.


“Siapa nama anda?.”


“Sumi.”


Stella tersenyum “Terimakasih Sumi.”


Gadis yang sepertinya seumuran dengan Stella tersebut tersenyum senang karena perlakuan yang Stella berikan padanya.


“Saya permisi nyonya.”

__ADS_1


“Iya.”


Setelah Sumi pergi, Stella menutup pintu kamarnya dan meletakkan barang miliknya yang ada di dalam kotak yang sengaja dia bawa dari kapal di bawah ranjangnya. Barang-barang dari masa depan yang masih dibawa, disana ada pakaian lengkap serta satu barang yaitu apple watch miliknya yang tidak berfungsi, bukan tidak berfungsi tapi jam tangan mahal itu sama sekali tidak bergerak sedikitpun, masih berada di jam 16.00 dan tanggal 28 Januari 2023.


“Gimana caranya gue bisa pulang kerumah.” Hampir satu bulan dia berada disini tapi dia sama sekali tidak menemukan jalan pulang, beberapa kali dia berada di lokasi pertama saat bangun dan mengulang kejadian itu dengan berusaha tidur disana kembali, tapi hasilnya kosong, dia masih bangun di kapal itu.


Stella melihat banyak buku berjajar di rak yang ada di kamarnya, rata-rata buku itu berbahasa Belanda. Stella tidak begitu paham tapi satu buku menarik perhatiannya, buku yang bertuliskan ‘elke gebeurtenis heeft een reden en elke reden komt voort uit kennis’ (Setiap Kejadian Memiliki Alasan dan Setiap Alasan Berasal Dari Pengetahuan) Stella tidak mengerti apa artinya tapi gadis itu membuka buku tersebut dan duduk di ranjang, berusaha memahami isi yang ada dalam buku.


Sebuah ketukan di pintu mengalihkan pandangan Stella yang sibuk dengan bukunya, gadis itu menuruni ranjang dan membuka pintunya. Daendels ada di depannya dengan pakaian sebelumnya, dia terlihat lelah dengan mata yang kurang tidur, tapi masih terlihat gagah dan berwibawa selayaknya seorang Gubernur Jenderal.


“Saya akan memeriksa beberapa tempat, kemungkinan saya tidak akan pulang selama beberapa hari. Jika anda ingin pergi kemanapun, anda bisa meminta tolong pada babu dan salah satu tentara yang ada di rumah ini untuk menemani anda keluar, jangan keluar sendirian termasuk hanya keluar gerbang.”


“Baik, Terima Kasih atas bantuannya.” Stella tidak ingin menanyakan banyak hal pada Daendels, tapi Stella yakin dia punya alasan sendiri menyuruh Stella tetap di rumah dengan pengawasan. Mengingat pada Zaman ini juga bukan zaman yang tenang bagi setiap nyawa.


“Sama-sama.” Daendels membalik tubuhnya baru beberapa langkah, Stella memegang lengannya membuat pria itu menghentikan langkah dan melihat ke arah Stella.


Daendels tersenyum sambil mengangguk, Stella berharap kedatangannya kemari adalah pilihan Tuhan untuk memperbaiki sejarah, setiap orang memiliki alasan atas kehadirannya di muka bumi ini, Stella juga memiliki alasan berada di tempat ini sekarang, jika dia mau dia hanya ingin diam di rumah, menggoda Daendels dan menjadi istrinya, tidak sulit melakukan itu. Tapi alasan Stella disini bukan untuk itu, tapi menolong pribumi yang akan dipekerjakan secara paksa karena pembangunan jalan Anyer-Panarukan.


Daendels selalu sibuk dengan pekerjaannya, bahkan selama berada di kapal dia juga sibuk sendiri. Sama seperti saat sampai di Batavia, berada di rumah pun bisa dihitung dengan satu tangan, tidak sampai 1 jam dia akan kembali pergi entah kemana dan mengerjakan apa. Stella yang posisinya hanyalah seorang Putri Kompeni yang dibawa oleh Gubernur Jenderal, hitungannya hanyalah perempuan simpanan yang tidak pernah dipergunakan untuk kepentingan apapun, disaat para istri orang Belanda akan pergi mengikuti suami bertugas, Stella tidak karena dia memang hanya orang asing disana.


Sore itu saat matahari mulai berganti dengan malam, Stella keluar dari kamarnya dan duduk di kursi santai yang ada di depan kamarnya, kamar yang berhadapan langsung dengan halaman belakang rumah. Halaman yang dipenuhi oleh tanaman bunga itu dirawat oleh Sarji seorang kebon dari warga pribumi yang bekerja di rumah. Daendels memang sengaja mempekerjakan orang pribumi mengurus rumahnya ketimbang orang Belanda, karena orang Pribumi lebih memiliki sopan dan juga sangat cakap mengurus rumah.


“Ini teh nya nyonya.” Sumi meletakkan secangkir teh diatas meja Stella, selama berada di sini, Stella mempelajari bahasa Belanda hanya untuk membaca banyak buku untuk mengurangi rasa stres nya.


“Saya ingin keluar rumah untuk berjalan-jalan, apakah anda sibuk besok?.”

__ADS_1


“Saya akan meluangkan waktu saya untuk menemani nyonya melihat luar.”


“Anda tidak pernah kembali kerumah setelah bekerja disini, rasanya anda tidak pernah pulang.”


“Saya tidak memiliki keluarga, saya tinggal sendiri dengan suami saya. Dia adalah seorang pekerja pribumi yang bekerja untuk orang Belanda, kami bertemu setiap satu bulan sekali.”


Stella hanya mengangguk, banyak orang bekerja bertahun-tahun di jamannya dan hanya bertemu istri atau anak mereka setelah 4-5 tahun, di zaman ini masih bisa ditoleransi karena dalam satu bulan setidaknya mereka masih bisa bertemu satu sama lain.


“Berapa umur anda?.”


“Saya tahun ini menginjak umur 15 tahun.”


Uhuk uhuk


Stella yang tengah meminum tehnya langsung terbatuk karena mendengar umur Sumi yang sangat muda, seharusnya Sumi bersekolah, tapi di zaman ini tidak ada sekolah putri. RA Kartini baru lahir tahun 1879 atau 1880 an, beliau adalah salah satu putri pribumi yang memperjuangkan hak perempuan.


“Anda baik-baik saja nyonya?.”


“Ya saya baik-baik saja.” Stella mengambil sapu tangan yang Sumi berikan.


“Perempuan itu harus cakap, cakap di bidang rumah tangga, dapur, anak, dan ranjang. Saya mempelajari itu dari wanita keluarga bangsawan lokal. Tapi melihat nyonya Stella yang selalu membawa buku, membaca, serta menulis sesuatu yang tidak bisa saya pahami membuat saya penasaran."


“Apa yang anda katakan memang benar, tugas wanita setelah menikah adalah mengurus rumah tangga. Tapi bukan hanya itu saja, karena sebagai seorang ibu, dia juga harus mengajari anak-anaknya, anak saya adalah tanggung jawab saya, mungkin ada yang membantu pekerjaan dapur, tapi saya sendiri harus mengajari anak saya nantinya karena sebagai seorang ibu yang pasti paling dekat posisinya ketimbang ayah dengan anak, sehingga wanita pun harus pintar.”


“Ternyata benar fakta yang beredar kalau para putri kompeni punya standar sendiri di kehidupannya, saya kagum pada anda. Saat anda tiba bersama Tuan Daendels, saya berpikir kalau anda adalah wanita yang sangat hebat, ternyata benar.”

__ADS_1


“Terima Kasih, tapi anda juga orang yang berjasa disini.”


Bersambung


__ADS_2