DARAH JUANG

DARAH JUANG
Siasat Kelam


__ADS_3

Jaka yang merasa akan sulit mengambil hati dari keluarga Yasmin pun merasa sangat terpuruk, terasa ada sebuah batu besar yang menghimpit tubuhnya.


"A niat a Jaka baik kenapa aa tolak?" Yasmin berbisik di telinga Rohman.


"Itu semua aku lakukan untukmu Yasmin, lihat seberapa besar nanti dia akan berjuang!" bisik lagi Rohman.


"Baiklah bila kalian berpendapat seperti itu, saya juga tidak memaksa!" ucap Jaka, Jaka jelas tak ingin kehilangan muka, namun dia juga tak ingin kehilangan kesempatannya.


Dia akan menyerah terlebih dahulu karena selanjutnya pastilah ada kesempatan lain yang akan menghampirinya.


"Kalian istirahat saja di penginapan untuk saat ini, karena mungkin kalian merasa lelah sepanjang perjalanan!" ucap Jaka mempersilahkan semua orang untuk masuk ke dalam sebuah taxi.


Keluarga Yasmin pun berlalu meninggalkan Jaka di dekat gerbang kota, Jaka menghembuskan nafasnya kasar dan melangkah mengikuti koridor jalan menuju luar kota dan masuk ke sebuah jalan kecil dan melompat pada sebuah batang pohon besar.


Dalam kegelapan rimbunan pohon seorang pria berkulit pucat pasi berwarna putih dengan bola mata biru dan rambut pirang nampak tengah memperhatikan Jaka, "Rupanya dialah kelemahanmu hahah.." tawa pria itu yang lantas menghilang di kegelapan.


Malam itu suasana senyap sunyi dengan bintang bertaburan di langit malam, Jaka dan Jajang tengah menikmati segelas kopi dengan ubi kukus dalam piring.


"Jak, bagaimana kondisi itu?" Jajang bertanya amat ambigu namun dapat di mengerti oleh Jaka.


"Kakaknya melarangku untuk membantu membangun rumah mereka, Ah.. Sangat meresahkan!" desah Jaka merasa kesempatannya terputus.


"Masih ada kesempatan lain Jak, yang sabar ya!" ucap Jajang menepuk pundak Jaka pelan.


...


"Tolong... Tolong..!" Rohman nampak berlarian dengan nafas tersegal berlari ke arah Jaka dan Jajang yang tengah bersantai riang menikmati keindahan malam.


"Itu calon iparmu! Ada apa?" Jajang mengangkat alisnya bersamaan dengan tubuhnya yang berdiri.

__ADS_1


Jaka lantas menggeleng dan turun dari rumah yang berada di atas pohon itu.


"Ada apa?" tanya Jaka merasa cemas melihat kerisauan di wajah iparnya yang nampak sangat khawatir.


"Yas..min huft.. Dia.. Yasmin.. Di culik!" ucap Rohman dengan nafasnya yang terengah engah.


"Di culik!" Jaka amat terkejut mendengar itu dia lantas mengumpulkan energi di tubuhnya untuk memenuhi kakinya.


Dengan sekelebat Jaka melompat ke dahan pohon dan seperti orang kesetanan dia melompat di antara genteng dan atap warga untuk bisa lebih cepat sampai di pondok penginapan yang di tempati oleh Yasmin.


Beberapa orang nampak berkerumun, dan ada beberapa wanita yang tengah menjaga isteri Rohman dan bayinya.


"Mana Yasmin?" teriak Jaka dengan mata memerah menahan amarah.


"Dia di culik oleh seorang pria bercadar!" ucap isteri Rohman dengan tangisnya karena bagaimanapun Yasmin adalah gadis yang baik dan selalu membantunya untuk merawat puteranya yang masih bayi.


"Sial..!" Jaka mendengus kesal, dia lantas mencari tempat paling tinggi di kota itu dan mendapati sebuah menara mesjid yang memang sangat tinggi.


Mata Jaka lantas menyipit memperhatikan sebuah keanehan di atas bukit yang mana terdapat sebuah cahaya terang yang seperti berasal dari kendaraan.


"Berani kau menyentuhnya..!" dengus Jaka yang kini tak dapat berfikir jernih selain amarah.


Jajang dan Rohman, yang tidak lama menyusul ke tempat tersebutpun menggeleng pelan, mungkin saat ini Jaka tidak dalam bahaya namun yang dalam bahaya adalah kota ini.


"Pengalihan yang kuno!" ucap Jajang yang sudah dapat menebak bagaimana rencana yang kini memiliki banyak siasat licik di dalamnya, namun karena pengalaman yang di miliki Jajang dengan kepala yang dingin dia dapat menebak kemana arah sesunghuhnya yang mereka incar.


"Ingat tidak boleh ada yang panik, lakukan kegiatan kalian selayaknya biasa. Para penjaga di harapkan untuk menyebar di markas masing masing. Mata mata di harapkan untuk memantau di bukit bukit terdekat dan bagi para penyerang siapkan senjata kalian!" ucap Jajang yang lantas dengan sangat hati hati pergerakan mereka di lakukan dengan apik tanpa memperlihatkan perhatian siapapun.


"Bagaimana dengan a Jaka?" ucap salah seorang pria yang berdiri di dekat Jajang.

__ADS_1


"Dia mau jadi pahlawan bagi seorang gadis bagimana mungkin kita akan menghalanginya!" ucap Jajang terkekeh.


Pria di sampingnyapun mengangguk setuju, dia benar benar kagum dengan cara pandang yang tepat dan cepat dari Jajang yang sangat luar biasa.


"Kirimkan dua orang penyerang untuk mengikuti Jaka, namun bila Jaka sudah mampu mengatasinya sendiri maka jangan ikut campur sampai keadaan mendesak!" ucap Jajang dia juga sebenarnya khawatir pada Jaka namun kekawatirannya itu di rasa terlalu berlebih namun hanya untuk penjagaan saja untuk hal yang tidak terdeteksi.


Malam yang terang itu mungkin akan ada penyerangan besar besaran namun nampak di kota itu kondisi yang seperti biasa layaknya hari hari biasanya.


"A Jajang bagaimana selanjutnya? Apa kita harus menyebarkan lebih banyak penilik?" tanya seorang pria yang baru saja tiba dengan sangat berwibawa.


"Kami memohon do'a pada para pemuka agama, dan bagi para penilik silahkan koreksi dan berikan saran terbaik kalian!" ucap Jajang tersenyum simpul memberi kesempatan bagi semua orang yang ingin berpartisipasi.


"A Jajang sangat berpandangan luas dan terbuka, menurut kami pandangan tuan tentang kondisi malam ini memang tidak meleset." ucap penilik itu memperhatikan bagaimana angin berhembus dan dinginnya malam di cuaca yang sangat terang itu.


Belum juga beberapa lama suara ledakan terdengar di pinggiran kota tepat di rumah Jajang dan Jaka.


"Kalian mau menghancurkan bajuku rupanya!" ucap Jajang terkekeh geli, karena dia sudah menebak mereka pasti datang terlebih dahulu ke rumahna yang kini kosong namun Jajang yang sudah mempersiapkan segalanya telah memindahkan berbagai jenis ramuan obat dan racunnya ke tempat rahasia.


"I...itu di rumah mu a! Apa kamu gila, tentu di sana ada barang berharga." ucap salah satu pria yang berada tidak jauh dari Jajang.


"Ah, kau benar nak, mungkin aku akan meminjam bajumu besok lihat rumahku sudah di hancurkan dan pasti bajuku juga sudah habis hangus olehnya!" ucap Jajang dengan candanya yang terdengar sangat tidak lucu.


"A... Aku serius!" ucap pria itu merasa kesal karena ucapannya malah di buat candaan oleh Jajang.


"Aku juga serius, di rumahku hanya ada baju bajuku dan Jaka tida ada apa apa lagi!" ucap Jajang tersenyum lembut.


Pria di hadapan Jajangpun mengangkat alisnya tak faham namun melihat ketenangan yang di pancarkan oleh Jajang dia yakin bila sema itu memang bukanlah masalah besar.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa Like, Komen, Dan masukan ke list bacaan kalian ya!


Salam Cinta dari Raisa...😘😘😘


__ADS_2