DARAH JUANG

DARAH JUANG
Pamit


__ADS_3

Setelah semua orang kagum dengan sudut pandang Jajang dan Jaka kini mereka sedang berbondong bondong saling bahu membahu membangun beberapa bangunan tidak begitu jauh dari pantai namun cukup aman dari terjangan ombak.


Seorang pria yang tadi bertanya pada Jaka yang kini di ketahui namanya Uju itupun tengah memasak di bantu oleh seorang wanita bernama cioh keduanya nampak sangat kompak saat mengerjakan sesuatu.


Jajang dan Jaka sendiri tengah ikut bersama beberapa warga desa membangun mesjid dan sebagian lagi membangun tempat ibadah mereka, seperti gereja dan kuil, memang mereka tidak dalam satu kepercayaan agama yang sama namun mereka tetap berjuang bersama, saling menghargai adalah suatu kunci meraih kebersamaan.


...


beberapa hari berlalu orang orang yang terluka telah sembuh dari lukanya dan dapat beraktifitas seperti biasa, di zaman itu memang sudah mengenal jenis mata uang namun mereka lebih memilih melakukan barter antar sesamanya.


beberapa pengrajin melakukan kemampuannya untuk di tukar dengan hal yang di butuhkannya seperti seorang pria yang pandai berenang dan menangkap ikan dan seorang petani yang pandai dalam mengurus tanaman mereka akan saling bertukar barang apa yang mereka butuhkan seperti sayuran dengan ikan, begitulah cara mereka melakukan aktifitas dan menyalurkan kemampuan mereka.


Namun tidak sedikit pula dari mereka yang ingin belajar bersyair dari Jaka dan belajar ilmu bela diri dari Jajang, mereka semua saling mengenal dengan cara mereka sendiri. Bukan hanya itu mereka juga saling membantu dalam pembelajaran.


Semisalkan seseorang yang sebelumnya terlahir sebagai bangsawan dan mendapatkan pelajaran, kini dia memberikan pembelajaran pada anak anak untuk membaca, menulis dan menghitung, tidak jarang juga mereka berdiskusi belajar mengenai stategi dan tata cara menghadapi para penjajah.


Beradu argumen memang sudah biasa terjadi meski mereka tetap mendahulukan saling menghargai, dan toleransi.


Keadaan desa itu kini nampak hampir sama dengan desa yang di bangun sebelumnya, keadaan itu terkadang membuat hati Jajang sakit karena dia amat merindukan isteri dan anak yang kini entah di mana.


Tak sadar Jajang tengah melamun di bawah pohon kelapa di mana kini di depannya nampak api tengah menyala dengan mentari yang kian datang menyapanya, pagi itu dia memang merasakan sebuah firasat buruk hingga akhirnya malam itu dia memutuskan untuk tidak tertidur dan memilih berdiam diri di tepi pantai.


"Jang?" terdengar dari belakang Jajang menyapanya, namun pikiran Jajang yang jauh dari alam sadar itupun tak kunjung menyahut hingga membuat perasaan Jaka menjadi tidak enak.


"Jang!" Jaka kembali memanggil saudaranya dengan menoel tangannya yang kini terasa dingin akibat angin pagi.

__ADS_1


"I...iya!" Jajang gelagapan berusaha mengumpulkan kesadarannya yang mungkin masih tertinggal dalam alam kerinduan.


"Kamu kenapa Jang?" tanya Jaka merasa aneh dengan kelakuan saudaranya yang memang akhir akhir ini sering melamun


"Jak, apa bila aku pergi dari sini aku akan menemukan puteriku?" tanya Jajang yang memang merasa sangat rindu pada puterinya.


"Ya mungkin saja, tapi kenapa?" tanya Jaka penasaran.


"Aku merindukannya Jak, aku tidak tahu bagaimana kondisinya kini!" ucap Jajang, Jaka yang mendengar itu menghembuskan nafasnya kasar dan menepuk pundak sahabatnya itu.


"Ya memang sangat sulit berpisah dengan orang yang sangat kita sayangi". ucap Jaka menangkap sosok mentari yang kini tengah terbit.


"Aku ingin mencari puteriku Jak!" ucap Jajang hingga membuat mata Jajang terbelalak.


"Apa? Jang di sebrang sana ada begitu banyak pulau yang dapat kemungkinan puterimu singgahi, lihat saja pulau besar ini! entah di balik hutan ini ada apa aku juga tidak tahu, tapi melakukan hal nekat seperti itu bukanlah solusi untuk melakukan sesuatu, syukur syukur bila bertemu dengan puterimu, bagiaman bila malah kamu yang tertangkap oleh mereka dan tidak dapat bertemu dengan puterimu lagi?" tanya Jaka merasa kasihan namun tetap memberikan saran.


"Ah, kau benar Jak, apa kamu memiliki hal yang ingin di lakukan sekarang?" tanya Jajang pada saudaranya yang kini duduk di sampingnya dengan alas pasir pantai.


"Aku?" Jaka menunjuk dirinya sendiri seraya bertanya pada Jajang, dengan halus Jajang mengangguk membenarkan.


"Ada! Tapi keinginanku agak gila!" ucap Jaka terkekeh geli.


"Apa?" tanya Jajang penasaran, karena selama ini Jaka selalu melakukan apapun yang menjadi tujuannya dan Jaka sendiri jarang sekali mengeluh.


"Aku ingin menghancurkan markas besar para penjajah di pulau ini!" ucap Jaka pasti.

__ADS_1


"Dulu bukankah tujuan di asingkannya dirimu adalah ke bandung?" tanya Jaka mengingat ingat cerita Jajang.


"Iya!" jawab Jajang pasti, dengan mata yang berbinar Jakapun menghadap mentap mata Jajang.


"Ayo kita hancurkan markas besar mereka!" ucap Jaka penuh semangat.


Hati Jajang menghangat seketika dan kemudian mengangguk setuju, Jaka lantas bersorak layaknya orang yang mendapatkan hadiah besar.


"Kita akan meninggalkan desa ini mulai sekarang dan aku yakin mereka mampu menjaga diri mereka sendiri!" ucap Jaka dan di angguki Jajang setelahnya.


Jaka dan Jajang berlalu dari pantai tersebut dan menuju desa yang tidak terlalu jauh dari tempat mereka, Jaka dan Jajang menuju sebuah ruangan besar dan nampak ada beberapa orang yang tengah berdiskusi.


"Sampurasun!" sapa Jaka memasuki ruangan tersebut, serentak orang yang berada di sanapun berseru.


"Rampes". Jaka dan Jajang kemudian duduk di antara kumpulan orang orang tersebut.


"Maaf saya ucapkan sebelumnya, maksud saya datang ke perkumpulan ini saya dan saudara saya ingin undur diri!" ucap Jaka, semua orang nampak terkejut dengan ucapam Jaka tersebut.


"Undur diri? kenapa? dan kemana?" tanya salah seorang pria dengan rambut putih sebagai tanda usianya.


"Kami juga tidak tahu, hanya saja kami memiliki sebuah keinginan sendiri, jadi saya dan saudara saya memohon maaf pada bapak bapak semua bila mana saat saya dan saudara saya tinggal disini sering menyulitkan kalian, dan maaf bila kata kata kami selama disini kurang baik dan sangat pedas". ucap Jajang seraya tersenyum.


"Tidak, kalian sama sekali tidak merepotkan kami! bahkan kamilah yang merasa sangat berterima kasih pada kalian!" ucap salah seorang pria dari perwakilan para warga.


Jaka tersenyum dan mengambil sebuah bakul berisi panahan dari kayu pohon kematian.

__ADS_1


"Ambilah ini, dan hati hati karena ini sangat beracun, bila kalian terdesak kalian bisa menggunakan ini untuk melindungi diri saat kalian merasa terdesak". Ucap Jaka dan di angguki Jajang setelahnya.


Bersambung...


__ADS_2