
Saat kaki mulai melangkah menapaki jalan yang belum terjamah, mata memperhatikan langkah, Jajang dan Jaka saat itu sudah beranjak dari desa meski belum begitu jauh namun tempat tersebut sudah begitu asing.
"Tuanku..!" teriak seorang wanita nampak terpogoh pogoh melambaikan tangan meminta mereka berhenti di belakang.
"Mimin!" Jaka berseru lalu terdiam setelahnya, Mimin sendiri merupkan wanita yang semula mengenal Jajang.
"Ada apa?" tanya Jaka agak ketus, meski sifat wanita itu terkesan baik namun sifat centil dan capernya membuat Jaka jijik.
"Aku ... huft... aku ingin... ikut bersama kalian!" ucap Mimin yang nampak membawa sebuah buntelan kain di punggungnya.
"Untuk apa?" tanya Jaka lagi dengan nada jutek dan ketusnya.
"Tentu saja ingin membantu tuanku!" mendengar itu Jaka ingin sekali muntah, dia sudah tahu benar bila wanita centil itu begitu mendamba Jajang.
"Mimpi!" ucap Jaka yang kemudian beralu.
"Aku tidak perduli dengan pendapatmu Jaka, lagi pula aku hanya ingin mengikuti tuanku!" ucap Mimin dengan menggoyangkan tubuhnya pura pura malu. Melihat hal tersebut Jaka ingin sekali mengubur wanita centil di hadapannya itu.
"Aish...!" Jajang menghembuskan nafasnya kasar lalu menghampiri Mimin.
"Maaf Min namun perjalanan kami tidak mudah, aku dan Jaka akan melakukan misi aku berharap kamu bisa mengerti!" ucap Jajang berusaha menjelaskan dengan halus.
"Tapi tuanku, aku berjanji tidak akan merepotkanmu!" ucap Mimin penuh permohonan.
"Tidak Min, kamu harus mendengarkanku! Pulanglah!" ucap Jajang yang secara halus mengusir wanita itu.
"Tidak tuanku! aku ingin ikut bersamamu!" Mimin tetap berada dalam keputusannya yang terakhir.
"Udah gih balik balik, mual aku liat kamu!" ucap Jaka yang memang sangat apa adanya.
"Apa!" Mimin terlihat sangat patah hati, dengan cepat Mimin menggenggam tangan Jajang.
__ADS_1
"Tuanku, apakah kau berpikiran hal yang sama!" tanya Mimin pada Jajang.
"ti...!" belum selsai mengucapkan katanya Jaka sudah menikung ucapan dari Jajang.
"Tentu saja, kami saudara selera kami sama, dan aku peringatkan sekali lagi Jajang sudah menikah jadi jangan dekat dekat dengannya!" ucap Jaka yang berusaha mengusir secepaynya wanita itu.
"Me...menikah?" ulang Mimin dengan sebuah nada pertanyaan.
Jajang mengangguk, dia memang sudah sangat lama hidup sendirian namun dia sudah berjanji pada dirinya sendiri bila dia tidak akan menikah lagi dan akan hidup seperti itu, meski di keraton dulu seorang sultan memang biasanya memiliki beberapa wanita yaitu selir selir namun Jajang bukanlah orang seperti itu, malah dia merasa sangat jijik dengan sikap poligami semacam itu.
Seandainya dia mempoligami isterinya dan lalu bagiamana bisa cinta di belah begitu saja, cinta adalah sebuah keutuhan yang tidak dapat di bagi, itulah yang dapat di mengerti Jajang hingga saat itu.
"Iya aku sudah menikah dan memiliki seorang puteri yang cantik!" ucap Jajang memuji keturunannya, dengan pujian itu pula dapat di artikan dirinya tengah memuji dirinya sendiri dan sang isteri, yang memang memiliki penampilan cantik dan tampan dan memang keduanya memiliki karismatik yang luar biasa mempesona.
"La...lalu aku?" Mimin merasa sangat kecewa dengan jawaban dari Jajang hingga kini wajahnya nampak tertunduk lesu.
"Min, kamu sudah aku anggap sebagai adik sendiri, hanya sebatas itu!" ucap Jajang dan kini wajah menunduk Mimin nampak sangatlah sedih, namun hati Jaka sangat senang saat hama itu di singkirkan dari hadapannya dan menambahkan minyak dalam api yang kini menyala.
"Kenapa kau memuji isteriku?" sela Jajang yang nampak sangat masam.
"Aish.. kau ini! kak Sani memang semempesona itu kok!" ucap Jaka terkekeh geli melihat wajah cemburu Jajang.
"Sani ya..!" Mimin menengadahkan wajahnya dan mengelap cairan yang menggenangi matanya.
"Iya, dia wanita paling sempurna di dunia!" puji Jajang dan mampu membuat hati Mimin teriris mendengarnya.
"Tuh denger! jadi jangan harap coba coba ngejar saudaraku!" ucap Jaka menaruh air garam dalam luka yang menganga.
Dengan sakit yang begitu menyiksa, Mimin mengusap air matanya lalu menatap teguh ke arah Jajang.
"Aku bisa jadi isteri kedua, aku tidak keberatan!" ucap Mimin dengan pendiriannya.
__ADS_1
Jaka benar benar tak habis pikir dengan cara pandang wanita itu, dia benar benar sudah di butakan dengan pesona duda di sampingnya.
"Maaf Min, aku tidak bisa!" ucap Jajang melepaskan tangannya dari genggaman tangan Mimin.
Tawa puas di pertontonkan Jaka dia sudah sejak lama merasa tidak suka dengan Mimin yang selalu menempeli saudaranya seperti lumut.
"Udah kamu balik aja gih! kita juga mau pergi takut keburu sore!" ucap Jaka dengan gamlang mengusir mimin.
Hati Mimin tersayat bak sembilu, namun Jajang yang memang tidak suka melihat orang kecewa menepuk pundak Mimin dan memberi dia semangat.
"Min kita di ciptakan tidak berjodoh, jadi mengertilah dan biarkan kami pergi, aku yakin suatu hari pria yang kau damba akan hadir di sampingmu namun mungkin itu bukan aku, tapi percayalah tuhan menciptakan segala sesuatu saling berpasang pasangan jadi jangan berkecil hati!" ucap Jajang yang kemudian berlalu meninggalkan Mimin yang masih terpatatung.
"Baiklah...! Mimin akan cari pria lebih baik dari Kang Jajang dan Mimin akan buat hati Kang Jajang kecewa karena mimin mendapagkan pria yang jauh lebih baik dari Kang Jajang!" teriak Mimin yang dapat di tangkap dengan jelas teriakannya itu oleh kedua belah telinga Jajang dan Jaka.
"Silahkan Min dan semoga kau bahagia!" teriak Jajang yang kemudian lompat ke atas dahan pohon yang cukup tinggi dan di ikuti oleh Jaka.
"Aku suka gayamu sekarang saudara!" ucap Jaka terkekeh melihat Jajang yang di buat kesal oleh sikap Mimin.
"Ya, memang harus tegas pada waktunya!" timpal Jajang dan mereka lantas terus melompat dari pohon satu ke pohon lainnya, merasakan hembusan angin sejuk yang menerpa kulit mereka.
Rambut panjang Jajang nampak melambai di terjang angin dengan dedaunan yang sudah mereka hampiri.
Perasaan Jajang memang sangat senang memiliki kawan yang sependapat dan selalu membuatnya tertawa meski terkadang Jaka juga sering membuatnya kesal karena tingkah saudaranya itu.
Perjalanan mereka terus berlanjut membelah gunung gunung besar dan melintasi pohon pohon rindang dengan hutan hijau.
Bersambung...
...Masih banyak kejadian menengangkan lainnya dan terus ikuti perjlanan Jajang untuk memerdekakan tanah airnya ya!...
Jangan lupa Like, Komen dan Masukin list bacaan kalian ya..!
__ADS_1
Salam cinta dari Raisa 😘😘