Daendels Estella

Daendels Estella
Kehidupan Batavia


__ADS_3

Kedatangan kereta yang membawa Daendels beserta rombongannya menjadi ketakutan untuk pribumi yang berada di sekitar, bukan karena mereka takut dengan apa yang akan Daendels lakukan, tapi mereka takut menjadi salah satu orang yang mati sia-sia di tangan pria batu tersebut. Kabar mengenai kekejaman dan kerasnya pemerintahan Daendels telah tersebar di seluruh penjuru hindia belanda tanpa terkecuali, siapa yang tidak mengenalnya, si tangan besi.


Stella yang duduk di sebelah Daendels melihat sekitarnya, cerobong asap dan bau tidak enak berada dimana-mana, daerah ini lebih buruk dari apa yang dia pikirkan. Bau entah dari apa menusuk hidung, kalau di zamannya bau seperti ini datang dari zat kimia limbah pabrik, tapi ini bukan hanya di sekitar bangunan besar milik pabrik, hampir di sepanjang jalan Batavia, beserta gang-gang kecilnya.


“Batavia sangat buruk saat saya datang sebagai Gubernur jenderal, keputusan memilih Buitenzorg (Bogor) adalah keputusan yang sangat baik untuk tempat tinggal yang layak.”


“Bukankah Batavia akan menjadi pusat peradaban?.” Stella melihat kearah Daendels yang juga melihat gadis itu.


“Benar, Batavia adalah pusat pemerintahan serta peradaban, disinilah semua akan ada tapi disini juga semua harus diratakan dengan tanah. Daerah ini tidak akan pernah baik hanya dengan memperbaikinya satu persatu, semuanya harus rata dengan tanah, udara akan berganti kemudian bangun pusat pemerintahan yang baru.”


Stella mengangguk mengerti dengan apa yang Daendels katakan, dia bodoh soal sejarah, kalau saja sejak awal dia tau akan berada disini, dia akan menghafal seluruh buku sejarahnya sehingga dia tau arah mana yang akan dituju.


Seorang perempuan pribumi menarik perhatian Stella, gadis itu memperhatikannya hingga membuat Daendels menyuruh kusir menghentikan kereta. “Apa yang anda lihat?.” Tanya Daendels penasaran karena Stella terus melihat ke belakang.


“Saya seperti melihat seseorang yang tidak asing.”


“Apakah anda ingin melihatnya secara dekat?.”


“Bolehkah saya melakukannya?.”


“Tentu, saya akan menemani anda.”


“Terimakasih.”


Daendels turun terlebih dahulu, kemudian membantu Stella turun dengan memegang tangan lentiknya yang dibalut sarung tangan putih yang indah. Mereka berdua berjalan menghampiri seorang wanita yang duduk bersama dengan perempuan paruh baya yang ada di sebelahnya, saat Stella datang, perempuan itu melihat ke arah Stella dengan pandangan penuh tanya.


“Apa saya pernah bertemu dengan anda sebelumnya?.”

__ADS_1


“Saya? Saya baru pertama melihat anda noni.” Wanita itu sangat sopan pada Stella mengingat dia yang bersama dengan orang-orang Belanda.


“Siapa nama anda?.”


“Saya Larasati.”


Bukan, satu kata yang membuat Stella kecewa. Larasati sangat mirip dengan Kinanti sahabatnya, dia bahkan mengira kalau dia adalah Kinan. Hanya saja Larasati memang berpakaian sangat lusuh, berbeda dengan Kinan yang memiliki banyak pakaian bagus dan kulit yang sehat, Larasati tidak, dia memiliki beberapa luka di tangan dan kakinya.


“Apakah anda mengenalnya?.” Pertanyaan Daendels membuat Stella menoleh ke arah pria itu.


Stella sedikit mendekatkan kepalanya ke arah Daendels dan berbisik sangat lirih “Dia sangat mirip dengan teman dekat saya Willem.”


“Benarkah? Apakah anda membutuhkan informasi tentangnya?.”


“Apakah bisa?.”


“Tentu bisa.”


“Terimakasih banyak noni, kami menjual piring yang kami buat sendiri. Satu pun belum ada yang laku terjual sejak kemarin lusa, kami membutuhkan bahan makanan untuk makan.” Ucap perempuan paruh baya yang berada di sebelah Larasati.


“Berikan mereka bahan makanan.” Perintah Daendels pada beberapa prajuritnya untuk mengambil bahan makanan yang kebetulan berada di kereta kuda.


“Saya akan mengambil dua, bagaimana dengan 2 perak dan sekarung kecil padi?.”


“Apa? Itu terlalu banyak untuk harga dua piring saja noni.”


“Tidak apa-apa, semoga membantu keluarga anda.”

__ADS_1


Stella mengambil piring tersebut setelah mereka mendapatkan bayarannya, Stella tersenyum dan meninggalkan mereka untuk kembali ke kereta kuda yang dia tumpangi. Tapi pandangan Stella masih penasaran dengan Larasati yang juga terus memperhatikannya walaupun sudah sangat jauh.


Sampailah di balai pertemuan milik pemerintahan VOC yang lama. Balai yang sekarang digunakan oleh Daendels sebagai Gubernur Jenderal baru, hari ini adalah pertemuannya dengan kolonel Zeni Lutzow. Sepertinya pria itu sudah datang lebih awal di balai pertemuan, bukan hanya kolonel tapi juga petinggi Belanda lainnya yang memiliki peran penting dalam mensukseskan pembangunan jalan ini.


Kedatangan Stella memberikan tanda tanya yang besar untuk semua orang yang ada disana, Daendels tidak bisa memperkenalkan Stella sebagai seorang yang rendah, Stella memiliki peran penting juga untuk membantunya memutuskan jalan yang baik untuk pembangunan.


“Perkenalkan, dia adalah Estella, calon istri saya yang datang bersama saya dari Belanda.”


Sama seperti sebelumnya dan Stella tidak lagi terkejut saat dirinya diperkenalkan sebagai calon istri. Pilihan yang sangat membantunya melindungi diri di balik tubuh Daendels, kedudukannya lumayan tinggi ketimbang orang lain, dia akan aman jika seperti itu.


“Saya Estella...” Stella memperkenalkan dirinya dengan sangat anggun, mungkin kelakuannya seperti reog saat di kehidupan asli. Tapi dia mempelajari attitude putri bangsawan Belanda dari sebuah buku yang dia baca ada di kamarnya. Sangat membantu membangun kesan seorang putri kompeni yang bermartabat dan cerdas.


“Stella akan menjadi kaki tangan saya yang membantu mengurus beberapa hal mengenai De Grote Postweg.” Kalimat Daendels menimbulkan keterkejutan semua petinggi Belanda termasuk Kolonel Zeni Lutzow, bukan karena dia calon istri Daendels atau orang Belanda, melainkan karena dia seorang wanita.


“Saya tidak setuju, bagaimana mungkin wanita bekerja di bidang pria, seharusnya putri kompeni tetap berdiam diri dirumah, membaca buku atau melakukan apapun yang dia inginkan dirumah, tidak ikut terjun di lapangan.” Salah satu petinggi Belanda mengutarakan pendapatnya.


Sejak awal Stella juga tahu kalau posisinya akan sangat ditentang oleh siapapun yang mendengarnya, sehingga dia menyiapkan hal lain untuk meyakinkan mereka semua bahwa dia mampu bekerja dalam pembangunan ini.


“Terimakasih atas pendapat yang anda berikan, saya tidak akan mengatakan banyak hal, tapi saya akan membuktikan secara langsung mengenai hal ini. Siapa yang bertanggung jawab melihat kontur tanah bakal jalan raya pos?.”


Kolonel Zeni Lutzow mengangkat sedikit tangannya, Stella tersenyum dan beranjak dari duduknya. Gadis itu menyuruh prajurit untuk membentangkan peta Jawa didepan semua orang yang ada di pertemuan tersebut.


“Terlihat disini ada peta Jawa.” Stella menyentuh seluruh peta jawa tersebut menggunakan pena yang ada di tangannya, dia memberikan titik pada posisi awal pembangunan yaitu Anyer. “Dimulai dari Anyer datang ke Tangerang lalu Batavia, Ciandjoer, berhenti disini.” Stella melingkari bagian Soemedang (Sumedang). “Saya belum pernah datang ke sana, tapi disini ada batu cadas yang lumayan menghambat pembangunan jalan, membutuhkan waktu yang lama dan juga tingkat keselamatan yang tinggi.”


“Bagaimana anda tahu jika disana ada batu cadas?.”


“Saya hanya tahu, saya mempelajari letak geografis Jawa, saya akan sangat membantu dalam pembangunan ini.”

__ADS_1


Daendels tersenyum mendengar Stella memaparkan pikirannya didepan semua orang yang bahkan sama sekali tidak berada di pihaknya.


Bersambung


__ADS_2