
Di pulau itu, Jajang nampak tengah bersiap dengan beberapa orang yang membantunya, bila dia ikut bersama Kejora kemunhkinan besar Kejora akan terkejar oleh para penjajah dan penyelamatanpun akan gagal.
"Iya saya setuju dengan rencana mu Jang!" seru seorang pria bertubuh kekar yang menyimak setiap ucapan Jajang.
"Bagaimana dengan yang lain?" tanya Jajang memandang seluruh orang yang ada disana, semua orang mengangguk setuju, mereka bubar untuk melakukan rencana penyerangan.
Mereka mengendap di antara rimbunan pohon mengawasi keadaan, dan sebagian lagi memasuki ruang bawah tanah yang tersebar namun saling terhubung, benar saja tembakan mengarah pada seluruh pulau dari rentetan pagar betis yang kian menerjang.
Namun perlawanan para pribumi tak gentar, meski mereka belum melancarkan aksi mereka namun melihat keganasan penjajah itu tidak membuat mereka takut atau gentar.
Para penjajah kian kebingungan karena tak ada suara yang terdengar dari pedesaan itu, yang nampak sangat sepi.
"Periksa!" ucap salah seorang pemimpin dari jajaran depan para penyerbu terhadap pengawalnya.
Beberapa pengawal penjajah itu menuruti atasannya dan merangsak masuk ke pemukiman, warga yang tengah menunggu di atas pohon lantas menghabisi mereka dengan cepat tanpa suara sedikitpun, bekapan di mulut mereka membuat mereka bungkam saat nyawa mereka melayang.
Para penjajah itu telah sangat lama menunggu utusan yang di kirim ke pemukiman yang belum kembali kian menjadi waspada, namun ternyata hal itu memang di sengaja oleh warga desa di karenakan para warga tengah mengulur waktu untuk melakukan penyerangan.
"Sial!" ucap pria itu yang memiliki kulit putih pucat bernama Filsen.
"Cepat! Serang mereka!" ucap Filsen dengan sangarnya, para penjajah di barisan depan itu akhirnya merangsak masuk ke area pemukiman, namun sayang mereka tak mendapati apapun, hanya semilir angin yang terdengar amat sunyi dengan suara dedauan yang beradu lembut.
"Tunggu!" Filsen menatap begitu banyak jejak kaki yang mengarah ke pegunungan yang terlihat belum lama.
__ADS_1
"Mau melarikan diri dariku, minpi!" ucap pria itu lantas berlari bersama para pengawalnya mengikuti jejak kaki itu.
Namun tiba tiba bumi yang mereka pihak bergetar dan tanah itupun amblas semua serdadu penjajah di atasnya masuk ke jebakan yang sudah di sambut dengan bambu bambu runcing yang menghunus tajam.
Pria bernama Filsen itupun berbalik menatap ke arah para pengawalnya yang sudah terbunuh hampir sepepertiga pengawalnya mati, rasa kesal membuatnya gelap mata dan membakar rumah rumah warga hingga api membumbung menyelimuti malam yang gelap, jerami jerami kering yang mudah terbakar di lalap habis oleh si jago merah.
Dan saat api membumbung tinggi mata Filsen terbelalak saat melihat kapal besar yang siap berlayar. Jajang yang telah menyadari sebuah bahaya yang akan menimpa para warga lemah yang tidak bersalah lantas memberikan isyarat untuk menyerang.
Beberapa anak panah keluar dari sela sela hutan bambu yang tidak jauh dari tempat para penjajah berada mereka kian waspada, namun karena kegesitan para warga desa mereka tidak dapat di hentikan hingga akhirnya peluru peluru dengan keras menghancurkan pohon pohon bambu dan terdengar suara orang yang mengaduh.
Namun saat mereka akan memeriksa sekeliling mereka tak mendapati darah satu tetespun dan orang yang terluka. Para penjajah berbalik ketakutan namun terlihat di atas genung orang orang dari barisan belakang dengan senjata senjata mereka yang lebih mutakhir membuat mereka tak gentar.
Kembali sebuah siulan terdengar di tengah tengah desa dan sebuah panahan yang jumlahnya tak dapat di hitung mengarah ke atas gunung dan para penjajah yang dia atas gunung tanpa perlindunganpun terkejut dan berlarian tak tentu.
Korban nyawa berjatuhan dari para penjajah hingga darah mengecat gunung hijau menjadi merah, di lembah itu arang kehancuran, puing puing abu dan api yang mulai habis memperlihatkan bentuknya.
Di ruang bawah tanah Jajang dan Pak Sukri telah bersiap kabur bersama warga desa, dua orang warga desa yang merupakan seorang pemanah terluka parah akibat tembakan yang di lakukan penjajah.
Tanah indah dengan pantai pasir putih bernama Pangandaran itupun luluh lantah dan hangus dalam semalam.
Dua warga yang terluka di bawa oleh empat orang warga dengan tandu, mengikuti lorong lorong gelap di hadapan mereka, rasa sesak di rasakan oleh mereka karena kekurangan oksigen, namun hal tersebut tidak menghentikan langkah mereka.
Mereka lantas sampai di mana sebuah pemandangan berbeda terlihat, sebelumnya mereka sudah menghancurkan gundukan tanah di atas mereka untuk menghentikan para penjajah mengikuti mereka, di takutkan mereka menemukan lorong bawah tanah tersebut.
__ADS_1
Kini nampak air mengalir deras di hadapan mereka dengan mata hari yang sudah bersinar terang, terdengar siulan siulan burung bergantian menyambut mereka dengan semerbak bunga menyeruap memenuhi hidung mereka.
"Kita sampai!" ucap Jajang keluar dari sebuah air terjun yang nampak elok di pandang. Disanalah tempat dirinya dan Sani dulu belajar dan menghabiskan waktu bersama.
"Apa? Dimana kita? Bagaimana kita keluar dari tempat ini?" tanya seorang pria yang nampak sangar dengan suara yang gahar.
"Ini adalah tempatku dan isteriku menghabiskan waktu bersama, dan beginilah caranya keluar!", Jajang menerjang air yang mengalir itu hingga tubuhnya langsung terbang menghilang dari pandangan para warga desa dan jatuh ke bawah air yang mengalir dengan deras.
Para warga nampak terkejut namun keterkejutan mereka kembali berhenti saat Jajang memperlihatkan dirinya kembali dari balik air terjun.
"Ayo!" Jajang meraih tubuh pria yang terluka dan membawanya keluar di ikuti oleh Pak Sukri, dan Surwa.
Pak Sukri amat terkejut saat sampai di tempat yang di maksud Jajang disanalah biasanya dia melatih Jajang dan Sani, di sana juga kenangan kenangan indahnya berjalan bersama. Lintasan lintasan bayangan keindahan terlihat di upuk matanya bayangan Sani tengah berlari dan tertawa dengan saudara laki lakinya yang telah meninggal, kenangan sang isteri yang telah meninggalkannya dan kenagannya bersama Jajang dan Sani saat belatih berkelebatan di depan matanya.
Air mata mengaliri pipinya, kesedihannya pecah saat dirinya tak menyangka akan kembali ke tempat penuh kenangan itu karena desa sebelumnya yang sudah hancur dan jarak desa yang baru dengan tempat itu sangatlah jauh namun melalui lorong itu mereka dapat menempuhnya kurang dari setengah malam.
Hati Pak Sukri menghangat merasakaan desiran lembut yang menyeruap memenuhi dadanya kian membuatnya merindu akan sosok sosok yang telah pergi meninggalkannya, mereka orang orang yang sangat dia cintai.
Bersambung...
Jangan lupa Like, Komen dan masukin list bacaan kalian ya...
Salam cinta dari Raisa..😘
__ADS_1