DARAH JUANG

DARAH JUANG
Rasa ingin tahu


__ADS_3

Sepulang dari peraduan tempat mereka memanjatkan do'a, Alika kembali ke rumah sang kakek yang letaknya tepat berada di atas mushola sekaligus madrasah tempat anak anak menimba ilmu agama.


"Abang..?" Alika memperhatikan sebuah sepeda motor yang berada di garasi tersebut lantas berhambur memasuki rumah sang kakek.


"Aabang..!" Alika lantas memeluk sesosok pria yang berdiri tegap berada di ambang pintu yang tengah memperhatikannya.


"Gimana keadaan kamu de?" tanya pria itu mengecup sekilas puncak kepala adiknya.


"Baik bang, mana calon ipar aku?" Alika langsung to the poin pada inti yang menjadi rasa penasarannya.


Karena saat terakhir kakaknya ke sana dia berjanji akan membawa calon isterinya untuk di perkenalkan padanya.


Seorang wanita bertubuh setara dengannya dengan wajah manis dan sangat lembut nampak berdiri di belakang kakaknya, gadis itu nampak ragu dan takut karena terlihat dari cara dia menggenggam jaket kakaknya.


"Hai kakak ipar, aku Alik!" Alika tak menghiraukan rasa takut yang kalut dari wajah gadis manis itu dan langsung memeluknya.


"Alik, aku tia!" ucap gadis itu lembut, pelan namun tegas dan dewasa.


Alika tersenyum dan melepaskan pelukannya lantas menarik lengan gadis itu menuju kamarnya, dia kemudian menghampiri sang kakek yang duduk di ruang belajar yang tidak jauh dari kamarnya.


"Lanjutin ceritanya ya?" ucap Alika memelas penuh harap pada sang kakek setelah dirinya mengantar calon iparnya untuk menunggu di kamarnya.


"Ini siapa?" sang kakek bertanya saat tangannya melayang di bawa cucunya masuk ke dalam kamarnya dan melihat gadis manis yang duduk di atas ranjang.


"Ini kak Tia, insya allah akan jadi cucu kakek juga, ini calon kakak ipar Alik, dia baru pulang dari luar negri jadinya masih canggung." ucap Alika tersenyum menerangkan tentang Tia yang memang sering di bicarakan oleh kakaknya.


"Assalamu'alaikum kek, aku Tia." lirih Tia mencium punggung tangan Jaka.


Jaka tersenyum melihat kegugupan yang terpancar di wajah Tia yang kini tengah tersenyum canggung padanya.


"Ayo kak, kita dengerin cerita kakek, aku suka denger cerita kakek, ayo!" Alika langsung menarik tangan Tia untuk duduk di atas ranjang dan menarik kursi belajarnya untuk sang kakek duduk, dan dirinya kembali duduk di sebelah Tia.

__ADS_1


"Ayo kek lanjutin ceritanya!" ucap Alika tidak sabar.


Melihat Alika yang begitu sangat antusias lantas ikut penasaran dan ingin mendengarkan sebenarnya kisah apa yang sangat di nantikan calon adik iparnya itu.


Jaka pun tersenyum menatap kedua wanita muda yang mungkin selisih umurnya berkisar lima atau enam tahun itu.


"Wa'alikum salam Tia, salam kenal juga aku kakeknya Alika dan Adit, Tia juga panggil kakek saja!" ucap Jaka sebelum melanjutkan kisahnya dia menjawab salam yang sempat tertunda akibat keantusiasan Alika.


"Iya kek." Tia tersenyum simpul memperlihatkan keangunan yang terpancar dari wajah manisnya.


Sebuah kisah yang sempat sebelumnya tertundapun kini mulai di lanjutkan Jajang dan kembali mulai bercerita.


"Saat itu pagi sangat cerah matahari mulai memperlihatkan sinarnya membelah dedauanan dan memberikan sinar pada tanah yang jarang terpijak sinar langsung itu..."


***


Jaka dan Jajang saat itu baru saja menyelsaikan mandi dan mengambil air untuk rutinitas harian mereka, matahari nampak sangat indah di pandang pagi itu, dimana setiap cahayanya merasuk di antara sela sela dedaunan memperlihatkan layaknya jari peri yang memberi kehidupan untuk bunga agar bermekaran.


"Tidak! Jawab Jajang singkat agar tidak memperpanjang permasalahan yang mungkin akan timbul dari rasa ingin tahu yang selalu ada di diri Jaka.


"Beneran?" Jaka kian menyelidik dengan gayanya yang sangat menggelitik.


"Tentu, memangnya kenapa?" tanya kembali Jajang berusaha mencari jawaban pasti dari sahabat sekaligus saudaranya itu.


"Senandungmu indah saat di sungai, aku yakin bila kamu jadi penyair kamu pasti akan sangat di kagumi!" ucap Jaka jahil namun nyata.


Jajang lantas melotot memandang Jaka, memang sempat beberapa kali dia berseandung di sungai untuk meluluhkan hatinya yang merindukan sosok puteri dan isterinya yang mana kini jauh dari pandangannya.


"Hai bunga indah mu dengan rona..." belum selsai Jaka bersenandung Jajang lantas melompat ke sebuah dahan besar dan pergi meninggalakan Jaka sendirian, seakan menghindari suatu hal.


Jaka tertawa riang dan melangkah mengikugi jejak saudaranya dengan senyum yang mengembang, siang itu mereka melatih pertahaan diri dan mengolah energi dalam tubuh.

__ADS_1


Jajang dan Jaka kini mungkin sudah memiliki ilmu yang sama, namun keduanya tidak sungkan saling menegur bila salah satu di anatara mereka melakukan kesalahan.


"Kamu semakin menakjubkan Jaka!" puji Jajang tersenyum simpul.


Jaka membalas senyuman Jajang dengan senyuman tulusnya dan mengambil air yang terletak tidak jauh dari tempat dia berada untuk di minum.


"Terima kasih Jang, ini semua juga berkatmu yang tidak pernah lelah mengajariku dalam berbagai kondisi dan situasi hingga akhirnya aku mampu terus belajar darimu!" ucap Jaka menerangkan bagaimana perbedaan dia saat ini dan dulu.


Jajang tersenyum simpul dan mendekat ke arah Jaka yang berada tidak terlalu jauh dari tempatnya berdiri saat itu.


"Dulu, kenapa kamu tidak langsung memintaku mengajarimu saja, bila saat itu kamu memintaku mengajarimu tentu latihanmu pun akan jauh lebih cepat di bandingkan sekarang!" Jajang mengingat ingat bagaimana dirinya selalu di intipi Jaka saat berlatih.


Surwa yang memiliki kebiasaan buruk mengintip para gadis desa yang tengah mandi terlihat sangat nakal di mata para warga desa, namun berbeda dengan Jaka yang lebih suka mengintipi Jajang saat berlatih, hal itu sudah sangat cukup menandakan bagaimana sebenarnya rasa keingin tahuan Jaka pada ilmu bela diri.


"Eh kamu tahu Jang?" Jaka yang merasa terpergoki lantas tersenyum nakal dan terkesan malu malu.


"Tentu saja, mana ada orang yang mengintip di tempat yang mudah terlihat seperti itu!" ucap Jajang terkekeh karena memang saat itu pengetahuan Jakapun masih sangat terbatas.


"Heheh.., kan belum tahu!" Jaka tersenyum memamerkan rentetan giginya pada saudaranya yang kini tengah meneguk air.


"Hahah.., baiklah apa kamu sudah tahu bagaimana caranya untuk bersembunyi dan tidak mudah di ketahui musuh atau siapapun?" Jajang memberikan tawaran untuk menurunkan haksana pengetahuan yang dia miliki pada Jaka.


Mata Jaka langsung berbinar mendengar ucapan tersebut dan mengangguk dengan begitu antusiannya.


"Tentu saja aku ingin tahu, ayo ajari aku!" ucap Jaka bersiap dengan tubuh tegapnya berdiri di depan Jajang.


"Baiklah aku akan mengajarimu! namun sebelumnya kamu mesti memiliki wudhu terlebih dahulu, itu adalah salah satu syaratnya!" ucap Jajang memberikan pengarahan pada Jaka.


Jaka mengangguk dan dengan cepat dia melompati sebuah batang pohon besar yang mengarah ke sebuah sungai yang jaraknya memang cukup jauh dari tempatnya kini.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2