Daendels Estella

Daendels Estella
De Grote Postweg


__ADS_3

Ruang makan itu menjadi sangat sunyi, wajah Stella tidak bisa menahan rasa kesal nya, tapi Daendels juga tidak bisa mengalah atas apa yang sudah diputuskan. Membangun jalan itu untuk penduduk juga, mereka yang menggunakan, bukan semata-mata hanya untuk kepentingan atasan, jika memang penduduk tidak ingin mengabdi, maka seharusnya dia tahu bahwa hal itu adalah pekerjaan yang dilakukan secara cuma-cuma untuk kepentingan publik.


Tapi melihat wajah Stella yang kesal, membuat Daendels tidak bisa membiarkannya, dia tidak bisa melihat wajah cantik itu menjadi tidak ada selera untuk melihatnya. “Saya akan memberikan upah pada pada pekerja.” Ucap Daendels yang membuat Stella menoleh.


“Berapa?.”


“Bahan makanan.”


“Tidak cukup, manusia bukan hanya butuh makanan tapi mereka juga punya kebutuhan lainnya yang perlu dipenuhi. Bagaimana kalau bentuk uang?.”


“1 Perak untuk satu pekerja.”


“Tidak. Saya akan membuat rinciannya nanti setelah makan, anda harus mempertimbangkannya."


“Baiklah.”


Setelah itu mereka benar-benar menghabiskan kegiatan makan dengan sangat tenang. Stella menghabiskan kegiatannya di kamarnya sehabis makan malam, dia menuliskan banyak rincian pengupahan, sesuai dengan jarak jalan, dia membagi upah secara rata. 1 perak di jaman ini sangatlah besar, melihat jarak pekerjaan dan medan jalan yang akan dibuat, Stella membagi beberapa bagian upah untuk pekerja. Dari 10 perak hingga 1 perak, pekerja tambahan juga akan mendapatkan bahan makanan untuk keluarganya.


Pagi itu, Stella membawa kertas miliknya menuju ke rumah kerja Daendels, pria itu ada disana sedang membaca berkas-berkasnya. Ketukan di pintu membuat Daendels mengalihkan pandangannya ke arah pintu dan tersenyum pada Stella.


“Masuk.”


Stella masuk kedalam dan menyerahkan kertas yang sudah dia buat semalaman, jika tidak mendatangi Daendels pagi-pagi, Stella tidak akan bertemu dengan pria itu yang sudah berangkat untuk bekerja di Batavia. Stella ingin sekali pergi ke Batavia, terakhir kali dia datang dan langsung pergi ke Bogor, karena menurut Daendels Batavia tidak pernah cocok untuk tempat tinggal, terlalu kumuh dan bahaya untuk kesehatan.


“10 Perak adalah harga yang mahal untuk seorang pekerja pribumi.”

__ADS_1


“Anyer ke Panarukan adalah jalan yang panjang untuk dikerjakan oleh tenaga manusia, seharusnya tidak masalah dengan harga 10 perak. Bukan hanya itu, tidak banyak jalan yang memiliki kontur tanah bagus, ada yang bahaya ada juga yang sulit, saya membaginya secara detail mempertimbangkan kondisi geografis disana.”


“Bagaimana anda tahu kondisi geografis disana?.”


“Itu-.” Stella terdiam, dia terus mencari alasan apa yang bisa digunakan untuk memperkuat pendapatnya. Dahulu Stella sangat suka liburan, keluarganya, ayah ibu serta kakaknya ada kegiatan trip keliling jawa setelah akhirnya trip Eropa. Stella hafal bagaimana keadaan antara Anyer dan Panarukan, dia pernah menuliskan di buku catatannya. Walaupun Stella tidak suka pelajaran sejarah, tapi dia sangat suka pelajaran Geografi.


“Anda tahu banyak hal mengenai hindia belanda?.” Daendels berdiri dari duduknya dan berjalan memutari meja menghampiri Stella yang sedang mencari jawaban atas pertanyaannya.


“Itu karena saya.”


“Apalagi yang anda tahu soal saya dan hindia belanda?.” Jarak mereka semakin dekat, jantun Stella mulai berdetak lebih cepat, dia semakin gugup akan menjawab apa.


“Saya suka geografi!.” Jawab Stella sambil memejamkan mata dan menundukkan kepala “Saya suka Geografi, saya mempelajari tentang keadaan alam Jawa.”


“Bohong.” Daendels menjauhkan dirinya dari Stella dan kembali duduk di kursinya. “Barang milik anda yang anda simpan itu adalah barang yang belum ada di muka bumi ini, barang yang kemungkinan akan ada di masa depan walaupun saya tidak tahu itu kapan.”


“Iya, ada di kamar saya. Jika orang lain melihat itu maka anda kemungkinan akan dibawa ke Belanda untuk bahan percobaan. Sebenarnya anda datang dari mana?.”


Stella menghembuskan nafas beratnya kemudian duduk di kursi yang ada disana “Sebelum saya bangun di kapal anda, saya hanyalah seorang siswi perempuan di sekolah, saya ketiduran saat belajar, lalu bangun di kapal besar milik anda.”


Daendels mendengarkan dengan seksama cerita yang Stella paparkan padanya, banyak hal yang tidak bisa dipercaya tapi Stella sama sekali tidak terlihat sedang membohonginya.


“H.W. Daendels ada di Buku Sejarah Indonesia, disini, sejarah Hindia Belanda. Anda adalah Gubernur Jenderal yang sangat kejam pada masa nya, terutama dalam pembangunan jalan Anyer Panarukan atau De Grote Postweg. Akan banyak manusia yang berjatuhan karena pembangunan itu, banyak nyawa yang melayang karena sistem kerja paksa yang anda terapkan."


Daendels masih terdiam mendengarkan ucapan Stella.

__ADS_1


“Kedatangan anda memang sebuah cahaya baru untuk Hindia Belanda, anda berhasil memberantas korupsi peninggalan pemerintahan VOC sebelumnya karena kerja keras anda. Anda adalah pemimpin yang hebat.”


Daendels tidak tahu apakah dia harus percaya dengan ucapan Stella atau tidak, tapi gadis itu seakan memberikan sebuah teka teki baru dalam hidupnya, jika memang Stella datang dari masa dimana masa sekarang adalah sebuah sejarah untuknya, maka seharusnya Stella hanyalah gadis modern yang punya banyak kisah di hari ini.


“Bagaimana dengan anda? Apakah anda ada di dalam sejarah?.”


Stella menoleh ke arah Daendels memunculkan tanda tanya baru, jika Stella berada di sekitar Daendels hari ini maka sejarah akan benar-benar berubah. Jika Stella ikut campur dengan garis yang telah dituliskan maka semuanya akan berubah, tidak ada Daendels kejam dalam bukunya yang menerapkan kerja paksa.


“Saya tidak tahu.”


“Saya percaya dengan anda, jadi jangan mengecewakan saya. Saya akan melakukan apa yang anda katakan perihal De Grote Postweg, mengenai pengupahan pekerja pribumi.”


“Terimakasih telah percaya pada saya.”


“Tapi bagaimana anda bisa pulang ke dunia anda?.”


Stella terdiam, dia kembali berpikir, sejujurnya dia tidak melakukan apapun untuk kembali ke masa depan, dia tidak berusaha sama sekali. Kegiatannya sehari-hari hanya dihabiskan di rumah ini untuk belajar dan belajar.


“Sejujurnya saya tidak pernah mencari cara untuk kembali pulang, saya tidak tahu harus mulai darimana.”


“Bagaimana jika anda ikut saya ke Batavia untuk menemui Kolonel yang saya perintahkan bertanggung jawab atas De Grote Postweg? Batavia adalah lokasi pertama kedatangan kapal, jika memang anda ditakdirkan untuk berada di kapal maka seharusnya tujuan anda ke Batavia.”


Yang dikatakan oleh Daendels ada benarnya, Stella memang tidak punya tujuan tapi kapal Daendels yang membawanya punya tujuan yaitu Batavia.


“Iya saya mau.” Jawab Stella dengan tegas, sudah saatnya dia mulai mencari jalan untuk pulang.

__ADS_1


Stella kembali ke kamarnya dengan buru-buru, membersihkan tubuhnya dan memakai pakaiannya yang bagus. Kali ini sama dengan pakaian sebelumnya, yaitu dress yang sangat cantik dipadukan dengan sepatu nyaman serta topi yang melingkar di kepalanya.


Bersambung


__ADS_2