
Suasana pagi itu memang cukup mengejutkan dengan kapal besar yang mengepulkan asap tebal yang perlahan karam.
semua orang memperhatikan tujuan ibu jari yang di tunjukkan oleh Jajang dan kemudian menggeleng.
"Kami tidak tahu!" ujar salah satu orang tua dari kerumunan di sana.
"Ah baiklah.. coba kalian perhatikan letak kapalnya dan mesinnya berada, seperti halnya manusia yang dapat bermanfaat adalah yang hidup, kapalpun begitu! bila mana kita menyerangnya tepat di bagian kehidupannya maka diapun akan menjadi barang yang tidak berguna!" Ucap Jajang terdengar kejam namun memang begitulah konsekwensi hidup.
Beberapa warga nampak menelan salivanya saat Jajang berkata demikan, karena arti dari kata kata itu sendiri memang bermakna cukup runcing dan menusuk.
"Wahhh... Kamu jahat Jang! tapi memang begitulah hidup". tambah Jaka terkekeh halus.
Semua orang lantas menujukan pandangannya pada Jaka, dan dengan tanpa perasaanya Jaka berkata memaparkan apa maksud dari kata kata itu.
"Bila kalian ingin hidup maka jadilah orang yang berguna! Karena nyatanya yang tidak berguna hanyalah sampah!" ucap Jaka lantas semua orang melotot mendapatkan penuturan tersebut.
"Bersembunyi itu memang terlihat hal pengecut, tapi pikirkanlah untuk apa kita ada di dunia? Bukankah kita harus berguna? bukan membuang buang tenaga dan nyawa!" Tambah Jaka kini Jajang pun ikut memperhatikan ucapan Jaka yang terdengar sangat menukik.
"Bila kita tidak mau mati maka aku tanya pada kalian. Apa sebenarnya yang menjadi tujuan hidup kalian?" Tanya Jaka namun semua orang nampak membisu tak bersuara, orang yang mengerti ucapan Jakapun menunduk.
"Tujuanku hidupku adalah untuk beribadah kepada tuhan yang maha esa, dan untuk memerdekakan tanah air ku!" ucap Jaka pasti, entah dari mana datangnya irisan bawang yang tiba tiba mampu membuat air mata Jajang berkaca kaca dan hampir mengalir mendengar ucapan kawannya itu.
'Jaka benar itu pula yang jadi tujuan hidupku sekarang'. Ucap Jajang dalam hati membenarkan perkataan Jaka.
Semua orang menunduk dan merasa malu sudah tentu, mereka menjadi budak dan menunduk pada kaum penjajah untuk mendapatkan pengampunan agar nyawa mereka terselamatkan, namun siksaan semacam itu pula rasanya sangat menyakitkan. Keyakinan yang di perlihatkan Jaka mampu membuat semua orang mengubah haluan pandangan mereka.
"Berapa banyak keluarga kalian yang sudah mati?" tanya Jaka namun lagi lagi semua orang tak menyahut karena memang tidak terhitung jumlah keluarga mereka yang sudah meninggal akibat penjajahan tersebut.
"Apakah kalian mau anak cucu kalian bernasib sama seperti kalian? oleh sebabnya maka berjuanglah dan jadilah manusia yang berguna setidaknya untuk diri kalian sendiri!" ucap Jaka menghentikan ucapannya.
__ADS_1
*
*
*
"Kakek aku sangat malu dengan mereka!" ucap gadis itu menunduk.
"Kenapa harus malu? bukankah kita juga bisa melakukan perjuangan yang sama seperti mereka!" ucap kakeknya tersenyum.
"Wah benarkah?" gadis itu nampak amat bersemangat.
"Tentu, dengarkan lagi ya kisahnya..."
gadis itu mengangguk, hatinya merasa malu karena hal sepele saja dia sudah sering banyak mengeluh seakan di dunia ini dialah orang yang paling menderita, namun mendengarkan kisah kakeknya itu dia perlahan sadar bila dia salah.
Gadis itu kembali mendengarkan kisah yang di sampaikan kakeknya yang sangat panjang itu, meresapi setiap makna yang terkandung dalam kisahnya.
*
*
*
Rasa malu di rasakan semua orang hingga salah seorang pria muda bertanya pada Jaka.
"Maaf, tapi aku tidak memiliki kemampuan apapun apa yang bisa aku bantu?" ucap pria itu, nampak sekilas senyum terbit di bibir Jaka dan Jajang yang nampak kini saling pandang.
"Aku juga tidak punya kemampuan apapun awalnya, aku hanya bisa bernyanyi dan bersyair, tapi aku belajar meski aku memerlukan waktu sangat lama untuk jadi berguna, tapi tidak ada kata terlambat untul belajar!" ucap Jaka sontak semua orang mengangguk, seakan mendapatkan kekuatan yang menyihir mereka, Jaka berhasil memberi pengarahan.
__ADS_1
Jajang yang memang lebih pendiam menepuk pundak Jaka dan tersenyum lembut saat pandangan mereka saling beradu.
"Aku kini bukanlah Pangeran Hidayat atau siapalah yang di kenal kalian dulu, mulai sekarang namaku adalah Jajang!" ucap Jajang memberikan informasi mengenai dirinya yang telah berganti nama, semua orang manggut manggut mengerti.
"Aku adalah saudara Jaka!" ucap Jajang menambahkan, sontak mata Jaka menatap ke arah Jajang ada cahaya hangat nan lebut yang kini memenuhi sanubarinya, dia dulu sangat mengagumi sosok Jajang dan sangat ingin dekat dengan pria itu, namun dia tidak berani karena Jajang memiliki sifat pendiam yang mampu membuatnya takut.
Namun kini perlahan dia mulai sadar bila Jajang bukanlah pria seperti itu, Jajang adalah orang yang hangat meski memang terkadang sangat tegas dan berdisiplin tinggi, namun saat dirinya bersama Jajang dia sangat merasa nyaman, benar ucap Jajang mereka layaknya saudara meski darah yang mengalir di tubuh mereka jelas berbeda.
"Ya kita saudara!" bisik Jaka, namun Jajang yang sudah biasa menebak gerik bibir seseorang dapat mengerti dengan apa yang di bisikan pira itu.
Semua orang nampak saling pandang, beberapa di antara mereka mengerti arti semua itu namun tidak sedikit pula yang tidak faham dengan makna tersebut.
Saudara tidak selamanya mesti se ibu se ayah ataupun satu aliran darah, namun saudara bisa tercipta dari rasa saling percaya dan menyayangi.
Sahabat pula bisa di artikan saudara karena selain orang tua kita, yang paling mengerti kita adalah sahabat kita, mereka terkadang tidak kita hiraukan namun mereka sangat berarti dalam perjalanan hidup kita, betul begitu para reader's?
"Lalu apa yang paling kamu sukai selama ini?" tanya Jaka pada pria yang semula bertanya padanya.
"Aku paling suka makan!" ucap pria tersebut lantas membuat semua orang di sana tertawa mendengar pengakuan pria muda tersebut.
"Apa kamu juga suka memasak?" tanya lagi Jaka.
pria itu nampak malu malu, karena di zaman itu pria yang memasak itu sering sekali di rendahkan dan dia sangat malu mengatakan kesukaannya tersebut, dengan perlahan diapun mengangguk.
"Kamu bisa membantu kami membuat masakan enak! itu sudah sangat membantu! coba bayangkan bila di sini tidak ada yang bisa memasak? Bukankah itu akan menjadi sesuatu yang sangat mengherankan. Lantas bagaimana kita bisa makan?" ucap Jaka kemudian hingga semua orang yang tertawapun terdiam seketika.
"Kalian bisa berguna untuk diri kalian sendiri bahkan orang lain, maka jangan malu melakukan sesuatu yang sekiranya berguna bagi diri kita dan orang lain karena hal itu bukanlah sesuatu yang memalukan!" tambah Jajang hingga membuat semua orang tertunduk mendengar ucapan pedas yang di lontarkan Jajang.
Bersambung...
__ADS_1