
"Apa tujuan kalian sesungguhnya?" tanya Jajang memperhatikan semua orang yang baru keluar dari antara semak semak di sekitar daerah tersebut.
"Kami bertujuan dengan tujuan yang sama seperti kalian!" ucap salah seorang di antara mereka, yang terlihat seperti pimpinannya.
Jajang terdiam sejenak memperhatikan mereka yang nampak tidak membahayakan namun mereka cukup terlihat licin seperti belut, membuat Jajang sedikit waspada, dengan santainya Jajang duduk dan menyalakan api pada kayu bakar kering yang berada di sekitar tempat dia berada.
"Baiklah! Silahkan bicara!" ucap Jajang, namun Jaka masih berdiri dan berwaspada pada keadaan yang mungkin saja akan berubah menjadi berbahaya.
"Anda berjuang sendiri dan mampu menghancurkan tempat yang sudah sangat lama ingin kami hancurkan, kami ingin menjadi sekutumu!" ucap pria itu, namun Jaka yang mendengar itu merasa jangah dan tidak suka.
"Aku tidak setuju!" ucap Jaka tidak suka.
Namun Jajang malah memberikan isyarat melalui tangannya untuk Jaka agar tidak melanjutkan ucapannya.
"Baiklah, namun kami tidak suka berkelompok, tujuan kalian menghancurkan markas mereka sudah berhasil, lalu apa lagi yang ingin kalian lakukan?" tanya Jajang merasa penasaran.
"Segala sesuatu memiliki akarnya, dan akar adalah inti kehidupannya!" ucap pria itu lagi.
"Kalian ingin kami pergi ke Negeri mereka?" Jajang langsung menutup pembicaraan itu hingga semua orang terdiam tidak bersuara.
"Maafkan kami, bila itu yang kalian minta aku tidak bisa!" ucap Jajang melemparkan abu yang ada di tangannya ke arah mereka dan langsung menarik tangan Jaka untuk menjauh dari kerumunan yang amat berbahaya itu, hingga akhirnya menghilang di kegelapan malam. Memang seekor belut tidak berbahaya atau beracun, namun Jajang hanya tidak ingin mereka semua gugur layaknya para saudaranya dulu.
Abu itu adalah abu dari kayu pohon kematian, memang tidak teralu banyak efek yang di timbulakn namun mampu membuat mata pedih dan nafas menjadi sulit namun hanya ber efek sementara.
Jaka yang terus memperhtikan punggung Jajang merasa sangat kagum dengan kebijaksanaan saudaranya.
Perjalanan mereka berlanjut menuju markas selanjutnya dari para penjajah, untuk menghancurkan para penjajah keji itu, namun sebelum hal itu mereka lakukan, mereka kembali ke sebuah gua yang menjadi markas mereka sekarang, meski jaraknya sangat jauh namun di tempat itulah mereka merasa nyaman.
Sedangkan tempat yang mereka tinggalkan itupun hancur lebur dengan korban yang tidak terhitung.
__ADS_1
***
"Wah.. Sangat mengagunkan kek! Tapi di manakah tempat penyergapan itu sekarang?" tanya seorang gadis pada kakeknya yang tengah bercerita.
"Sekarang tempat itu berada menjadi sebuah pusat kota dari provinsi kita!" ucap sang kakek menjelaskan dengan sangat telaten.
"Wow, apakah itu berada di bandung?" tanya gadis itu lagi.
"Ya itu di sana! Tapi setelah hal itu terjadi, para penjajahpun kian menjadi dan semakin tak terkendali namun pemberontakan dari para pribumi pun tidak pernah padam, mereka terus memberontak mempertahankan tanah kita saat ini." ucap kakek tua itu.
"Lalu apa yang terjadi pada orang orang yang bertemu Jajang?" tanya kembali gadis kecil itu kepada sang kakek.
"Alika sayang, kamu tahu apa itu sejarah?" kakeknya tersenyum menatap mata coklat emas cucunya yang bernama Alika.
Alika lantas menggeleng, bagaimana mungkin dia tahu, dia saja saat mendengarkan pelajaran sejarah selalu tidur di kelas.
"Sejarah itu akan menuliskan keagungan dari kemenangan, dan jarang mengutarakan bagaimana perjuangannya, selain itu sebuah sejarah pasti akan pro terhadap yang meneng." kakek tua itu menjelaskan sembari berdiri membuka gorden kamar yang semula tertutup.
"Alika pernahkah kamu mendengar sebuah golongan yang kalah perang dan kekalahan itu di agungkan?" tanya kakek tua itu pada gadis yang nampak masih mematung.
"Ya aku pernah mendengarnya, seperti kisah perang salib! Kaum muslim kalah namun kekalahan itu masih di agungkan karena terdapat pembelajaran di dalamnya, dan bukankah karena itu para orang orang barat menyebar ke wilayah kita untuk mengulang kembali sejarah kemenangan itu?" gadis kecil yang terlalu sering membaca novel itupun menyimpulkan pengetahuannya se enak jidatnya sendiri.
Kakek itu menggeleng mendengar jawaban cucunya yang terdengar begitu meyakinkan dan sangat menjajikan.
"Coba di fikir, kenapa mereka menjajah negri kita?" sang kakek lantas menunduk memperhatikan ekspresi wajah Alika yang masih terlihat kebingungan.
"Hmmm, mungkin karena tanah kita subur, karena kita juga merupakan negara kepulauan yang kaya raya dan tentu saja karena wanitanya cantik cantik!" Alika dengan senyum lebarnya mengangkat jari telunjuk dan jempolnya di bawah dagu, memperlihatkan gaya keren.
Kakek itu lantas menggeleng pelan dan terkekeh setelahnya memeperhataikan bagaimana sifat cucunya yang sangat manis.
__ADS_1
"Ya mungkin salah satunya juga karena itu, kamu pintar!" ucap sang kakek, bukan malah menyangkal kakek itu justru membenarkan ucapan cucunya.
"Sebentar deh kek, aku penasaran jangan jangan..!" Alika menyelidik wajah sang kakek dan menunjukkan jarinya.
"Jangan jangan apa?" kakeknya mengangkat alis tuanya memperhatikan wajah cantik sang cucu.
"Nama kakek kalo gak salah Jaka Rahardika kan? Dan nama nenek adalah Yasmin, kenapa kakek manggil nenek Zahra karena Zahra adalah kata umum dari Yasmin kan? Jangan pikir aku tidak memperhatikan jalan cerita kakek ya!" Alika nenyelidik wajah Jaka yang kini nampak bersemu.
"Aku sudah tebak, Yasmin itu artinya Bunga Melati atau hanya Melati saja, sama seperti Jasmint dari bahasa Inggris namun Yasmin itu bila tidak salah berasal dari bahasa Arab bener kan?" lagi lagi Alika menebak nebak sesuai nalurinya.
"Nah kalo kakek selanjutnya bilang Zahra pada Jajang, aku tahu pasti kakek keceplosan kan tadi? Zahra itu artinya Bunga tapi bersifat umum dan tidak spesifik dengan kata lain Yasmin Azzahra itu adalah nama nenek hayolo ngaku!" Alika dengan senyum manisnya menyelidik setiap sudut wajah sang kakek bergaya layaknya seorang detektif.
"Iya, kamu benar!" tanpa mengelak lagi Jaka mengiya kan mengusap kepala cucunya.
"Cie cie.. Yang lagi misi gak fokus gara gara mikirin nenek, ehem ehem!" Alika menggoda kakeknya dengan gaya ABG.
"Nenek kamu cantik wajar kalo kakekmu itu tidak bisa berpaling!" ucap sang kakek tersenyum kembut.
"Lanjutin dong kisahnya...!" Alika memelas dengan wajah dan mata yang di buat buat imut.
"'Allahu akhbar Allahu akhbar..!" senandung suara adzan terdengar mendayu di telinga mereka, memberikan kedamain pada sukma yang kian terlena dalam buaian suara nan merdu itu.
"Sholat dulu ya!" ucap Jaka mengelus pucuk kepala sang cucu penuh rasa sayang.
Alika mengangguk setuju dan mengikuti lankah sang kakek, membawa sebuah gulungan kain dalam sejadah yang menggulungnya.
Mereka berjalan menuju sebuah mushola kecil yang tidak begitu jauh dari rumah yang mereka tinggali, mengsujudkan kening mereka pada sang ilahi.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa Like, Komen dan malukin list bacaan kalian ya...!
Salam cinta dari Raisa๐๐