Daendels Estella

Daendels Estella
Landarchief


__ADS_3

Perjalanan menuju Landarchief cukup lama, sepanjang perjalanan adalah jalan yang tidak akan pernah ditemukan di masa depan, banyak gedung terbengkalai, lebih tepatnya kumuh dan bau tidak enak menyengat sepanjang hampir 2 kilometer setelah masuk Batavia. Stella duduk dengan nyaman di sebelah Daendels, tidak ada perbincangan sama sekali antar keduanya. Hingga mereka tiba di gedung tersebut, Stella tidak tau apapun mengenai gedung itu tapi yang dia tau di masa depan, bangunan tersebut akan menjadi arsip negara.


“Ini kediaman Gubernur Jenderal VOC sebelumnya, setelah kembali ke Eropa, semua dokumen Hindia Belanda berada disini. Termasuk beberapa buku penting yang tidak bisa di temukan di tempat lain, saya pikir anda akan sangat menyukai hal tersebut.”


“Terimakasih karena menyempatkan waktu anda membawa saya kemari.” Stella mengikuti Daendels yang melangkahkan kakinya masuk kedalam melewati dua penjaga yang ada di depan pintu.


Karena banyak dokumen penting didalamnya, Landarchief menjadi salah satu tempat yang dijaga ketat oleh penjagaan dari tentara Belanda. Terlihat beberapa rak penuh dengan buku dan juga sebagian lainnya adalah dokumen yang Daendels katakan.


Setelah masuk, mereka bertemu dengan penjaga utama yang juga orang asli Belanda. Stella tersenyum pada pria itu yang menyambutnya dengan sangat baik, namanya Jonathan Van den Chijs. Untuk sementara waktu dia tinggal disini sekaligus mengurus seluruh dokumen arsip milik Belanda, gedung ini juga tidak di resmikan seperti seharusnya, karena walaupun ada nama, tapi bangunan ini tetaplah sebuah gudang dokumen saja, tidak lebih.


“Saya akan berbincang dengan Van den Chijs, anda bisa melakukan apapun yang anda inginkan tapi jangan keluar dari sini.” Ucap Daendels pada Stella yang hanya mengangguk.


Setelah Daendels pergi bersama dengan Jonathan Van den Chijs, Stella masuk ke dalam sebuah ruangan dimana dia melihat banyak buku di dalamnya. Mengenai orang-orang pribumi dan orang-orang Belanda yang ditulis dalam sebuah buku catatan, itu lebih menarik perhatiannya.


Stella mengambil buku tersebut dan duduk di salah satu kursi dengan meja bundar, ada empat kursi yang mengelilingi meja tersebut, serta satu vas bunga di tengah-tengahnya. Sangat nyaman, seperti perpustakaan dengan bau buku di dalamnya.


Satu lembar terbuka, Stella membacanya sampai detail. Perjalanan orang-orang Belanda menggunakan kapal besarnya untuk mencari rempah-rempah dan bahan obat karena penyakit di negaranya. Indonesia, atau Hindia-Belanda adalah kawasan tropis yang menghasilkan sumber daya alam besar.


Mereka para orang asing menjadi iri dengan apa yang orang pribumi miliki, walaupun tergolong miskin, tapi orang pribumi memiliki semua yang dibutuhkan. Masih beberapa lembar Stella terhanyut dalam tulisan yang dia baca, sebuah tangan menyentuh pundaknya lembut, Stella menoleh kebelakang dan menemukan Daendels tersenyum disana berjalan dan duduk di kursi sebelah Stella.


“Apa yang anda baca?.”


“Catatan awal kedatangan Belanda.”


Daendels mengangguk, “Ada yang ingin saya tunjukkan pada anda, apakah anda sudah selesai?.”


Stella menutup bukunya dan mengembalikan ke tempat semula “Sudah.” Setidaknya ucapan Daendels lebih membuatnya penasaran ketimbang isi buku tersebut.


Sebuah ruangan dengan banyak jendela di beberapa sisi menjadi ruangan pertemuan utama, tapi bukan itu yang menjadi pembahasan kali ini melainkan sosok yang duduk di kursi tersebut, dia adalah orang yang terakhir kali Stella sebut mirip dengan kedua orang tuanya. Pria itu adalah orang Belanda sedangkan sang perempuannya orang pribumi.

__ADS_1


Stella masih ingat jelas saat dia menanyakan pasangan dalam foto yang terlihat mesra di kamar kedua orang tuanya. Mom dan daddy nya yang saat itu masih sangat muda dan menjalin hubungan, sama persis dengan pasangan yang sekarang ada di hadapan Stella. Stella terdiam sebentar, mengamati kedua orang tersebut, matanya berkaca-kaca, dia tidak tahu harus mengatakan apa.


“Selamat Sore nona Stella, perkenalkan saya William Leander dan ini istri saya Sartika.”


“Saya Estella Wijaya.”


“Kami sudah banyak mendengar mengenai anda, tapi melihat anda secara langsung membuat saya pribadi sangat kagum, anda sangat cantik.” Puji Sartika.


“Terimakasih, anda juga.”


“William Leander adalah kerabat jauh dari Van den Chijs, saat saya pertama kali melihatnya, saya pikir anda harus bertemu dengan mereka juga.” Ucap Daendels menjelaskan pada Stella.


“Kami penjual kain di Batavia, jika anda mau-.”


“Saya akan berkunjung.” Jawab Stella tanpa berpikir atau mendengarkan ucapan Sartika lebih banyak. “Jika diperbolehkan, apa saya bisa memeluk anda sebentar?.” Lanjut Stella, terdengar sangat bodoh tapi Stella benar-benar tidak bisa menahan rindunya, dia merindukan kedua orang tuanya, rasanya sangat lama berada disini dan dia berharap bisa kembali.


“Tentu saja nona.” Sartika berdiri dan menerima pelukan dari Stella.


Mata Stella terpejam, ‘Mom, Stella akan menikah, rasanya sangat aneh kan kalau Stella menikah di umur 18 tahun, tapi Stella menyukainya, entahlah apakah Stella hanya membutuhkannya atau benar-benar menyukainya. Stella harap masih bisa pulang, walaupun bukan sekarang, tolong jaga kesehatan.’ Setelah itu Stella melepaskan pelukannya.


“Terimakasih.” Ucap Stella sambil mengusap air matanya yang sempat jatuh.


“Apakah anda baik-baik saja?.”


“Ya, saya baik-baik saja.”


Seperti yang dikatakan oleh Stella, wanita itu bersama dengan Daendels mendatangi rumah William dan Sartika yang memang memproduksi kain yang sangat bagus, ternyata Sartika bukan dari pulau Jawa, dia datang dari luar Jawa dan bertemu dengan William lalu memutuskan untuk menikah karena saling mencintai, sehingga Sartika ikut dengan William ke Batavia.


“Warna kain ini sangat cocok dengan kulit putih anda.” Sartika menunjukkan kain yang sangat indah pada Stella.

__ADS_1


“Benarkah? Saya akan membeli ini.”


“Tidak perlu nona, ini hadiah dari kami atas pernikahan anda dan tuan Daendels. Sebentar.” Sartika masuk kedalam sambil membawa kain tersebut lalu kembali sambil membawa bungkusan yang sudah dirapikan dengan baik beserta tali pita diatasnya.


“Maaf saya merepotkan anda.”


“Tidak sama sekali, ini hadiah dari kami.”


“Terimakasih banyak Sartika.” Stella melihat beberapa kain yang ada disana, dia menyentuh kain lembut tersebut menggunakan tangannya “Saya akan membeli ini beberapa potong, tolong ya.”


“Baik nona, akan saya siapkan.”


Sambil menunggu kainnya selesai dibungkus, Stella menunggu di luar bersama Daendels. Tangan Daendels terulur memeluk pinggang Stella lembut “Apakah anda bahagia hari ini?.”


“Apakah kedatangan kemari bukan hanya untuk melihat Arsip, tapi juga anda ingin saya bertemu dengan Sartika dan William.”


“Benar, jika nanti saya punya anak, saya pikir anak saya akan sangat sangat senang jika melihat kedua orang tuanya sebelum menikah, sehingga saya berharap anda juga seperti itu.”


“Bagaimana dengan anda? Apakah anda tidak akan menemui kedua orang tua anda?.”


“Saya tidak memiliki orang tua, saya belum pernah melihat wajah orang tua saya.”


“Maaf.”


“Bukan masalah besar, jadi jangan meminta maaf. Memiliki anda sudah sangat cukup untuk saya.”


Stella terdiam, dia bukan merasa bersalah karena membahas kedua orang tua Daendels, itu juga, tapi kalimat terakhir Daendels, bagaimana kalau Stella pergi. Apa yang akan terjadi padanya saat Stella tidak pernah datang kemari, bagaimana Daendels hidup. Walaupun tidak menuntut kemungkinan Daendels tetap akan bertemu dengan wanita lain, tapi sejarah tidak pernah mencatat pertemuan Daendels dengan wanita pujaannya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2